“Menurutku
caramu ini hanya akan membuat batinmu tersiksa sendiri. Setidaknya kau akan
selalu mengenang kematiannya, dan mungkin suatu saat nanti kamu akan merasa
bersalah atas kematian Nucky itu.” Kata Ruyan, teman sebelah kamar Bosnan. Ia
juga seorang marketing analyst seperti Bosnan, hanya saja perusahaan mereka
berbeda, sektor bisnis yang ditanganipun berbeda. Namun mereka sering saling
bertukar pendapat mengenai bidang tersebut.
“Dengan
memajang barang-barang milik Nucky, apakah bukan siksaan tersendiri bagimu
sepanjang masa? Kau pasti akan selalu terkenang Nucky kalau melihat
barang-barangnya itu kan?”
“Ya,
memang. Tapi... rasa-rasanya ini suatu terapi tersendiri bagiku, agar aku tidak
terlalu shock menhadapi kematiannya.”
“Itu
teorimu bung. Prakteknya benda-benda itu akan membuatmu selalu bersedih dan
menyesali kematiannya. Sebaiknya, simpan saja di tempat tertutup. Sekali tempo
saja kau buka dan kau pandangi bersama kenangannya manakala kau merindukannya.”
“Ya,
mungkin aku akan kulakukan begitu, tapi... nantilah, kalau perasaanku sudah
netral kembali.”
“Belum
lagi kalau Debby datang kemari dan melihat benda-benda itu, pasti dia akan
sewot dan cemburu besar padamu, Bos.”
“Persetan
dengan Debby!” dengus Bosnan bernada kesal, “Aku memang belum mengikat hubungan
apapun dengannya kecuali hanya bersahabat saja. Aku kurang tertarik pada Debby.
Egois dan kurang dewasa.”
Ruyan
tertawa pelan, “Jadi... nggak seperti rencanamu semula? Nggak jadi mencari
simpati dai si putri pengusaha besar itu?”
“Ahh...!
mending cari simpati gadis lain saja ketimbang nantinya tekanan batin juga,”
Bosnan mendesah bernada keluh. Semula ia memang ingin mencari simpati dari
gadis putri seorang pengusaha yang sering datang ke tempat kostnya tersebut.
Tapi sekarang setelah mengetahui pribadi Debby yang sebenarnya, Bosnan
kehilangan rasa tertariknya. Karena gadis itu diperkirakan kelak akan
memperbudak dirinya jika ia menjadi kekasihnya.
Setelah
beberapa malam sering memandangi barang-barang milik Nucky, timbul kecurigaan
di hati Bosnan dengan salah satu benda yang diragukan sebagai milik Nucky.
Benda tersebut adalah permainan kelincahan IQ yang berbentuk prisma dengan
semua sisinya sama panjang. Kotak kubus tersebut belum pernah dilihat Bosnan
sebagai barang bawaan Nucky. Jangan-jangan benda itu memang bukan milik Nucky,
pikirnya saat mengambil barang tersebut dan mengamatinya lebih seksama lagi.
Malam
yang hening dan sunyi membuat Bosnan merasa lebih fokus lagi mengamati benda
tersebut. Kotak permainan tersebut dapat diputar ke sisi manapun. Gambarnya bisa
dipindahkan untuk mendapatkan gambar yang benar. Setiap bidang dari keenam
bidang permukaannya, memiliki tiga potongan gambar yang bisa dipindah-pindahkan
dengan cara memutar potongan tersebut. Dari enam bidang permukaan kubus itu
terdapat gambar yang sulit dipahami oleh setiap orang. Bosnan sendiri sangat
serius memikirkan gambar-gambar tersebut yang menurutnya menyerupai
lambang-lambang aneh
Misalnya,
dalam satu bidang terdapat tiga potongan gambar kepala bertanduk, separoh
binatang, dan gambar kaki gelas bertangkai panjang. Bidang lain menampakkan
gambar gumpalan awan, gambar bagian atas tempat lilin, dan gambar empat kaki
binatang seperti kuda. Begitu pula bidang lainnya. Jika diputar kesana-sini
dengan cermat, maka keenam bidang datar tersebut bisa memiliki makna gambar
tersendiri. Tapi untuk mencapai hal itu dibutuhkan kecerdasan daya pikir
seseorang, terutama yang sudah terbiasa memainkan teka-teki yang semacam itu.
“Aneh
sekali..!” gumam Bosnan dengan dahi berkerut tajam. “Dari tadi kupandangi benda
ini, dan entah sudah berapa kali bulu romaku meremang merinding. Jantungku pun
berdetak lebih kencang dari biayasanya. Hmmm, firasatku mengatakan bahwa benda
ini sepertinya benda yang ganjil. Nggak tahu deh, ganjil bagaimana maksudnya.
Pokoknya ada sesuatu yang mencurigakan pada benda mainan ini. Kurasa memang
benda ini bukan milkik Nucky. Kebetulan saja kudapatkan berada nggak jauh dari
agendanya Nucky, jadi sempat kusangka milik Nucky. Hmmm... tapi menarik juga
dimainkan dalam keadaan sepi begini.?!”
Kubus
bersiku-siku sama panjang itu memang memiliki kesan mistis dari warnanya.
Seperti terbuat dari kayu ringan yang berwarna cokelat tua, halus dan
mengkilap. Setiap sisinya dilapisi logam kuning kusam, menyerupai emas kuno.
Lapisan logam itu membentuk ukiran aneh. Bahkan gambar-gambarnya terbuat dari
ukiran lempengan logam kuning kusam yang menyatu kuat pada kayu tersebut,
sepertinya menggunakan perekat khusus, sehingga tak mudah dilepas begitu saja.
Bentuk potongan-potongannya sebagian besar membujur tegak lurus dengan yang
lainnya, tapi ada beberapa potongan yang membentuk garis diagonal dengan dua
sudut 30 derajat pada masing-masing potongannya. Baunya pun harum aneh,
sepertinya kayu yang digunakan adalah kayu yang mengeluarkan aroma wangi alami,
kira-kira seperti kayu cendana. Tapi Bosnan yakin, aroma wangi aneh itu bukan
aroma wangi kayu cendana.
“Benda
ini membuatku sangat tertarik, tapi juga membuatku sangat curiga dan agak
takut! Malahan.... makin lama dipandangi semakin menumbuhkan rasa penasaran
yang sulit dikendalikan. Hmm, kurasa itu Cuma perasaanku yang terlalu
mengada-ada saja. Mestinya aku tidak boleh berhayal yang tidak-tidak dan
memandang aneh benda ini.”
Bosnan
benar-benar tak bisa menahan rasa ingin mencoba memainkannya. Maka, dengan
ragu-ragu akhirnya ia mulai memutar potongan-potongan pada kotak kubus
tersebut. Posisi tiap potongan gambar berubah dan diusahakan menemui
pasangannya yang cocok. Benda yang besarnya satu genggaman orang dewasa lebih
sedikit itu tiba-tiba mengeluarkan getaran kecil, seperti arus listrik tanpa percikan
cahaya sedikitpun. Getaran itu terasa mengalir jelas di kedua telapak tangan
Bosnan, sehingga pemuda berperawakan tegap dan berwajah ganteng itu tersentak
kaget, lalu melemparkan kubus itu secara spontan. Glodak...! benda itu jatuh di
atas meja.
“Gila..!
bisa menimbulkan getaran aneh?!” mata Bosnan menatap dengan cukup tegang.
Nafasnya terasa mulai sesak. Perasaannya menjadi sangat tak enak. Gundah
sekali. Tapi rasa penasaran terhadap benda itu masih ada.
“Ah...
masa’ sih menimbulkan getaran?!” pikir Bosnan mulai ragu terhadap dirinya
sendiri. “Mana bisa benda kayu tanpa battery bisa mengeluarkan strom listrik
sih.?!”
Diraihnya
kembali kotak kubus yang tadi dilemparkan dan hampir mengenai lampu neon di
meja tersebut. Benda itu kini brada disamping tumpukan map kerja, berjarak
kurang dari satu jangkauan dari tempat duduk Bosnan. Bidang paling atas
mempunyai tiga potongan gambar yang tanpa disadari Bosnan saat mengutak-ngatiknya
tadi telah membentuk satu bagian gambar, yaitu berbentuk seperti satu mata berbulu
lentik di bagian atas dan bawahnya.
Pelan-pelan
sekali benda itu disentuh Bosnan, ternyata tidak mengeluarkan getaran seperti
tadi. Bosnan mulai berani memegangnya dengan tenang. Namun bila diperhatikan
lagi dari sudut pandang berbeda, ternyata bentuk gambar tersebut tidak
menyerupai sebelah mata manusia, tetapi menyerupai bagian vital seorang wanita.
Tentunya dalam corak seperti lukisan vignette, meliuk-liuk indah. Bosnan
menjadi geli sendiri memperhatikan hal itu.
“Konyol
nih!... kalau dari samping sini sih seperti sebelah mata tanpa pasangannya.
Tapi kalau dilihat dari sisi begini, jadinya persis seperti ‘mahkota’
perempuan. Aneh sekali?! Oo.... tadi yang kumaksud menyusun gambar pada bidang
sebelah kanan ini, ternyata setelah diputar sana-sini, ehh... yang tersusun
justru bidang sebelah kirinya. Jadi kayak gini dech....?!” senyum geli Bosnan
makin lebar. Jari tangannya meraba gambar itu secara usil. Dan tiba-tiba jari
tangannya itu seperti memegang aliran listrik tegangan rendah, namun cukup mengejutkan
jantung Bosnan. Zzzrrrrttt...!!!
“Hahh...?!”
Bosnan buru-buru menarik tangannya. Terperangah tegang lagi. Semakin lebar
matanya memandang, karena setelah gambar itu diusap dengan jari tangannya, dari
bagian tengah gambar tampak kilatan cahaya putih kecil menyilaukan. Seperti
lampu blitz pada sebuah tustel yang digunakan untuk memotret. Claap.! Hanya
sekilas dan tidak terlihat lagi cahaya berikutnya. Namun kilatan cahaya cepat
tadi membuat mata Bosnan menjadi buta mendadak. Cahaya itu sangat menyilaukan.
Kuat sekali pancarannya sehingga terasa sakit di bola matanya. Bosnan terpejam
refleks, tapi setelah membuka matanya kembali, ia terkejut dan menjadi takut,
sebab mata itu tidak dapat dipakai untuk melihat apa-apa. Semua yang
dipandangnya serba gelap pekat, seperti berada di dalam liang kubur. Sepi dan
sangat mencekam.
“Celaka...!
mataku menjadi buta...?!” geramnya sambil terengah-engah. Matanya
dikedap-kedipkan beberapa kali, tapi tetap saja tak bisa melihat apa-apa.
Bosnan semakin tegang. Panik sekali.