Kamis, 01 Maret 2012

Permainan Iblis 5 (jilid I)


“Menurutku caramu ini hanya akan membuat batinmu tersiksa sendiri. Setidaknya kau akan selalu mengenang kematiannya, dan mungkin suatu saat nanti kamu akan merasa bersalah atas kematian Nucky itu.” Kata Ruyan, teman sebelah kamar Bosnan. Ia juga seorang marketing analyst seperti Bosnan, hanya saja perusahaan mereka berbeda, sektor bisnis yang ditanganipun berbeda. Namun mereka sering saling bertukar pendapat mengenai bidang tersebut.
“Dengan memajang barang-barang milik Nucky, apakah bukan siksaan tersendiri bagimu sepanjang masa? Kau pasti akan selalu terkenang Nucky kalau melihat barang-barangnya itu kan?”
“Ya, memang. Tapi... rasa-rasanya ini suatu terapi tersendiri bagiku, agar aku tidak terlalu shock menhadapi kematiannya.”
“Itu teorimu bung. Prakteknya benda-benda itu akan membuatmu selalu bersedih dan menyesali kematiannya. Sebaiknya, simpan saja di tempat tertutup. Sekali tempo saja kau buka dan kau pandangi bersama kenangannya manakala kau merindukannya.”
“Ya, mungkin aku akan kulakukan begitu, tapi... nantilah, kalau perasaanku sudah netral kembali.”
“Belum lagi kalau Debby datang kemari dan melihat benda-benda itu, pasti dia akan sewot dan cemburu besar padamu, Bos.”
“Persetan dengan Debby!” dengus Bosnan bernada kesal, “Aku memang belum mengikat hubungan apapun dengannya kecuali hanya bersahabat saja. Aku kurang tertarik pada Debby. Egois dan kurang dewasa.”
Ruyan tertawa pelan, “Jadi... nggak seperti rencanamu semula? Nggak jadi mencari simpati dai si putri pengusaha besar itu?”
“Ahh...! mending cari simpati gadis lain saja ketimbang nantinya tekanan batin juga,” Bosnan mendesah bernada keluh. Semula ia memang ingin mencari simpati dari gadis putri seorang pengusaha yang sering datang ke tempat kostnya tersebut. Tapi sekarang setelah mengetahui pribadi Debby yang sebenarnya, Bosnan kehilangan rasa tertariknya. Karena gadis itu diperkirakan kelak akan memperbudak dirinya jika ia menjadi kekasihnya.
Setelah beberapa malam sering memandangi barang-barang milik Nucky, timbul kecurigaan di hati Bosnan dengan salah satu benda yang diragukan sebagai milik Nucky. Benda tersebut adalah permainan kelincahan IQ yang berbentuk prisma dengan semua sisinya sama panjang. Kotak kubus tersebut belum pernah dilihat Bosnan sebagai barang bawaan Nucky. Jangan-jangan benda itu memang bukan milik Nucky, pikirnya saat mengambil barang tersebut dan mengamatinya lebih seksama lagi.
Malam yang hening dan sunyi membuat Bosnan merasa lebih fokus lagi mengamati benda tersebut. Kotak permainan tersebut dapat diputar ke sisi manapun. Gambarnya bisa dipindahkan untuk mendapatkan gambar yang benar. Setiap bidang dari keenam bidang permukaannya, memiliki tiga potongan gambar yang bisa dipindah-pindahkan dengan cara memutar potongan tersebut. Dari enam bidang permukaan kubus itu terdapat gambar yang sulit dipahami oleh setiap orang. Bosnan sendiri sangat serius memikirkan gambar-gambar tersebut yang menurutnya menyerupai lambang-lambang aneh
Misalnya, dalam satu bidang terdapat tiga potongan gambar kepala bertanduk, separoh binatang, dan gambar kaki gelas bertangkai panjang. Bidang lain menampakkan gambar gumpalan awan, gambar bagian atas tempat lilin, dan gambar empat kaki binatang seperti kuda. Begitu pula bidang lainnya. Jika diputar kesana-sini dengan cermat, maka keenam bidang datar tersebut bisa memiliki makna gambar tersendiri. Tapi untuk mencapai hal itu dibutuhkan kecerdasan daya pikir seseorang, terutama yang sudah terbiasa memainkan teka-teki yang semacam itu.
“Aneh sekali..!” gumam Bosnan dengan dahi berkerut tajam. “Dari tadi kupandangi benda ini, dan entah sudah berapa kali bulu romaku meremang merinding. Jantungku pun berdetak lebih kencang dari biayasanya. Hmmm, firasatku mengatakan bahwa benda ini sepertinya benda yang ganjil. Nggak tahu deh, ganjil bagaimana maksudnya. Pokoknya ada sesuatu yang mencurigakan pada benda mainan ini. Kurasa memang benda ini bukan milkik Nucky. Kebetulan saja kudapatkan berada nggak jauh dari agendanya Nucky, jadi sempat kusangka milik Nucky. Hmmm... tapi menarik juga dimainkan dalam keadaan sepi begini.?!”
Kubus bersiku-siku sama panjang itu memang memiliki kesan mistis dari warnanya. Seperti terbuat dari kayu ringan yang berwarna cokelat tua, halus dan mengkilap. Setiap sisinya dilapisi logam kuning kusam, menyerupai emas kuno. Lapisan logam itu membentuk ukiran aneh. Bahkan gambar-gambarnya terbuat dari ukiran lempengan logam kuning kusam yang menyatu kuat pada kayu tersebut, sepertinya menggunakan perekat khusus, sehingga tak mudah dilepas begitu saja. Bentuk potongan-potongannya sebagian besar membujur tegak lurus dengan yang lainnya, tapi ada beberapa potongan yang membentuk garis diagonal dengan dua sudut 30 derajat pada masing-masing potongannya. Baunya pun harum aneh, sepertinya kayu yang digunakan adalah kayu yang mengeluarkan aroma wangi alami, kira-kira seperti kayu cendana. Tapi Bosnan yakin, aroma wangi aneh itu bukan aroma wangi kayu cendana.
“Benda ini membuatku sangat tertarik, tapi juga membuatku sangat curiga dan agak takut! Malahan.... makin lama dipandangi semakin menumbuhkan rasa penasaran yang sulit dikendalikan. Hmm, kurasa itu Cuma perasaanku yang terlalu mengada-ada saja. Mestinya aku tidak boleh berhayal yang tidak-tidak dan memandang aneh benda ini.”
Bosnan benar-benar tak bisa menahan rasa ingin mencoba memainkannya. Maka, dengan ragu-ragu akhirnya ia mulai memutar potongan-potongan pada kotak kubus tersebut. Posisi tiap potongan gambar berubah dan diusahakan menemui pasangannya yang cocok. Benda yang besarnya satu genggaman orang dewasa lebih sedikit itu tiba-tiba mengeluarkan getaran kecil, seperti arus listrik tanpa percikan cahaya sedikitpun. Getaran itu terasa mengalir jelas di kedua telapak tangan Bosnan, sehingga pemuda berperawakan tegap dan berwajah ganteng itu tersentak kaget, lalu melemparkan kubus itu secara spontan. Glodak...! benda itu jatuh di atas meja.
“Gila..! bisa menimbulkan getaran aneh?!” mata Bosnan menatap dengan cukup tegang. Nafasnya terasa mulai sesak. Perasaannya menjadi sangat tak enak. Gundah sekali. Tapi rasa penasaran terhadap benda itu masih ada.
“Ah... masa’ sih menimbulkan getaran?!” pikir Bosnan mulai ragu terhadap dirinya sendiri. “Mana bisa benda kayu tanpa battery bisa mengeluarkan strom listrik sih.?!”
Diraihnya kembali kotak kubus yang tadi dilemparkan dan hampir mengenai lampu neon di meja tersebut. Benda itu kini brada disamping tumpukan map kerja, berjarak kurang dari satu jangkauan dari tempat duduk Bosnan. Bidang paling atas mempunyai tiga potongan gambar yang tanpa disadari Bosnan saat mengutak-ngatiknya tadi telah membentuk satu bagian gambar, yaitu berbentuk seperti satu mata berbulu lentik di bagian atas dan bawahnya.

Pelan-pelan sekali benda itu disentuh Bosnan, ternyata tidak mengeluarkan getaran seperti tadi. Bosnan mulai berani memegangnya dengan tenang. Namun bila diperhatikan lagi dari sudut pandang berbeda, ternyata bentuk gambar tersebut tidak menyerupai sebelah mata manusia, tetapi menyerupai bagian vital seorang wanita. Tentunya dalam corak seperti lukisan vignette, meliuk-liuk indah. Bosnan menjadi geli sendiri memperhatikan hal itu.
“Konyol nih!... kalau dari samping sini sih seperti sebelah mata tanpa pasangannya. Tapi kalau dilihat dari sisi begini, jadinya persis seperti ‘mahkota’ perempuan. Aneh sekali?! Oo.... tadi yang kumaksud menyusun gambar pada bidang sebelah kanan ini, ternyata setelah diputar sana-sini, ehh... yang tersusun justru bidang sebelah kirinya. Jadi kayak gini dech....?!” senyum geli Bosnan makin lebar. Jari tangannya meraba gambar itu secara usil. Dan tiba-tiba jari tangannya itu seperti memegang aliran listrik tegangan rendah, namun cukup mengejutkan jantung Bosnan. Zzzrrrrttt...!!!
“Hahh...?!” Bosnan buru-buru menarik tangannya. Terperangah tegang lagi. Semakin lebar matanya memandang, karena setelah gambar itu diusap dengan jari tangannya, dari bagian tengah gambar tampak kilatan cahaya putih kecil menyilaukan. Seperti lampu blitz pada sebuah tustel yang digunakan untuk memotret. Claap.! Hanya sekilas dan tidak terlihat lagi cahaya berikutnya. Namun kilatan cahaya cepat tadi membuat mata Bosnan menjadi buta mendadak. Cahaya itu sangat menyilaukan. Kuat sekali pancarannya sehingga terasa sakit di bola matanya. Bosnan terpejam refleks, tapi setelah membuka matanya kembali, ia terkejut dan menjadi takut, sebab mata itu tidak dapat dipakai untuk melihat apa-apa. Semua yang dipandangnya serba gelap pekat, seperti berada di dalam liang kubur. Sepi dan sangat mencekam.
“Celaka...! mataku menjadi buta...?!” geramnya sambil terengah-engah. Matanya dikedap-kedipkan beberapa kali, tapi tetap saja tak bisa melihat apa-apa. Bosnan semakin tegang. Panik sekali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar