Minggu, 01 April 2012

PERMAINAN IBLIS JILID 1


 Ririn Sunadi

PERMAINAN IBLIS



 ririnsunadi.blogspot.com

Tara Sagita 
 







Cerita ini adalah fiktif belaka, bila ada kesamaan nama, tempat, maupun
peristiwa, itu hanya kebetulan belaka dan tidak bermaksud menyinggung siapa pun.
 
1
S
uara dentuman menggelegar cukup keras, mambahana dengan gempa yang menggetarka alam sekitarnya. Pohon, bangunan, permukaan air kolam, semuanya ikut bergetar akibat diterjang gelombang dari dentuman besar itu. Malam yang sunyu dan dingin, kini menjadi bangkit dari tidurnya, karena hampir semua orang yang sudah nyenyak di malam itu menjadi terjaga dan bertanya-tanya satu sama lain.
“Suara apa itu?”
“Pasti terjadi ledakan bom lagi, nggak jauh dari sini!”
“Kayaknya sih begitu, getarannya sangat kuat dan terasa sampai di tempat kita ini.”
“Ah... tapi sebelum ledakan besar itu terdengar, memang sudah ada getaran seperti gempa kecil. Apa kalian tidak merasakan.?”
“Iya juga sih... kukira tadi gempa akibat erosi atau entah apa, yang jelas bukan akibat suatu ledakan. Tapi semenit kemudian kok kita dengar suara tadi dengan getaran yang lebih keras.?”
“Gedung mana lagi yang meledak kira-kira?”
“Ah... masa’ suara itu tadi adalah ledakan bom sih? Aku nggak yakin deh, mana ada bom yang mau meledak harus bergetar dulu?”
“Jadi kalau bukan karena ledakan bom, lalu suara apa itu tadi..?”
“Mungkin.... tanah longsor..”
“Tanah longsor...? itu sih kalau di pedesaan. Masa’ di tengah kota kayak gini kok ada tanah longsor sih? Padahal sudah dua bulan ini Makassar nggak disiram hujan setetespun, mana mungkin ada tanah longsor di sekitar sini?”
“Tapi kok bulu kudukku jadi merinding, ya?”
“Iya, aku juga merinding sekali, jantungku deg-degan nih.”
“Aku curiga, pasti ada sesuatu yang ganjil dan di luar logika manusia. Bagaimana kalau kita cari sumber suara tadi, biar kita tau apa sebenarnya berdentum dan menggelegar tadi.”
Rasa penasaran membuat mereka berempat pergi meninggalkan tempat kost mereka. Menggunakan sepeda motor. Saat itu juga terdengar raungan sirine ambulance dan sirine mobil polisi dari berbagai arah.
Tiba di lokasi kejadian, keempat pemuda sebaya itu tercengang dan memandang ke satu arah yang mengerikan. Mereka tak sempat turun dari atas motor sebelum keterpakuan mereka pudar dan menjadi sadar kembali. Yang dapat mereka ucapkan pada saat itu adalah gumam keprihatinan dan keluhan hati yang merasa ngeri.
“Astaga....”
“Ya ampuuunn...”
“Oh my God...”
“Gila...”
Sebuah gedung perkantoran empat lantai menjadi hancur berkeping-keping. Gedung itu terletak diantara bangunan-bangunan bisnis lainnya, tepat di belakangnya adalah sebuah komplek perumahan elite dan perkampungan penduduk. Yang mencengangkan lagi, kompleks permahan elite itu hampir separuh bagian dalam keadaan roboh, seperti terbenam ke dalam tanah. Gedung perkantoran itupun seperti ada yang menghisapnya ke dalam tanah.
Kepingan dan puing bangunan tidak menyebar ke mana-mana, tapi terkubur ke dalam tanah yang membentuk lubang besar, hampir seukuran stadion sepak bola. Kedalaman lubang besar itu sekitar 50 meter. Memang, ada pula barang pecahan dari gedung dan bangunan itu yang menyebar terpental ke mana-mana, tapi tidak seberapa banyak dan tidak menarik perhatian massa. Yang paling menarik adalah jumlah korban jiwa yang terkubur tertimbun bersama reruntuhan bangunan di kedalaman lubang besar itu. Suara rintihan dan jeritan masih terdengar samar-samar dari kedalaman lubang besar, mungkin suara itu adalah jeritan korban yang belum kehilangan nyawanya.
Team SAR dan sukarelawan setempat saling bekerja sama menyelamatkan korban yang belum kehilangan nyawanya, termasuk anak kecil yang berumur 3 tahun yang terus menangis karena pahanya tertimpa bongkahan tembok sebesar penggorengan. Mengerikan sekali suasana malam itu. Bahkan yang menonton pun ikut menangis dan merasa panik melihat korban yang tergencet tapi belum menemui ajalnya. Rasa kemanusiaan mereka tergerak dengan sendirinya, sehingga banyak yang ikut membantu mengevakuasi korban tanpa diminta oleh siapa pun. Termasuk keempat pemuda penghuni tempat kost yang berjarak 4 kilometer dari lokasi kejadian itu.
“Sam, ikut aku cepat...!”
“Mau kemana Bo....?” sambil Sam ikut berlari di belakang Bosnan. Kedua teman mereka ikut-ikutan menyusul ke arah yang sama. Sambil berlari menghindari tabrakan dengan orang lain, Bosnan masih sempat berseru kepada Sam yang ikut berlari di belakangnya.
“Aku baru ingat.... Nucky malam ini bermalam di rumah pamannya.!”
“Lalu, kenapa kau lari kesana..?”
“Paman Nucky tinggal di kompleks yang di depan sana itu..!”
“Ya ampun?! Jangan-jangan mereka ikut menjadi korban” gumam samora yang mengenal si cantik Nucky sejak lama. Nucky adalah mantan kekasih Bosnan yang sudah tidak menjalin hubungan cinta lagi, tapi masih tetap bersahabat dengan damai dan sering tampak saling membantu, seperti saudara sendiri.
“Ya ampuuun... Tuhan..?!” sebut Bosnan dengan lemas lunglai setelah melihat taman di depan rumah paman Nucky telah hilang. Taman itu ikut terbenam ke dalam lubang besar tersebut. Tentu saja rumah paman Nucky juga amblas ke dalam sana, bertumpuk dengan reruntuhan bangunan lainnya. Sangat sulit mengetahui apakah Nucky tewas terkubur bersama keluarg pamannya atau masih selamat dan memerlukan bantuan secepatnya.
“Benar-benar jahanam terkutuk orang yang memasang bom dan meledakkan tempat ini! Iblis keparat” geram Bosnan antara marah dan sedih. Bola matanya merah berkaca-kaca. Nafasna terengah-engah, nyaris tak bisa bicara lagi. Terbayang kematian Nucky yang sebenarnya gadis berhati baik dan berjiwa bijak itu. Sungguh tak bisa diterima oleh nurani Bosnan jika gadis seperti Nucky harus meninggal setragis itu. Menurutnya, Nucky tak pantas menjadi korban peledakan bom yang dilakukan oleh orang-orang biadab itu.
Tapi menurut informasi penduduk perkampungan terdekat, banyak dari mereka yang berpendapat bahwa ledakan sangat dahsyat tadi bukan ditimbulkan dari sebuah bom. Mereka sangat sangsi terhadap pendapat seperti itu. Sebab, sebelum terjadi ledakan dahsyat yang mengguncangkan rumah mereka dan membuat perabotan berantakan itu, mereka merasakan guncangan kuat di setiap lantai rumah mereka. Gempa itu seperti gempa berskala kecil, namun terasa cukup jelas guncangannya. Guncangan bumi terjadi dua kali, nyaris beruntun, lama guncangan sekitar lima detik, disusul guncangan kedua sekitar 3 detik.
“Tapi kami mendengar suara angin badai juga” kata seorang warga setempat. Orang itu membuka warung nasi goreng di pinggir jalan masuk ke perkampungan.
Suara angin gemuruh seperti badai menurutnya datang dari atas, bukan dari arah mana-mana gerakan angin dikatakan memutar seperti topan yang turun dari langit. Buktinya, empat lembar seng penutup atap dapurnya jebol, tertarik ke atas dan jatuh ke tempat lain dalam keadaan sudah melilit, seperti tergelincir sangat kuat. Kabel listrik di sisi lain pun ditemukan dalam keadaan melilit sebuah pohon seperti ingin menjerat kuat pohon tersebut.
“Angin badai aneh itu terjadi agak lama, tapi tidak sampai satu menit. Sekitar setengah menit lewat sedikitlah. Saya berlari keluar bersama dua orang pembeli yang sedang makan disini. Kami takut tertimpa atap warung ini. Nah, waktu kami berhamburan keluar seperti penghuni rumah lainnya, kami melihat cahaya biru berkelap-kelip, seperti benang-benang petir.”
“Dari mana cahaya biru itu..?”
“Dari atap gedung bertingkat empat itu. Dari perkantoran sana cahaya biru itu seperti tersembur keluar, keatas, setinggi 10 meter lebih. Bentuknya seperti akar-akar pohon yang ingin berlarian kesana-sini tapi bagian bawahnya masih terikat menjadi satu. Kilatan cahaya biru itu mengeluarkan letupan kecil beruntun, seperti suara arus listrik mengalami konslet. Ada percikan bunga apinya segala, tapi berwarna biru cerah.”
“Lalu terjadi ledakan..?”
“Belum” sahut si pemilik warung. “Cahaya berkilatan itu padam dulu. Setelah padam, angin pun reda, kami masih terpaku di jalanan karena terheran-heran memandangi gedung perkantoran itu. Gedung itu menjadi seperti menyala semua dindingnya. Menyala biru berpijar-pijar. Bagus sekali. Dari menyala lemah, menjadi agak terang dan bening, tapi cahayanya tidak menyebar kemana-mana. Dan, menurut keterangan orang-orang yang tinggal di belakang sana, katanya sih beberapa rumah di kompleks Griya Candera itu juga menyala biru seperti gedung tersebut.
“Berapa lama gedung itu menyala pijar biru..?” tanya Samora.
“Nggak lama kok. Sekitar... yaaah, lima detik atau lebih sedikitlah. Kami sempat tercengang kagum, lalu bergegas ingin melihat lebih dekat lagi. Nah, saat itulah tahu-tahu jalanan beraspal ini seperti karpet yang disabatkan pada ujungnya. Menggelembung naik, dan gelembung itu bergerak ke jalan besar. Saya sendiri sempat jatuh terduduk karena tempat saya berpijak tiba-tiba menggelembung naik dan turun kembali. Pada saat saya jatu itulah terdengar ledakan keras, yang saking kerasnya, maka telinga saya seperti hanya mendengar dengung pendek, wuuuuuung...!! Lalu, kuping saya seperti mau pecah, kencang sekali, dengungnya tak ada, cuma...... saya jadi budeg sesaat. Nggak bisa dengar apa-apa, tiba-tiba dada saya sakit, mata saya pedih, dan gedung itu rontok ke bawah tanpa suara apapun, menurut saya. Setelah saya istighfar berkali-kali sambil merangkak bangkit, barulah kuping saya bisa mendengar suara lagi, dan nafas saya longgar kembali.”
Menurut para ahli penjinak bom dan beberapa orang yang mengetahui betul tentang jenis-jenis bom serta jenis peledak lainnya, musibah yang menyeramkan yang terjadi tepat pukul 23:57 hampir tengah malam itu memang bukan disebabkan oleh sebuah bom. Data-data yang berhasil mereka kumpulkan menyimpulkan bahwa ledakan tersebut diawali dengan munculnya gangguan alam yang bersifat ganjil. Misterius sekali. Salah seorang petugas satpam sebuah bank yang letaknya satu kilometer dari tempat kejadian tersebut menjelaskan, sebelum terjadi ledakan dahsyat itu, ia sempat terheran-heran melihat arlojinya bergerak aneh. Jarum arloji itu bergerak memutar, berlawanan dengan arah biasanya, dan gerakannya sangat cepat. Nyaris menyerupai baling-baling.
Pada saat itu saya sedang jengkel menunggu teman teman untuk aplus jaga, tapi belum muncul-muncul juga. Saya coba menengok arloji saya, sudah jam berapa sih, kok teman saya belum datang juga? Nah, saat saya terbengong melihat gerakan jarum jam seaneh itu, tiba-tiba dentuman besar terdengar kuat, seperti akan menelan saya hidup-hidup. Dada saya menjadi sesak, kayak ada almari yang menggencet kuat-kuat.”
Keganjilan lain yang terjadi sebelum ledakan besar itu menelan korban jiwa yang cukup banyak adalah suatu peristiwa yang dialami oleh salah seorang tamu hotel yang kebetulan menempati kamar di lantai 9,  dan kamar berbalkon lebar itu tepat menghadap ke gedung perkantoran tersebut. Pria yang bermalam di hotel yang berlantai 17 yang tergolong hotel berbintang tiga itu mengaku baru saja pulang dari sebuah cafe. Hatinya dongkol setengah mati karena teman kencan yang berjanji mau saling bertemu di cafe itu ternyata tidak datang. Untuk membuang rasa kesal hatinya, pria berusia 30 tahun itu membuka pintu balkon kamarnya, ingin menikmati pemandangan malam dengan segelas bir di tangan. Angin malam yang berhembus saat itu terasa aneh baginya, kering dan panas. Menimbulkan rasa takut yang mendebarkan jantungnya.
“Saya sempat khawatir dengan detak jantung saya ini, karena tiba-tiba saja menjadi cepat. Dan, seperti pukulan tambur detak jantung saya ini setelah melihat sebuah gedung menyala biru pijar di kejauhan sana. Seperti bongkahan berlian atau permata yang berbinar-binar mengagumkan. Bagus sekali, tapi juga menakutkan secara naluri. Bangunan yang berpijar biru itu sebenarnya kan berjarak sekitar... empat atau lima kilometer dari hotel ini, kan? Tapi bangunan itu seperti melayang dan hotel ini seperti bergerak mendekat ke sana, sehingga jaraknya sangat dekat, kurang dari satu kilometer. Bangunan bertingkat itu dapat saya lihat dengan jelas detil-detil sisinya. Malahan saya bisa melihat seorang pemuda yang ada di lantai dua, di sebuah ruangan kerja yang duduk sendirian dan sibuk mengutak-atik mainan.”
Menurut pengakuan pria yang bertubuh agak gemuk itu, bangunan perkantoran tersebut makin lama makin dekat dari penglihatannya, sehingga ia semakin jelas melihat ruangan-ruangan yang masih terang melalui jendela kaca ruangan tersebut. Ia juga melihat dengan jelas sekali seorang pemuda berbadan kurus, berusia sekitar 25 tahun dan berambut ikal, duduk di kursi kerja dengan kedua tangan sibuk bermain sesuatu yang berbentuk kubus kecil. Benda tersebut memercikkan bunga api biru, dan si pemuda berusaha melakukan sesuatu dengan tegang. Seakan ingin memadamkan percikan cahaya dari benda mainannya itu. Sementara suasana dinding dan sekelilingnya menyala pijar biru. Namun si pria yang di hotel mengaku melihat dinding ruangan tersebut bergerak-gerak seperti gerakan dari permukaan air danau tertiup angin kecil.
“Sewaktu saya berkedip, karena ingin membuktikan apakah penglihatan saya itu normal atau tidak, ternyata bangunan yang berpijar biru itu menjadi jauh seperti semula. Tak begitu jelas detilnya di maa saya. Pandangan saya normal kembali, dan saya menghembuskan nafas lega. Tanpa diduga-duga, tepat saat saya menghembuskan nafas itulah terdengar ledakan besar yang menggelegar, mengerikan sekali, sampai-sampai saya yang saat itu sedang ingin masuk kembali ke kamar, buru-buru tiarap di lantai balkon. Saya kira hotel inilah yang meledak, dan habislah riwayat hidup saya pada saat itu juga. Tapi... syukurlah, untung bukan hotel ini yang meledak seperti gedung perkantoran di seberang sana.”
Ternyata cukup banyak kejadian aneh yang dialami mereka dan baru diketahui masyarakat setelah dua-tiga hari kemudian, karena beberapa media cetak sengaja meliput keganjilan-keganjilan alam itu. Maka, dengan sendirinya masyarakat berkesimpulan bahwa penyebab ledakan dahsyat itu memang bukan berasal dari ledakan suatu bom atau jenis bahan peledak lainnya. Mereka cenderung menganggap penyebab ledakan itu adalah sesuatu yang berkaitan dengan dunia ghaib, memiliki unsur mistik di dalamnya, tapi cukup sulit penjabarannya.
Bosnan tidak begitu berminat untuk menanggapi persepsi mereka tentang dunia ghaib. Selama ini ia memang selalu menempatkan diri sebagai pendengar iseng saja jika ada pihak yang bercerita tentang hal mistik atau ghaib. Maka, yang ada dalam benak Bosnan saat ini adalah kematian kekasihnya; Nucky. Bosnan ikut membantu team evakuasi secara suka rela, dan mereka berhasil menemukan mayat Nucky, pamannya, serta kedua anak pamannya itu.
Di lokasi tempat runtuhnya rumah paman Nucky itu. Bosnan menemukan beberapa barang yang menurutnya adalah milik Nucky; dompet kulit yang di dalamnya selain berisi uang juga berisi foto Bosnan sendiri dalam ukuran kecil. Semakin haru dan sedih hati Bosnan setelah tahu bahwa sebenarnya Nucky masih menyimpan fotonya sebagai kenangan dalam hidupnya.
Selain dompet, Bosnan juga menemukan buku agenda berwarna pink. Agenda ini dikenalinya sebagai milik Nucky yang sering dibawa-bawa gadis itu kemanapun dia pergi. Buku agenda tersebut ditemukan sekitar 100 meter dari tempat runtunhnya rumah paman Nucky. Bosnan geleng-geleng kepala, betapa kuatnya daya ledakan tersebut sampai membuat barang-barang keluarga Nucky terlempar sejauh itu. Selain agenda pink, Bosnan juga menemukan beberapa benda lain milik Nucky, termasuk game-watch tetris yang juga sering dibuat mainan Nucky jika sedang iseng, serta permainan berbentuk kotak kubus untuk menguji ketangkasan daya pikir seseorang. Meski tetris itu sudah retak di bagian kacanya, tapi benda-benda itu sengaja dikumpulkan Bosnan dan disimpannya sebagai kenang-kenangan pribadinya.
Di kamar kostnya, Bosnan meletakkan benda-benda milik Nucky pada sebuah nampan stainles berukuran sedang. Ditata rapi dan telah dibersihkan dari debu dan tanah. Nampan tersebut ditaruhnya di meja kerja, agak merapat ke dinding. Di kanan-kirinya ia tempatkan foto Nucky dalam bingkai logam, juga fotonya sendiri di sebelah kanan barang-barang tersebut. Ia sengaja lakukan hal itu dengan maksud agar roh Nucky mengetahui bahwa ia masih ingin mengenang masa hidup Nucky. Bahkan, kadang ia merasa bahwa Nucky masih ada, belum meninggal, karena barang-barangnya masih ada sebagian di meja kerjanya.
“Menurutku caramu ini hanya akan membuat batinmu tersiksa sendiri. Setidaknya kau akan selalu mengenang kematiannya, dan mungkin suatu saat nanti kamu akan merasa bersalah atas kematian Nucky itu.” Kata Ruyan, teman sebelah kamar Bosnan. Ia juga seorang marketing analyst seperti Bosnan, hanya saja perusahaan mereka berbeda, sektor bisnis yang ditanganipun berbeda. Namun mereka sering saling bertukar pendapat mengenai bidang tersebut.
“Dengan memajang barang-barang milik Nucky, apakah bukan siksaan tersendiri bagimu sepanjang masa? Kau pasti akan selalu terkenang Nucky kalau melihat barang-barangnya itu kan?”
“Ya, memang. Tapi... rasa-rasanya ini suatu terapi tersendiri bagiku, agar aku tidak terlalu shock menhadapi kematiannya.”
“Itu teorimu bung. Prakteknya benda-benda itu akan membuatmu selalu bersedih dan menyesali kematiannya. Sebaiknya, simpan saja di tempat tertutup. Sekali tempo saja kau buka dan kau pandangi bersama kenangannya manakala kau merindukannya.”
“Ya, mungkin aku akan kulakukan begitu, tapi... nantilah, kalau perasaanku sudah netral kembali.”
“Belum lagi kalau Debby datang kemari dan melihat benda-benda itu, pasti dia akan sewot dan cemburu besar padamu, Bos.”
“Persetan dengan Debby!” dengus Bosnan bernada kesal, “Aku memang belum mengikat hubungan apapun dengannya kecuali hanya bersahabat saja. Aku kurang tertarik pada Debby. Egois dan kurang dewasa.”
Ruyan tertawa pelan, “Jadi... nggak seperti rencanamu semula? Nggak jadi mencari simpati dai si putri pengusaha besar itu?”
“Ahh...! mending cari simpati gadis lain saja ketimbang nantinya tekanan batin juga,” Bosnan mendesah bernada keluh. Semula ia memang ingin mencari simpati dari gadis putri seorang pengusaha yang sering datang ke tempat kostnya tersebut. Tapi sekarang setelah mengetahui pribadi Debby yang sebenarnya, Bosnan kehilangan rasa tertariknya. Karena gadis itu diperkirakan kelak akan memperbudak dirinya jika ia menjadi kekasihnya.
Setelah beberapa malam sering memandangi barang-barang milik Nucky, timbul kecurigaan di hati Bosnan dengan salah satu benda yang diragukan sebagai milik Nucky. Benda tersebut adalah permainan kelincahan IQ yang berbentuk prisma dengan semua sisinya sama panjang. Kotak kubus tersebut belum pernah dilihat Bosnan sebagai barang bawaan Nucky. Jangan-jangan benda itu memang bukan milik Nucky, pikirnya saat mengambil barang tersebut dan mengamatinya lebih seksama lagi.
Malam yang hening dan sunyi membuat Bosnan merasa lebih fokus lagi mengamati benda tersebut. Kotak permainan tersebut dapat diputar ke sisi manapun. Gambarnya bisa dipindahkan untuk mendapatkan gambar yang benar. Setiap bidang dari keenam bidang permukaannya, memiliki tiga potongan gambar yang bisa dipindah-pindahkan dengan cara memutar potongan tersebut. Dari enam bidang permukaan kubus itu terdapat gambar yang sulit dipahami oleh setiap orang. Bosnan sendiri sangat serius memikirkan gambar-gambar tersebut yang menurutnya menyerupai lambang-lambang aneh
Misalnya, dalam satu bidang terdapat tiga potongan gambar kepala bertanduk, separoh binatang, dan gambar kaki gelas bertangkai panjang. Bidang lain menampakkan gambar gumpalan awan, gambar bagian atas tempat lilin, dan gambar empat kaki binatang seperti kuda. Begitu pula bidang lainnya. Jika diputar kesana-sini dengan cermat, maka keenam bidang datar tersebut bisa memiliki makna gambar tersendiri. Tapi untuk mencapai hal itu dibutuhkan kecerdasan daya pikir seseorang, terutama yang sudah terbiasa memainkan teka-teki yang semacam itu.
“Aneh sekali..!” gumam Bosnan dengan dahi berkerut tajam. “Dari tadi kupandangi benda ini, dan entah sudah berapa kali bulu romaku meremang merinding. Jantungku pun berdetak lebih kencang dari biayasanya. Hmmm, firasatku mengatakan bahwa benda ini sepertinya benda yang ganjil. Nggak tahu deh, ganjil bagaimana maksudnya. Pokoknya ada sesuatu yang mencurigakan pada benda mainan ini. Kurasa memang benda ini bukan milkik Nucky. Kebetulan saja kudapatkan berada nggak jauh dari agendanya Nucky, jadi sempat kusangka milik Nucky. Hmmm... tapi menarik juga dimainkan dalam keadaan sepi begini.?!”
Kubus bersiku-siku sama panjang itu memang memiliki kesan mistis dari warnanya. Seperti terbuat dari kayu ringan yang berwarna cokelat tua, halus dan mengkilap. Setiap sisinya dilapisi logam kuning kusam, menyerupai emas kuno. Lapisan logam itu membentuk ukiran aneh. Bahkan gambar-gambarnya terbuat dari ukiran lempengan logam kuning kusam yang menyatu kuat pada kayu tersebut, sepertinya menggunakan perekat khusus, sehingga tak mudah dilepas begitu saja. Bentuk potongan-potongannya sebagian besar membujur tegak lurus dengan yang lainnya, tapi ada beberapa potongan yang membentuk garis diagonal dengan dua sudut 30 derajat pada masing-masing potongannya. Baunya pun harum aneh, sepertinya kayu yang digunakan adalah kayu yang mengeluarkan aroma wangi alami, kira-kira seperti kayu cendana. Tapi Bosnan yakin, aroma wangi aneh itu bukan aroma wangi kayu cendana.
“Benda ini membuatku sangat tertarik, tapi juga membuatku sangat curiga dan agak takut! Malahan.... makin lama dipandangi semakin menumbuhkan rasa penasaran yang sulit dikendalikan. Hmm, kurasa itu Cuma perasaanku yang terlalu mengada-ada saja. Mestinya aku tidak boleh berhayal yang tidak-tidak dan memandang aneh benda ini.”
Bosnan benar-benar tak bisa menahan rasa ingin mencoba memainkannya. Maka, dengan ragu-ragu akhirnya ia mulai memutar potongan-potongan pada kotak kubus tersebut. Posisi tiap potongan gambar berubah dan diusahakan menemui pasangannya yang cocok. Benda yang besarnya satu genggaman orang dewasa lebih sedikit itu tiba-tiba mengeluarkan getaran kecil, seperti arus listrik tanpa percikan cahaya sedikitpun. Getaran itu terasa mengalir jelas di kedua telapak tangan Bosnan, sehingga pemuda berperawakan tegap dan berwajah ganteng itu tersentak kaget, lalu melemparkan kubus itu secara spontan. Glodak...! benda itu jatuh di atas meja.
“Gila..! bisa menimbulkan getaran aneh?!” mata Bosnan menatap dengan cukup tegang. Nafasnya terasa mulai sesak. Perasaannya menjadi sangat tak enak. Gundah sekali. Tapi rasa penasaran terhadap benda itu masih ada.
“Ah... masa’ sih menimbulkan getaran?!” pikir Bosnan mulai ragu terhadap dirinya sendiri. “Mana bisa benda kayu tanpa battery bisa mengeluarkan strom listrik sih.?!”
Diraihnya kembali kotak kubus yang tadi dilemparkan dan hampir mengenai lampu neon di meja tersebut. Benda itu kini brada disamping tumpukan map kerja, berjarak kurang dari satu jangkauan dari tempat duduk Bosnan. Bidang paling atas mempunyai tiga potongan gambar yang tanpa disadari Bosnan saat mengutak-ngatiknya tadi telah membentuk satu bagian gambar, yaitu berbentuk seperti satu mata berbulu lentik di bagian atas dan bawahnya.
Pelan-pelan sekali benda itu disentuh Bosnan, ternyata tidak mengeluarkan getaran seperti tadi. Bosnan mulai berani memegangnya dengan tenang. Namun bila diperhatikan lagi dari sudut pandang berbeda, ternyata bentuk gambar tersebut tidak menyerupai sebelah mata manusia, tetapi menyerupai bagian vital seorang wanita. Tentunya dalam corak seperti lukisan vignette, meliuk-liuk indah. Bosnan menjadi geli sendiri memperhatikan hal itu.
“Konyol nih!... kalau dari samping sini sih seperti sebelah mata tanpa pasangannya. Tapi kalau dilihat dari sisi begini, jadinya persis seperti ‘mahkota’ perempuan. Aneh sekali?! Oo.... tadi yang kumaksud menyusun gambar pada bidang sebelah kanan ini, ternyata setelah diputar sana-sini, ehh... yang tersusun justru bidang sebelah kirinya. Jadi kayak gini dech....?!” senyum geli Bosnan makin lebar. Jari tangannya meraba gambar itu secara usil. Dan tiba-tiba jari tangannya itu seperti memegang aliran listrik tegangan rendah, namun cukup mengejutkan jantung Bosnan. Zzzrrrrttt...!!!
“Hahh...?!” Bosnan buru-buru menarik tangannya. Terperangah tegang lagi. Semakin lebar matanya memandang, karena setelah gambar itu diusap dengan jari tangannya, dari bagian tengah gambar tampak kilatan cahaya putih kecil menyilaukan. Seperti lampu blitz pada sebuah tustel yang digunakan untuk memotret. Claap.! Hanya sekilas dan tidak terlihat lagi cahaya berikutnya. Namun kilatan cahaya cepat tadi membuat mata Bosnan menjadi buta mendadak. Cahaya itu sangat menyilaukan. Kuat sekali pancarannya sehingga terasa sakit di bola matanya. Bosnan terpejam refleks, tapi setelah membuka matanya kembali, ia terkejut dan menjadi takut, sebab mata itu tidak dapat dipakai untuk melihat apa-apa. Semua yang dipandangnya serba gelap pekat, seperti berada di dalam liang kubur. Sepi dan sangat mencekam.
“Celaka...! mataku menjadi buta...?!” geramnya sambil terengah-engah. Matanya dikedap-kedipkan beberapa kali, tapi tetap saja tak bisa melihat apa-apa. Bosnan semakin tegang. Panik sekali.

***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar