Minggu, 11 Maret 2012

PERMAINAN IBLIS 6 (jilid 2)

Step 2


Dalam kegelapan yang serba hitam pekat itu, Bosnan mencoba untuk pindah ke ranjang. Setelah beberapa kali ia berteeriak keras-keras memanggil Samora atau Ruyan namun tak ada jawaban dari mereka, Bosnan merasa putus asa. Ia menyangka teman-teman kostnya telah tenggelam dalam kelelapan tidur sehingga tak bisa mendengar seruannya. Tak ada jalan lain bagi Bosnan untuk menenangkan kepanikannya selain diam berbaring di ranjang. Ia yakin kebutaan ini tidak akan selamanya. Pasti hanya karena pengaruh cahaya putih tadi yang mengaburkan pandangan matanya beberapa saar. Entah berapa lama lagi penglihayannya pasti akan pulih kembali seperti semula. Bosnan merasa tak perlu gugup dan lebih baik menunggu saatnya normal kembali dengan sabar.
Langkahnya sangat hati-hati ketika ia menuju ke ranjang. Tangannya berusaha meraba apapun yang berada di depannya agar tak membentur kepala atau kakinya. Selangkah demi selangkah ia lakukan penuh hati-hati sekali. Tapi lama-lama hati kecilnya menjadi curiga, mengapa sudah lima langkah dia belm menyentuh tepian ranjang? Bosnan masih ingat, jarak antara kursi tempatnya duduk tadi dengan ranjang tidak lebih dari empoat langkah. Kalau toh arah langkah kakinya salah jalan, pasti ia akan menyentuh tempat sepatu atau justru akan menabrak lemari baju setelah lima langkah lebih.
“Gila..?! Nggak ada barang apapun yang kusentuh?! Padahal aku sudah melangkah lebih dari tujuh kali.?!” Pikirnya penuh keheranan. Kecemasan yang tadi sudah mau reda, kini tumbuh kembali dengan detak jantung menjadi cepat seperti semula. Tangannya mencoba meraba kasena-sini, tapi tak ada benda apapun yang disentuhnya. Namun, ia tetap mencoba untuk melangkah dan terus, sampai lebih dari sepuluh langkah. Bahkan sekarang kakinya yang tidak memakai sendal apapun itu terasa bukan lagi menapak di lantai berubin keramik halus, melainkan seperti berjalan diatas bentangan permadani berbulu halus, tebal dan empuk.
“Permadaninya siapa ini? Rasa-rasanya aku nggak pernah memasang permadani di kamarku ini?!” pikir Bosnan sambil semakin diliputi perasaan tak menentu. Gundah dan rasa kesal.
Entah sudah berapa kali Bosnan melangkah tanpa menyentuh apa-apa, sampai akhirnya ia memutuskan untuk berhenti dan menenangkan pernafasannya yang menegang. Ia menyimak suara setajam mungkin, namun tidak ada suara apapun yang didengarnya kecuali hanya keheningan sepi tanpa batas. Hembusan anginpun tak ada, bahkan engahan nafasnya pun sulit ditangkap pendengaranannya sendiri. Yang paling jelas dirasakan hanya getaran detak jantungnya yang menyentak-nyentak mengguncangkan seluruh tubuh, tapi suaranya tak terdengar sedikitpun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar