ROAD
TO SINJAI
Road
To Sinjai… sebenarnya sich tulisan ini udah lama pengen aku posting di blog
ini. Tapi… ada banyak hal yang menyebabkan keterlambatan posting kali ini.
Walaupun ini pertama kalinya aku posting tulisan di blog ini...
Road
To Sinjai... bermula ketika Uppa ma Sakina mengajak kami semua untuk
jalan-jalan ke kampung halamannya setelah kami final Semester. Pertamanya sich
aku berharap banget banyak teman-teman yang mau ikut, tapi kenyataannya cuman kami
berenam yang berangkat... Saya, Micko, Abhyt, Abo, Sakina, sama Uppa... Padahal
saya sangat ingin jalan-jalan bersama teman-teman sekelas yach minimal 80% yang
ikut...
Walaupun
cuman berenam, kami tetap memutuskan untuk berangkat ke Sinjai... Sakina, Uppa sama
Abhyt berangkat duluan dua hari sebelum Saya, Micko sama Abho... sebenarnya
kami pengen berangkat bersama-sama. Akan tetapi ada berbagai hal yang
menyebabkan kami bertiga beluim berangkat. Saya ma Micko belum membayar SPP dan
registrasi KRS Online... Sedangkan Abo belum mengganti oli motornya...
Kami
bertiga memutuskan untuk berangkat pada hari jum’at pagi-pagi sekali. Jadi,
kami memutuskan untuk bermalam bersama di kost Abo agar ntar besok pagi kami
langsung berangkat... tidak salaing menunggu lagi... yach takutnya entar kalo
saling menunggu kita bisa akesiangan berangkat ke Sinjai...
Pagi
yang cerah di Samata seakan mendukung keberangkatan kami bertiga... sekitar jam
07:00, kami meninggalkan rumah Abo dan Menuju rumah Micko untuk persiapan
terakhir keberangkatan kami... Sampai di rumah Micko, kami sarapan terlebih
dahulu sambil nungguin Micko ganti baju…
Setelah
semua sudah kami siapkan, kami meninggalkan rumah Micko sekitar jam 07:30 tapi
belum jauh kemi meninggalkan rumah Micko, ehhh malah Abo yang singgah lagi...
katanya sich sendalnya ketinggalan di rumah Micko pada saat dia pake sepatu...
emang sich Abo meninggalkan rumahnya pake sandal, akan tetapi setelah sampai di
rumah Micko dia ikut-ikutan pake sepatu gara-gara ngeliat kami berdua pake
sepatu... Dengan sigap. Micko langsung balik ke rumahnya untuk mengambil sepatu
Abo.
Setelah
Micko sudah datang dari mengambil sepatu Abo, kami bertiga melanjutkan
perjalanan. Setelah kami sampai di Jeneponto, sesuatu yang buruk menimpa Abo...
rantai motornya terlepas dan harus dibawa ke bengkel... Pertamanya sich saya
nggak tau kalo motor Abo lagi bermasalah. Karena pada saat itu saya emang nggak
jauh di depan Abo... tapi nggak lama kemudian, tiba-tiba Abo udah nggak
keliatan di spion motor saya, sesekali saya menengok ke belakang untuk
memastikan apakah Abo ada di belakang... tapi Abo nggak kelihatan juga... saya
memutuskan untuk berhenti di pinggir jalan untuk menunggunya... tapi masih
tetap nggak keliatan juga. Hati kecil saya mengatakan Abo nggak kenapa-napa,
mungkin cuman singgah untuk isi bensin, karena memang kami tadi melewati
pertamina... sekitar lima menit saya menunggu dan memperhatikan pengendara
motor dari kejauhan di belakang sana... tapi koQ Abo nggak muncul-muncul juga
sich...
Saya
udah nggak sabar menunggu Abo di pinggir jalan itu... akhirnya, saya
amemutuskan utnuk mutar balik dan mencari Abo... akhirnya saya menemukan Abo di
pinggir jalan nggak begitu jauh dari tempat saya singgah tadi... Alhamdulillah Abo
nggak apa-apa, cuman rantai motornya yang terlepas... tapi koQ Micko nggak
bersama dia, dan saaya yjiga yakin micsko nggak menyusul kami tadi... emang
sich tadi Micko juga singgah di pinggir jalan sebelum motor Abo bermasalah...
dan kami nggak menghampirinya karena dia mengisyaratkan kami tuk tetap lanjut...
dan kelihatannya sich memang dia cuman singgah untuk memerima telfon dari
seseorang atukah balas sms... tapi koQ dia selama itu singgah... lagi-lagi hati
kecil saya mengatakan kalo dia tuch nggak apa-apa... hehehe sok... kayak punya
ilmu telepati saja...
Nggak
lama setelah saya menghampiri Abo, Micko
pun udah bersama kami lagi... dan kami bertiga berusaha untuk memperbaiki motor
Abo. Tapi, karena keterbatasan kunci-kunci yang kami miliki, motor Abo nggak
bisa kami perbaiki... kalau saja pada saat itu saya bawa kunci-kunci, mungkin
saja motor Abo bisa kami perbaiki. Tapi baru kali ini saya bepergian keluar
kota nggak bawa kunci-kunci.
Akhirnya
kami mendorong motor Abo sampai di bengkel... yach seperti inilah pada saat
motor Abo diperbaiki di bengkel...
Setelah
shalat jum’at dan isterahat sejenak, kami melanjutkan kembali perjalanan
kami... sekitar jam 14:30, kami akhirnya sampai di Bulukumba... akan tetapi
kami tidak langsung menuju ke rumah Family saya... saya ndag tau harus ke rumah
family saya yang mana... karena mereka bersaaudara semua... and kalao kita
berkunjung hanya di satu rumah, yang lain cemburu dan harus dikunjungi jugaa...
tapi saya memutuskan untuk menghubungi keponakan saya yang rumahnya memang agak
berjauhan dari rumah family saya yang lain...
Tidak
lama setelah saya menghubungi keponakan saya itu, dia pun akhirnya datang
menghampiri kami dan menemani kami masuk di kompleks perumahannya... emang sich
saya lupa-lupa ingat yang mana rumahnya di kompleks tersebut... apalagi
rumahnya udah di renofasi.
Badan
yang lelah dan perut yang sedikit lapar kini terobati dengan isterahat dan
menyantap makanan dan minuman yang sudah disiapkan oleh family saya... kedatangan
yang saya sembunyikan itu kini tercium oleh family saya yang lain... salah satu
dari family saya menelfon dan menanyakan apakah saya berada di Bulukumba pada
saat itu. Mau-tak mau saya harus menjawab dengan jujur... Karena memang dia
sudah mengetahui keberadaan saya... untung saja mereka bisa menerima alasan
kenapa saya tidak bisa ke mengunjungi mereka satu per satu...
Setelah
isterahat dan shalat Ashar, kami kembali melanjutkan perjalanan kami menuju ke
rumah Sakina... dari kami bertiga, hanya saya yang pernah ke rumah Sakina... dan
jalan-jalan kali ini merupakan kedua kalinya saaya kesana. Walaupun sebelumnya
saya udah pernah kesana, tapi saya belum tahu pasti jalanan ke sana... banyak
pertigaan yang dilewati yang menyebabkan sesekali saya menelfon ke Sakina untuk
memastikan apakah jalan yang saya lewati sudah benar atau tidak. Samapi pada
apertigaan ketiga, kami bertiga mengambil jalur yang salah... seharusnya kami
belok kanan, akan tetapi kami malah mengambil jalur kiri...
Sekitar
2 kilometer dari pertigaan terakhir tersebut, saya mulai curiga... karena saya
merasa assing melihat jalur yang satu ini, sepertinya saya nggak pernah lewat
jalur ini... tapi malah Micko yang mengaku pernah lewat jalur tersebut. Akhirnya
saya menelfon kembali Sakina... ternyata benar kalau jalur yang kami lewati
salah (hehehe jadi kesasar dech)... pertamanya sich saya emang ragu mau ke kiri
atau ke kanan walaupun kami sudah masuk di jalur kiri sekitar 300 meter ke
dalam... tapi setelah saya bertanya pada warga sekitar dan menelfon Sakina,
kami dianjurkan untuk terus jalan karena katanya kami sudah mengambil jalur
yang benar... hehehehe padahal salah jalur tuch...
Ternyata
penyebab kami bertiga salah jalur tuch gara-gara Sakina salah paham... pada saat
saya menelfon Sakina, dia menganjurkan saya untuk bertanya daerah apa yang pada
saat itu saya tempati... Setelah saya bertanya, warga sekitar menuturkan bahwa
saya berada di... di... di... ach... aku lupa nama kampung yang disebutkan oleh
warga sekitar... yang jelas nama kampong itu adalah nama kampungnya Sakina...
jadinya Sakina menyuruh kami tuk jalan terus aja... padahal kami itu salah jalur...
Setelah
mengetahui kalo kami salah jalur, kami bertiga memutuskan untuk kembali ke
pertigaan dan mengambil jalur kanan... dan hanya sekitar satu kilometer dari
pertigaan tersebut, kami sudaha menemukan rumah Sakina.... hehehehe gara-gara
tersesat dan sering singgah-singgah kami baru sampai di rumah Sakina sekitar
jam 17:45... yach sekitar lima jam perjalanan dari Makassar menuju Sinjai...
sangat melelahkan....
Sampai di rumah Sakina, kami isterahat sejenak
sebelum shalat Maghrib, dan makan malam setelah shalat maghrib... belum lagi
rasa lelah hilang, kami selanjutnya maen doming sambil makan langsat ma
rambutan... hehehe biasa anak laki-laki kalo cari hiburan yach main kartu
gitu.... ndag tau kalo perempuan, pa maen boneka atau apalah itu...?
Hari
pertama datang di Sinjai, kami diajak teman-teman Sakina berkunjung ke
sekolahnya... kami berempat sich nggak sempat masuk ke sekolah Sakina... karena
durian di kebun Sakina belum pada berbuah, maka kami ke rumah temannya makan
durian... disinalah Abo membonceng salah satu teman cewek Sakina... hehehehe pak
ustads bonceng cewek... kayak salah tingkah saja tuch Abo... setelah sampai di
rumah teman Sakina... Saya, Abo, Micko, sama Abiet terpesona melihat salah satu
teman Sakina yang memang merupakan salah satu cewek tercantik di sekolahnya...
yach biasa laki-laki... kalo liat cewek cantik...
Setelah
puas makan durian, kami memutuskan untuk pulang ke rumah Sakina dan
bersiap-siap menuju rumah Uppa. Kami harus segera ke rumah uppa siang itu juga,
karena dari kemarin sore Uppa sudah tidak sabar menunggu kami... dan ternyata Uppa
udah nungguin kami semenjak kemarin sore... dia berharap kami bertiga ke
rumahnya terlebih dahulu pada saat itu....
Setelah
kami sampai di rumah Uppa, kami jalan-jalan mengitari kampung Uppa yang
suasananya memang bagus untuk jalan-jalan sore gitu... apalagi di kampung Uppa suasananya
dingin sekali... yach... beginilah suasana jalan-jalan sore kami di kampung Uppa....
Setelah jalan-jalan sore, kami singgah shalat maghrib di mesjid dekat rumah Uppa....
SUASANA JALAN-JALAN SORE
SUASANA JALAN-JALAN SORE
SUASANA JALAN-JALAN SORE
SUASANA JALAN-JALAN SORE
Suasana
malam hari di kampung Uppa serasa di dalam kulkas... dingin sekali malam itu...
sampe-sampe teh yang dihidangkan ibunya Uppa tidaka terasa panas... melainkan hanya
seperti air hangat... Suasana malam yang dingin tidak menghalangi kami untuk
tetap main doming bersama...
Di
pagi hari... suasana dingin semakin terasa... bahkan sampai terasa menusuk ke
dalam tulang. Rasa dingin di pagi hari terobati dengan hidangan makanan yang
masih panas dan sangat lezat buatan ibunya Uppa... Selain terkenal pintar
ngaji, ibunya Uppa juga terkenal pintar masak... emang pinter Ayah Uppa pilih
istri... hehehe moga aja aku punya istri kyak gitu... pintar masak and pintar
ngaji juga... tapi di zaman seperti sekarang dapat dimana...??? pinter masak
aja udah susah di dapat apalagi pinter ngaji juga...
Selesai
sarapan, kami bertujuh berangkat ke salah satu objek wisata Sinjai yang berada
tidak jauh dari rumah Uppa... Air Terjun Kembar.... itulah nama tempat wisata
yang akan kami kunjungi... wow....!!! Subhanallah...!!! kedua kata inilah yang
terucap dari bibirku saat melihat keindahan Air Terjun Kembar tersebut... dari
keindahannya terdapat tantangan yang cukup berat untuk mencapai tempat ini...
untuk menikmati keindahannya, kami terlebih dahulu harus melewati “Tangga
Seribu”... emang sich itu cuma julukan orang-orang setempat... karena jumlah
anak tangganya tidak mencapai jumlah seribu anak tangga... akan tetapi
kemiringan tangga ini sekitar 80o sangat curam...
Seperti
inilah kecuraman anak tangga tersebut....
Akan
tetapi rasa capek melewati tangga tadi terobati dengan keindahan Air Terjun
Kembar ini...
Sayang
sekali kami tidak bisa menikmati keindahan air terjun ini lebih lama... saya
harus segera berangkat ke Bulukumba dan kemudian menemani sepupuku ke Jakarta yang
sudah menunggu saya dari kemarin-kemarin....



















Tidak ada komentar:
Posting Komentar