Selasa, 10 April 2012

ROAD TO SINJAI

ROAD TO SINJAI
Road To Sinjai… sebenarnya sich tulisan ini udah lama pengen aku posting di blog ini. Tapi… ada banyak hal yang menyebabkan keterlambatan posting kali ini. Walaupun ini pertama kalinya aku posting tulisan di blog ini...
Road To Sinjai... bermula ketika Uppa ma Sakina mengajak kami semua untuk jalan-jalan ke kampung halamannya setelah kami final Semester. Pertamanya sich aku berharap banget banyak teman-teman yang mau ikut, tapi kenyataannya cuman kami berenam yang berangkat... Saya, Micko, Abhyt, Abo, Sakina, sama Uppa... Padahal saya sangat ingin jalan-jalan bersama teman-teman sekelas yach minimal 80% yang ikut...
Walaupun cuman berenam, kami tetap memutuskan untuk berangkat ke Sinjai... Sakina, Uppa sama Abhyt berangkat duluan dua hari sebelum Saya, Micko sama Abho... sebenarnya kami pengen berangkat bersama-sama. Akan tetapi ada berbagai hal yang menyebabkan kami bertiga beluim berangkat. Saya ma Micko belum membayar SPP dan registrasi KRS Online... Sedangkan Abo belum mengganti oli motornya...
Kami bertiga memutuskan untuk berangkat pada hari jum’at pagi-pagi sekali. Jadi, kami memutuskan untuk bermalam bersama di kost Abo agar ntar besok pagi kami langsung berangkat... tidak salaing menunggu lagi... yach takutnya entar kalo saling menunggu kita bisa akesiangan berangkat ke Sinjai...
Pagi yang cerah di Samata seakan mendukung keberangkatan kami bertiga... sekitar jam 07:00, kami meninggalkan rumah Abo dan Menuju rumah Micko untuk persiapan terakhir keberangkatan kami... Sampai di rumah Micko, kami sarapan terlebih dahulu sambil nungguin Micko ganti baju…
Setelah semua sudah kami siapkan, kami meninggalkan rumah Micko sekitar jam 07:30 tapi belum jauh kemi meninggalkan rumah Micko, ehhh malah Abo yang singgah lagi... katanya sich sendalnya ketinggalan di rumah Micko pada saat dia pake sepatu... emang sich Abo meninggalkan rumahnya pake sandal, akan tetapi setelah sampai di rumah Micko dia ikut-ikutan pake sepatu gara-gara ngeliat kami berdua pake sepatu... Dengan sigap. Micko langsung balik ke rumahnya untuk mengambil sepatu Abo.
Setelah Micko sudah datang dari mengambil sepatu Abo, kami bertiga melanjutkan perjalanan. Setelah kami sampai di Jeneponto, sesuatu yang buruk menimpa Abo... rantai motornya terlepas dan harus dibawa ke bengkel... Pertamanya sich saya nggak tau kalo motor Abo lagi bermasalah. Karena pada saat itu saya emang nggak jauh di depan Abo... tapi nggak lama kemudian, tiba-tiba Abo udah nggak keliatan di spion motor saya, sesekali saya menengok ke belakang untuk memastikan apakah Abo ada di belakang... tapi Abo nggak kelihatan juga... saya memutuskan untuk berhenti di pinggir jalan untuk menunggunya... tapi masih tetap nggak keliatan juga. Hati kecil saya mengatakan Abo nggak kenapa-napa, mungkin cuman singgah untuk isi bensin, karena memang kami tadi melewati pertamina... sekitar lima menit saya menunggu dan memperhatikan pengendara motor dari kejauhan di belakang sana... tapi koQ Abo nggak muncul-muncul juga sich...
Saya udah nggak sabar menunggu Abo di pinggir jalan itu... akhirnya, saya amemutuskan utnuk mutar balik dan mencari Abo... akhirnya saya menemukan Abo di pinggir jalan nggak begitu jauh dari tempat saya singgah tadi... Alhamdulillah Abo nggak apa-apa, cuman rantai motornya yang terlepas... tapi koQ Micko nggak bersama dia, dan saaya yjiga yakin micsko nggak menyusul kami tadi... emang sich tadi Micko juga singgah di pinggir jalan sebelum motor Abo bermasalah... dan kami nggak menghampirinya karena dia mengisyaratkan kami tuk tetap lanjut... dan kelihatannya sich memang dia cuman singgah untuk memerima telfon dari seseorang atukah balas sms... tapi koQ dia selama itu singgah... lagi-lagi hati kecil saya mengatakan kalo dia tuch nggak apa-apa... hehehe sok... kayak punya ilmu telepati saja...
Nggak lama setelah saya menghampiri Abo,  Micko pun udah bersama kami lagi... dan kami bertiga berusaha untuk memperbaiki motor Abo. Tapi, karena keterbatasan kunci-kunci yang kami miliki, motor Abo nggak bisa kami perbaiki... kalau saja pada saat itu saya bawa kunci-kunci, mungkin saja motor Abo bisa kami perbaiki. Tapi baru kali ini saya bepergian keluar kota nggak bawa kunci-kunci.
Akhirnya kami mendorong motor Abo sampai di bengkel... yach seperti inilah pada saat motor Abo diperbaiki di bengkel...
 Setelah motor Abo diperbaiki, kami melanjutkan perjalanan kami... sebenarnya kami berencana untuk sampai di Bulukumba sebelum Shalat jum’at... karena di Bulukumba saya memiliki beberapa family dan kami bisa singgah disana untuk isterahat dan makan dan setelah itu shalat jum’at... atau shalat jum’at dulu baru makan dan isterazhat... Tapi dengan berbagai hambatan, kami hanya bisa shalat jum’at di Bantaeng...  Saya lupa nama mesjid and nama kampoeng tersebut... tapi yang jelas di Bantaeng...
 

Setelah shalat jum’at dan isterahat sejenak, kami melanjutkan kembali perjalanan kami... sekitar jam 14:30, kami akhirnya sampai di Bulukumba... akan tetapi kami tidak langsung menuju ke rumah Family saya... saya ndag tau harus ke rumah family saya yang mana... karena mereka bersaaudara semua... and kalao kita berkunjung hanya di satu rumah, yang lain cemburu dan harus dikunjungi jugaa... tapi saya memutuskan untuk menghubungi keponakan saya yang rumahnya memang agak berjauhan dari rumah family saya yang lain...
Tidak lama setelah saya menghubungi keponakan saya itu, dia pun akhirnya datang menghampiri kami dan menemani kami masuk di kompleks perumahannya... emang sich saya lupa-lupa ingat yang mana rumahnya di kompleks tersebut... apalagi rumahnya udah di renofasi.
Badan yang lelah dan perut yang sedikit lapar kini terobati dengan isterahat dan menyantap makanan dan minuman yang sudah disiapkan oleh family saya... kedatangan yang saya sembunyikan itu kini tercium oleh family saya yang lain... salah satu dari family saya menelfon dan menanyakan apakah saya berada di Bulukumba pada saat itu. Mau-tak mau saya harus menjawab dengan jujur... Karena memang dia sudah mengetahui keberadaan saya... untung saja mereka bisa menerima alasan kenapa saya tidak bisa ke mengunjungi mereka satu per satu...
Setelah isterahat dan shalat Ashar, kami kembali melanjutkan perjalanan kami menuju ke rumah Sakina... dari kami bertiga, hanya saya yang pernah ke rumah Sakina... dan jalan-jalan kali ini merupakan kedua kalinya saaya kesana. Walaupun sebelumnya saya udah pernah kesana, tapi saya belum tahu pasti jalanan ke sana... banyak pertigaan yang dilewati yang menyebabkan sesekali saya menelfon ke Sakina untuk memastikan apakah jalan yang saya lewati sudah benar atau tidak. Samapi pada apertigaan ketiga, kami bertiga mengambil jalur yang salah... seharusnya kami belok kanan, akan tetapi kami malah mengambil jalur kiri...
Sekitar 2 kilometer dari pertigaan terakhir tersebut, saya mulai curiga... karena saya merasa assing melihat jalur yang satu ini, sepertinya saya nggak pernah lewat jalur ini... tapi malah Micko yang mengaku pernah lewat jalur tersebut. Akhirnya saya menelfon kembali Sakina... ternyata benar kalau jalur yang kami lewati salah (hehehe jadi kesasar dech)... pertamanya sich saya emang ragu mau ke kiri atau ke kanan walaupun kami sudah masuk di jalur kiri sekitar 300 meter ke dalam... tapi setelah saya bertanya pada warga sekitar dan menelfon Sakina, kami dianjurkan untuk terus jalan karena katanya kami sudah mengambil jalur yang benar... hehehehe padahal salah jalur tuch...
Ternyata penyebab kami bertiga salah jalur tuch gara-gara Sakina salah paham... pada saat saya menelfon Sakina, dia menganjurkan saya untuk bertanya daerah apa yang pada saat itu saya tempati... Setelah saya bertanya, warga sekitar menuturkan bahwa saya berada di... di... di... ach... aku lupa nama kampung yang disebutkan oleh warga sekitar... yang jelas nama kampong itu adalah nama kampungnya Sakina... jadinya Sakina menyuruh kami tuk jalan terus aja...  padahal kami itu salah jalur...
Setelah mengetahui kalo kami salah jalur, kami bertiga memutuskan untuk kembali ke pertigaan dan mengambil jalur kanan... dan hanya sekitar satu kilometer dari pertigaan tersebut, kami sudaha menemukan rumah Sakina.... hehehehe gara-gara tersesat dan sering singgah-singgah kami baru sampai di rumah Sakina sekitar jam 17:45... yach sekitar lima jam perjalanan dari Makassar menuju Sinjai... sangat melelahkan....
 Sampai di rumah Sakina, kami isterahat sejenak sebelum shalat Maghrib, dan makan malam setelah shalat maghrib... belum lagi rasa lelah hilang, kami selanjutnya maen doming sambil makan langsat ma rambutan... hehehe biasa anak laki-laki kalo cari hiburan yach main kartu gitu.... ndag tau kalo perempuan, pa maen boneka atau apalah itu...?

Hari pertama datang di Sinjai, kami diajak teman-teman Sakina berkunjung ke sekolahnya... kami berempat sich nggak sempat masuk ke sekolah Sakina... karena durian di kebun Sakina belum pada berbuah, maka kami ke rumah temannya makan durian... disinalah Abo membonceng salah satu teman cewek Sakina... hehehehe pak ustads bonceng cewek... kayak salah tingkah saja tuch Abo... setelah sampai di rumah teman Sakina... Saya, Abo, Micko, sama Abiet terpesona melihat salah satu teman Sakina yang memang merupakan salah satu cewek tercantik di sekolahnya... yach biasa laki-laki... kalo liat cewek cantik...
Setelah puas makan durian, kami memutuskan untuk pulang ke rumah Sakina dan bersiap-siap menuju rumah Uppa. Kami harus segera ke rumah uppa siang itu juga, karena dari kemarin sore Uppa sudah tidak sabar menunggu kami... dan ternyata Uppa udah nungguin kami semenjak kemarin sore... dia berharap kami bertiga ke rumahnya terlebih dahulu pada saat itu....
Setelah kami sampai di rumah Uppa, kami jalan-jalan mengitari kampung Uppa yang suasananya memang bagus untuk jalan-jalan sore gitu... apalagi di kampung Uppa suasananya dingin sekali... yach... beginilah suasana jalan-jalan sore kami di kampung Uppa.... Setelah jalan-jalan sore, kami singgah shalat maghrib di mesjid dekat rumah Uppa.... 

 SUASANA JALAN-JALAN SORE
 SUASANA JALAN-JALAN SORE

 SUASANA JALAN-JALAN SORE
 SUASANA JALAN-JALAN SORE





Suasana malam hari di kampung Uppa serasa di dalam kulkas... dingin sekali malam itu... sampe-sampe teh yang dihidangkan ibunya Uppa tidaka terasa panas... melainkan hanya seperti air hangat... Suasana malam yang dingin tidak menghalangi kami untuk tetap main doming bersama...
Di pagi hari... suasana dingin semakin terasa... bahkan sampai terasa menusuk ke dalam tulang. Rasa dingin di pagi hari terobati dengan hidangan makanan yang masih panas dan sangat lezat buatan ibunya Uppa... Selain terkenal pintar ngaji, ibunya Uppa juga terkenal pintar masak... emang pinter Ayah Uppa pilih istri... hehehe moga aja aku punya istri kyak gitu... pintar masak and pintar ngaji juga... tapi di zaman seperti sekarang dapat dimana...??? pinter masak aja udah susah di dapat apalagi pinter ngaji juga...
Selesai sarapan, kami bertujuh berangkat ke salah satu objek wisata Sinjai yang berada tidak jauh dari rumah Uppa... Air Terjun Kembar.... itulah nama tempat wisata yang akan kami kunjungi... wow....!!! Subhanallah...!!! kedua kata inilah yang terucap dari bibirku saat melihat keindahan Air Terjun Kembar tersebut... dari keindahannya terdapat tantangan yang cukup berat untuk mencapai tempat ini... untuk menikmati keindahannya, kami terlebih dahulu harus melewati “Tangga Seribu”... emang sich itu cuma julukan orang-orang setempat... karena jumlah anak tangganya tidak mencapai jumlah seribu anak tangga... akan tetapi kemiringan tangga ini sekitar 80o sangat curam...
Seperti inilah kecuraman anak tangga tersebut....








Akan tetapi rasa capek melewati tangga tadi terobati dengan keindahan Air Terjun Kembar ini...






Sayang sekali kami tidak bisa menikmati keindahan air terjun ini lebih lama... saya harus segera berangkat ke Bulukumba dan kemudian menemani sepupuku ke Jakarta yang sudah menunggu saya dari kemarin-kemarin....


Tidak ada komentar:

Posting Komentar