“Ada
dimana aku ini sebenarnya? Gawat! Kenapa sampai bisa begini nasibku? Kotak
permainannya itu ternyata memiliki kekuatan ghaib yang... benar-benar menjadi
kenyataan dan baru kali ini kualami kemisteriusannya. Oohh, kepada siapa aku
harus meminta bantuan jika berada dalam kegelapan begini? Langkahku kembali ke
kursi tadi, tapi toh tak kutemukan meja dan kursiku yang tadi?! Aku seperti
berada di tempat yang lapang beralaskan permadani yang empuk. Tempat apa ini
sebenarnya?” sambil kaki Bosnan meraba-raba permukaan lantai yang dipijaknya.
Masih berbulu halus dan lembut.
Ia
berdiri dengan bergerak memutar perlahan-lahan, mencoba melebarkan mata utnuk
menangkap bayangan. Tapi sampai dua kali memutar tak ada bayangan atau berkas
sinar apapun yang dilihatnya. Maka iapun memutuskan untuk duduk di tempat
tersebut, menunggu perkembangan yang terjadi. Kakinya terasa pegal sekali,
seperti habis melakukan perjalanan jauh, sehingga ia butuh isterahat dengan duduk
di lantai berbulu halus itu. Namun sebelum ia meletakkan pantatnya di lantai
itu, tiba-tiba ia mendengar suara seperti ranting patah diinjak oleh seseorang.
Krek..!
dengan cepat ia berpaling ke arah datangnya suara tersebut. Hatinya berdebar
kuat penuh harap, karena pada saat itu dia mulai melihat setitik sinar di
kejauhan sana. Seperti seseorang yang menyalakan korek api dengan nyala apinya
yang kecil. Bosnan menjadi girang bercampur tegang, karena kini ia bisa melihat
setitik api di kejauhan sana. Api itu mendekatinya perlahan-lahan. Bosnan
bersiap-siap melakukan sesuatu untuk menyelamatkan diri jika api tersebut
membahayakannya. Tapi ia sengaja tak menjauhi api tersebut. Ia sengaja menunggu
sampai api tersebut lebih dekat dengannya, lebih jelas lagi apa gerangan yang
bisa membuat api itu mendekat padanya.
“Ooh,
wajah itu,,,?! Astaga.... seorang gadis cantik rupanya?!” Bosnan bergumam dalam
hati dengan detak jantung makin menyentak. Pandangan matanya kini semakin
jelas, semakin normal kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar