Keganjilan
lain yang terjadi sebelum ledakan besar itu menelan korban jiwa yang cukup
banyak adalah suatu peristiwa yang dialami oleh salah seorang tamu hotel yang
kebetulan menempati kamar di lantai 9,
dan kamar berbalkon lebar itu tepat menghadap ke gedung perkantoran
tersebut. Pria yang bermalam di hotel yang berlantai 17 yang tergolong hotel
berbintang tiga itu mengaku baru saja pulang dari sebuah cafe. Hatinya dongkol
setengah mati karena teman kencan yang berjanji mau saling bertemu di cafe itu
ternyata tidak datang. Untuk membuang rasa kesal hatinya, pria berusia 30 tahun
itu membuka pintu balkon kamarnya, ingin menikmati pemandangan malam dengan
segelas bir di tangan. Angin malam yang berhembus saat itu terasa aneh baginya,
kering dan panas. Menimbulkan rasa takut yang mendebarkan jantungnya.
“Saya
sempat khawatir dengan detak jantung saya ini, karena tiba-tiba saja menjadi
cepat. Dan, seperti pukulan tambur detak jantung saya ini setelah melihat
sebuah gedung menyala biru pijar di kejauhan sana. Seperti bongkahan berlian
atau permata yang berbinar-binar mengagumkan. Bagus sekali, tapi juga
menakutkan secara naluri. Bangunan yang berpijar biru itu sebenarnya kan
berjarak sekitar... empat atau lima kilometer dari hotel ini, kan? Tapi
bangunan itu seperti melayang dan hotel ini seperti bergerak mendekat ke sana,
sehingga jaraknya sangat dekat, kurang dari satu kilometer. Bangunan bertingkat
itu dapat saya lihat dengan jelas detil-detil sisinya. Malahan saya bisa
melihat seorang pemuda yang ada di lantai dua, di sebuah ruangan kerja yang
duduk sendirian dan sibuk mengutak-atik mainan.”
Menurut
pengakuan pria yang bertubuh agak gemuk itu, bangunan perkantoran tersebut
makin lama makin dekat dari penglihatannya, sehingga ia semakin jelas melihat
ruangan-ruangan yang masih terang melalui jendela kaca ruangan tersebut. Ia
juga melihat dengan jelas sekali seorang pemuda berbadan kurus, berusia sekitar
25 tahun dan berambut ikal, duduk di kursi kerja dengan kedua tangan sibuk
bermain sesuatu yang berbentuk kubus kecil. Benda tersebut memercikkan bunga
api biru, dan si pemuda berusaha melakukan sesuatu dengan tegang. Seakan ingin
memadamkan percikan cahaya dari benda mainannya itu. Sementara suasana dinding
dan sekelilingnya menyala pijar biru. Namun si pria yang di hotel mengaku
melihat dinding ruangan tersebut bergerak-gerak seperti gerakan dari permukaan
air danau tertiup angin kecil.
“Sewaktu
saya berkedip, karena ingin membuktikan apakah penglihatan saya itu normal atau
tidak, ternyata bangunan yang berpijar biru itu menjadi jauh seperti semula.
Tak begitu jelas detilnya di maa saya. Pandangan saya normal kembali, dan saya
menghembuskan nafas lega. Tanpa diduga-duga, tepat saat saya menghembuskan
nafas itulah terdengar ledakan besar yang menggelegar, mengerikan sekali,
sampai-sampai saya yang saat itu sedang ingin masuk kembali ke kamar, buru-buru
tiarap di lantai balkon. Saya kira hotel inilah yang meledak, dan habislah
riwayat hidup saya pada saat itu juga. Tapi... syukurlah, untung bukan hotel
ini yang meledak seperti gedung perkantoran di seberang sana.”
Ternyata
cukup banyak kejadian aneh yang dialami mereka dan baru diketahui masyarakat setelah
dua-tiga hari kemudian, karena beberapa media cetak sengaja meliput keganjilan-keganjilan
alam itu. Maka, dengan sendirinya masyarakat berkesimpulan bahwa penyebab
ledakan dahsyat itu memang bukan berasal dari ledakan suatu bom atau jenis
bahan peledak lainnya. Mereka cenderung menganggap penyebab ledakan itu adalah
sesuatu yang berkaitan dengan dunia ghaib, memiliki unsur mistik di dalamnya,
tapi cukup sulit penjabarannya.
Bosnan
tidak begitu berminat untuk menanggapi persepsi mereka tentang dunia ghaib.
Selama ini ia memang selalu menempatkan diri sebagai pendengar iseng saja jika
ada pihak yang bercerita tentang hal mistik atau ghaib. Maka, yang ada dalam
benak Bosnan saat ini adalah kematian kekasihnya; Nucky. Bosnan ikut membantu
team evakuasi secara suka rela, dan mereka berhasil menemukan mayat Nucky,
pamannya, serta kedua anak pamannya itu.
Di
lokasi tempat runtuhnya rumah paman Nucky itu. Bosnan menemukan beberapa barang
yang menurutnya adalah milik Nucky; dompet kulit yang di dalamnya selain berisi
uang juga berisi foto Bosnan sendiri dalam ukuran kecil. Semakin haru dan sedih
hati Bosnan setelah tahu bahwa sebenarnya Nucky masih menyimpan fotonya sebagai
kenangan dalam hidupnya.
Selain
dompet, Bosnan juga menemukan buku agenda berwarna pink. Agenda ini dikenalinya
sebagai milik Nucky yang sering dibawa-bawa gadis itu kemanapun dia pergi. Buku
agenda tersebut ditemukan sekitar 100 meter dari tempat runtunhnya rumah paman
Nucky. Bosnan geleng-geleng kepala, betapa kuatnya daya ledakan tersebut sampai
membuat barang-barang keluarga Nucky terlempar sejauh itu. Selain agenda pink,
Bosnan juga menemukan beberapa benda lain milik Nucky, termasuk game-watch
tetris yang juga sering dibuat mainan Nucky jika sedang iseng, serta permainan
berbentuk kotak kubus untuk menguji ketangkasan daya pikir seseorang. Meski
tetris itu sudah retak di bagian kacanya, tapi benda-benda itu sengaja
dikumpulkan Bosnan dan disimpannya sebagai kenang-kenangan pribadinya.
Di
kamar kostnya, Bosnan meletakkan benda-benda milik Nucky pada sebuah nampan
stainles berukuran sedang. Ditata rapi dan telah dibersihkan dari debu dan
tanah. Nampan tersebut ditaruhnya di meja kerja, agak merapat ke dinding. Di
kanan-kirinya ia tempatkan foto Nucky dalam bingkai logam, juga fotonya sendiri
di sebelah kanan barang-barang tersebut. Ia sengaja lakukan hal itu dengan maksud
agar roh Nucky mengetahui bahwa ia masih ingin mengenang masa hidup Nucky.
Bahkan, kadang ia merasa bahwa Nucky masih ada, belum meninggal, karena
barang-barangnya masih ada sebagian di meja kerjanya.
“Menurutku
caramu ini hanya akan membuat batinmu tersiksa sendiri. Setidaknya kau akan
selalu mengenang kematiannya, dan mungkin suatu saat nanti kamu akan merasa
bersalah atas kematian Nucky itu.” Kata Ruyan, teman sebelah kamar Bosnan. Ia
juga seorang marketing analyst seperti Bosnan, hanya saja perusahaan mereka
berbeda, sektor bisnis yang ditanganipun berbeda. Namun mereka sering saling
bertukar pendapat mengenai bidang tersebut.