Rabu, 29 Februari 2012

Permainan Iblis 3 (jilid I)


“Tapi kami mendengar suara angin badai juga” kata seorang warga setempat. Orang itu membuka warung nasi goreng di pinggir jalan masuk ke perkampungan.
Suara angin gemuruh seperti badai menurutnya datang dari atas, bukan dari arah mana-mana gerakan angin dikatakan memutar seperti topan yang turun dari langit. Buktinya, empat lembar seng penutup atap dapurnya jebol, tertarik ke atas dan jatuh ke tempat lain dalam keadaan sudah melilit, seperti tergelincir sangat kuat. Kabel listrik di sisi lain pun ditemukan dalam keadaan melilit sebuah pohon seperti ingin menjerat kuat pohon tersebut.
“Angin badai aneh itu terjadi agak lama, tapi tidak sampai satu menit. Sekitar setengah menit lewat sedikitlah. Saya berlari keluar bersama dua orang pembeli yang sedang makan disini. Kami takut tertimpa atap warung ini. Nah, waktu kami berhamburan keluar seperti penghuni rumah lainnya, kami melihat cahaya biru berkelap-kelip, seperti benang-benang petir.”
“Dari mana cahaya biru itu..?”
“Dari atap gedung bertingkat empat itu. Dari perkantoran sana cahaya biru itu seperti tersembur keluar, keatas, setinggi 10 meter lebih. Bentuknya seperti akar-akar pohon yang ingin berlarian kesana-sini tapi bagian bawahnya masih terikat menjadi satu. Kilatan cahaya biru itu mengeluarkan letupan kecil beruntun, seperti suara arus listrik mengalami konslet. Ada percikan bunga apinya segala, tapi berwarna biru cerah.”
“Lalu terjadi ledakan..?”
“Belum” sahut si pemilik warung. “Cahaya berkilatan itu padam dulu. Setelah padam, angin pun reda, kami masih terpaku di jalanan karena terheran-heran memandangi gedung perkantoran itu. Gedung itu menjadi seperti menyala semua dindingnya. Menyala biru berpijar-pijar. Bagus sekali. Dari menyala lemah, menjadi agak terang dan bening, tapi cahayanya tidak menyebar kemana-mana. Dan, menurut keterangan orang-orang yang tinggal di belakang sana, katanya sih beberapa rumah di kompleks Griya Candera itu juga menyala biru seperti gedung tersebut.
“Berapa lama gedung itu menyala pijar biru..?” tanya Samora.
“Nggak lama kok. Sekitar... yaaah, lima detik atau lebih sedikitlah. Kami sempat tercengang kagum, lalu bergegas ingin melihat lebih dekat lagi. Nah, saat itulah tahu-tahu jalanan beraspal ini seperti karpet yang disabatkan pada ujungnya. Menggelembung naik, dan gelembung itu bergerak ke jalan besar. Saya sendiri sempat jatuh terduduk karena tempat saya berpijak tiba-tiba menggelembung naik dan turun kembali. Pada saat saya jatu itulah terdengar ledakan keras, yang saking kerasnya, maka telinga saya seperti hanya mendengar dengung pendek, wuuuuuung...!! Lalu, kuping saya seperti mau pecah, kencang sekali, dengungnya tak ada, cuma...... saya jadi budeg sesaat. Nggak bisa dengar apa-apa, tiba-tiba dada saya sakit, mata saya pedih, dan gedung itu rontok ke bawah tanpa suara apapun, menurut saya. Setelah saya istighfar berkali-kali sambil merangkak bangkit, barulah kuping saya bisa mendengar suara lagi, dan nafas saya longgar kembali.”
Menurut para ahli penjinak bom dan beberapa orang yang mengetahui betul tentang jenis-jenis bom serta jenis peledak lainnya, musibah yang menyeramkan yang terjadi tepat pukul 23:57 hampir tengah malam itu memang bukan disebabkan oleh sebuah bom. Data-data yang berhasil mereka kumpulkan menyimpulkan bahwa ledakan tersebut diawali dengan munculnya gangguan alam yang bersifat ganjil. Misterius sekali. Salah seorang petugas satpam sebuah bank yang letaknya satu kilometer dari tempat kejadian tersebut menjelaskan, sebelum terjadi ledakan dahsyat itu, ia sempat terheran-heran melihat arlojinya bergerak aneh. Jarum arloji itu bergerak memutar, berlawanan dengan arah biasanya, dan gerakannya sangat cepat. Nyaris menyerupai baling-baling.
Pada saat itu saya sedang jengkel menunggu teman teman untuk aplus jaga, tapi belum muncul-muncul juga. Saya coba menengok arloji saya, sudah jam berapa sih, kok teman saya belum datang juga? Nah, saat saya terbengong melihat gerakan jarum jam seaneh itu, tiba-tiba dentuman besar terdengar kuat, seperti akan menelan saya hidup-hidup. Dada saya menjadi sesak, kayak ada almari yang menggencet kuat-kuat.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar