Dalam kegelapan yang serba
hitam pekat itu, Bosnan mencoba untuk pindah ke ranjang. Setelah beberapa kali
ia berteeriak keras-keras memanggil Samora atau Ruyan namun tak ada jawaban
dari mereka, Bosnan merasa putus asa. Ia menyangka teman-teman kostnya telah tenggelam
dalam kelelapan tidur sehingga tak bisa mendengar seruannya. Tak ada jalan lain
bagi Bosnan untuk menenangkan kepanikannya selain diam berbaring di ranjang. Ia
yakin kebutaan ini tidak akan selamanya. Pasti hanya karena pengaruh cahaya
putih tadi yang mengaburkan pandangan matanya beberapa saar. Entah berapa lama
lagi penglihayannya pasti akan pulih kembali seperti semula. Bosnan merasa tak
perlu gugup dan lebih baik menunggu saatnya normal kembali dengan sabar.
Langkahnya
sangat hati-hati ketika ia menuju ke ranjang. Tangannya berusaha meraba apapun
yang berada di depannya agar tak membentur kepala atau kakinya. Selangkah demi
selangkah ia lakukan penuh hati-hati sekali. Tapi lama-lama hati kecilnya
menjadi curiga, mengapa sudah lima langkah dia belm menyentuh tepian ranjang?
Bosnan masih ingat, jarak antara kursi tempatnya duduk tadi dengan ranjang
tidak lebih dari empoat langkah. Kalau toh arah langkah kakinya salah jalan,
pasti ia akan menyentuh tempat sepatu atau justru akan menabrak lemari baju setelah
lima langkah lebih.
“Gila..?!
Nggak ada barang apapun yang kusentuh?! Padahal aku sudah melangkah lebih dari
tujuh kali.?!” Pikirnya penuh keheranan. Kecemasan yang tadi sudah mau reda,
kini tumbuh kembali dengan detak jantung menjadi cepat seperti semula.
Tangannya mencoba meraba kasena-sini, tapi tak ada benda apapun yang
disentuhnya. Namun, ia tetap mencoba untuk melangkah dan terus, sampai lebih
dari sepuluh langkah. Bahkan sekarang kakinya yang tidak memakai sendal apapun
itu terasa bukan lagi menapak di lantai berubin keramik halus, melainkan
seperti berjalan diatas bentangan permadani berbulu halus, tebal dan empuk.
“Permadaninya
siapa ini? Rasa-rasanya aku nggak pernah memasang permadani di kamarku ini?!”
pikir Bosnan sambil semakin diliputi perasaan tak menentu. Gundah dan rasa
kesal.
Entah
sudah berapa kali Bosnan melangkah tanpa menyentuh apa-apa, sampai akhirnya ia
memutuskan untuk berhenti dan menenangkan pernafasannya yang menegang. Ia
menyimak suara setajam mungkin, namun tidak ada suara apapun yang didengarnya
kecuali hanya keheningan sepi tanpa batas. Hembusan anginpun tak ada, bahkan
engahan nafasnya pun sulit ditangkap pendengaranannya sendiri. Yang paling
jelas dirasakan hanya getaran detak jantungnya yang menyentak-nyentak mengguncangkan
seluruh tubuh, tapi suaranya tak terdengar sedikitpun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar