Rabu, 29 Februari 2012

Permaina Iblis 2 (jilid 1)

Page 2
Rasa penasaran membuat mereka berempat pergi meninggalkan tempat kost mereka. Menggunakan sepeda motor. Saat itu juga terdengar raungan sirine ambulance dan sirine mobil polisi dari berbagai arah.
Tiba di lokasi kejadian, keempat pemuda sebaya itu tercengang dan memandang ke satu arah yang mengerikan. Mereka tak sempat turun dari atas motor sebelum keterpakuan mereka pudar dan menjadi sadar kembali. Yang dapat mereka ucapkan pada saat itu adalah gumam keprihatinan dan keluhan hati yang merasa ngeri.
“Astaga....”
“Ya ampuuunn...”
“Oh my God...”
“Gila...”
Sebuah gedung perkantoran empat lantai menjadi hancur berkeping-keping. Gedung itu terletak diantara bangunan-bangunan bisnis lainnya, tepat di belakangnya adalah sebuah komplek perumahan elite dan perkampungan penduduk. Yang mencengangkan lagi, kompleks permahan elite itu hampir separuh bagian dalam keadaan roboh, seperti terbenam ke dalam tanah. Gedung perkantoran itupun seperti ada yang menghisapnya ke dalam tanah.
Kepingan dan puing bangunan tidak menyebar ke mana-mana, tapi terkubur ke dalam tanah yang membentuk lubang besar, hampir seukuran stadion sepak bola. Kedalaman lubang besar itu sekitar 50 meter. Memang, ada pula barang pecahan dari gedung dan bangunan itu yang menyebar terpental ke mana-mana, tapi tidak seberapa banyak dan tidak menarik perhatian massa. Yang paling menarik adalah jumlah korban jiwa yang terkubur tertimbun bersama reruntuhan bangunan di kedalaman lubang besar itu. Suara rintihan dan jeritan masih terdengar samar-samar dari kedalaman lubang besar, mungkin suara itu adalah jeritan korban yang belum kehilangan nyawanya.
Team SAR dan sukarelawan setempat saling bekerja sama menyelamatkan korban yang belum kehilangan nyawanya, termasuk anak kecil yang berumur 3 tahun yang terus menangis karena pahanya tertimpa bongkahan tembok sebesar penggorengan. Mengerikan sekali suasana malam itu. Bahkan yang menonton pun ikut menangis dan merasa panik melihat korban yang tergencet tapi belum menemui ajalnya. Rasa kemanusiaan mereka tergerak dengan sendirinya, sehingga banyak yang ikut membantu mengevakuasi korban tanpa diminta oleh siapa pun. Termasuk keempat pemuda penghuni tempat kost yang berjarak 4 kilometer dari lokasi kejadian itu.
“Sam, ikut aku cepat...!”
“Mau kemana Bo....?” sambil Sam ikut berlari di belakang Bosnan. Kedua teman mereka ikut-ikutan menyusul ke arah yang sama. Sambil berlari menghindari tabrakan dengan orang lain, Bosnan masih sempat berseru kepada Sam yang ikut berlari di belakangnya.
“Aku baru ingat.... Nucky malam ini bermalam di rumah pamannya.!”
“Lalu, kenapa kau lari kesana..?”
“Paman Nucky tinggal di kompleks yang di depan sana itu..!”
“Ya ampun?! Jangan-jangan mereka ikut menjadi korban” gumam samora yang mengenal si cantik Nucky sejak lama. Nucky adalah mantan kekasih Bosnan yang sudah tidak menjalin hubungan cinta lagi, tapi masih tetap bersahabat dengan damai dan sering tampak saling membantu, seperti saudara sendiri.
“Ya ampuuun... Tuhan..?!” sebut Bosnan dengan lemas lunglai setelah melihat taman di depan rumah paman Nucky telah hilang. Taman itu ikut terbenam ke dalam lubang besar tersebut. Tentu saja rumah paman Nucky juga amblas ke dalam sana, bertumpuk dengan reruntuhan bangunan lainnya. Sangat sulit mengetahui apakah Nucky tewas terkubur bersama keluarg pamannya atau masih selamat dan memerlukan bantuan secepatnya.
“Benar-benar jahanam terkutuk orang yang memasang bom dan meledakkan tempat ini! Iblis keparat” geram Bosnan antara marah dan sedih. Bola matanya merah berkaca-kaca. Nafasna terengah-engah, nyaris tak bisa bicara lagi. Terbayang kematian Nucky yang sebenarnya gadis berhati baik dan berjiwa bijak itu. Sungguh tak bisa diterima oleh nurani Bosnan jika gadis seperti Nucky harus meninggal setragis itu. Menurutnya, Nucky tak pantas menjadi korban peledakan bom yang dilakukan oleh orang-orang biadab itu.
Tapi menurut informasi penduduk perkampungan terdekat, banyak dari mereka yang berpendapat bahwa ledakan sangat dahsyat tadi bukan ditimbulkan dari sebuah bom. Mereka sangat sangsi terhadap pendapat seperti itu. Sebab, sebelum terjadi ledakan dahsyat yang mengguncangkan rumah mereka dan membuat perabotan berantakan itu, mereka merasakan guncangan kuat di setiap lantai rumah mereka. Gempa itu seperti gempa berskala kecil, namun terasa cukup jelas guncangannya. Guncangan bumi terjadi dua kali, nyaris beruntun, lama guncangan sekitar lima detik, disusul guncangan kedua sekitar 3 detik.
“Tapi kami mendengar suara angin badai juga” kata seorang warga setempat. Orang itu membuka warung nasi goreng di pinggir jalan masuk ke perkampungan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar