Senin, 16 April 2012

Hanya Orang Hebat Yang Boleh Baca


Alkisah, suatu hari seorang pemburu berhasil menangkap seekor harimau hidup-hidup. Saat ia pulang dengan memanggul harimau yang sudah terikat kaki dan mulutnya , seluruh warga kampung menyambutnya dengan sukacita. Semua orang mengelu-elukan dan menganggapnya sebagai pahlawan.
Tapi, seorang tukang minyak keliling yang biasa berjualan di kampung itu, menanggapi kedatangan si pemburu dengan biasa-biasa saja. Ia hanya tersenyum dan menoleh sebentar saat si pemburu lewat. Keruan saja sikapnya membuat si pemburu tersinggung.
“Hei tukang minyak, semua orang mengelukan aku, kenapa kau tidak? Apakah kau tidak tahu, aku baru saja menangkap seekor harimau hidup-hidup?”
“Tahu, tapi kau pemburu kan? Apa anehnya seorang pemburu menangkap harimau. Itu hal wajar dan biasa-biasa saja.”
“Biasa saja? Apa kau bisa menangkap harimau seperti aku?!”
“Tentu saja tidak, karena aku tukang minyak. Keahlianku menuangkan minyak tanpa memakai corong ke dalam botol dalam jarak dua kepalan tangan tanpa tumpah sedikitpun. Satu yang pasti tidak bisa kau lakukan.”
“Ah, apa sulitnya menuangkan minyak kedalam botol?!” sergah si pemburu sewot.
Si pemburu mengambil minyak satu gayung, lalu menuangkannya langsung ke dalam botol dari jarak dua kepal, dan.. minyak pun tumpah tak karuan membasahi tanah.
Tukang minyak mengambil minyak satu gayung, lalu menuangkannya langsung ke dalam botol. Minyak pun berpindah tanpa tercecer setetes pun.
“Kawan, sebenarnya tak ada yang hebat di dunia ini. Yang ada hanya biasa dan tidak biasa kita mengerjakan suatu pekerjaan. Kau pemburu bisa menangkap harimau, itu wajar. Aku tukang minyak, bisa menuangkan minyak ke botol dari jarak dua kepal tanpa tumpah juga hal yang wajar. Orang di dunia punya kekhususan masing-masing,” petuah si tukang minyak.
Pemburu meminta maaf, menjabat tangan si penjual minyak, kemudian berlalu sambil tertunduk.
Pekerjaan sering membuat seseorang besar kepala dan merasa hebat. Sombong, merasa unggul, karena bisa menghasilkan lebih dari yang lain. Di bidang pekerjaan yang sama, seseorang memang bisa mengklaim bahwa dirinya hebat. Namun kehebatan itu akan kehilangan makna manakala diperbandingkan dengan pekerjaan lain yang bukan menjadi keahliannya, bahkan jika diperbandingkan dengan pekerjaan yang sangat remeh sekalipun.
Spesialisasi membuat seseorang hebat dalam satu bidang, namun tidak pada bidang lainnya. Itulah yang membuat ‘kehidupan kehidupan terus mengalir, karena manusia selalu membutuhkan “orang-orang hebat” lainnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Sekadar bisa sarapan pagi saja, seseorang membutuhkan puluhan bahkan ratusan orang hebat: pembuat sendok dan piring, pak tani penanam padi dan sayuran, nelayan penangkap ikan, peternak ayam, penanam rempah-rempah, pedagang bahan makanan, distributor gas elpiji, pegawai PAM, tukang kayu pembuat meja dan kursi makan, insinyur listrik, simbok pembantu atau istri yang memasak makanan dan seabreg “orang hebat” lainnya yang jika semua disebut bakal memenuhi rubric ini.
Masih pantaskah kita merasa hebat dalam pekerjaan, jika nyaris seluruh tugas kita, tanpa kita sadari sejatinya telah diselesaikan oleh orang lain, sementara kita sendiri hanya mengisi sepersekian persen dari seluruh hasil kerja yang sering kita klaim sebagai “karya pribadi”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar