7
|
W
|
ARNA coklat
kusam mulai dimiliki setiap tanaman. Daaun-daun pohon mulai mongering, sehingga
alam di dominir warna coklat. Hawa panas yang menyebar dalam kehidupan manusia
ini telah mencapai tingkat membahayakan lingkungan. Setiap orang berbadan basah
karena keringat mereka mengalir terus. Manusia seperti berada dalam oven
raksasa yang memiliki suhu panas cukup tinggi. Ketegangan massa pun hampir mencapai
kepanikan merata. Ada tangis, ada keluh, ada takbir dan do’a menggema di
mana-mana. Masing-masing orang merasa yakin betul bahwa saat itu kiamat akan
tiba. Aktivitas religious terjadi dimana-mana, dan dilakukan oleh
kelompok-kelompok orang yang tidak ingin masuk neraka.
Disela-sela ketegangan massa dan kesibukan religious
massa, hanya Bosnan sendiri yang sibuk dengan masalah lain.yang paling utama
baginya adalah sibuk mencari Lilu, karena sampai acara keberangkatan jenazah
Resyana dari rumah duka, ternyata Lilu belum muncul juga. Bosnan sudah mencoba
mencari di sekitar rumah Marson, tapi tak berhasil menemukan gadis tersebut.
Bahkan karena keadaan tegang, Bosnan sempat bertanya kepada Pardi yang sejak
tadi mondar-mandir membantu mempersiapkan keberangkatan jenazah Resyana ke
pemakaman.
“Par, kamu lihat temanku tadi? Gadis berambut pendek
yang…”
“Gadis yang mana sih tuan…?”
Bosnan tertegun setelah ingat bahwa Lilu hanya dapat
dilihat oleh dirinya seorang. Percuma saja ia menanyakan pada Pardi atau kepada
orang lain. Maka, pertanyaan itupun dibatalkan.
“Lupakan pertanyaan tadi. Aku agak ngaco nih Par…”
ujarnya menutupi kecurigaan Pardi. Sementara di lantai atas rumah itu masih
banyak para petugas kepolisian dan pihak yang berwajib lainnya yang meneliti
kamar Resyana bersama sisa kebakarannya. Seandainya waktu kamar itu terbakar
dan tidak disemprotkan dengan tiga tabung pemadam kebakaran milik para
tetangga, mungkin rumah besar keluarga Marson itu akan terbakar habis bersama
penghuninya. Bosnan mencoba bergabung dengan petugas di lantai atas sambil
melirik kesana-sini, mencari Lilu. Ternyata Lilu tak ada di sana.
“Apakah dia sudah lenyap karena terhisap hawa panas
ghaib ini?” pikir Bosnan dengan hati mulai nyeri. Kekhawatirannya akan hal itu
membuatnya semakin tidak tenang dan tegang.
“Jangan sampai jadi begitu ah…! Mudah-mudahan dugaanku
nggak benar. Kalau melihat alam sudah mulai kering dan hawa panas mulai
menghanguskan kulit, aku khawatir kekuatan ghaib yang menyebar di sekeliling
manusia ini sudah mencapai tingkat penghisapan zat-zat ghaib. Ohhh…
mudah-mudahan belum mencapai tingkat itu. lalu dimana dia sekarang? Mengapa
disana-sini dia nggak ada? Berengsek betul anak itu! apakah dia sengaja
membuatku semakin stress begini?”
Bosnan memang belum menceritakan kepada siapa pun di
rumah itu tentang kotak permainan iblis itu. ia khawatir kotak itu ditemukan
orang dan orang tersebut justru ingin mencoba permainannya setelah mendengar
penjelasan darinya mengenai bahaya maut dalam permainan tersebut. Seandainya
kotak itu sudah ditemukan Lilu, barulah ia berani menceritakan kepada siapa pun
tentang misteri benda berbentuk kubus tersebut, maka Bosnan pun tak berani
bertanya baik kepada petugas atau pada keluarga Marson, apakah ada diantara
mereka yang menemukan kotak tersebut. Ia harus mencarinya sendiri secara
diam-diam, sambil memburu kekasihnya.
Dalam suasana serba panas dan mencemaskan tiap manusia
itu, pihak keluarga Marson tetap melakukan persiapan pemakaman. Sebuah peti
amti sudah dipesan sejak tadi, namun baru sekarang peti mati itu tiba di rumah
duka. Peti itu dibawa dari tempatnya dengan berjalan kaki, karena jalanan penuh
mobil mogok, dan transportasi umum lumpuh total. Bosnan memberanikan diri ikut
membantu keluarga korban dalam mempersiapkan pemakaman. Ia sengaja ikut
memasukkan jenazah Resyana yang meringkuk kaku itu ke dalam peti mati. Hal itu
ia lakukan sambil mencari-cari kalau saja benda iblis ternyata masih berada
diantara pelukan mayat Resyana. Dengan cermat sekali mata Bosnan memperhatikan
kerangka hangus itu, tapi sampai jenazah masuk ke peti mati tak dilihatnya
kotak permainan iblis ada di sela-sela kerangka Resyana.
Mereka yang ingin ikut ke pemakaman jumlahnya semakin
berkurang. Rata-rata mereka pulang ke rumah karena tak sanggup menahan sengatan
hawa panas yang berasal dari gelombang ghaib, yang terkesan beraal dari langit
itu. Bosnan sendiri dalam kebimbangan ketika berdiri di luar pintu pagar,
karena di sekitar sana pun ia tak melihat kemunculan Lilu. Ia menyangka Lilu
sudah kembali ke tempat kostnya, mungkin disangka sudah ditinggal pulang oleh
kekasihnya.
Rupanya dalam suasana lalu lintas jalan raya serba kacau,
masih ada orang yang memaksakan diri bepergian dengan menggunkan mobil
pribadinya.entah berapa lama perjalanan yang ditempuh, tapi yang jelas sedan
audi berwarna merah magenta akhirnya berhenti pula di depan rumah Marson.
Bosnan terperanjat melihat mobil itu, karena ia tahu persis nomor serinya
menunjukkan bahwa mobil tersebut adalah mobil milik Debby. Ia tak menyangka
Debby akan hadir untuk menyampaiakan rasa berdukanya kepada Dilton, sebab
Dilton memang mempunyai jalur bisnis dengan perusahaannya Debby.
Seperti saat kematian Marson, Debby juga hadir. Tapi
tidak sampai ikut ke pemakaman, dan tidak sempat bertemu dengan Bosnan karena
selisih jarak waktu saja. Dalam suasana serba menegangkan dan kacau ini,
biasanya Debby enggan bepergian kamana-mana. Tapi kali ini justru dia
menyempatkan diri untuk datang ke rumah Dilton walau suasana jalan agak sangat
tak nyaman. Mungkin factor musibah yang menimpa keluarga Dilton, sehingga Debby
memaksakan diri untuk bisa datang, walau hanya sebentar.
Namun sesuatu yang sangat di luar dugaan dan cukup
mengejutkan Bosnan adalah kehadiran Debby yang didampingi seorang pemuda
berperawakan tegap, macho dan berambut cepak. Hampir saja Bosnan tak
mempercayai penglihatannya sendiri, bahwa setelah Debby keluar dari sedan mewahnya
itu, dari sisi kiri keluar juga seraut wajah yang sangat dikenali Bosnan, yaitu
Ruyan. Meskipun dari dulu Bosnan mengetahui bahwa Ruyan punya hubungan bisnis
dengan Debby, dan dialah yang memperkenalkan Ruyan dengan Debby beberapa waktu
yang lalu, tetapi mereka berdua sungguh suatu sensasi yang tak pernah
terbayangkan sebelumnya.
Debby Dan Ruyan Sempat Terperanjat Dan Sama-Sama Kikuk
Sesaat, Karena Saat Mereka Turun dari mobil tadi mereka belum melihat
keberadaan Bosnan di dekat pintu masuk. Setelah beberapa langkah baru mereka
lihat Bosnan ada di depan langkahnya. Seolah-olah mereka berdua kepergok
berduaan oleh Bosnan. Tetapi begitu ingat bahwa Bosnan sudah tak peduli lagi
dengan Debby, maka baik Ruyan maupun Debby buru-buru menetralisir sikap dan perasaannya.
Mereka merasa tak perlu takut atau malu kepada Bosnan, sekalipun saat itu
mereka memang terkesan sedikit mesra, sebab tangan Debby sempat memegangi
lengan Ruyan dalam melangkah. Genggaman tangan itu buru-buru dilepaskan secara
reflex tadi, dan membuat Bosnan sendiri menyinggungkan senyum kecil, senyum
geli-geli sinis. Ia pun cepat-cepat menyikapi keadaan tersebut dengan tenang
dan berusaha utnuk tetap terkesan bersaahabat dengan mereka.
“Hey Bos… sama siapa kamu…?” tegur Ruyan lebih dulu.
“Sendirian aja,” jawabnya kalem. Ekspresi wajah Debby
seperti ingin mencibir sinis. Suaranya pun bernada agak ketus.
“Hmmm, disini sendiri, tapi di dalam sana pasti dia
tak sendirian, Ru. Bukankah begitu Bos…?”
Hanya senyum getir yang menjawab pertanyaan Debby itu.
selanjutnya Bosnan tetap bersikap kalem, dan sengaja mengalihkan suasana batin
mereka untuk pindah haluan.
“Silakan…! Dilton pasti sudah menunggu kedatangan
kalian sejak tadi. Silakan temui dia dulu sana…!”
Debby yang wajahnya menjadi seperti kepiting rebus
akibat udara panas itu, kali ini sengaja bergegas lebih dulu untuk menemui
Dilton di dalam sana. Ruyan sengaja tidak mengikutinya, karena ingin menjaga
perasaan Bosnan agar tak tersinggung melihat bekas pacarnya jalan bersama teman
dekatnya sendiri. Sesungguhnya hati kecil Ruyan sangat tak enak, serba salah,
dan merasa malu sekali terhadap Bosnan. Ia tahu Bosnan pasti memiliki kecaman
dan penilaian sendiri terhadap pribadinya yang tampak ingin merapatkan hati
kepada gadis buangan Bosnan. Setidaknya Ruyan dapat menggeser sedikit persepsi
Bosnan tentang hubungannya dengna Debby tersebut. Oleh karenanya kata-kata
membisik yang pertama diucapkan Ruyan adalah alas an kebersamaannya dengan
Debby.
“Kebetulan kami bertemu di jalan, jadi aku sekalian
numpang mobilnya untuk kemari.”
Bosnan tersenyum tawar. “Apakah kau kenal dengan
keluarga Dilton? Kurasa kau tidak mengenalnya Yan. Tapi sudahlah…. Tak perlu
basa-basi soal kebersamaanmu dengan Debby.”
“Kau tersinggung..?”
“Sama sekali nggak!” tegas Bosnan.
“Mestinya kau tersinggung dong Bos…”
“Memangnya dia itu apaku, kok aku harus tersinggung?
Aneh kau ini,” tawa pelan mengikuti pernyataan santainya.
“Atau mungkin karena kau datang bersama penggantinya,
maka kau tak merasa harus tersinggung melihat kebersamaan kami tadi?”
“kau lihat aku sekarang? Sendirian atau bersama gadis
lain?” Bosnan membantah dsugaan Ruyan secara kelakar. Bahkan menepuk-nepuk
pundak Ruyan sambil melanjutkan ucapannya.
“Sudahlah, jalan saja terus! Jangan punya persepsi
yang bukan-bukan. Asyik-asyik sajalah kalian. Buatku nggak ada masalah kok.”
“Kamu serius Bos…?”
Tertawa lagi Bosnan mendengarnya, tapi tawa yang
sangat pelan.
“Cuaca sangat buruk, kondisi ala mini pun sangat
mengkhawatirkan, Yan. Persoalan seperti itu tak perlu kita perburuk juga bukan?
Khawatirkan saja tentang keutuhan ala mini, jangan kamu khawatirkan tentang
diriki. Okey?” Bosnan menatap Ruyan yang kelu, lalu menambahkan kata. “Nah,
susullah dia ke dalam sana…!”
Ruyan pergi menyusul Debby. Maka kecemasan dan
kebingungan Bosnan muncul lagi ke permukaan wajahnya. Ia harus mengambil
keputusan; menunggu Lilu disitu atau menengok keadaan di tempat kostnya, siapa
yahu Lilu sudah ada disana? Sebelum salah satu alternative dipilihnya, langit
terang tanpa mega itu tiba-tiba mengeluarkan kilatan cahaya hijau pias. Cralp…!
Dan sebuah ledakan besar trejadi seketika itu juga. Blegaarrr….!
Suasana di rumah duka menjadi gusar. Guntur di siang
bolong merupakan tanda-tanda kiamat mualai tiba, menurut mereka. Wajar jika
para tamu semakin banyak yang bergegas pulang, tanpa menunggu pemberangkatan
jenazah ke pemakaman. Tentunya mereka yang segera pulang berkeinginan tetap
berjkumpul bersama keluarganya apabila detik-detik kiamat sudah tiba nanti.
Bosnan sendiri sempat berpikir begitu, tapi ketika ia melihat kilatan cahaya
Guntur menyambar bumi, dan tak lama setelah itu tampak gumpalan asap melambung
dari bangunan yang tersambar petir tadi, maka pikirannya semakin kuat tertuju
pada Lilu. Andaikata bumi nanti hancur ia ingin tetap bersama Lilu.
“Bos…!” panggil sebuah suara dari arah jalanan sewaktu
Bosnan hendak melangkah masuk ke rumah, ingin pamit kepada Dilton dan
keluarganya. Panggilan itu jelas suara seorang gadis. Bosnana buru-buru
berpaling setelah ia yakin tak ada orang lain yang memperhatikan suara
panggilan tadi. Spontanitasnya jadi ternyata benar. Gadis yang memanggilnya
memang Lilu. Hati Bosnan merasa lega melihat Lilu menghampirinya. Tapi
kecemasan meningkat cepat, karena Lilu dalam keadaan seperti habis diperkosa.
“Lilu…?! Kenapa kau?!” Bosnan segera menarik tangan
Lilu untuk dibawa ke tempat yang terlindung dari pandangan umum. Sebab,
percakapannya dengan Lilu nanti jika dilihat orang akan membuat orang tersebut
menganggap dirinya gila, karena ia tampak seperti bicara sendiri dengan tempat
kosong.
Bosnan mendesak Lilu agar segera member penjelasan,
walau gadis itu sedang menenangkan pernafasananya yang terengah-engah.
Rambutnya yang pendek kini sudah menjadi tak teratur dan acak-acakan. Kulit
tubuh Lilu tampak kotor, bercampur debu-debu hitam. Pakaiannya pun selain
menjadi kotor, kucal, lesuh, juga robek di beberapa bagian. Bosnan bisa melihat
keringat Lilu melekat seperti air selokan, karena bercampur dengan debu hitam.
Tetapi gadis itu menggenggam kotak permainan yang ditutup dengan kedua
tangannya, agar tak terlihat orang lain sebagai benda yang berjalan sendiri.
“Hastaraka sudah kutemukan. Tapi cepat bawa aku pergi
dari sini Bos. Aku khawatir mereka mengejarku kemari!”
“Mereka siapa maksudmu?!” Tanya Bosnan sambil menerima
benda itu dengan gemetar, lalu buru-buru dimasukkannya ke saku celananya.
“Paras pengembara alam ghaib, alias manusia-manusia
penjelajah antar dimensi. Cepatlah pergi dari sini Bos! Nanti kujelaskan di
perjalanan!”
“Pulang ke tempat kost kita, begitu..?”
“Ya, sebaiknya begitu! Pokoknya cari tempat yang
aman!”
Diserambi samping Debby dan Ruyan tampak sedang pamit
kepada wakil keluarga Dilton. Mereka melihat Bosnan pergi sendirian menuju ke
pertigaan jalan, tempat mangkal para pengojek. Tetapi Ruyan tak yakin bahwa
Bosnan ingin mencari ojek untuk pulang, sebab di pangkalan itu tadi tak
terlihat ada satupun juga tukang ojek yang menunggu penumpang. Mungkin para
tukang ojek itu juga berkumpul bersama keluarganya menghadapi detik-detik
kiamat yang diyakini akan tiba sebentar lagi.
Ketika mobil audi itu meluncur pulang, Debby sempat
menghentikannya sebentar di samping Bosnan. Ia dan Ruyan sama-sama menawarkan
tumpangan sebagai tanda perdamaian atas perang dingin mereka. Tetapi Bosnan
menolak, dan menyatakan lebih suka berjalan kaki sendirian daripada menumpang
mobil orang. Penolakan itu dilakukan karena diam-diam Lilu selalu berbisik pada
Bosnan, bahwa ia tidak setuju jika menumpang mobil Debby. Lilu mendesak Bosnan
untuk menolak bujukan Ruyan dan Debby, sehingga audi itu pun segera pergi
meninggalkan Bosnan yang dalam penglihatan mereka hanya berjalan kaki
sendirian.
Kebetulan tak jauh dari pangkalan ojek yang kosong itu
terdapat sebuah hotel kecil yang duklunya bekas penginapan, lalu direnovasi dan
ditingkatkan persyaratannya, sehingga menjadi sebuah hotel yang berukuran
sedang. Lilu mengusulkan untuk chek-in di hotel tersebut, karena ia ingin
buru-buru bersembunyi dari ancaman bahaya yang kemungkinan dapat menyerangnya
sewaktu-waktu. Hotel tersebut ternyata kosong, tidak ada tamu yang bermalam di
situ. Bahkan petugas hotelnya pun hanya beberapa orang. Mungkin pegawai lainnya
tak menghiraukan lagi tugas-tugasnya di hotel tersebut, karena sibuk menghadapi
tanda-tanda akhir zaman.
“Silahkan berapa saja tuan mau bayar biaya chek-in,
akan saya terima. Tapi… terus terang kami tidak siap betul melayani tuan.
Maklumlah… keadaan seperti ini, bisa saja sewaktu-waktu datang bahaya besar
kami langsung kabur,” kata petugas hotel yang terkesan malas-malasan mengenai
booking kamar tersebut. Karena Lilu tampak sangat membutuhkan tempat aman, maka
Bosnan pun akhirnya menggunakan salah satu kamar hotel tersebut sebagai tempat
persembunyian sementara bagi Lilu. Di kamar itulah Lilu menceritakan insidennya
saat berusaha mencari kotak permainan iblis tersebut.
Menurutnya, pengembara alam ghaib mengetahui
terbukanya gerbang petaka yang dari dulu sulit mereka lakukan. Melihat cahaya
kehancuran terbesar di alam kehidupan manusia, maka beberapa dari kelompok
pengembara alam ghaib itu datang ke bumi, mencari Hastaraka dengan cara mengenali
letak datangnya sumber bencana yang tak lain adalah energy ghaib dari kotak
permainan tersebut.
Pengembara alam ghaib adalah manusia-manusia tempo
dulu, yang pernah hidup di bumi ratusan tahun yang lalu. Mereka memiliki
tingkat peradaban yang sangat tinggi, kecerdasan dan IQ yang tingginya belum
pernah dimiliki oleh manusia abad sekarang. Lilu mengetahui hal itu melalui
cerita si kakek yang pernah terperangkap di dalam kegelapan bersamanya. Menurut
cerita si kakek tersebut, tingginya ilmu dan tekhnologi pada masa ratusan ribu
tahun yang lalu telah menimbulkan perang bintang antara manusia di bumi dengan
manusia di planet lain. Perang besar tersebut sempat memporak-porandakan bumi
dan seisinya. Penghuni bumi tinggal sedikit dan melarikan diri melintasi
beberapa dimensi yang lainnya, sampai akhirnya mereka mendapat julukan
pengembara alam ghaib.
“Untuk apa mereka menginginkan benda terkutuk itu…?”
“Untuk membuka rahasia. Semua rahasia di alam ghaib
bisa dibuka melalui Hastaraka itu. Selama bertahun-tahun mereka mengembara di
alam ghaib, namun belum berhasil membuka beberapa rahasia besar yang ada di
alam ghaib itu sendiri, antara lain; membuka lorong penyimpan harta karun para
dewa, menemukan pintu masuk lumbung
pusaka maha dahsyat, dan sebagainya. Melalui permainan dalam kotak Hastaraka
itulah mereka dapat mencari dan menemukan kunci-kunci rahasia besar itu Bos.
Makanya, begitu mereka mengetahui cahaya bencana menyebar di bumi, dan mereka
tahu tak ada kunci lain yang bisa membuka gerbang petaka selain Hastaraka, maka
mereka pun segera memburu benda itu ke bumi.”
“Bagaimana kau bisa bertemu dengan mereka?” Baukankah
kau mencari benda itu di dalam rumah Marson?”
“Memang. Aku berhasil menemukan benda itu dai atas
atap dapur. Rupanya benda itu terpental dari kamar Resyana pada saat
memancarkan cahaya panas dari gelombang petaka. Cahay itu kuduga menghanguskan
Resyana lebih dulu sambil terpental kuat, menerobos jendela kamar yang terbuat
dari kaca itu. dari sana benda itu melayang jauh di atas atap dapur. Sisa
kilauan cahaya panas itu tertangkap oleh radar ghaibnya para pengembara antara
dimensi, sehingga mereka mengejarnay kemari. Ada delapan orang jumlahnya,
dengan masing-masing mengendarai kuda semberani, alias kuda ghaib. Kuda itu
bisa mengeluarkan tenaga petir dan tak bisa dilihat oleh mata oprang biasa.”
Pada waktu Lilu memungut benda permainan iblis itu di
atas atap dapur, tiba-tiba ia dikelilingi oleh delapan pengembara alam ghaib.
Mereka meminta agar Lilu menyerahkan benda tersebut. Tetapi Lilu justru
melarikan diri menggunakan sisa kekuatan supranaturalnya. Mudah sekali bagi
Lilu melarikan diri menembus dimensi ghaib karena belum memiliki raga kasar.
Mereka segera memburu Lilu, melepaskan gumpalan badai ghaib yang membuat Lilu
jungkir balik berkali-kali di padang pasir hitam, yaitu gurun yang memiliki
tanah ghaib seperti jelaga.
Namun dengan sekuat tenaga Lilu tetap mempertahankan
benda tersebut. Pelariannya tetap dilanjutkan meski dihantam badai berkali-kali
oleh lawannya. Saying sekali pelarian itu akhirnya menemui jalan buntu, karena
gumpalan kabut hitam yang dinamai kabut bencana telah membentang, menghadang di
depan Lilu dalam perjalanan, kabut itu mendekati alam manusia. Lilu terdesak,
tapi memiliki sisi keberuntungan sendiri, yaitu sebagai pihak pemegang
Hastaraka. Pada waktu mereka bersama-sama menyerangnya dari depan, Lilu memutar
ruas kotak permainan iblis itu sebisa-bisanya. Tepat ketika mereka menerjangnya,
Lilu sudah bisa meleset melebihi kecepatan petir akibat getaran energy ghaib
pada kotak tersebut. Akibatnya, para pengembara alam ghaib itu tak menemukan
sasarannya, mereka justru terjerumus masuk ke gumpalan kabut hitam. Maka, saat
itulah mereka meledak bersama-sama dan lenyap selama-lamanya. Ledakan tersebut
membias ke bumi, berbentuk dentuman besar yang memercikan cahaya petir hijau
tadi. Dentuman itu membuat Lilu terlempar masuk kea lam kehidupan manusia lagi,
sehingga jatuh di sekitar tempat asal pelariannya. Jatuhnya Lilu bersamaan
dengan kilatan cahaya petir hijau yang menyambar sebuah gedung dan
mengakibatkan kebakaran besar itu.
“Tapi aku khawatir kalau-kalau mereka masih penasaran
dengan benda itu dan memburuku kemari.”
“Bukankah mereka sudah lenyap setelah tergulung kabut
hitam?”
“Yang delapan memang begitu, tapi yang lain kan masih
banyak? Mungkin teman-temannya yang berada di sisi lain melihat kegagalan
tersebut, sehingga beberapa dari mereka menggantikan tugas untuk memburu
Hastaraka dari tanganku. Bisa saja kan?”
Bosnan menggumam berat sambil manggut-manggut. Ia
keluarkan kembali kotak permainan iblis itu dari saku celananya. Ia perhatika
sejenak dengan jantung berdetak-detak kuat.
“Kalau begitu, sekarang juga benda keparat ini harus
kita hancurkan!” geram Bosnan seperti menyimpan dendam kesumat yang amat besar
pada benda tersebut.
“Tunggu!” sergah Lilu. “Kita salah perhitungan dalam
rencana semula. Kalau benda ini dihancurkan sekarang juga, maka kita tak akan
bisa menyelamatkan bumi dan alam semesta manusia dari kehancuran kabut
bencana.”
“Jadi…?”
“Pergunakan dulu benda iru untuk menutup gerbang
petaka, sehingga cahaya terang yang semakin panas ini segera hilang, lalu kabut
bencanapun memburunya atau menunggu utnuk bergerak kemabali. Singkatnya,
gunakan dulu benda ini untuk menyingkirkan cahaya panas ini, setelah itu baru
kita hancurkan!”
“Lalu, bagaimana caranya menggunakan benda ini?”
“Cari symbol-simbol penguncinya…!”
“Apakah kau tahu symbol-simbol itu…?”
Lilu menghembuskan nafas panjang, lalu menggeleng
sedih. Ia tak tahu symbol seperti apa yang dapat dipakai untuk menutup gerbang
petaka, sehingga ia tak mungkin bisa menyusun gambar-gambar pada kotak
Hastaraka dengan benar. Gambar-gambar yang telah tersusun dan menghasilkan
suatu akibat, maka dengan sendirinya gambar-gambar itu akan berubah secara
acak, sehingga sulit untuk disusun seperti semula lagi.
“Kalau begitu akan kucoba mencari susunan symbol
penutup gerbang petaka itu,” kata Bosnan sambil mulai memegang benda itu dengan
kedua tangannya, siap untuk memutar dan membolak balik potongan gambar yang
terpisah secara acak-acakan. Tapi tangan Lilu buru-buru menahn gerkan tangan
Bosnan. Gadis yang duduk bersimpuh di atas kasur, di samping kanan Bosnan itu
berkata pelan tapi penuh keseriusan yang mencekam dirinya sendiri.
“Hati-hati! Jangan sampai salah susun. Nanti
menimbulkan akibat lain yang bisa-bisa mempercepat lematian kita!”
“Aku tahu, karena itu dekatlah terus padaku. Bila
perlu, peluk aku supaya kalau sampai terjadi bencana pada diri kita, maka kita
pun tetap akn bersama-sama.”
“Okey. Aku akan memeluk hatimu juga, mulai sekarang
sampai selamanya,” suara parau Lilu membangkitkan keberanian Bosnan untuk
berspekulasi dengan benda tersebut. Maka, ia pun member kecupan lembut terlebih
dulu di bibir Lilu. Kehangatan mengalir ke seluruh tubuh. Kehangatan itu adalah
kehangatan cinta sejati yang akan menuntun naluri Bosnan untuk menempatkan
potongan-potongan gambar pada kotak tersebut hingga tersusun dengan benar.
“Mulailah bermain, sayang…!” bisik Lilu sambil
mengusap cucuran peluh di rahang Bosnan. Maka mulailah Bosnan memainkannya.
Udara semakin memanggang manusia hisup-hidup. Panasnya
bukan main bagi ukuran kulit manusia normal. Sengatan cahaya terang di alam
bebas telah membuat banyak pohon mengalami pengeringan total. Sungai kehilangan
air, lautan pun mengalami penyusutan besar-besaran, hewan-ternak banyak yang
mati, sementara kulit manusia rata-rata mulai berwarna hitam kemerah-merahan.
Di dalam kamar hotel itu keringat Bosnan mengucur
lebih deras lagi. Selain terkurung hawa panas yang tak dapat dilawan dengan
kesejukan hawa AC, ketegangan yang terjadi akibat pemusatan konsentrasi
besar-besaran itu juga factor terkurasnya keringat Bosnan di sekujur tubuh.
Pakaiannya basah kuyup, seperti habis kehujanan. Dan, hal itu ternyata tidak
dipedulikan sama sekali. Ia sibuk memutar-mutar ruas kubus yang memiliki
lambing-lambang kekuatan ghaib itu. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati
serta penuh eprhitungan matang. Adakalanya menggunakan insting serta naluri
kemujurannya agar tak melakukan kesalahan dalam menyusun lambing-lambang mistik
itu.
Lilu mendampinginya dengan setia. Sebentar-sebentar
mengusap peluh di sekitar wajah Bosnan dengan sarung bantal yang sudah dilepas
dari bantalnya, karena kedua handuk yang disediakan di kamar itu sudah terlalu
basah oleh keringat mereka.
“Lihat bidang sisi kiri ini, sudah tersusun gambar
seperti sepasang sayap kelelawar,” ia menunjukkannya kepada Lilu. Gadis itu
menggumam pelan. “Jika ruas bawah kuputar ke kanan, maka bidang kiri ini
mendapat gambar kepala hewan, tapi bukan kelelawar. Bagaimana menurutmu?”
Lama sekali Lilu menjawab, karena iapun harus berpikir
keras sambil memadukan naluri batinnya. Pada saat itu suara dentuman besar
terdengar lagi. Petir maut menyambar ke bumi, lantai sempat bergetar sesaat,
terdengar suara orang di jalanan berseru tentang sebuah sekolah telah terbakar
disambar petir. Dan, hal-hal seperti itu sengaja tak dihiraukan oleh Bosnan dan
Lilu. Mereka tetap berkonsentrasi pada susunan symbol-simbol mistik dalam kotak
kubus yang dapat diputar kesana-sini itu.
“Kepala binatang yang akan masuk diantara dua sayap
itu sepertinya adalah binatang yang hanya hidup di alam ghaib.” Kata Lilu.
Jangan-jangan justru bentuk binatang seperti itulah yang akan mewakili
penampakan para pasukan iblis? Jika simbol itu tersusun, tahu-tahu ribuan iblis
bertampang kelelawar berdatangan kemari menyerang kita!?”
“Jadi bagaimana? Tangguhkan dulu?”
“Ya, kucoba mengingat-ingat apa saja yang pernah
diceritakan oleh kakek tua itu padaku, mungkin bisa dijadikan petunjuk bagi
kita.”
Memang semakin menegangkan suasana di saat itu. mereka
berdua seperti berada di depan sebuah bom yang harus dijinakkan. Bukan saja
karena mulai banyak petir liar yang menggelegar di angkasa, atau kadang
menghancurkan bangunan, tapi juga karena tekanan kejiwaan yang semakin berat
yang kini hamper membuat Bosnan putus asa. Ia tak memiliki p[anduan apapun
untuk menentukan bentuk lambing-lambang mistik yang harus disusunnya. Sementara
jika ia salah susun, bisa-bisa yang timbul adalah malapetaka bagi dirinya dan
kekasihnya.
“Bos, aku ingat cerita kakek itu yang pernah
menyinggung-nyinggung tentang kekuatan iblis. Sebab, kakek itu semasa hidupnya
adalah seorang pendeta yang bertugas memburu kaki-tangan iblis di muka bumi.
Tapi ia terperangkap oleh bujuk rayu iblis betina hingga berada di alam
kegelapan, jauh-jauh sebelum aku terperangkap di alam itu juga.”
“Apa yang kau ingat dari ceritanya?” Bosnan sengaja mengendurkan
konsentrasinya, khusus untuk mendengar dan menyimak kata-kata Lilu.
“Iblis dilambangkan dengan gambar cahaya api. Jadi,
api adalah kekuatan iblis paling utama.”
Lilu diam kembali. Tapi mereka masih saling pandang.
Sesaat kemudian Lilu bicara lagi agar Bosnan tak menunggu terlalu lama. “Cuma
itu inti cerita si kakek tentang kekuatan iblis. Lalu aku ingat tentang guru
agamaku dulu, sewaktu aku masih duduk di bangku SMA, bahwa kasha dapat
mengalahkan segalanya, termasuk mengalahkan kekuatan iblis sebesar apapun. Tapi
aku nggak tahu kasih dilambangkan sebagai apa?”
“Salib…?!” Bosnan menggumam ragu-ragu melamun bisu.
“Salibb?! Ooohh, iaya kayu salaib!”
Bosnan terperanjat, seperti mendapat ide yang
meyakinkan. Ia buru-buru memandangi tiap potongan gambar pada kotak permainan
itu. Dibolak-balik, dijauhkan dari mata, didekatkan kembali, sampai akhirnya
wajah tegangnya mengalami perubahan samar-samar. Mulai ada keceriaan. Pandangan
matanya yang ditujukan pada Lilu pun mengandung kesan kegembiraan hati yang
tumbuh perlahan-lahan. Hanya saja, sorot pandangan mata itu segera kehilangan
kecerahan kembali setelah dahinya sedikit berkerut, menandakan ada sesuatu yang
janggal pada diri kekasihnya.
“Li… kau sudah nggak berkeringat lagi? Kok wajahmu
nggak berkeringat sih?!”
Lilu menggeragap cemas. Meraba wajah dan tubuhnya
sendiri. Bosnan ikut meraba sampai di kedalaman yang seharusnya terlarang.
Ternyata memang Lilu tak berkeringat lagi. Bahkan tubuh itu terasa dingin
sekali. Raut wajah cantik itu pun meluntur sedih.
“Bos…” kata Lilu pelan sekali. “Dari tadi aku memang
sudah merasa dingin, seperti ada angin yeng bertiaup di sekeliling tubuhku.”
“Astaga…?!” Bosnan mengeluh dan sangat was-was.
“Badanku terasa seperti mau mengempis perlahan-lahan.
Mungkin… mungkin kekuatan hawa ghaib ini sudah mulai menyerap jazad ghaibku
Bos.”
“Oh, Li….!” Bosnan memeluknya kuat-kuat. “Tidak, Li.
Kamu tidak boleh pergi dariku! Tidak kubiarkan kekuatan ghaib iblis ini
menghisap jasad gaibmu Li…!” Bosnan menciumnya.
“Energi ghaibku akan menguap Bos.” Bisik Lilu para
sekali.
Bosnan buru-buru melepaskan pelukannya. Ia harus
melakukan sesuatu terhadap kotak maut itu. Baru saja terl;intas dalam benaknya
tentang simbol kayu salib yang diyakini sebagai simbol kekuatan untuk
mengalahkan iblis. Sedangkan tadi dilihatnya ada beberapa potongan gambar yang
dapat disusun untuk lambing salib. Maka, dengan tangan semakin gemetar dan
terburu-buru Bosnan mulai menyusun potongan-potongan gambar tersebut dengan
memutar tiap bagian ruas kotak ke kanan, kiri, atas, bawah, atau depan dan
belakang. Nafasnya terhela cepat menandakan jiwanya dalam tekanan sesuatu yang
menegangkan tegang sekali.
“Hati-hati, jangan salah putar! Nanti di bidang lain malah terbentuk
lambing mistik yang berbahaya!” Lilu mengingatkan.
“Okey… okey….! Sebentar lagi aku akan berhasil membentuk lambing salib
nih…!” Bosnan memang semakin berdebar-debar, tapi getaran tangannya mulai
lambat karena emosinya sedang diturunkan. Jika ia berhasil, maka ia akan
mendapatkan satu susunan gambar salib yang setiap ujung-ujungnya memiliki
hiasan bintang.
“Uts…!” Bosnan tersentak kaget karena salah putar, sehingga ada potongan
gambar yang masuk ke sisi lain dan membentuk simbol menyerupai burung gagak.
Buru-buru Bosnan memutar potongan bagian bawah agar bentuk burung gagak itu tak
lengkap. Tetapi ternyata ruas bawah mengalami hambatan, sehingga sulit diputar
kesana-sini. Mungki karena gugup, maka ruas pemutar seperti mengalami
kemacetan.
“Sialan! Sulit sekali diputarnya sih?!” geram Bosnan dengan mengerahkan
tenaga untuk memutar ruas bawah itu. Lilu berwajah tegang setelah melihat
Bosnan mengalami kesulitan untuk merubah gambar yang menyerupai burung gagak
itu supaya tidak sempurna.
“Tenang Bos… tenang. Jangan gugup begitu. Tenang…!” bujuk Lilu dengan nafas
mulai cepat. Ia sendiri dalam keadaan tidak tenang.
Ranjang dan lantai mulai bergetar. Firasat mereka semakin tak enak.
Ketegangan makin memuncak. Dan tiba-tiba lantai kamar menggelembung naik, lalu
retak perlahan-lahan. Bosnan masih sibuk berusaha merombak gambar burung gagak
itu, sedangkan Lilu sudah turun dari ranjang, menarik tangan Bosnan agar mereka
melarikan diri keluar dari kamar. Bagian lantai yang menggelembung naik itu
kini menyemburkan tanah dan pecah, serpihan ubinnya menyebar kemana-mana.
Bzzzzrrrraaak…!
“Cepat pergi dari sini, Bosnan…!!” seru Lilu menyadarkan kegugupan
kegugupan Bosnan. Tapi ketika Bosnan ingin melompat turun dari ranjang,
tiba-tiba Lilu terlempar ke atas. Wuut…! Bosnan cepat bangkit menyambar tangan
Lilu, sehingga gadis itu tidak sampai membentur langit-langit kamar. Rupanya
lantai tempat Lilu berpijak tadi sekarang juga ikut menggelembung dan pecah,
seperti kuburan yang terbuka bagian atasnya. Beruntung sekali Bosnan berhasil
menangkap tubuh Lilu yang tadi melambungh ke atas. Tangkapan tersebut membuat
kotak permainan iblis terpental ke sudut ruangan.
“Yaahh, kotak itu…” pekik Lilu dengan mata terbelalak lebar. Bosnan
buru-buru meletakkan Lilu di atas ranjang, karena ia ingin melompat ke sudut
untuk mengambil kotak permainan iblis itu.
Bruuusss….! Gubraaakkk…!
Lantai di bawah ranjang juga menggelembung naik, pecah terbelah. Suatu
hawa berkekuatan besar menghembus dari pecahan lantai dan membuat ranjang pun
terlempar naik. Disusul kemudian dengan munculnya benda besar dan panjang tapi
bergerigi, bentuknya seperti buaya, tapi jelas bukan buaya. Benda itu bergerak
menyabet ke kanan dan ke kiri dengan cepat. Ranjang pun hancur berantakan,
sementara Bosnan terlempar kuat-kuat kea rah jendela. Prook….!
“Aoow…!” teriaknya keras-keras sambil segera memegangi mulut dan hidung.
Bibirnya pecah berdarah karena luka akibat wajahnya membentur bongkahan lantai
berubin mencuat ke atas itu. Tapi perutnya selamat dari keruncingan ubin
lainnya. Sementara itu, Lilu terlempar ke pintu, tak sampai menabrak pintu itu,
hanya terbanting di kemiringan lantai yang ubinnya mulai retak.
“Li… cepat keluar kau!” seru Bosnan setelah mengetahui bahwa benda yang
muncul dari kedalaman lantai ternyata ekor hewan besar yang belum jelas bentuk
keseluruhannya. Tapi dalam dugaan Bosnan, hewan itu sangat besar, menyerupai
seekor dinosaurus. Terbukti dari ekornya yang masih menyabet ganas kesana-sini
itu berukuran sebesar badan buaya. Itu baru ujung ekornya. Belum semua bagian
ekornya yang muncul, dan memang sekarang berusaha muncul semua dengan cara
mendobrak lapisan tanah lantai. Maka, tak ada cara terbaik kecuali menyuruh
Lilu kabur lebih dulu.
Tetapi Lilu tak mau meninggalkan kekasihnya yang terancam bahaya. Ia
justru berusaha mendekati Bosnan walau harus merangkak sesaat, dan berlari lagi
untuk melompati lantai yeng terbelah tak beraturan itu.
“Bosnan, benda itu ada di dekat kakimu! Ambil, lekas…!”
Bosnan baru sadar bahwa ia berada sangat dekat dengan kotak permainan
iblis. Maka, secepatnya ia meraih Hastaraka pada saat ekor binatang aneh
tersebut berkeslebat mendongkel lapisan tanah lainnya.
Brussskk…! Tanah bergumpal-gumpal terlempar, salah satunya ada yang
mengenai dada Lilu, membuat gadis itu terlempar kembali. Tapi kali ini ia
melayang kea rah Bosnan, sehingga Bosnan buru-buru menangkapnya dengan tangan
menggenggam Hastaraka. Bluuugggh…!
“Uhhk..!” Bosnan jatuh terkapar ditimpa tubuh Lilu. Namun rasa sakit di
pinggangnya akibat embentur ubun rusak tak dihiraukan. Bahkan darah dari
hidungnya pun tak diusapnya lebih dulu. Ia buru-buru menyingkirkan tubuh Lilu
ke samping, kemudian berusaha memutar ruas kotak permainan yang tadi tinggal
sejalan saja, tapi sudah terlanjur salah langkah.
Kleek…!
“Berhasil! Lilu…! Lihat, aku berhasil membentuk lambing salib di… di…”
Kegirangan Bosnan tak sempat dilanjutkan, karena tiba-tiba kotak
permainan yang digenggamnya itu memancarkan cahay biru terang. Bias cahaya biru
itu keluar dari sela-sela ruas pemisah gambar. Cahaya itu bukan saja semakin
menyilaukan, tapi juga makin terasa mengeluarkan hawa sejuk menyegarkan. Tetapi
lantai dan bangunan menjadi bergetar kuat sekali, sepertinya hotel itu mau
runtuh secepatnya. Bosnan dan Lilu merasa tak punya kesempatan untuk
menghindari reruntuhan, sehingga mereka akhirnya saling berpelukan dalam posisi
duduk di lantai sudut. Sama-sama menenggelamkan kepala mereka yang menghadap
kea rah dinding sudut tersebut.
Suara gemuruh semakin besar. Sangat menakutkan siapapun yang mengalami
tragedy ghaib tersebut. Namun hawa sejuk terus saja mengalir, seakan alam
dihujani salju yang dapat mengusir rasa panas yang menyengat tadi. Beberapa
saat kemudian suara gemuruh itu hilang, hawa sejuk tetap datang bersama
hembusan angin yang semilir. Cahay biru terang tadi pun mulai redup, akhirnya
padam bersama kesunyian yang amat mencekam. Alam menjadi lengang, sunyi tanpa
suara. Bosnan memberanikan diri untuk melihat di sekelilingnya melalui lirikan
mata. Ternyata suasana telah berubah. Gelap malam telah menguasai sekitar
tempat itu. Bosnan mulai berani lebih tegak lagi mengangkat wajahnya.
“Li… alam sudah kembali gelap. Hawa panas pun… lenyap utuh,” bisik
Bosnan dengan nada menahan sorak kegembiraannya. Lilu pun mulai ikut memandang
sekeliling, dan wajahnya menjadi cerah ceria.
“Kau berhasil Bos… oh iya kau berhasil mengembalikan keadaan malam yang
sebenarnya!”
Nada suara Lilu makin meninggi, kegirangan.
“Ohh… kau benar-benar hebat sayangku! Kau telah menutup kembali gerbang
petaka sebelum kami ini pecah dan hancur!”
“Ya tuhan… terima kasih! Terima kasih sekali tuhan…!”
“Hebat sekali kau kasihku…” Lilu menjerit kegirangan. Ia memeluk Bosnan
dan menciuminya. Bibir Bosnan pun dikecup dan dilumatinya sebagai ungkapan
kemenangan mereka. Bosnan pun membalasnya. Sekali pun lantai masih berantakan
terbelah-belah, tapi ekor binatang dari alam ghaib itu telah hilang. Itulah
sebabnya Bosnan membiarkan Lilu menikmati bibirnya sepuas hati. Tapi tiba-tiba
Lilu menarik diri dan meludah.
“Cuih, cuih…!”
“Kenapa saying?”
“Asin! Darah dari luka di bibirmu aku hisap. Asin Bos…” nadanya merengek
manja, namun menghadirkan tawa geli bersama-sama.
Hanya saja, tawa geli mereka harus surut sesaat karena tiba-tiba tubuh
Lilu mengeluarkan cahaya seperti fosfor biru kehijauaan. Bosnan kaget dan
tegang, sementara Lilu memandangi tangannya dengan terperangah kegirangan.
Beberapa detik saja hal itu terjadi, setelah itu cahaya tersebut lenyap sama
sekali dan tubuh Lilu tetap seperti semula, Bosnan menjadi terheran-heran
setelah melihat Lilu tertawa cekikikan, dan menangis dalam keharuan.
“Kenapa… kau kenapa..?!”
“Bosnan… ragaku telah kembali! Baru saja hal itu terjadi, dan… dan…
sekarang aku sudah menjadi manusia sempurna, memiliki raga, bisa dilihat dan
disentuh orang lain. Lihatlah aku saying…!”
“Sudah sempurna…?” Bosnan menggumam heran, membiarkan gadis cantik itu
menangis haru dan memeluknya kuat-kuat, sambil sesekali mencium pipinya.
Keterangan Lilu itu memang benar. Ketika mereka meninggalkan hotel
tersebut, petugas hotel yang semula ditemui Bosnan dan yang saat itu berada di
luar lobby, memandang Bosnan dengan terheran-heran. Bahkan secara
terang-terangan pria yang tadi menggigil nyaris lumpuh akibat ketakutannya itu
berkata pada Bosnan.
“Lho… sepertinya tuan tadi masuk kemari sendirian? Kanapa sekarang tuan
mau pulang bersama nona ini…?! Dapat teman kencan dari mana tuan? Sejak kapan
nona ini masuk hotel kami?!”
“Kita semua korban permainan iblis Bung. Bersyukurlah kepada tuhan,
karena sekarang kita telah selamat…!” hanya itu kata-kata Bosnan yang ditujukan
kepada petugas hotel, lalu ia pergi meninggalkan tempat tersebut dengan
kegirangan hati yang melonjak-lonjak tiada habisnya, karena tanpa sengaja ia
berhasil membuat Lilu menjadi gadis yang sempurna. Memiliki raga dan rupa yang
nyata.
Bosnan Maulana patut menjadi orang paling bahagia di dunia ini. Karena,
dia sudah berhasil mengembalikan malam pada posisi yang sebenarnya. Perubahan
itu terjadi pada pukul 03:42 dini hari, tepat seperti saat hilangnya sang malam
yang berganti siang itu. Sayangnya, yang hancur tetap hancur, yang rusak tetap
rusak, tak bisa pulih seperti sediakala. Seperti halnya jarum jam yang mulai
bergerak normal kembali itu. tentu saja kejadian aneh tersebut membuat semua
orang tercengang-cengang dan saling mengucap syukur sendiri-sendiri kepada sang
pencipta, karena mereka yakin kiamat tak jadi datang melanda dunia.
Ketika langkah Bosnan dan Lilu melewati tiga mobil yang mogik di jalanan
dan saat itu masih terbakar karena disambar petir dari angkasa sana, Lilu
segera menghentikan langkahnya dan meminta kotak permainan iblis yang tadi
dimasukkan di saku celana Bosnan. Benda tersebut diserahkan padanya, kemudian
Lilu melemparkan kotak itu ke dalam sisa kobaran api yang membakar tiga mobil
tersebut.
“Kenapa kau buang kesana?” Tanya Bosnan.
“Benda tersebut hanya dapat dihancurkan oleh api dari langit. Dan
menurut pendapatku, api dari langit adalah petir. Mobil ini terbakar karena
disambar petir. Jadi…”
Bluuum…! Mereka sama-sama terkejut mendengar ledakan tak seberapa keras
dari dalam api tersebut. Ledakan tersebut membuat nyala api berkobar tinggi dan
tinggi sekali, membentuk seperti tiang menara. Warnanya pun merah seperti
darah. Itulah pertanda bahwa kotak itu berhasil dihancurkan oleh api tersebut,
dan akan hilang untuk selama-lamanya. Sekitar sepuluh detik kemudian, api yang
menyerupai menara itu lenyap dengan cepat. Wuuub…! Yang ada hanya api kecil
yang masih membakar bagian roda mobil.
Permainan iblis berhasil dihancurkan oleh sepasanxg cinta yang saling
setia. Jika sejak itu Ruyan tetap menjadi pacar Debby, maka sejak itu pula Lilu
menjadi pasanagan mesra Bosnan selamanya. Belakangan baru diketahu bahwa
ternyata Bosnan masih ada darah keturunan bangsawan. Seandainya tak bertemu
pamannya yang tinggal di Demak, jawa Tengah, Bosnan tak akan pernah tahu bahwa
ia masih punya darah keturunan bangsawan, walau tak begitu jelas sebagai
generasi yang keberapa. Pantaslah darah dari luka di bibirnya dapat menyempurnakan
penampilan Lilu, sebagai gadis caantik yang sempurna.
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar