Minggu, 01 April 2012

PERMAINAN IBLIS JILID 7


7
W
ARNA coklat kusam mulai dimiliki setiap tanaman. Daaun-daun pohon mulai mongering, sehingga alam di dominir warna coklat. Hawa panas yang menyebar dalam kehidupan manusia ini telah mencapai tingkat membahayakan lingkungan. Setiap orang berbadan basah karena keringat mereka mengalir terus. Manusia seperti berada dalam oven raksasa yang memiliki suhu panas cukup tinggi. Ketegangan massa pun hampir mencapai kepanikan merata. Ada tangis, ada keluh, ada takbir dan do’a menggema di mana-mana. Masing-masing orang merasa yakin betul bahwa saat itu kiamat akan tiba. Aktivitas religious terjadi dimana-mana, dan dilakukan oleh kelompok-kelompok orang yang tidak ingin masuk neraka.
Disela-sela ketegangan massa dan kesibukan religious massa, hanya Bosnan sendiri yang sibuk dengan masalah lain.yang paling utama baginya adalah sibuk mencari Lilu, karena sampai acara keberangkatan jenazah Resyana dari rumah duka, ternyata Lilu belum muncul juga. Bosnan sudah mencoba mencari di sekitar rumah Marson, tapi tak berhasil menemukan gadis tersebut. Bahkan karena keadaan tegang, Bosnan sempat bertanya kepada Pardi yang sejak tadi mondar-mandir membantu mempersiapkan keberangkatan jenazah Resyana ke pemakaman.
“Par, kamu lihat temanku tadi? Gadis berambut pendek yang…”
“Gadis yang mana sih tuan…?”
Bosnan tertegun setelah ingat bahwa Lilu hanya dapat dilihat oleh dirinya seorang. Percuma saja ia menanyakan pada Pardi atau kepada orang lain. Maka, pertanyaan itupun dibatalkan.
“Lupakan pertanyaan tadi. Aku agak ngaco nih Par…” ujarnya menutupi kecurigaan Pardi. Sementara di lantai atas rumah itu masih banyak para petugas kepolisian dan pihak yang berwajib lainnya yang meneliti kamar Resyana bersama sisa kebakarannya. Seandainya waktu kamar itu terbakar dan tidak disemprotkan dengan tiga tabung pemadam kebakaran milik para tetangga, mungkin rumah besar keluarga Marson itu akan terbakar habis bersama penghuninya. Bosnan mencoba bergabung dengan petugas di lantai atas sambil melirik kesana-sini, mencari Lilu. Ternyata Lilu tak ada di sana.
“Apakah dia sudah lenyap karena terhisap hawa panas ghaib ini?” pikir Bosnan dengan hati mulai nyeri. Kekhawatirannya akan hal itu membuatnya semakin tidak tenang dan tegang.
“Jangan sampai jadi begitu ah…! Mudah-mudahan dugaanku nggak benar. Kalau melihat alam sudah mulai kering dan hawa panas mulai menghanguskan kulit, aku khawatir kekuatan ghaib yang menyebar di sekeliling manusia ini sudah mencapai tingkat penghisapan zat-zat ghaib. Ohhh… mudah-mudahan belum mencapai tingkat itu. lalu dimana dia sekarang? Mengapa disana-sini dia nggak ada? Berengsek betul anak itu! apakah dia sengaja membuatku semakin stress begini?”
Bosnan memang belum menceritakan kepada siapa pun di rumah itu tentang kotak permainan iblis itu. ia khawatir kotak itu ditemukan orang dan orang tersebut justru ingin mencoba permainannya setelah mendengar penjelasan darinya mengenai bahaya maut dalam permainan tersebut. Seandainya kotak itu sudah ditemukan Lilu, barulah ia berani menceritakan kepada siapa pun tentang misteri benda berbentuk kubus tersebut, maka Bosnan pun tak berani bertanya baik kepada petugas atau pada keluarga Marson, apakah ada diantara mereka yang menemukan kotak tersebut. Ia harus mencarinya sendiri secara diam-diam, sambil memburu kekasihnya.
Dalam suasana serba panas dan mencemaskan tiap manusia itu, pihak keluarga Marson tetap melakukan persiapan pemakaman. Sebuah peti amti sudah dipesan sejak tadi, namun baru sekarang peti mati itu tiba di rumah duka. Peti itu dibawa dari tempatnya dengan berjalan kaki, karena jalanan penuh mobil mogok, dan transportasi umum lumpuh total. Bosnan memberanikan diri ikut membantu keluarga korban dalam mempersiapkan pemakaman. Ia sengaja ikut memasukkan jenazah Resyana yang meringkuk kaku itu ke dalam peti mati. Hal itu ia lakukan sambil mencari-cari kalau saja benda iblis ternyata masih berada diantara pelukan mayat Resyana. Dengan cermat sekali mata Bosnan memperhatikan kerangka hangus itu, tapi sampai jenazah masuk ke peti mati tak dilihatnya kotak permainan iblis ada di sela-sela kerangka Resyana.
Mereka yang ingin ikut ke pemakaman jumlahnya semakin berkurang. Rata-rata mereka pulang ke rumah karena tak sanggup menahan sengatan hawa panas yang berasal dari gelombang ghaib, yang terkesan beraal dari langit itu. Bosnan sendiri dalam kebimbangan ketika berdiri di luar pintu pagar, karena di sekitar sana pun ia tak melihat kemunculan Lilu. Ia menyangka Lilu sudah kembali ke tempat kostnya, mungkin disangka sudah ditinggal pulang oleh kekasihnya.
Rupanya dalam suasana lalu lintas jalan raya serba kacau, masih ada orang yang memaksakan diri bepergian dengan menggunkan mobil pribadinya.entah berapa lama perjalanan yang ditempuh, tapi yang jelas sedan audi berwarna merah magenta akhirnya berhenti pula di depan rumah Marson. Bosnan terperanjat melihat mobil itu, karena ia tahu persis nomor serinya menunjukkan bahwa mobil tersebut adalah mobil milik Debby. Ia tak menyangka Debby akan hadir untuk menyampaiakan rasa berdukanya kepada Dilton, sebab Dilton memang mempunyai jalur bisnis dengan perusahaannya Debby.
Seperti saat kematian Marson, Debby juga hadir. Tapi tidak sampai ikut ke pemakaman, dan tidak sempat bertemu dengan Bosnan karena selisih jarak waktu saja. Dalam suasana serba menegangkan dan kacau ini, biasanya Debby enggan bepergian kamana-mana. Tapi kali ini justru dia menyempatkan diri untuk datang ke rumah Dilton walau suasana jalan agak sangat tak nyaman. Mungkin factor musibah yang menimpa keluarga Dilton, sehingga Debby memaksakan diri untuk bisa datang, walau hanya sebentar.
Namun sesuatu yang sangat di luar dugaan dan cukup mengejutkan Bosnan adalah kehadiran Debby yang didampingi seorang pemuda berperawakan tegap, macho dan berambut cepak. Hampir saja Bosnan tak mempercayai penglihatannya sendiri, bahwa setelah Debby keluar dari sedan mewahnya itu, dari sisi kiri keluar juga seraut wajah yang sangat dikenali Bosnan, yaitu Ruyan. Meskipun dari dulu Bosnan mengetahui bahwa Ruyan punya hubungan bisnis dengan Debby, dan dialah yang memperkenalkan Ruyan dengan Debby beberapa waktu yang lalu, tetapi mereka berdua sungguh suatu sensasi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Debby Dan Ruyan Sempat Terperanjat Dan Sama-Sama Kikuk Sesaat, Karena Saat Mereka Turun dari mobil tadi mereka belum melihat keberadaan Bosnan di dekat pintu masuk. Setelah beberapa langkah baru mereka lihat Bosnan ada di depan langkahnya. Seolah-olah mereka berdua kepergok berduaan oleh Bosnan. Tetapi begitu ingat bahwa Bosnan sudah tak peduli lagi dengan Debby, maka baik Ruyan maupun Debby buru-buru menetralisir sikap dan perasaannya. Mereka merasa tak perlu takut atau malu kepada Bosnan, sekalipun saat itu mereka memang terkesan sedikit mesra, sebab tangan Debby sempat memegangi lengan Ruyan dalam melangkah. Genggaman tangan itu buru-buru dilepaskan secara reflex tadi, dan membuat Bosnan sendiri menyinggungkan senyum kecil, senyum geli-geli sinis. Ia pun cepat-cepat menyikapi keadaan tersebut dengan tenang dan berusaha utnuk tetap terkesan bersaahabat dengan mereka.
“Hey Bos… sama siapa kamu…?” tegur Ruyan lebih dulu.
“Sendirian aja,” jawabnya kalem. Ekspresi wajah Debby seperti ingin mencibir sinis. Suaranya pun bernada agak ketus.
“Hmmm, disini sendiri, tapi di dalam sana pasti dia tak sendirian, Ru. Bukankah begitu Bos…?”
Hanya senyum getir yang menjawab pertanyaan Debby itu. selanjutnya Bosnan tetap bersikap kalem, dan sengaja mengalihkan suasana batin mereka untuk pindah haluan.
“Silakan…! Dilton pasti sudah menunggu kedatangan kalian sejak tadi. Silakan temui dia dulu sana…!”
Debby yang wajahnya menjadi seperti kepiting rebus akibat udara panas itu, kali ini sengaja bergegas lebih dulu untuk menemui Dilton di dalam sana. Ruyan sengaja tidak mengikutinya, karena ingin menjaga perasaan Bosnan agar tak tersinggung melihat bekas pacarnya jalan bersama teman dekatnya sendiri. Sesungguhnya hati kecil Ruyan sangat tak enak, serba salah, dan merasa malu sekali terhadap Bosnan. Ia tahu Bosnan pasti memiliki kecaman dan penilaian sendiri terhadap pribadinya yang tampak ingin merapatkan hati kepada gadis buangan Bosnan. Setidaknya Ruyan dapat menggeser sedikit persepsi Bosnan tentang hubungannya dengna Debby tersebut. Oleh karenanya kata-kata membisik yang pertama diucapkan Ruyan adalah alas an kebersamaannya dengan Debby.
“Kebetulan kami bertemu di jalan, jadi aku sekalian numpang mobilnya untuk kemari.”
Bosnan tersenyum tawar. “Apakah kau kenal dengan keluarga Dilton? Kurasa kau tidak mengenalnya Yan. Tapi sudahlah…. Tak perlu basa-basi soal kebersamaanmu dengan Debby.”
“Kau tersinggung..?”
“Sama sekali nggak!” tegas Bosnan.
“Mestinya kau tersinggung dong Bos…”
“Memangnya dia itu apaku, kok aku harus tersinggung? Aneh kau ini,” tawa pelan mengikuti pernyataan santainya.
“Atau mungkin karena kau datang bersama penggantinya, maka kau tak merasa harus tersinggung melihat kebersamaan kami tadi?”
“kau lihat aku sekarang? Sendirian atau bersama gadis lain?” Bosnan membantah dsugaan Ruyan secara kelakar. Bahkan menepuk-nepuk pundak Ruyan sambil melanjutkan ucapannya.
“Sudahlah, jalan saja terus! Jangan punya persepsi yang bukan-bukan. Asyik-asyik sajalah kalian. Buatku nggak ada masalah kok.”
“Kamu serius Bos…?”
Tertawa lagi Bosnan mendengarnya, tapi tawa yang sangat pelan.
“Cuaca sangat buruk, kondisi ala mini pun sangat mengkhawatirkan, Yan. Persoalan seperti itu tak perlu kita perburuk juga bukan? Khawatirkan saja tentang keutuhan ala mini, jangan kamu khawatirkan tentang diriki. Okey?” Bosnan menatap Ruyan yang kelu, lalu menambahkan kata. “Nah, susullah dia ke dalam sana…!”
Ruyan pergi menyusul Debby. Maka kecemasan dan kebingungan Bosnan muncul lagi ke permukaan wajahnya. Ia harus mengambil keputusan; menunggu Lilu disitu atau menengok keadaan di tempat kostnya, siapa yahu Lilu sudah ada disana? Sebelum salah satu alternative dipilihnya, langit terang tanpa mega itu tiba-tiba mengeluarkan kilatan cahaya hijau pias. Cralp…! Dan sebuah ledakan besar trejadi seketika itu juga. Blegaarrr….!
Suasana di rumah duka menjadi gusar. Guntur di siang bolong merupakan tanda-tanda kiamat mualai tiba, menurut mereka. Wajar jika para tamu semakin banyak yang bergegas pulang, tanpa menunggu pemberangkatan jenazah ke pemakaman. Tentunya mereka yang segera pulang berkeinginan tetap berjkumpul bersama keluarganya apabila detik-detik kiamat sudah tiba nanti. Bosnan sendiri sempat berpikir begitu, tapi ketika ia melihat kilatan cahaya Guntur menyambar bumi, dan tak lama setelah itu tampak gumpalan asap melambung dari bangunan yang tersambar petir tadi, maka pikirannya semakin kuat tertuju pada Lilu. Andaikata bumi nanti hancur ia ingin tetap bersama Lilu.
“Bos…!” panggil sebuah suara dari arah jalanan sewaktu Bosnan hendak melangkah masuk ke rumah, ingin pamit kepada Dilton dan keluarganya. Panggilan itu jelas suara seorang gadis. Bosnana buru-buru berpaling setelah ia yakin tak ada orang lain yang memperhatikan suara panggilan tadi. Spontanitasnya jadi ternyata benar. Gadis yang memanggilnya memang Lilu. Hati Bosnan merasa lega melihat Lilu menghampirinya. Tapi kecemasan meningkat cepat, karena Lilu dalam keadaan seperti habis diperkosa.
“Lilu…?! Kenapa kau?!” Bosnan segera menarik tangan Lilu untuk dibawa ke tempat yang terlindung dari pandangan umum. Sebab, percakapannya dengan Lilu nanti jika dilihat orang akan membuat orang tersebut menganggap dirinya gila, karena ia tampak seperti bicara sendiri dengan tempat kosong.
Bosnan mendesak Lilu agar segera member penjelasan, walau gadis itu sedang menenangkan pernafasananya yang terengah-engah. Rambutnya yang pendek kini sudah menjadi tak teratur dan acak-acakan. Kulit tubuh Lilu tampak kotor, bercampur debu-debu hitam. Pakaiannya pun selain menjadi kotor, kucal, lesuh, juga robek di beberapa bagian. Bosnan bisa melihat keringat Lilu melekat seperti air selokan, karena bercampur dengan debu hitam. Tetapi gadis itu menggenggam kotak permainan yang ditutup dengan kedua tangannya, agar tak terlihat orang lain sebagai benda yang berjalan sendiri.
“Hastaraka sudah kutemukan. Tapi cepat bawa aku pergi dari sini Bos. Aku khawatir mereka mengejarku kemari!”
“Mereka siapa maksudmu?!” Tanya Bosnan sambil menerima benda itu dengan gemetar, lalu buru-buru dimasukkannya ke saku celananya.
“Paras pengembara alam ghaib, alias manusia-manusia penjelajah antar dimensi. Cepatlah pergi dari sini Bos! Nanti kujelaskan di perjalanan!”
“Pulang ke tempat kost kita, begitu..?”
“Ya, sebaiknya begitu! Pokoknya cari tempat yang aman!”
Diserambi samping Debby dan Ruyan tampak sedang pamit kepada wakil keluarga Dilton. Mereka melihat Bosnan pergi sendirian menuju ke pertigaan jalan, tempat mangkal para pengojek. Tetapi Ruyan tak yakin bahwa Bosnan ingin mencari ojek untuk pulang, sebab di pangkalan itu tadi tak terlihat ada satupun juga tukang ojek yang menunggu penumpang. Mungkin para tukang ojek itu juga berkumpul bersama keluarganya menghadapi detik-detik kiamat yang diyakini akan tiba sebentar lagi.
Ketika mobil audi itu meluncur pulang, Debby sempat menghentikannya sebentar di samping Bosnan. Ia dan Ruyan sama-sama menawarkan tumpangan sebagai tanda perdamaian atas perang dingin mereka. Tetapi Bosnan menolak, dan menyatakan lebih suka berjalan kaki sendirian daripada menumpang mobil orang. Penolakan itu dilakukan karena diam-diam Lilu selalu berbisik pada Bosnan, bahwa ia tidak setuju jika menumpang mobil Debby. Lilu mendesak Bosnan untuk menolak bujukan Ruyan dan Debby, sehingga audi itu pun segera pergi meninggalkan Bosnan yang dalam penglihatan mereka hanya berjalan kaki sendirian.
Kebetulan tak jauh dari pangkalan ojek yang kosong itu terdapat sebuah hotel kecil yang duklunya bekas penginapan, lalu direnovasi dan ditingkatkan persyaratannya, sehingga menjadi sebuah hotel yang berukuran sedang. Lilu mengusulkan untuk chek-in di hotel tersebut, karena ia ingin buru-buru bersembunyi dari ancaman bahaya yang kemungkinan dapat menyerangnya sewaktu-waktu. Hotel tersebut ternyata kosong, tidak ada tamu yang bermalam di situ. Bahkan petugas hotelnya pun hanya beberapa orang. Mungkin pegawai lainnya tak menghiraukan lagi tugas-tugasnya di hotel tersebut, karena sibuk menghadapi tanda-tanda akhir zaman.
“Silahkan berapa saja tuan mau bayar biaya chek-in, akan saya terima. Tapi… terus terang kami tidak siap betul melayani tuan. Maklumlah… keadaan seperti ini, bisa saja sewaktu-waktu datang bahaya besar kami langsung kabur,” kata petugas hotel yang terkesan malas-malasan mengenai booking kamar tersebut. Karena Lilu tampak sangat membutuhkan tempat aman, maka Bosnan pun akhirnya menggunakan salah satu kamar hotel tersebut sebagai tempat persembunyian sementara bagi Lilu. Di kamar itulah Lilu menceritakan insidennya saat berusaha mencari kotak permainan iblis tersebut.
Menurutnya, pengembara alam ghaib mengetahui terbukanya gerbang petaka yang dari dulu sulit mereka lakukan. Melihat cahaya kehancuran terbesar di alam kehidupan manusia, maka beberapa dari kelompok pengembara alam ghaib itu datang ke bumi, mencari Hastaraka dengan cara mengenali letak datangnya sumber bencana yang tak lain adalah energy ghaib dari kotak permainan tersebut.
Pengembara alam ghaib adalah manusia-manusia tempo dulu, yang pernah hidup di bumi ratusan tahun yang lalu. Mereka memiliki tingkat peradaban yang sangat tinggi, kecerdasan dan IQ yang tingginya belum pernah dimiliki oleh manusia abad sekarang. Lilu mengetahui hal itu melalui cerita si kakek yang pernah terperangkap di dalam kegelapan bersamanya. Menurut cerita si kakek tersebut, tingginya ilmu dan tekhnologi pada masa ratusan ribu tahun yang lalu telah menimbulkan perang bintang antara manusia di bumi dengan manusia di planet lain. Perang besar tersebut sempat memporak-porandakan bumi dan seisinya. Penghuni bumi tinggal sedikit dan melarikan diri melintasi beberapa dimensi yang lainnya, sampai akhirnya mereka mendapat julukan pengembara alam ghaib.
“Untuk apa mereka menginginkan benda terkutuk itu…?”
“Untuk membuka rahasia. Semua rahasia di alam ghaib bisa dibuka melalui Hastaraka itu. Selama bertahun-tahun mereka mengembara di alam ghaib, namun belum berhasil membuka beberapa rahasia besar yang ada di alam ghaib itu sendiri, antara lain; membuka lorong penyimpan harta karun para dewa,  menemukan pintu masuk lumbung pusaka maha dahsyat, dan sebagainya. Melalui permainan dalam kotak Hastaraka itulah mereka dapat mencari dan menemukan kunci-kunci rahasia besar itu Bos. Makanya, begitu mereka mengetahui cahaya bencana menyebar di bumi, dan mereka tahu tak ada kunci lain yang bisa membuka gerbang petaka selain Hastaraka, maka mereka pun segera memburu benda itu ke bumi.”
“Bagaimana kau bisa bertemu dengan mereka?” Baukankah kau mencari benda itu di dalam rumah Marson?”
“Memang. Aku berhasil menemukan benda itu dai atas atap dapur. Rupanya benda itu terpental dari kamar Resyana pada saat memancarkan cahaya panas dari gelombang petaka. Cahay itu kuduga menghanguskan Resyana lebih dulu sambil terpental kuat, menerobos jendela kamar yang terbuat dari kaca itu. dari sana benda itu melayang jauh di atas atap dapur. Sisa kilauan cahaya panas itu tertangkap oleh radar ghaibnya para pengembara antara dimensi, sehingga mereka mengejarnay kemari. Ada delapan orang jumlahnya, dengan masing-masing mengendarai kuda semberani, alias kuda ghaib. Kuda itu bisa mengeluarkan tenaga petir dan tak bisa dilihat oleh mata oprang biasa.”
Pada waktu Lilu memungut benda permainan iblis itu di atas atap dapur, tiba-tiba ia dikelilingi oleh delapan pengembara alam ghaib. Mereka meminta agar Lilu menyerahkan benda tersebut. Tetapi Lilu justru melarikan diri menggunakan sisa kekuatan supranaturalnya. Mudah sekali bagi Lilu melarikan diri menembus dimensi ghaib karena belum memiliki raga kasar. Mereka segera memburu Lilu, melepaskan gumpalan badai ghaib yang membuat Lilu jungkir balik berkali-kali di padang pasir hitam, yaitu gurun yang memiliki tanah ghaib seperti jelaga.
Namun dengan sekuat tenaga Lilu tetap mempertahankan benda tersebut. Pelariannya tetap dilanjutkan meski dihantam badai berkali-kali oleh lawannya. Saying sekali pelarian itu akhirnya menemui jalan buntu, karena gumpalan kabut hitam yang dinamai kabut bencana telah membentang, menghadang di depan Lilu dalam perjalanan, kabut itu mendekati alam manusia. Lilu terdesak, tapi memiliki sisi keberuntungan sendiri, yaitu sebagai pihak pemegang Hastaraka. Pada waktu mereka bersama-sama menyerangnya dari depan, Lilu memutar ruas kotak permainan iblis itu sebisa-bisanya. Tepat ketika mereka menerjangnya, Lilu sudah bisa meleset melebihi kecepatan petir akibat getaran energy ghaib pada kotak tersebut. Akibatnya, para pengembara alam ghaib itu tak menemukan sasarannya, mereka justru terjerumus masuk ke gumpalan kabut hitam. Maka, saat itulah mereka meledak bersama-sama dan lenyap selama-lamanya. Ledakan tersebut membias ke bumi, berbentuk dentuman besar yang memercikan cahaya petir hijau tadi. Dentuman itu membuat Lilu terlempar masuk kea lam kehidupan manusia lagi, sehingga jatuh di sekitar tempat asal pelariannya. Jatuhnya Lilu bersamaan dengan kilatan cahaya petir hijau yang menyambar sebuah gedung dan mengakibatkan kebakaran besar itu.
“Tapi aku khawatir kalau-kalau mereka masih penasaran dengan benda itu dan memburuku kemari.”
“Bukankah mereka sudah lenyap setelah tergulung kabut hitam?”
“Yang delapan memang begitu, tapi yang lain kan masih banyak? Mungkin teman-temannya yang berada di sisi lain melihat kegagalan tersebut, sehingga beberapa dari mereka menggantikan tugas untuk memburu Hastaraka dari tanganku. Bisa saja kan?”
Bosnan menggumam berat sambil manggut-manggut. Ia keluarkan kembali kotak permainan iblis itu dari saku celananya. Ia perhatika sejenak dengan jantung berdetak-detak kuat.
“Kalau begitu, sekarang juga benda keparat ini harus kita hancurkan!” geram Bosnan seperti menyimpan dendam kesumat yang amat besar pada benda tersebut.
“Tunggu!” sergah Lilu. “Kita salah perhitungan dalam rencana semula. Kalau benda ini dihancurkan sekarang juga, maka kita tak akan bisa menyelamatkan bumi dan alam semesta manusia dari kehancuran kabut bencana.”
“Jadi…?”
“Pergunakan dulu benda iru untuk menutup gerbang petaka, sehingga cahaya terang yang semakin panas ini segera hilang, lalu kabut bencanapun memburunya atau menunggu utnuk bergerak kemabali. Singkatnya, gunakan dulu benda ini untuk menyingkirkan cahaya panas ini, setelah itu baru kita hancurkan!”
“Lalu, bagaimana caranya menggunakan benda ini?”
“Cari symbol-simbol penguncinya…!”
“Apakah kau tahu symbol-simbol itu…?”
Lilu menghembuskan nafas panjang, lalu menggeleng sedih. Ia tak tahu symbol seperti apa yang dapat dipakai untuk menutup gerbang petaka, sehingga ia tak mungkin bisa menyusun gambar-gambar pada kotak Hastaraka dengan benar. Gambar-gambar yang telah tersusun dan menghasilkan suatu akibat, maka dengan sendirinya gambar-gambar itu akan berubah secara acak, sehingga sulit untuk disusun seperti semula lagi.
“Kalau begitu akan kucoba mencari susunan symbol penutup gerbang petaka itu,” kata Bosnan sambil mulai memegang benda itu dengan kedua tangannya, siap untuk memutar dan membolak balik potongan gambar yang terpisah secara acak-acakan. Tapi tangan Lilu buru-buru menahn gerkan tangan Bosnan. Gadis yang duduk bersimpuh di atas kasur, di samping kanan Bosnan itu berkata pelan tapi penuh keseriusan yang mencekam dirinya sendiri.
“Hati-hati! Jangan sampai salah susun. Nanti menimbulkan akibat lain yang bisa-bisa mempercepat lematian kita!”
“Aku tahu, karena itu dekatlah terus padaku. Bila perlu, peluk aku supaya kalau sampai terjadi bencana pada diri kita, maka kita pun tetap akn bersama-sama.”
“Okey. Aku akan memeluk hatimu juga, mulai sekarang sampai selamanya,” suara parau Lilu membangkitkan keberanian Bosnan untuk berspekulasi dengan benda tersebut. Maka, ia pun member kecupan lembut terlebih dulu di bibir Lilu. Kehangatan mengalir ke seluruh tubuh. Kehangatan itu adalah kehangatan cinta sejati yang akan menuntun naluri Bosnan untuk menempatkan potongan-potongan gambar pada kotak tersebut hingga tersusun dengan benar.
“Mulailah bermain, sayang…!” bisik Lilu sambil mengusap cucuran peluh di rahang Bosnan. Maka mulailah Bosnan memainkannya.
Udara semakin memanggang manusia hisup-hidup. Panasnya bukan main bagi ukuran kulit manusia normal. Sengatan cahaya terang di alam bebas telah membuat banyak pohon mengalami pengeringan total. Sungai kehilangan air, lautan pun mengalami penyusutan besar-besaran, hewan-ternak banyak yang mati, sementara kulit manusia rata-rata mulai berwarna hitam kemerah-merahan.
Di dalam kamar hotel itu keringat Bosnan mengucur lebih deras lagi. Selain terkurung hawa panas yang tak dapat dilawan dengan kesejukan hawa AC, ketegangan yang terjadi akibat pemusatan konsentrasi besar-besaran itu juga factor terkurasnya keringat Bosnan di sekujur tubuh. Pakaiannya basah kuyup, seperti habis kehujanan. Dan, hal itu ternyata tidak dipedulikan sama sekali. Ia sibuk memutar-mutar ruas kubus yang memiliki lambing-lambang kekuatan ghaib itu. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati serta penuh eprhitungan matang. Adakalanya menggunakan insting serta naluri kemujurannya agar tak melakukan kesalahan dalam menyusun lambing-lambang mistik itu.
Lilu mendampinginya dengan setia. Sebentar-sebentar mengusap peluh di sekitar wajah Bosnan dengan sarung bantal yang sudah dilepas dari bantalnya, karena kedua handuk yang disediakan di kamar itu sudah terlalu basah oleh keringat mereka.
“Lihat bidang sisi kiri ini, sudah tersusun gambar seperti sepasang sayap kelelawar,” ia menunjukkannya kepada Lilu. Gadis itu menggumam pelan. “Jika ruas bawah kuputar ke kanan, maka bidang kiri ini mendapat gambar kepala hewan, tapi bukan kelelawar. Bagaimana menurutmu?”
Lama sekali Lilu menjawab, karena iapun harus berpikir keras sambil memadukan naluri batinnya. Pada saat itu suara dentuman besar terdengar lagi. Petir maut menyambar ke bumi, lantai sempat bergetar sesaat, terdengar suara orang di jalanan berseru tentang sebuah sekolah telah terbakar disambar petir. Dan, hal-hal seperti itu sengaja tak dihiraukan oleh Bosnan dan Lilu. Mereka tetap berkonsentrasi pada susunan symbol-simbol mistik dalam kotak kubus yang dapat diputar kesana-sini itu.
“Kepala binatang yang akan masuk diantara dua sayap itu sepertinya adalah binatang yang hanya hidup di alam ghaib.” Kata Lilu. Jangan-jangan justru bentuk binatang seperti itulah yang akan mewakili penampakan para pasukan iblis? Jika simbol itu tersusun, tahu-tahu ribuan iblis bertampang kelelawar berdatangan kemari menyerang kita!?”
“Jadi bagaimana? Tangguhkan dulu?”
“Ya, kucoba mengingat-ingat apa saja yang pernah diceritakan oleh kakek tua itu padaku, mungkin bisa dijadikan petunjuk bagi kita.”
Memang semakin menegangkan suasana di saat itu. mereka berdua seperti berada di depan sebuah bom yang harus dijinakkan. Bukan saja karena mulai banyak petir liar yang menggelegar di angkasa, atau kadang menghancurkan bangunan, tapi juga karena tekanan kejiwaan yang semakin berat yang kini hamper membuat Bosnan putus asa. Ia tak memiliki p[anduan apapun untuk menentukan bentuk lambing-lambang mistik yang harus disusunnya. Sementara jika ia salah susun, bisa-bisa yang timbul adalah malapetaka bagi dirinya dan kekasihnya.
“Bos, aku ingat cerita kakek itu yang pernah menyinggung-nyinggung tentang kekuatan iblis. Sebab, kakek itu semasa hidupnya adalah seorang pendeta yang bertugas memburu kaki-tangan iblis di muka bumi. Tapi ia terperangkap oleh bujuk rayu iblis betina hingga berada di alam kegelapan, jauh-jauh sebelum aku terperangkap di alam itu juga.”
“Apa yang kau ingat dari ceritanya?” Bosnan sengaja mengendurkan konsentrasinya, khusus untuk mendengar dan menyimak kata-kata Lilu.
“Iblis dilambangkan dengan gambar cahaya api. Jadi, api adalah kekuatan iblis paling utama.”
Lilu diam kembali. Tapi mereka masih saling pandang. Sesaat kemudian Lilu bicara lagi agar Bosnan tak menunggu terlalu lama. “Cuma itu inti cerita si kakek tentang kekuatan iblis. Lalu aku ingat tentang guru agamaku dulu, sewaktu aku masih duduk di bangku SMA, bahwa kasha dapat mengalahkan segalanya, termasuk mengalahkan kekuatan iblis sebesar apapun. Tapi aku nggak tahu kasih dilambangkan sebagai apa?”
“Salib…?!” Bosnan menggumam ragu-ragu melamun bisu.
“Salibb?! Ooohh, iaya kayu salaib!”
Bosnan terperanjat, seperti mendapat ide yang meyakinkan. Ia buru-buru memandangi tiap potongan gambar pada kotak permainan itu. Dibolak-balik, dijauhkan dari mata, didekatkan kembali, sampai akhirnya wajah tegangnya mengalami perubahan samar-samar. Mulai ada keceriaan. Pandangan matanya yang ditujukan pada Lilu pun mengandung kesan kegembiraan hati yang tumbuh perlahan-lahan. Hanya saja, sorot pandangan mata itu segera kehilangan kecerahan kembali setelah dahinya sedikit berkerut, menandakan ada sesuatu yang janggal pada diri kekasihnya.
“Li… kau sudah nggak berkeringat lagi? Kok wajahmu nggak berkeringat sih?!”
Lilu menggeragap cemas. Meraba wajah dan tubuhnya sendiri. Bosnan ikut meraba sampai di kedalaman yang seharusnya terlarang. Ternyata memang Lilu tak berkeringat lagi. Bahkan tubuh itu terasa dingin sekali. Raut wajah cantik itu pun meluntur sedih.
“Bos…” kata Lilu pelan sekali. “Dari tadi aku memang sudah merasa dingin, seperti ada angin yeng bertiaup di sekeliling tubuhku.”
“Astaga…?!” Bosnan mengeluh dan sangat was-was.
“Badanku terasa seperti mau mengempis perlahan-lahan. Mungkin… mungkin kekuatan hawa ghaib ini sudah mulai menyerap jazad ghaibku Bos.”
“Oh, Li….!” Bosnan memeluknya kuat-kuat. “Tidak, Li. Kamu tidak boleh pergi dariku! Tidak kubiarkan kekuatan ghaib iblis ini menghisap jasad gaibmu Li…!” Bosnan menciumnya.
“Energi ghaibku akan menguap Bos.” Bisik Lilu para sekali.
Bosnan buru-buru melepaskan pelukannya. Ia harus melakukan sesuatu terhadap kotak maut itu. Baru saja terl;intas dalam benaknya tentang simbol kayu salib yang diyakini sebagai simbol kekuatan untuk mengalahkan iblis. Sedangkan tadi dilihatnya ada beberapa potongan gambar yang dapat disusun untuk lambing salib. Maka, dengan tangan semakin gemetar dan terburu-buru Bosnan mulai menyusun potongan-potongan gambar tersebut dengan memutar tiap bagian ruas kotak ke kanan, kiri, atas, bawah, atau depan dan belakang. Nafasnya terhela cepat menandakan jiwanya dalam tekanan sesuatu yang menegangkan tegang sekali.
“Hati-hati, jangan salah putar! Nanti di bidang lain malah terbentuk lambing mistik yang berbahaya!” Lilu mengingatkan.
“Okey… okey….! Sebentar lagi aku akan berhasil membentuk lambing salib nih…!” Bosnan memang semakin berdebar-debar, tapi getaran tangannya mulai lambat karena emosinya sedang diturunkan. Jika ia berhasil, maka ia akan mendapatkan satu susunan gambar salib yang setiap ujung-ujungnya memiliki hiasan bintang.
“Uts…!” Bosnan tersentak kaget karena salah putar, sehingga ada potongan gambar yang masuk ke sisi lain dan membentuk simbol menyerupai burung gagak. Buru-buru Bosnan memutar potongan bagian bawah agar bentuk burung gagak itu tak lengkap. Tetapi ternyata ruas bawah mengalami hambatan, sehingga sulit diputar kesana-sini. Mungki karena gugup, maka ruas pemutar seperti mengalami kemacetan.
“Sialan! Sulit sekali diputarnya sih?!” geram Bosnan dengan mengerahkan tenaga untuk memutar ruas bawah itu. Lilu berwajah tegang setelah melihat Bosnan mengalami kesulitan untuk merubah gambar yang menyerupai burung gagak itu supaya tidak sempurna.
“Tenang Bos… tenang. Jangan gugup begitu. Tenang…!” bujuk Lilu dengan nafas mulai cepat. Ia sendiri dalam keadaan tidak tenang.
Ranjang dan lantai mulai bergetar. Firasat mereka semakin tak enak. Ketegangan makin memuncak. Dan tiba-tiba lantai kamar menggelembung naik, lalu retak perlahan-lahan. Bosnan masih sibuk berusaha merombak gambar burung gagak itu, sedangkan Lilu sudah turun dari ranjang, menarik tangan Bosnan agar mereka melarikan diri keluar dari kamar. Bagian lantai yang menggelembung naik itu kini menyemburkan tanah dan pecah, serpihan ubinnya menyebar kemana-mana. Bzzzzrrrraaak…!
“Cepat pergi dari sini, Bosnan…!!” seru Lilu menyadarkan kegugupan kegugupan Bosnan. Tapi ketika Bosnan ingin melompat turun dari ranjang, tiba-tiba Lilu terlempar ke atas. Wuut…! Bosnan cepat bangkit menyambar tangan Lilu, sehingga gadis itu tidak sampai membentur langit-langit kamar. Rupanya lantai tempat Lilu berpijak tadi sekarang juga ikut menggelembung dan pecah, seperti kuburan yang terbuka bagian atasnya. Beruntung sekali Bosnan berhasil menangkap tubuh Lilu yang tadi melambungh ke atas. Tangkapan tersebut membuat kotak permainan iblis terpental ke sudut ruangan.
“Yaahh, kotak itu…” pekik Lilu dengan mata terbelalak lebar. Bosnan buru-buru meletakkan Lilu di atas ranjang, karena ia ingin melompat ke sudut untuk mengambil kotak permainan iblis itu.
Bruuusss….! Gubraaakkk…!
Lantai di bawah ranjang juga menggelembung naik, pecah terbelah. Suatu hawa berkekuatan besar menghembus dari pecahan lantai dan membuat ranjang pun terlempar naik. Disusul kemudian dengan munculnya benda besar dan panjang tapi bergerigi, bentuknya seperti buaya, tapi jelas bukan buaya. Benda itu bergerak menyabet ke kanan dan ke kiri dengan cepat. Ranjang pun hancur berantakan, sementara Bosnan terlempar kuat-kuat kea rah jendela. Prook….!
“Aoow…!” teriaknya keras-keras sambil segera memegangi mulut dan hidung. Bibirnya pecah berdarah karena luka akibat wajahnya membentur bongkahan lantai berubin mencuat ke atas itu. Tapi perutnya selamat dari keruncingan ubin lainnya. Sementara itu, Lilu terlempar ke pintu, tak sampai menabrak pintu itu, hanya terbanting di kemiringan lantai yang ubinnya mulai retak.
“Li… cepat keluar kau!” seru Bosnan setelah mengetahui bahwa benda yang muncul dari kedalaman lantai ternyata ekor hewan besar yang belum jelas bentuk keseluruhannya. Tapi dalam dugaan Bosnan, hewan itu sangat besar, menyerupai seekor dinosaurus. Terbukti dari ekornya yang masih menyabet ganas kesana-sini itu berukuran sebesar badan buaya. Itu baru ujung ekornya. Belum semua bagian ekornya yang muncul, dan memang sekarang berusaha muncul semua dengan cara mendobrak lapisan tanah lantai. Maka, tak ada cara terbaik kecuali menyuruh Lilu kabur lebih dulu.
Tetapi Lilu tak mau meninggalkan kekasihnya yang terancam bahaya. Ia justru berusaha mendekati Bosnan walau harus merangkak sesaat, dan berlari lagi untuk melompati lantai yeng terbelah tak beraturan itu.
“Bosnan, benda itu ada di dekat kakimu! Ambil, lekas…!”
Bosnan baru sadar bahwa ia berada sangat dekat dengan kotak permainan iblis. Maka, secepatnya ia meraih Hastaraka pada saat ekor binatang aneh tersebut berkeslebat mendongkel lapisan tanah lainnya.
Brussskk…! Tanah bergumpal-gumpal terlempar, salah satunya ada yang mengenai dada Lilu, membuat gadis itu terlempar kembali. Tapi kali ini ia melayang kea rah Bosnan, sehingga Bosnan buru-buru menangkapnya dengan tangan menggenggam Hastaraka. Bluuugggh…!
“Uhhk..!” Bosnan jatuh terkapar ditimpa tubuh Lilu. Namun rasa sakit di pinggangnya akibat embentur ubun rusak tak dihiraukan. Bahkan darah dari hidungnya pun tak diusapnya lebih dulu. Ia buru-buru menyingkirkan tubuh Lilu ke samping, kemudian berusaha memutar ruas kotak permainan yang tadi tinggal sejalan saja, tapi sudah terlanjur salah langkah.
Kleek…!
“Berhasil! Lilu…! Lihat, aku berhasil membentuk lambing salib di… di…”
Kegirangan Bosnan tak sempat dilanjutkan, karena tiba-tiba kotak permainan yang digenggamnya itu memancarkan cahay biru terang. Bias cahaya biru itu keluar dari sela-sela ruas pemisah gambar. Cahaya itu bukan saja semakin menyilaukan, tapi juga makin terasa mengeluarkan hawa sejuk menyegarkan. Tetapi lantai dan bangunan menjadi bergetar kuat sekali, sepertinya hotel itu mau runtuh secepatnya. Bosnan dan Lilu merasa tak punya kesempatan untuk menghindari reruntuhan, sehingga mereka akhirnya saling berpelukan dalam posisi duduk di lantai sudut. Sama-sama menenggelamkan kepala mereka yang menghadap kea rah dinding sudut tersebut.
Suara gemuruh semakin besar. Sangat menakutkan siapapun yang mengalami tragedy ghaib tersebut. Namun hawa sejuk terus saja mengalir, seakan alam dihujani salju yang dapat mengusir rasa panas yang menyengat tadi. Beberapa saat kemudian suara gemuruh itu hilang, hawa sejuk tetap datang bersama hembusan angin yang semilir. Cahay biru terang tadi pun mulai redup, akhirnya padam bersama kesunyian yang amat mencekam. Alam menjadi lengang, sunyi tanpa suara. Bosnan memberanikan diri untuk melihat di sekelilingnya melalui lirikan mata. Ternyata suasana telah berubah. Gelap malam telah menguasai sekitar tempat itu. Bosnan mulai berani lebih tegak lagi mengangkat wajahnya.
“Li… alam sudah kembali gelap. Hawa panas pun… lenyap utuh,” bisik Bosnan dengan nada menahan sorak kegembiraannya. Lilu pun mulai ikut memandang sekeliling, dan wajahnya menjadi cerah ceria.
“Kau berhasil Bos… oh iya kau berhasil mengembalikan keadaan malam yang sebenarnya!”
Nada suara Lilu makin meninggi, kegirangan.
“Ohh… kau benar-benar hebat sayangku! Kau telah menutup kembali gerbang petaka sebelum kami ini pecah dan hancur!”
“Ya tuhan… terima kasih! Terima kasih sekali tuhan…!”
“Hebat sekali kau kasihku…” Lilu menjerit kegirangan. Ia memeluk Bosnan dan menciuminya. Bibir Bosnan pun dikecup dan dilumatinya sebagai ungkapan kemenangan mereka. Bosnan pun membalasnya. Sekali pun lantai masih berantakan terbelah-belah, tapi ekor binatang dari alam ghaib itu telah hilang. Itulah sebabnya Bosnan membiarkan Lilu menikmati bibirnya sepuas hati. Tapi tiba-tiba Lilu menarik diri dan meludah.
“Cuih, cuih…!”
“Kenapa saying?”
“Asin! Darah dari luka di bibirmu aku hisap. Asin Bos…” nadanya merengek manja, namun menghadirkan tawa geli bersama-sama.
Hanya saja, tawa geli mereka harus surut sesaat karena tiba-tiba tubuh Lilu mengeluarkan cahaya seperti fosfor biru kehijauaan. Bosnan kaget dan tegang, sementara Lilu memandangi tangannya dengan terperangah kegirangan. Beberapa detik saja hal itu terjadi, setelah itu cahaya tersebut lenyap sama sekali dan tubuh Lilu tetap seperti semula, Bosnan menjadi terheran-heran setelah melihat Lilu tertawa cekikikan, dan menangis dalam keharuan.
“Kenapa… kau kenapa..?!”
“Bosnan… ragaku telah kembali! Baru saja hal itu terjadi, dan… dan… sekarang aku sudah menjadi manusia sempurna, memiliki raga, bisa dilihat dan disentuh orang lain. Lihatlah aku saying…!”
“Sudah sempurna…?” Bosnan menggumam heran, membiarkan gadis cantik itu menangis haru dan memeluknya kuat-kuat, sambil sesekali mencium pipinya.
Keterangan Lilu itu memang benar. Ketika mereka meninggalkan hotel tersebut, petugas hotel yang semula ditemui Bosnan dan yang saat itu berada di luar lobby, memandang Bosnan dengan terheran-heran. Bahkan secara terang-terangan pria yang tadi menggigil nyaris lumpuh akibat ketakutannya itu berkata pada Bosnan.
“Lho… sepertinya tuan tadi masuk kemari sendirian? Kanapa sekarang tuan mau pulang bersama nona ini…?! Dapat teman kencan dari mana tuan? Sejak kapan nona ini masuk hotel kami?!”
“Kita semua korban permainan iblis Bung. Bersyukurlah kepada tuhan, karena sekarang kita telah selamat…!” hanya itu kata-kata Bosnan yang ditujukan kepada petugas hotel, lalu ia pergi meninggalkan tempat tersebut dengan kegirangan hati yang melonjak-lonjak tiada habisnya, karena tanpa sengaja ia berhasil membuat Lilu menjadi gadis yang sempurna. Memiliki raga dan rupa yang nyata.
Bosnan Maulana patut menjadi orang paling bahagia di dunia ini. Karena, dia sudah berhasil mengembalikan malam pada posisi yang sebenarnya. Perubahan itu terjadi pada pukul 03:42 dini hari, tepat seperti saat hilangnya sang malam yang berganti siang itu. Sayangnya, yang hancur tetap hancur, yang rusak tetap rusak, tak bisa pulih seperti sediakala. Seperti halnya jarum jam yang mulai bergerak normal kembali itu. tentu saja kejadian aneh tersebut membuat semua orang tercengang-cengang dan saling mengucap syukur sendiri-sendiri kepada sang pencipta, karena mereka yakin kiamat tak jadi datang melanda dunia.
Ketika langkah Bosnan dan Lilu melewati tiga mobil yang mogik di jalanan dan saat itu masih terbakar karena disambar petir dari angkasa sana, Lilu segera menghentikan langkahnya dan meminta kotak permainan iblis yang tadi dimasukkan di saku celana Bosnan. Benda tersebut diserahkan padanya, kemudian Lilu melemparkan kotak itu ke dalam sisa kobaran api yang membakar tiga mobil tersebut.
“Kenapa kau buang kesana?” Tanya Bosnan.
“Benda tersebut hanya dapat dihancurkan oleh api dari langit. Dan menurut pendapatku, api dari langit adalah petir. Mobil ini terbakar karena disambar petir. Jadi…”
Bluuum…! Mereka sama-sama terkejut mendengar ledakan tak seberapa keras dari dalam api tersebut. Ledakan tersebut membuat nyala api berkobar tinggi dan tinggi sekali, membentuk seperti tiang menara. Warnanya pun merah seperti darah. Itulah pertanda bahwa kotak itu berhasil dihancurkan oleh api tersebut, dan akan hilang untuk selama-lamanya. Sekitar sepuluh detik kemudian, api yang menyerupai menara itu lenyap dengan cepat. Wuuub…! Yang ada hanya api kecil yang masih membakar bagian roda mobil.
Permainan iblis berhasil dihancurkan oleh sepasanxg cinta yang saling setia. Jika sejak itu Ruyan tetap menjadi pacar Debby, maka sejak itu pula Lilu menjadi pasanagan mesra Bosnan selamanya. Belakangan baru diketahu bahwa ternyata Bosnan masih ada darah keturunan bangsawan. Seandainya tak bertemu pamannya yang tinggal di Demak, jawa Tengah, Bosnan tak akan pernah tahu bahwa ia masih punya darah keturunan bangsawan, walau tak begitu jelas sebagai generasi yang keberapa. Pantaslah darah dari luka di bibirnya dapat menyempurnakan penampilan Lilu, sebagai gadis caantik yang sempurna.


SELESAI



Tidak ada komentar:

Posting Komentar