Rabu, 28 Maret 2012

Page 8


Step 8
Seraut wajah ayu tampak jelas diterangi oleh nyala api di ujung lilin hijau. Nyala api itu tidak seperti biasa, mempunyai warna hijau uranium yang makin lama makin cerah, indah sekali. Sinar itu mempercantik seraut wajah berpotongan rambut pendek, cepak. Seperti potongan rambut lelaki. Gadis pemilik lilin hijau itu bertubuh tinggi, sintal, punya daya pikat besar pada bentuk sexy bagian-bagian tertentu, seperti dada yang sekal dan membusung padat, serta bokong yang gempal dengan pinggulnya yang berayun-ayun ketika berjalan seperti ingin mengelilingi Bosnan. Semakin dekat semakin jelas rupa dan potongan tubuh gadis muda berpakaian bra terusan warna hitam, panjangnya hanya sampai separuh paha kurang. Tali bra sangat kecil dan berleher rendah, sehingga membentuk sepasang bukitnya terlihat sebagian juga membayang di balik kain tipis bra hitam itu. Kontras sekali dengan warna kulitnya yang putih mulus.
“Apakah kau bersedia membantuku, supaya aku bersedia membantumu juga, Bosnan.?!” tegur gadis yang belum dikenalnya, tapi sudah tahu nama Bosnan. Ia berhenti pada jarak 5 meter sehingga gerak bibir sensualnya saat bicara dapat terlihat jelas oleh mata Bosnan. Menggiurkan sekali bibir itu saat bicara dan menyunggingkan senyum tipis.
“Aku... aku terjebak dalam kegelapan ini. Aku tak tahu sedang berada dimana. Tapi... tapi seandainya kau mau membantuku, akupun akan membantu kesulitanmu sebagai balasannya, Nona. Hmm... terus terang, aku belum mengenal siapa dirimu, Nona.”
“Lilu....,” jawabnya agak parau tapi diiringi senyum tipis lagi. Kali ini senyum tipis itu terkesan sangat bersahabat.
“Lilu...? itukah namamu.?!”
“ya, memang Lilu adalah namaku. Kau belum mengenalku, tapi aku sudah mengenalmu sejak kau memungut benda itu, Bosnan.”
 “Maksudmu benda...”
“Aku harus membebaskan dirimu dari kegelapan!” sahut Lilu dengan tegas, kemudian lilin hijau itu dilempar ke atas, seperti dibuang ke belakang. Wuuut....! nyala apinya menjadi besar sekali dalam satu sentakan cahaya yang melebar terang, sangat terang dang sangat menyilaukan mata Bosnan seperti pertama kali. Wuuuubs...!


Rabu, 21 Maret 2012

Abang Becak Bertato




ORANG dengan tato di sekujur tubuh ini lebih cocok menjadi preman pasar atau pemalak jalanan katimbang menjadi pengayuh becak. Dari becaknya yang tengah nongkrong, ia bangkit menyongsong pertanyaan seorang pengendara yang bingung memilih rute. Dengan kesopanan seadanya, dengan kata-kata sekenanya, manusia bertato ini menjelaskan rute itu sebaik yang dia bisa. Tapi penjelasan yang serba cekak dan terbata-bata itu, tak menutupi kesungguhan hatinya demi membantu kebingungan sesama.
Selalu ada keinginan berbuat baik bahkan dari orang paling tak terduga sekalipun. Itulah kenapa para sutradara film, novelis dan dramawan sering menjadikan hal ini sebagai bumbu bagi cerita-cerita mereka, tentang seorang bandit besar yang selalu terharu melihat kemiskinan tetangganya. Tentang pembunuh keji yang bisa menangis tersedu-sedu cuma oleh adegan cengeng di sebuah opera.

Di dalam kehidupan nyata, pemandangan in malah makin nyata belaka. Seorang yang telah dikenal sebagai koruptor adalah orang yang sekaligus dikenal paling dermawan di wilayahnya. Jalan-jalan kampung dia aspal, tak terhitung tempat ibadah yang menerima sumbangannya. Oya, tak lupa, ia juga membangun rumah ibadah pribadi di kompleknya sendiri.

Tapi mari kembali bicara soal tato di tubuh pengayuh becak satu ini. Apakah orang ini mentato diri karena dorongan premanisme? Tidak. Banyak fakta membantahnya. Betapapun penuh tato itu, ia toh tetap memilih sebagai tukang becak saja. Betapapun garang penampilannya, kebaikan hatinya jelas terbaca. Lalu apa dong?

Oo, pasti orang ini tak lebih dari kita, manusia Indonesia pada umumnya yang membutuhkan hiburan karena dikepung banyak tekanan. Karena tertekan oleh kemiskinan, seseorang butuh menjadi seolah-olah kuat, keren dan jagoan. Dan tato itu tak lebih dari aksesori penentram saja. Seperti bedak bagi wanita yang mendadak merasa cantik setelah memakainya. Seperti gincu bagi bibir yang tiba-tiba merasa sensual setelah kena polesannya.

Bagi pihak yang miskin dan lemah menjadi seolah-olah kaya dan berdaya adalah kebutuhan utama. Karena orang yang kuat, jagoan sesungguhnya dan para preman sejati, jauh lebih banyak memilih dasi katimbang tato.

Bagi bangsa yang selalu kesulitan menggali nilainya sendiri, maka mengimpor nilai tetangga adalah pilihan yang tak terhindarkan lagi. Maka diundanglah Shah Rukh Khan kemari dengan tiket Rp 3 Juta untuk menontonnya. Kita histeris cuma karena orang ini hendak membuka jaketnya. Kita larut oleh lagu dan tarian yang pernah lama dianggap kacangan.

Tapi apapun kata orang, India tak peduli. Ia terus saja menyanyi dan menari. Bollywood terus saja gila-gilaan berproduksi, bahkan si Shah Rukh Khan ini, dengan ketentraman yang mengagumkan menjawab pertanyaan tentang Oscar, tentang Hollywood. "Saya tak cukup baik untuk itu, " katanya. Ya, Oscar, siapa peduli. Toh di Indonesia, negeri yang bangkrut ini, harga tiket telah mencapai Rp 3 juta per kepala hanya untuk menonton play backnya!

India cuma menari dan menyanyi, Hongkong cuma memukul dan menendang, tapi industri film mereka kaya luar biasa. Indonesia punya hampir semuanya, ribuan tradisi....tapi miskin luar biasa. Bangsa yang kaya ini bahkan selalu kebingungan harus menjual apa.

Kerbau dan Anaknya


Langit kian menunjukkan warna kemerah-merahan seiring melayangnya mentari ke ujung barat... seluruh makhluk bersiap diri kembali ketempat dan sarangnya masih-masing... terlihat dari kejauhan di tengah hamparan sawah terdapat seekor anak kerbau dan induknya berjalan perlahan menuju kandangnya....

Berselang kemudian lantunan suara Adzan syahdu dari surau kecil mengumandang ke pelosok persawahan hingga mengagetkan si anak kerbau,seraya terperanjat dan mendekati induknya ,
Anak kerbau bertanya: "Bu, suara apa itu, merdu sekali terdengar di langit?? ?"
Ibu Kerbau : "ooo... itu suara adzan nak..."
Anak Kerbau : "Adzan itu apa bu???"
Ibu Kerbau : "Adzan adalah suara yg dikumandangkan sebagai tanda waktu menundukkan diri kepada Allah yang Maha Pencipta."

Mendengar penjelasan induknya, sang anak kerbau manggut- manggut kepalanya seakan paham tentang adzan...
maka sampailah mereka ke kandangnya... dan kemudian sang anak kerbau kembali dikejutkan dan merasa ketakutan setelah melihat sekumpulan muslimin memakai baju putih-putih :
Anak Kerbau kembali bertanya: "Ibu... bahaya ada segerombolan makhluk putih menghampiri kita."
Ibu Kerbau : "jangan takut anakku... mereka semua hendak pergi ke surau untuk melaksanakan sholat."
Anak Kerbau : "Sholat apa bu???"
Ibu Kerbau : "Sholat adalah perintah Allah yang wajib dilaksanakan sebagai rasa syukur kepada-Nya."

Sang anak kerbau kembali manggut-manggut kepalanya tanda telah mengerti, tapi yang namanya anak kecil, ia kembali bertanya :
Anak Kerbau : "Ibu, Allah itu siapa?"
Ibu Kerbau : "Dialah yang menciptakan seluruh makhluk, mengatur alam semesta, langit dan bumi, serta Dialah yang memberikan rizqi kepada kita dan mereka yang mau sholat itu."
Anak Kerbau : "wah... baik sekali Allah itu yah...; bu tadi ibu bilang sholat itu untuk menandakan rasa syukur kita kepada Allah, ayoo bu kita ke surau sholat seperti mereka."
Ibu Kerbau : "hahaha anakku... anakku... (seraya terseyum), sholat itu wajib hanya untuk manusia... bukan untuk kerbau."
Anak Kerbau : "ooo gitu yah...., berarti mereka yang tidak ke surau dan tidak melaksanakan sholat adalah saudara kita semua dong Bu....??? asiiik bisa numpang nonton tv neh sama mereka.... !!! (maka sembari lari anak kerbau itu meminta izin kepada ibunya) :
"bu saya mau nonton tv dulu yah di rumah mereka yang tidak sholat."
Ibu Kerbau : (bicara dalam hati) "anaku itu benar atau salah yah...?!! @#$%&*!??>!

AYOOOO SHOLAT, JANGAN SAMPAI DIRI KITA SAMA DENGAN KERBAU...
AWASSS ADA YANG NGETOK PINTU,
JANGAN-JANGAN ANAK KERBAU MAU NUMPANG NONTON TV KE RUMAH KITA.....!

Selasa, 20 Maret 2012

Permaina Iblis 7 (jilid 2)


“Ada dimana aku ini sebenarnya? Gawat! Kenapa sampai bisa begini nasibku? Kotak permainannya itu ternyata memiliki kekuatan ghaib yang... benar-benar menjadi kenyataan dan baru kali ini kualami kemisteriusannya. Oohh, kepada siapa aku harus meminta bantuan jika berada dalam kegelapan begini? Langkahku kembali ke kursi tadi, tapi toh tak kutemukan meja dan kursiku yang tadi?! Aku seperti berada di tempat yang lapang beralaskan permadani yang empuk. Tempat apa ini sebenarnya?” sambil kaki Bosnan meraba-raba permukaan lantai yang dipijaknya. Masih berbulu halus dan lembut.
Ia berdiri dengan bergerak memutar perlahan-lahan, mencoba melebarkan mata utnuk menangkap bayangan. Tapi sampai dua kali memutar tak ada bayangan atau berkas sinar apapun yang dilihatnya. Maka iapun memutuskan untuk duduk di tempat tersebut, menunggu perkembangan yang terjadi. Kakinya terasa pegal sekali, seperti habis melakukan perjalanan jauh, sehingga ia butuh isterahat dengan duduk di lantai berbulu halus itu. Namun sebelum ia meletakkan pantatnya di lantai itu, tiba-tiba ia mendengar suara seperti ranting patah diinjak oleh seseorang.
Krek..! dengan cepat ia berpaling ke arah datangnya suara tersebut. Hatinya berdebar kuat penuh harap, karena pada saat itu dia mulai melihat setitik sinar di kejauhan sana. Seperti seseorang yang menyalakan korek api dengan nyala apinya yang kecil. Bosnan menjadi girang bercampur tegang, karena kini ia bisa melihat setitik api di kejauhan sana. Api itu mendekatinya perlahan-lahan. Bosnan bersiap-siap melakukan sesuatu untuk menyelamatkan diri jika api tersebut membahayakannya. Tapi ia sengaja tak menjauhi api tersebut. Ia sengaja menunggu sampai api tersebut lebih dekat dengannya, lebih jelas lagi apa gerangan yang bisa membuat api itu mendekat padanya.
“Ooh, wajah itu,,,?! Astaga.... seorang gadis cantik rupanya?!” Bosnan bergumam dalam hati dengan detak jantung makin menyentak. Pandangan matanya kini semakin jelas, semakin normal kembali.

Minggu, 11 Maret 2012

PERMAINAN IBLIS 6 (jilid 2)

Step 2


Dalam kegelapan yang serba hitam pekat itu, Bosnan mencoba untuk pindah ke ranjang. Setelah beberapa kali ia berteeriak keras-keras memanggil Samora atau Ruyan namun tak ada jawaban dari mereka, Bosnan merasa putus asa. Ia menyangka teman-teman kostnya telah tenggelam dalam kelelapan tidur sehingga tak bisa mendengar seruannya. Tak ada jalan lain bagi Bosnan untuk menenangkan kepanikannya selain diam berbaring di ranjang. Ia yakin kebutaan ini tidak akan selamanya. Pasti hanya karena pengaruh cahaya putih tadi yang mengaburkan pandangan matanya beberapa saar. Entah berapa lama lagi penglihayannya pasti akan pulih kembali seperti semula. Bosnan merasa tak perlu gugup dan lebih baik menunggu saatnya normal kembali dengan sabar.
Langkahnya sangat hati-hati ketika ia menuju ke ranjang. Tangannya berusaha meraba apapun yang berada di depannya agar tak membentur kepala atau kakinya. Selangkah demi selangkah ia lakukan penuh hati-hati sekali. Tapi lama-lama hati kecilnya menjadi curiga, mengapa sudah lima langkah dia belm menyentuh tepian ranjang? Bosnan masih ingat, jarak antara kursi tempatnya duduk tadi dengan ranjang tidak lebih dari empoat langkah. Kalau toh arah langkah kakinya salah jalan, pasti ia akan menyentuh tempat sepatu atau justru akan menabrak lemari baju setelah lima langkah lebih.
“Gila..?! Nggak ada barang apapun yang kusentuh?! Padahal aku sudah melangkah lebih dari tujuh kali.?!” Pikirnya penuh keheranan. Kecemasan yang tadi sudah mau reda, kini tumbuh kembali dengan detak jantung menjadi cepat seperti semula. Tangannya mencoba meraba kasena-sini, tapi tak ada benda apapun yang disentuhnya. Namun, ia tetap mencoba untuk melangkah dan terus, sampai lebih dari sepuluh langkah. Bahkan sekarang kakinya yang tidak memakai sendal apapun itu terasa bukan lagi menapak di lantai berubin keramik halus, melainkan seperti berjalan diatas bentangan permadani berbulu halus, tebal dan empuk.
“Permadaninya siapa ini? Rasa-rasanya aku nggak pernah memasang permadani di kamarku ini?!” pikir Bosnan sambil semakin diliputi perasaan tak menentu. Gundah dan rasa kesal.
Entah sudah berapa kali Bosnan melangkah tanpa menyentuh apa-apa, sampai akhirnya ia memutuskan untuk berhenti dan menenangkan pernafasannya yang menegang. Ia menyimak suara setajam mungkin, namun tidak ada suara apapun yang didengarnya kecuali hanya keheningan sepi tanpa batas. Hembusan anginpun tak ada, bahkan engahan nafasnya pun sulit ditangkap pendengaranannya sendiri. Yang paling jelas dirasakan hanya getaran detak jantungnya yang menyentak-nyentak mengguncangkan seluruh tubuh, tapi suaranya tak terdengar sedikitpun.

Kamis, 01 Maret 2012

Permainan Iblis 5 (jilid I)


“Menurutku caramu ini hanya akan membuat batinmu tersiksa sendiri. Setidaknya kau akan selalu mengenang kematiannya, dan mungkin suatu saat nanti kamu akan merasa bersalah atas kematian Nucky itu.” Kata Ruyan, teman sebelah kamar Bosnan. Ia juga seorang marketing analyst seperti Bosnan, hanya saja perusahaan mereka berbeda, sektor bisnis yang ditanganipun berbeda. Namun mereka sering saling bertukar pendapat mengenai bidang tersebut.
“Dengan memajang barang-barang milik Nucky, apakah bukan siksaan tersendiri bagimu sepanjang masa? Kau pasti akan selalu terkenang Nucky kalau melihat barang-barangnya itu kan?”
“Ya, memang. Tapi... rasa-rasanya ini suatu terapi tersendiri bagiku, agar aku tidak terlalu shock menhadapi kematiannya.”
“Itu teorimu bung. Prakteknya benda-benda itu akan membuatmu selalu bersedih dan menyesali kematiannya. Sebaiknya, simpan saja di tempat tertutup. Sekali tempo saja kau buka dan kau pandangi bersama kenangannya manakala kau merindukannya.”
“Ya, mungkin aku akan kulakukan begitu, tapi... nantilah, kalau perasaanku sudah netral kembali.”
“Belum lagi kalau Debby datang kemari dan melihat benda-benda itu, pasti dia akan sewot dan cemburu besar padamu, Bos.”
“Persetan dengan Debby!” dengus Bosnan bernada kesal, “Aku memang belum mengikat hubungan apapun dengannya kecuali hanya bersahabat saja. Aku kurang tertarik pada Debby. Egois dan kurang dewasa.”
Ruyan tertawa pelan, “Jadi... nggak seperti rencanamu semula? Nggak jadi mencari simpati dai si putri pengusaha besar itu?”
“Ahh...! mending cari simpati gadis lain saja ketimbang nantinya tekanan batin juga,” Bosnan mendesah bernada keluh. Semula ia memang ingin mencari simpati dari gadis putri seorang pengusaha yang sering datang ke tempat kostnya tersebut. Tapi sekarang setelah mengetahui pribadi Debby yang sebenarnya, Bosnan kehilangan rasa tertariknya. Karena gadis itu diperkirakan kelak akan memperbudak dirinya jika ia menjadi kekasihnya.
Setelah beberapa malam sering memandangi barang-barang milik Nucky, timbul kecurigaan di hati Bosnan dengan salah satu benda yang diragukan sebagai milik Nucky. Benda tersebut adalah permainan kelincahan IQ yang berbentuk prisma dengan semua sisinya sama panjang. Kotak kubus tersebut belum pernah dilihat Bosnan sebagai barang bawaan Nucky. Jangan-jangan benda itu memang bukan milik Nucky, pikirnya saat mengambil barang tersebut dan mengamatinya lebih seksama lagi.
Malam yang hening dan sunyi membuat Bosnan merasa lebih fokus lagi mengamati benda tersebut. Kotak permainan tersebut dapat diputar ke sisi manapun. Gambarnya bisa dipindahkan untuk mendapatkan gambar yang benar. Setiap bidang dari keenam bidang permukaannya, memiliki tiga potongan gambar yang bisa dipindah-pindahkan dengan cara memutar potongan tersebut. Dari enam bidang permukaan kubus itu terdapat gambar yang sulit dipahami oleh setiap orang. Bosnan sendiri sangat serius memikirkan gambar-gambar tersebut yang menurutnya menyerupai lambang-lambang aneh
Misalnya, dalam satu bidang terdapat tiga potongan gambar kepala bertanduk, separoh binatang, dan gambar kaki gelas bertangkai panjang. Bidang lain menampakkan gambar gumpalan awan, gambar bagian atas tempat lilin, dan gambar empat kaki binatang seperti kuda. Begitu pula bidang lainnya. Jika diputar kesana-sini dengan cermat, maka keenam bidang datar tersebut bisa memiliki makna gambar tersendiri. Tapi untuk mencapai hal itu dibutuhkan kecerdasan daya pikir seseorang, terutama yang sudah terbiasa memainkan teka-teki yang semacam itu.
“Aneh sekali..!” gumam Bosnan dengan dahi berkerut tajam. “Dari tadi kupandangi benda ini, dan entah sudah berapa kali bulu romaku meremang merinding. Jantungku pun berdetak lebih kencang dari biayasanya. Hmmm, firasatku mengatakan bahwa benda ini sepertinya benda yang ganjil. Nggak tahu deh, ganjil bagaimana maksudnya. Pokoknya ada sesuatu yang mencurigakan pada benda mainan ini. Kurasa memang benda ini bukan milkik Nucky. Kebetulan saja kudapatkan berada nggak jauh dari agendanya Nucky, jadi sempat kusangka milik Nucky. Hmmm... tapi menarik juga dimainkan dalam keadaan sepi begini.?!”
Kubus bersiku-siku sama panjang itu memang memiliki kesan mistis dari warnanya. Seperti terbuat dari kayu ringan yang berwarna cokelat tua, halus dan mengkilap. Setiap sisinya dilapisi logam kuning kusam, menyerupai emas kuno. Lapisan logam itu membentuk ukiran aneh. Bahkan gambar-gambarnya terbuat dari ukiran lempengan logam kuning kusam yang menyatu kuat pada kayu tersebut, sepertinya menggunakan perekat khusus, sehingga tak mudah dilepas begitu saja. Bentuk potongan-potongannya sebagian besar membujur tegak lurus dengan yang lainnya, tapi ada beberapa potongan yang membentuk garis diagonal dengan dua sudut 30 derajat pada masing-masing potongannya. Baunya pun harum aneh, sepertinya kayu yang digunakan adalah kayu yang mengeluarkan aroma wangi alami, kira-kira seperti kayu cendana. Tapi Bosnan yakin, aroma wangi aneh itu bukan aroma wangi kayu cendana.
“Benda ini membuatku sangat tertarik, tapi juga membuatku sangat curiga dan agak takut! Malahan.... makin lama dipandangi semakin menumbuhkan rasa penasaran yang sulit dikendalikan. Hmm, kurasa itu Cuma perasaanku yang terlalu mengada-ada saja. Mestinya aku tidak boleh berhayal yang tidak-tidak dan memandang aneh benda ini.”
Bosnan benar-benar tak bisa menahan rasa ingin mencoba memainkannya. Maka, dengan ragu-ragu akhirnya ia mulai memutar potongan-potongan pada kotak kubus tersebut. Posisi tiap potongan gambar berubah dan diusahakan menemui pasangannya yang cocok. Benda yang besarnya satu genggaman orang dewasa lebih sedikit itu tiba-tiba mengeluarkan getaran kecil, seperti arus listrik tanpa percikan cahaya sedikitpun. Getaran itu terasa mengalir jelas di kedua telapak tangan Bosnan, sehingga pemuda berperawakan tegap dan berwajah ganteng itu tersentak kaget, lalu melemparkan kubus itu secara spontan. Glodak...! benda itu jatuh di atas meja.
“Gila..! bisa menimbulkan getaran aneh?!” mata Bosnan menatap dengan cukup tegang. Nafasnya terasa mulai sesak. Perasaannya menjadi sangat tak enak. Gundah sekali. Tapi rasa penasaran terhadap benda itu masih ada.
“Ah... masa’ sih menimbulkan getaran?!” pikir Bosnan mulai ragu terhadap dirinya sendiri. “Mana bisa benda kayu tanpa battery bisa mengeluarkan strom listrik sih.?!”
Diraihnya kembali kotak kubus yang tadi dilemparkan dan hampir mengenai lampu neon di meja tersebut. Benda itu kini brada disamping tumpukan map kerja, berjarak kurang dari satu jangkauan dari tempat duduk Bosnan. Bidang paling atas mempunyai tiga potongan gambar yang tanpa disadari Bosnan saat mengutak-ngatiknya tadi telah membentuk satu bagian gambar, yaitu berbentuk seperti satu mata berbulu lentik di bagian atas dan bawahnya.

Pelan-pelan sekali benda itu disentuh Bosnan, ternyata tidak mengeluarkan getaran seperti tadi. Bosnan mulai berani memegangnya dengan tenang. Namun bila diperhatikan lagi dari sudut pandang berbeda, ternyata bentuk gambar tersebut tidak menyerupai sebelah mata manusia, tetapi menyerupai bagian vital seorang wanita. Tentunya dalam corak seperti lukisan vignette, meliuk-liuk indah. Bosnan menjadi geli sendiri memperhatikan hal itu.
“Konyol nih!... kalau dari samping sini sih seperti sebelah mata tanpa pasangannya. Tapi kalau dilihat dari sisi begini, jadinya persis seperti ‘mahkota’ perempuan. Aneh sekali?! Oo.... tadi yang kumaksud menyusun gambar pada bidang sebelah kanan ini, ternyata setelah diputar sana-sini, ehh... yang tersusun justru bidang sebelah kirinya. Jadi kayak gini dech....?!” senyum geli Bosnan makin lebar. Jari tangannya meraba gambar itu secara usil. Dan tiba-tiba jari tangannya itu seperti memegang aliran listrik tegangan rendah, namun cukup mengejutkan jantung Bosnan. Zzzrrrrttt...!!!
“Hahh...?!” Bosnan buru-buru menarik tangannya. Terperangah tegang lagi. Semakin lebar matanya memandang, karena setelah gambar itu diusap dengan jari tangannya, dari bagian tengah gambar tampak kilatan cahaya putih kecil menyilaukan. Seperti lampu blitz pada sebuah tustel yang digunakan untuk memotret. Claap.! Hanya sekilas dan tidak terlihat lagi cahaya berikutnya. Namun kilatan cahaya cepat tadi membuat mata Bosnan menjadi buta mendadak. Cahaya itu sangat menyilaukan. Kuat sekali pancarannya sehingga terasa sakit di bola matanya. Bosnan terpejam refleks, tapi setelah membuka matanya kembali, ia terkejut dan menjadi takut, sebab mata itu tidak dapat dipakai untuk melihat apa-apa. Semua yang dipandangnya serba gelap pekat, seperti berada di dalam liang kubur. Sepi dan sangat mencekam.
“Celaka...! mataku menjadi buta...?!” geramnya sambil terengah-engah. Matanya dikedap-kedipkan beberapa kali, tapi tetap saja tak bisa melihat apa-apa. Bosnan semakin tegang. Panik sekali.