Page 2
Rasa
penasaran membuat mereka berempat pergi meninggalkan tempat kost mereka.
Menggunakan sepeda motor. Saat itu juga terdengar raungan sirine ambulance dan
sirine mobil polisi dari berbagai arah.
Tiba
di lokasi kejadian, keempat pemuda sebaya itu tercengang dan memandang ke satu
arah yang mengerikan. Mereka tak sempat turun dari atas motor sebelum
keterpakuan mereka pudar dan menjadi sadar kembali. Yang dapat mereka ucapkan
pada saat itu adalah gumam keprihatinan dan keluhan hati yang merasa ngeri.
“Astaga....”
“Ya
ampuuunn...”
“Oh
my God...”
“Gila...”
Sebuah
gedung perkantoran empat lantai menjadi hancur berkeping-keping. Gedung itu
terletak diantara bangunan-bangunan bisnis lainnya, tepat di belakangnya adalah
sebuah komplek perumahan elite dan perkampungan penduduk. Yang mencengangkan
lagi, kompleks permahan elite itu hampir separuh bagian dalam keadaan roboh,
seperti terbenam ke dalam tanah. Gedung perkantoran itupun seperti ada yang
menghisapnya ke dalam tanah.
Kepingan
dan puing bangunan tidak menyebar ke mana-mana, tapi terkubur ke dalam tanah
yang membentuk lubang besar, hampir seukuran stadion sepak bola. Kedalaman
lubang besar itu sekitar 50 meter. Memang, ada pula barang pecahan dari gedung
dan bangunan itu yang menyebar terpental ke mana-mana, tapi tidak seberapa
banyak dan tidak menarik perhatian massa. Yang paling menarik adalah jumlah
korban jiwa yang terkubur tertimbun bersama reruntuhan bangunan di kedalaman
lubang besar itu. Suara rintihan dan jeritan masih terdengar samar-samar dari
kedalaman lubang besar, mungkin suara itu adalah jeritan korban yang belum
kehilangan nyawanya.
Team
SAR dan sukarelawan setempat saling bekerja sama menyelamatkan korban yang
belum kehilangan nyawanya, termasuk anak kecil yang berumur 3 tahun yang terus
menangis karena pahanya tertimpa bongkahan tembok sebesar penggorengan.
Mengerikan sekali suasana malam itu. Bahkan yang menonton pun ikut menangis dan
merasa panik melihat korban yang tergencet tapi belum menemui ajalnya. Rasa
kemanusiaan mereka tergerak dengan sendirinya, sehingga banyak yang ikut
membantu mengevakuasi korban tanpa diminta oleh siapa pun. Termasuk keempat
pemuda penghuni tempat kost yang berjarak 4 kilometer dari lokasi kejadian itu.
“Sam,
ikut aku cepat...!”
“Mau
kemana Bo....?” sambil Sam ikut berlari di belakang Bosnan. Kedua teman mereka
ikut-ikutan menyusul ke arah yang sama. Sambil berlari menghindari tabrakan
dengan orang lain, Bosnan masih sempat berseru kepada Sam yang ikut berlari di
belakangnya.
“Aku
baru ingat.... Nucky malam ini bermalam di rumah pamannya.!”
“Lalu,
kenapa kau lari kesana..?”
“Paman
Nucky tinggal di kompleks yang di depan sana itu..!”
“Ya
ampun?! Jangan-jangan mereka ikut menjadi korban” gumam samora yang mengenal si
cantik Nucky sejak lama. Nucky adalah mantan kekasih Bosnan yang sudah tidak
menjalin hubungan cinta lagi, tapi masih tetap bersahabat dengan damai dan
sering tampak saling membantu, seperti saudara sendiri.
“Ya
ampuuun... Tuhan..?!” sebut Bosnan dengan lemas lunglai setelah melihat taman
di depan rumah paman Nucky telah hilang. Taman itu ikut terbenam ke dalam
lubang besar tersebut. Tentu saja rumah paman Nucky juga amblas ke dalam sana,
bertumpuk dengan reruntuhan bangunan lainnya. Sangat sulit mengetahui apakah
Nucky tewas terkubur bersama keluarg pamannya atau masih selamat dan memerlukan
bantuan secepatnya.
“Benar-benar
jahanam terkutuk orang yang memasang bom dan meledakkan tempat ini! Iblis
keparat” geram Bosnan antara marah dan sedih. Bola matanya merah berkaca-kaca.
Nafasna terengah-engah, nyaris tak bisa bicara lagi. Terbayang kematian Nucky
yang sebenarnya gadis berhati baik dan berjiwa bijak itu. Sungguh tak bisa
diterima oleh nurani Bosnan jika gadis seperti Nucky harus meninggal setragis
itu. Menurutnya, Nucky tak pantas menjadi korban peledakan bom yang dilakukan
oleh orang-orang biadab itu.
Tapi
menurut informasi penduduk perkampungan terdekat, banyak dari mereka yang
berpendapat bahwa ledakan sangat dahsyat tadi bukan ditimbulkan dari sebuah
bom. Mereka sangat sangsi terhadap pendapat seperti itu. Sebab, sebelum terjadi
ledakan dahsyat yang mengguncangkan rumah mereka dan membuat perabotan
berantakan itu, mereka merasakan guncangan kuat di setiap lantai rumah mereka.
Gempa itu seperti gempa berskala kecil, namun terasa cukup jelas guncangannya.
Guncangan bumi terjadi dua kali, nyaris beruntun, lama guncangan sekitar lima
detik, disusul guncangan kedua sekitar 3 detik.
“Tapi
kami mendengar suara angin badai juga” kata seorang warga setempat. Orang itu
membuka warung nasi goreng di pinggir jalan masuk ke perkampungan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar