Alkisah, suatu hari seorang pemburu
berhasil menangkap seekor harimau hidup-hidup. Saat ia pulang dengan memanggul
harimau yang sudah terikat kaki dan mulutnya , seluruh warga kampung
menyambutnya dengan sukacita. Semua orang mengelu-elukan dan menganggapnya
sebagai pahlawan.
Tapi, seorang tukang minyak keliling
yang biasa berjualan di kampung itu, menanggapi kedatangan si pemburu dengan
biasa-biasa saja. Ia hanya tersenyum dan menoleh sebentar saat si pemburu
lewat. Keruan saja sikapnya membuat si pemburu tersinggung.
“Hei tukang minyak, semua orang
mengelukan aku, kenapa kau tidak? Apakah kau tidak tahu, aku baru saja
menangkap seekor harimau hidup-hidup?”
“Tahu, tapi kau pemburu kan? Apa
anehnya seorang pemburu menangkap harimau. Itu hal wajar dan biasa-biasa saja.”
“Biasa saja? Apa kau bisa menangkap
harimau seperti aku?!”
“Tentu saja tidak, karena aku tukang
minyak. Keahlianku menuangkan minyak tanpa memakai corong ke dalam botol dalam
jarak dua kepalan tangan tanpa tumpah sedikitpun. Satu yang pasti tidak bisa
kau lakukan.”
“Ah, apa sulitnya menuangkan minyak
kedalam botol?!” sergah si pemburu sewot.
Si pemburu mengambil minyak satu gayung,
lalu menuangkannya langsung ke dalam botol dari jarak dua kepal, dan.. minyak pun
tumpah tak karuan membasahi tanah.
Tukang minyak mengambil minyak satu
gayung, lalu menuangkannya langsung ke dalam botol. Minyak pun berpindah
tanpa tercecer setetes pun.
“Kawan, sebenarnya tak ada yang hebat di
dunia ini. Yang ada hanya biasa dan tidak biasa kita mengerjakan suatu
pekerjaan. Kau pemburu bisa menangkap harimau, itu wajar. Aku tukang minyak,
bisa menuangkan minyak ke botol dari jarak dua kepal tanpa tumpah juga hal yang
wajar. Orang di dunia punya kekhususan masing-masing,” petuah si tukang minyak.
Pemburu meminta maaf, menjabat tangan si
penjual minyak, kemudian berlalu sambil tertunduk.
Pekerjaan sering membuat seseorang besar
kepala dan merasa hebat. Sombong, merasa unggul, karena bisa menghasilkan lebih
dari yang lain. Di bidang pekerjaan yang sama, seseorang memang bisa mengklaim
bahwa dirinya hebat. Namun kehebatan itu akan kehilangan makna manakala
diperbandingkan dengan pekerjaan lain yang bukan menjadi keahliannya, bahkan
jika diperbandingkan dengan pekerjaan yang sangat remeh sekalipun.
Spesialisasi membuat seseorang hebat
dalam satu bidang, namun tidak pada bidang lainnya. Itulah yang membuat
‘kehidupan kehidupan terus mengalir, karena manusia selalu membutuhkan
“orang-orang hebat” lainnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Sekadar bisa sarapan pagi saja,
seseorang membutuhkan puluhan bahkan ratusan orang hebat: pembuat sendok dan
piring, pak tani penanam padi dan sayuran, nelayan penangkap ikan, peternak
ayam, penanam rempah-rempah, pedagang bahan makanan, distributor gas elpiji,
pegawai PAM, tukang kayu pembuat meja dan kursi makan, insinyur listrik, simbok
pembantu atau istri yang memasak makanan dan seabreg “orang hebat” lainnya yang
jika semua disebut bakal memenuhi rubric ini.
Masih pantaskah kita merasa hebat dalam
pekerjaan, jika nyaris seluruh tugas kita, tanpa kita sadari sejatinya telah
diselesaikan oleh orang lain, sementara kita sendiri hanya mengisi sepersekian
persen dari seluruh hasil kerja yang sering kita klaim sebagai “karya pribadi”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar