“Tapi
kami mendengar suara angin badai juga” kata seorang warga setempat. Orang itu
membuka warung nasi goreng di pinggir jalan masuk ke perkampungan.
Suara
angin gemuruh seperti badai menurutnya datang dari atas, bukan dari arah
mana-mana gerakan angin dikatakan memutar seperti topan yang turun dari langit.
Buktinya, empat lembar seng penutup atap dapurnya jebol, tertarik ke atas dan
jatuh ke tempat lain dalam keadaan sudah melilit, seperti tergelincir sangat
kuat. Kabel listrik di sisi lain pun ditemukan dalam keadaan melilit sebuah
pohon seperti ingin menjerat kuat pohon tersebut.
“Angin
badai aneh itu terjadi agak lama, tapi tidak sampai satu menit. Sekitar
setengah menit lewat sedikitlah. Saya berlari keluar bersama dua orang pembeli
yang sedang makan disini. Kami takut tertimpa atap warung ini. Nah, waktu kami
berhamburan keluar seperti penghuni rumah lainnya, kami melihat cahaya biru
berkelap-kelip, seperti benang-benang petir.”
“Dari
mana cahaya biru itu..?”
“Dari
atap gedung bertingkat empat itu. Dari perkantoran sana cahaya biru itu seperti
tersembur keluar, keatas, setinggi 10 meter lebih. Bentuknya seperti akar-akar
pohon yang ingin berlarian kesana-sini tapi bagian bawahnya masih terikat
menjadi satu. Kilatan cahaya biru itu mengeluarkan letupan kecil beruntun,
seperti suara arus listrik mengalami konslet. Ada percikan bunga apinya segala,
tapi berwarna biru cerah.”
“Lalu
terjadi ledakan..?”
“Belum”
sahut si pemilik warung. “Cahaya berkilatan itu padam dulu. Setelah padam,
angin pun reda, kami masih terpaku di jalanan karena terheran-heran memandangi
gedung perkantoran itu. Gedung itu menjadi seperti menyala semua dindingnya.
Menyala biru berpijar-pijar. Bagus sekali. Dari menyala lemah, menjadi agak
terang dan bening, tapi cahayanya tidak menyebar kemana-mana. Dan, menurut
keterangan orang-orang yang tinggal di belakang sana, katanya sih beberapa
rumah di kompleks Griya Candera itu juga menyala biru seperti gedung tersebut.
“Berapa
lama gedung itu menyala pijar biru..?” tanya Samora.
“Nggak
lama kok. Sekitar... yaaah, lima detik atau lebih sedikitlah. Kami sempat
tercengang kagum, lalu bergegas ingin melihat lebih dekat lagi. Nah, saat
itulah tahu-tahu jalanan beraspal ini seperti karpet yang disabatkan pada
ujungnya. Menggelembung naik, dan gelembung itu bergerak ke jalan besar. Saya
sendiri sempat jatuh terduduk karena tempat saya berpijak tiba-tiba
menggelembung naik dan turun kembali. Pada saat saya jatu itulah terdengar
ledakan keras, yang saking kerasnya, maka telinga saya seperti hanya mendengar
dengung pendek, wuuuuuung...!! Lalu, kuping saya seperti mau pecah, kencang
sekali, dengungnya tak ada, cuma...... saya jadi budeg sesaat. Nggak bisa
dengar apa-apa, tiba-tiba dada saya sakit, mata saya pedih, dan gedung itu
rontok ke bawah tanpa suara apapun, menurut saya. Setelah saya istighfar
berkali-kali sambil merangkak bangkit, barulah kuping saya bisa mendengar suara
lagi, dan nafas saya longgar kembali.”
Menurut
para ahli penjinak bom dan beberapa orang yang mengetahui betul tentang
jenis-jenis bom serta jenis peledak lainnya, musibah yang menyeramkan yang
terjadi tepat pukul 23:57 hampir tengah malam itu memang bukan disebabkan oleh
sebuah bom. Data-data yang berhasil mereka kumpulkan menyimpulkan bahwa ledakan
tersebut diawali dengan munculnya gangguan alam yang bersifat ganjil. Misterius
sekali. Salah seorang petugas satpam sebuah bank yang letaknya satu kilometer
dari tempat kejadian tersebut menjelaskan, sebelum terjadi ledakan dahsyat itu,
ia sempat terheran-heran melihat arlojinya bergerak aneh. Jarum arloji itu
bergerak memutar, berlawanan dengan arah biasanya, dan gerakannya sangat cepat.
Nyaris menyerupai baling-baling.
Pada
saat itu saya sedang jengkel menunggu teman teman untuk aplus jaga, tapi belum
muncul-muncul juga. Saya coba menengok arloji saya, sudah jam berapa sih, kok
teman saya belum datang juga? Nah, saat saya terbengong melihat gerakan jarum
jam seaneh itu, tiba-tiba dentuman besar terdengar kuat, seperti akan menelan
saya hidup-hidup. Dada saya menjadi sesak, kayak ada almari yang menggencet
kuat-kuat.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar