Ririn Sunadi
PERMAINAN IBLIS
ririnsunadi.blogspot.com
Tara Sagita
Cerita ini adalah fiktif belaka, bila ada kesamaan
nama, tempat, maupun
peristiwa, itu hanya kebetulan belaka dan tidak
bermaksud menyinggung siapa pun.
1
|
S
|
uara dentuman menggelegar
cukup keras, mambahana dengan gempa yang menggetarka alam sekitarnya. Pohon,
bangunan, permukaan air kolam, semuanya ikut bergetar akibat diterjang
gelombang dari dentuman besar itu. Malam yang sunyu dan dingin, kini menjadi
bangkit dari tidurnya, karena hampir semua orang yang sudah nyenyak di malam
itu menjadi terjaga dan bertanya-tanya satu sama lain.
“Suara
apa itu?”
“Pasti
terjadi ledakan bom lagi, nggak jauh dari sini!”
“Kayaknya
sih begitu, getarannya sangat kuat dan terasa sampai di tempat kita ini.”
“Ah...
tapi sebelum ledakan besar itu terdengar, memang sudah ada getaran seperti
gempa kecil. Apa kalian tidak merasakan.?”
“Iya
juga sih... kukira tadi gempa akibat erosi atau entah apa, yang jelas bukan
akibat suatu ledakan. Tapi semenit kemudian kok kita dengar suara tadi dengan
getaran yang lebih keras.?”
“Gedung
mana lagi yang meledak kira-kira?”
“Ah...
masa’ suara itu tadi adalah ledakan bom sih? Aku nggak yakin deh, mana ada bom
yang mau meledak harus bergetar dulu?”
“Jadi
kalau bukan karena ledakan bom, lalu suara apa itu tadi..?”
“Mungkin....
tanah longsor..”
“Tanah
longsor...? itu sih kalau di pedesaan. Masa’ di tengah kota kayak gini kok ada
tanah longsor sih? Padahal sudah dua bulan ini Makassar nggak disiram hujan
setetespun, mana mungkin ada tanah longsor di sekitar sini?”
“Tapi
kok bulu kudukku jadi merinding, ya?”
“Iya,
aku juga merinding sekali, jantungku deg-degan nih.”
“Aku
curiga, pasti ada sesuatu yang ganjil dan di luar logika manusia. Bagaimana
kalau kita cari sumber suara tadi, biar kita tau apa sebenarnya berdentum dan
menggelegar tadi.”
Rasa
penasaran membuat mereka berempat pergi meninggalkan tempat kost mereka.
Menggunakan sepeda motor. Saat itu juga terdengar raungan sirine ambulance dan
sirine mobil polisi dari berbagai arah.
Tiba
di lokasi kejadian, keempat pemuda sebaya itu tercengang dan memandang ke satu
arah yang mengerikan. Mereka tak sempat turun dari atas motor sebelum
keterpakuan mereka pudar dan menjadi sadar kembali. Yang dapat mereka ucapkan
pada saat itu adalah gumam keprihatinan dan keluhan hati yang merasa ngeri.
“Astaga....”
“Ya
ampuuunn...”
“Oh
my God...”
“Gila...”
Sebuah
gedung perkantoran empat lantai menjadi hancur berkeping-keping. Gedung itu
terletak diantara bangunan-bangunan bisnis lainnya, tepat di belakangnya adalah
sebuah komplek perumahan elite dan perkampungan penduduk. Yang mencengangkan
lagi, kompleks permahan elite itu hampir separuh bagian dalam keadaan roboh,
seperti terbenam ke dalam tanah. Gedung perkantoran itupun seperti ada yang
menghisapnya ke dalam tanah.
Kepingan
dan puing bangunan tidak menyebar ke mana-mana, tapi terkubur ke dalam tanah
yang membentuk lubang besar, hampir seukuran stadion sepak bola. Kedalaman
lubang besar itu sekitar 50 meter. Memang, ada pula barang pecahan dari gedung
dan bangunan itu yang menyebar terpental ke mana-mana, tapi tidak seberapa
banyak dan tidak menarik perhatian massa. Yang paling menarik adalah jumlah
korban jiwa yang terkubur tertimbun bersama reruntuhan bangunan di kedalaman
lubang besar itu. Suara rintihan dan jeritan masih terdengar samar-samar dari
kedalaman lubang besar, mungkin suara itu adalah jeritan korban yang belum
kehilangan nyawanya.
Team
SAR dan sukarelawan setempat saling bekerja sama menyelamatkan korban yang
belum kehilangan nyawanya, termasuk anak kecil yang berumur 3 tahun yang terus
menangis karena pahanya tertimpa bongkahan tembok sebesar penggorengan.
Mengerikan sekali suasana malam itu. Bahkan yang menonton pun ikut menangis dan
merasa panik melihat korban yang tergencet tapi belum menemui ajalnya. Rasa
kemanusiaan mereka tergerak dengan sendirinya, sehingga banyak yang ikut
membantu mengevakuasi korban tanpa diminta oleh siapa pun. Termasuk keempat
pemuda penghuni tempat kost yang berjarak 4 kilometer dari lokasi kejadian itu.
“Sam,
ikut aku cepat...!”
“Mau
kemana Bo....?” sambil Sam ikut berlari di belakang Bosnan. Kedua teman mereka
ikut-ikutan menyusul ke arah yang sama. Sambil berlari menghindari tabrakan
dengan orang lain, Bosnan masih sempat berseru kepada Sam yang ikut berlari di
belakangnya.
“Aku
baru ingat.... Nucky malam ini bermalam di rumah pamannya.!”
“Lalu,
kenapa kau lari kesana..?”
“Paman
Nucky tinggal di kompleks yang di depan sana itu..!”
“Ya
ampun?! Jangan-jangan mereka ikut menjadi korban” gumam samora yang mengenal si
cantik Nucky sejak lama. Nucky adalah mantan kekasih Bosnan yang sudah tidak
menjalin hubungan cinta lagi, tapi masih tetap bersahabat dengan damai dan
sering tampak saling membantu, seperti saudara sendiri.
“Ya
ampuuun... Tuhan..?!” sebut Bosnan dengan lemas lunglai setelah melihat taman
di depan rumah paman Nucky telah hilang. Taman itu ikut terbenam ke dalam
lubang besar tersebut. Tentu saja rumah paman Nucky juga amblas ke dalam sana,
bertumpuk dengan reruntuhan bangunan lainnya. Sangat sulit mengetahui apakah
Nucky tewas terkubur bersama keluarg pamannya atau masih selamat dan memerlukan
bantuan secepatnya.
“Benar-benar
jahanam terkutuk orang yang memasang bom dan meledakkan tempat ini! Iblis
keparat” geram Bosnan antara marah dan sedih. Bola matanya merah berkaca-kaca.
Nafasna terengah-engah, nyaris tak bisa bicara lagi. Terbayang kematian Nucky
yang sebenarnya gadis berhati baik dan berjiwa bijak itu. Sungguh tak bisa
diterima oleh nurani Bosnan jika gadis seperti Nucky harus meninggal setragis
itu. Menurutnya, Nucky tak pantas menjadi korban peledakan bom yang dilakukan
oleh orang-orang biadab itu.
Tapi
menurut informasi penduduk perkampungan terdekat, banyak dari mereka yang
berpendapat bahwa ledakan sangat dahsyat tadi bukan ditimbulkan dari sebuah
bom. Mereka sangat sangsi terhadap pendapat seperti itu. Sebab, sebelum terjadi
ledakan dahsyat yang mengguncangkan rumah mereka dan membuat perabotan
berantakan itu, mereka merasakan guncangan kuat di setiap lantai rumah mereka.
Gempa itu seperti gempa berskala kecil, namun terasa cukup jelas guncangannya.
Guncangan bumi terjadi dua kali, nyaris beruntun, lama guncangan sekitar lima
detik, disusul guncangan kedua sekitar 3 detik.
“Tapi
kami mendengar suara angin badai juga” kata seorang warga setempat. Orang itu
membuka warung nasi goreng di pinggir jalan masuk ke perkampungan.
Suara
angin gemuruh seperti badai menurutnya datang dari atas, bukan dari arah
mana-mana gerakan angin dikatakan memutar seperti topan yang turun dari langit.
Buktinya, empat lembar seng penutup atap dapurnya jebol, tertarik ke atas dan
jatuh ke tempat lain dalam keadaan sudah melilit, seperti tergelincir sangat
kuat. Kabel listrik di sisi lain pun ditemukan dalam keadaan melilit sebuah
pohon seperti ingin menjerat kuat pohon tersebut.
“Angin
badai aneh itu terjadi agak lama, tapi tidak sampai satu menit. Sekitar
setengah menit lewat sedikitlah. Saya berlari keluar bersama dua orang pembeli
yang sedang makan disini. Kami takut tertimpa atap warung ini. Nah, waktu kami
berhamburan keluar seperti penghuni rumah lainnya, kami melihat cahaya biru
berkelap-kelip, seperti benang-benang petir.”
“Dari
mana cahaya biru itu..?”
“Dari
atap gedung bertingkat empat itu. Dari perkantoran sana cahaya biru itu seperti
tersembur keluar, keatas, setinggi 10 meter lebih. Bentuknya seperti akar-akar
pohon yang ingin berlarian kesana-sini tapi bagian bawahnya masih terikat
menjadi satu. Kilatan cahaya biru itu mengeluarkan letupan kecil beruntun,
seperti suara arus listrik mengalami konslet. Ada percikan bunga apinya segala,
tapi berwarna biru cerah.”
“Lalu
terjadi ledakan..?”
“Belum”
sahut si pemilik warung. “Cahaya berkilatan itu padam dulu. Setelah padam,
angin pun reda, kami masih terpaku di jalanan karena terheran-heran memandangi
gedung perkantoran itu. Gedung itu menjadi seperti menyala semua dindingnya.
Menyala biru berpijar-pijar. Bagus sekali. Dari menyala lemah, menjadi agak
terang dan bening, tapi cahayanya tidak menyebar kemana-mana. Dan, menurut
keterangan orang-orang yang tinggal di belakang sana, katanya sih beberapa
rumah di kompleks Griya Candera itu juga menyala biru seperti gedung tersebut.
“Berapa
lama gedung itu menyala pijar biru..?” tanya Samora.
“Nggak
lama kok. Sekitar... yaaah, lima detik atau lebih sedikitlah. Kami sempat
tercengang kagum, lalu bergegas ingin melihat lebih dekat lagi. Nah, saat
itulah tahu-tahu jalanan beraspal ini seperti karpet yang disabatkan pada
ujungnya. Menggelembung naik, dan gelembung itu bergerak ke jalan besar. Saya
sendiri sempat jatuh terduduk karena tempat saya berpijak tiba-tiba
menggelembung naik dan turun kembali. Pada saat saya jatu itulah terdengar
ledakan keras, yang saking kerasnya, maka telinga saya seperti hanya mendengar
dengung pendek, wuuuuuung...!! Lalu, kuping saya seperti mau pecah, kencang
sekali, dengungnya tak ada, cuma...... saya jadi budeg sesaat. Nggak bisa
dengar apa-apa, tiba-tiba dada saya sakit, mata saya pedih, dan gedung itu
rontok ke bawah tanpa suara apapun, menurut saya. Setelah saya istighfar
berkali-kali sambil merangkak bangkit, barulah kuping saya bisa mendengar suara
lagi, dan nafas saya longgar kembali.”
Menurut
para ahli penjinak bom dan beberapa orang yang mengetahui betul tentang
jenis-jenis bom serta jenis peledak lainnya, musibah yang menyeramkan yang
terjadi tepat pukul 23:57 hampir tengah malam itu memang bukan disebabkan oleh
sebuah bom. Data-data yang berhasil mereka kumpulkan menyimpulkan bahwa ledakan
tersebut diawali dengan munculnya gangguan alam yang bersifat ganjil. Misterius
sekali. Salah seorang petugas satpam sebuah bank yang letaknya satu kilometer
dari tempat kejadian tersebut menjelaskan, sebelum terjadi ledakan dahsyat itu,
ia sempat terheran-heran melihat arlojinya bergerak aneh. Jarum arloji itu
bergerak memutar, berlawanan dengan arah biasanya, dan gerakannya sangat cepat.
Nyaris menyerupai baling-baling.
Pada
saat itu saya sedang jengkel menunggu teman teman untuk aplus jaga, tapi belum
muncul-muncul juga. Saya coba menengok arloji saya, sudah jam berapa sih, kok
teman saya belum datang juga? Nah, saat saya terbengong melihat gerakan jarum
jam seaneh itu, tiba-tiba dentuman besar terdengar kuat, seperti akan menelan
saya hidup-hidup. Dada saya menjadi sesak, kayak ada almari yang menggencet
kuat-kuat.”
Keganjilan
lain yang terjadi sebelum ledakan besar itu menelan korban jiwa yang cukup
banyak adalah suatu peristiwa yang dialami oleh salah seorang tamu hotel yang
kebetulan menempati kamar di lantai 9,
dan kamar berbalkon lebar itu tepat menghadap ke gedung perkantoran
tersebut. Pria yang bermalam di hotel yang berlantai 17 yang tergolong hotel
berbintang tiga itu mengaku baru saja pulang dari sebuah cafe. Hatinya dongkol
setengah mati karena teman kencan yang berjanji mau saling bertemu di cafe itu
ternyata tidak datang. Untuk membuang rasa kesal hatinya, pria berusia 30 tahun
itu membuka pintu balkon kamarnya, ingin menikmati pemandangan malam dengan
segelas bir di tangan. Angin malam yang berhembus saat itu terasa aneh baginya,
kering dan panas. Menimbulkan rasa takut yang mendebarkan jantungnya.
“Saya
sempat khawatir dengan detak jantung saya ini, karena tiba-tiba saja menjadi
cepat. Dan, seperti pukulan tambur detak jantung saya ini setelah melihat
sebuah gedung menyala biru pijar di kejauhan sana. Seperti bongkahan berlian
atau permata yang berbinar-binar mengagumkan. Bagus sekali, tapi juga
menakutkan secara naluri. Bangunan yang berpijar biru itu sebenarnya kan
berjarak sekitar... empat atau lima kilometer dari hotel ini, kan? Tapi
bangunan itu seperti melayang dan hotel ini seperti bergerak mendekat ke sana,
sehingga jaraknya sangat dekat, kurang dari satu kilometer. Bangunan bertingkat
itu dapat saya lihat dengan jelas detil-detil sisinya. Malahan saya bisa
melihat seorang pemuda yang ada di lantai dua, di sebuah ruangan kerja yang
duduk sendirian dan sibuk mengutak-atik mainan.”
Menurut
pengakuan pria yang bertubuh agak gemuk itu, bangunan perkantoran tersebut
makin lama makin dekat dari penglihatannya, sehingga ia semakin jelas melihat
ruangan-ruangan yang masih terang melalui jendela kaca ruangan tersebut. Ia
juga melihat dengan jelas sekali seorang pemuda berbadan kurus, berusia sekitar
25 tahun dan berambut ikal, duduk di kursi kerja dengan kedua tangan sibuk
bermain sesuatu yang berbentuk kubus kecil. Benda tersebut memercikkan bunga
api biru, dan si pemuda berusaha melakukan sesuatu dengan tegang. Seakan ingin
memadamkan percikan cahaya dari benda mainannya itu. Sementara suasana dinding
dan sekelilingnya menyala pijar biru. Namun si pria yang di hotel mengaku
melihat dinding ruangan tersebut bergerak-gerak seperti gerakan dari permukaan
air danau tertiup angin kecil.
“Sewaktu
saya berkedip, karena ingin membuktikan apakah penglihatan saya itu normal atau
tidak, ternyata bangunan yang berpijar biru itu menjadi jauh seperti semula.
Tak begitu jelas detilnya di maa saya. Pandangan saya normal kembali, dan saya
menghembuskan nafas lega. Tanpa diduga-duga, tepat saat saya menghembuskan
nafas itulah terdengar ledakan besar yang menggelegar, mengerikan sekali,
sampai-sampai saya yang saat itu sedang ingin masuk kembali ke kamar, buru-buru
tiarap di lantai balkon. Saya kira hotel inilah yang meledak, dan habislah
riwayat hidup saya pada saat itu juga. Tapi... syukurlah, untung bukan hotel
ini yang meledak seperti gedung perkantoran di seberang sana.”
Ternyata
cukup banyak kejadian aneh yang dialami mereka dan baru diketahui masyarakat setelah
dua-tiga hari kemudian, karena beberapa media cetak sengaja meliput keganjilan-keganjilan
alam itu. Maka, dengan sendirinya masyarakat berkesimpulan bahwa penyebab
ledakan dahsyat itu memang bukan berasal dari ledakan suatu bom atau jenis
bahan peledak lainnya. Mereka cenderung menganggap penyebab ledakan itu adalah
sesuatu yang berkaitan dengan dunia ghaib, memiliki unsur mistik di dalamnya,
tapi cukup sulit penjabarannya.
Bosnan
tidak begitu berminat untuk menanggapi persepsi mereka tentang dunia ghaib.
Selama ini ia memang selalu menempatkan diri sebagai pendengar iseng saja jika
ada pihak yang bercerita tentang hal mistik atau ghaib. Maka, yang ada dalam
benak Bosnan saat ini adalah kematian kekasihnya; Nucky. Bosnan ikut membantu
team evakuasi secara suka rela, dan mereka berhasil menemukan mayat Nucky,
pamannya, serta kedua anak pamannya itu.
Di
lokasi tempat runtuhnya rumah paman Nucky itu. Bosnan menemukan beberapa barang
yang menurutnya adalah milik Nucky; dompet kulit yang di dalamnya selain berisi
uang juga berisi foto Bosnan sendiri dalam ukuran kecil. Semakin haru dan sedih
hati Bosnan setelah tahu bahwa sebenarnya Nucky masih menyimpan fotonya sebagai
kenangan dalam hidupnya.
Selain
dompet, Bosnan juga menemukan buku agenda berwarna pink. Agenda ini dikenalinya
sebagai milik Nucky yang sering dibawa-bawa gadis itu kemanapun dia pergi. Buku
agenda tersebut ditemukan sekitar 100 meter dari tempat runtunhnya rumah paman
Nucky. Bosnan geleng-geleng kepala, betapa kuatnya daya ledakan tersebut sampai
membuat barang-barang keluarga Nucky terlempar sejauh itu. Selain agenda pink,
Bosnan juga menemukan beberapa benda lain milik Nucky, termasuk game-watch
tetris yang juga sering dibuat mainan Nucky jika sedang iseng, serta permainan
berbentuk kotak kubus untuk menguji ketangkasan daya pikir seseorang. Meski
tetris itu sudah retak di bagian kacanya, tapi benda-benda itu sengaja
dikumpulkan Bosnan dan disimpannya sebagai kenang-kenangan pribadinya.
Di
kamar kostnya, Bosnan meletakkan benda-benda milik Nucky pada sebuah nampan
stainles berukuran sedang. Ditata rapi dan telah dibersihkan dari debu dan
tanah. Nampan tersebut ditaruhnya di meja kerja, agak merapat ke dinding. Di
kanan-kirinya ia tempatkan foto Nucky dalam bingkai logam, juga fotonya sendiri
di sebelah kanan barang-barang tersebut. Ia sengaja lakukan hal itu dengan maksud
agar roh Nucky mengetahui bahwa ia masih ingin mengenang masa hidup Nucky.
Bahkan, kadang ia merasa bahwa Nucky masih ada, belum meninggal, karena
barang-barangnya masih ada sebagian di meja kerjanya.
“Menurutku
caramu ini hanya akan membuat batinmu tersiksa sendiri. Setidaknya kau akan
selalu mengenang kematiannya, dan mungkin suatu saat nanti kamu akan merasa
bersalah atas kematian Nucky itu.” Kata Ruyan, teman sebelah kamar Bosnan. Ia
juga seorang marketing analyst seperti Bosnan, hanya saja perusahaan mereka
berbeda, sektor bisnis yang ditanganipun berbeda. Namun mereka sering saling
bertukar pendapat mengenai bidang tersebut.
“Dengan
memajang barang-barang milik Nucky, apakah bukan siksaan tersendiri bagimu
sepanjang masa? Kau pasti akan selalu terkenang Nucky kalau melihat
barang-barangnya itu kan?”
“Ya,
memang. Tapi... rasa-rasanya ini suatu terapi tersendiri bagiku, agar aku tidak
terlalu shock menhadapi kematiannya.”
“Itu
teorimu bung. Prakteknya benda-benda itu akan membuatmu selalu bersedih dan
menyesali kematiannya. Sebaiknya, simpan saja di tempat tertutup. Sekali tempo
saja kau buka dan kau pandangi bersama kenangannya manakala kau merindukannya.”
“Ya,
mungkin aku akan kulakukan begitu, tapi... nantilah, kalau perasaanku sudah
netral kembali.”
“Belum
lagi kalau Debby datang kemari dan melihat benda-benda itu, pasti dia akan
sewot dan cemburu besar padamu, Bos.”
“Persetan
dengan Debby!” dengus Bosnan bernada kesal, “Aku memang belum mengikat hubungan
apapun dengannya kecuali hanya bersahabat saja. Aku kurang tertarik pada Debby.
Egois dan kurang dewasa.”
Ruyan
tertawa pelan, “Jadi... nggak seperti rencanamu semula? Nggak jadi mencari
simpati dai si putri pengusaha besar itu?”
“Ahh...!
mending cari simpati gadis lain saja ketimbang nantinya tekanan batin juga,”
Bosnan mendesah bernada keluh. Semula ia memang ingin mencari simpati dari
gadis putri seorang pengusaha yang sering datang ke tempat kostnya tersebut.
Tapi sekarang setelah mengetahui pribadi Debby yang sebenarnya, Bosnan
kehilangan rasa tertariknya. Karena gadis itu diperkirakan kelak akan
memperbudak dirinya jika ia menjadi kekasihnya.
Setelah
beberapa malam sering memandangi barang-barang milik Nucky, timbul kecurigaan
di hati Bosnan dengan salah satu benda yang diragukan sebagai milik Nucky.
Benda tersebut adalah permainan kelincahan IQ yang berbentuk prisma dengan
semua sisinya sama panjang. Kotak kubus tersebut belum pernah dilihat Bosnan
sebagai barang bawaan Nucky. Jangan-jangan benda itu memang bukan milik Nucky,
pikirnya saat mengambil barang tersebut dan mengamatinya lebih seksama lagi.
Malam
yang hening dan sunyi membuat Bosnan merasa lebih fokus lagi mengamati benda
tersebut. Kotak permainan tersebut dapat diputar ke sisi manapun. Gambarnya bisa
dipindahkan untuk mendapatkan gambar yang benar. Setiap bidang dari keenam
bidang permukaannya, memiliki tiga potongan gambar yang bisa dipindah-pindahkan
dengan cara memutar potongan tersebut. Dari enam bidang permukaan kubus itu
terdapat gambar yang sulit dipahami oleh setiap orang. Bosnan sendiri sangat
serius memikirkan gambar-gambar tersebut yang menurutnya menyerupai
lambang-lambang aneh
Misalnya,
dalam satu bidang terdapat tiga potongan gambar kepala bertanduk, separoh
binatang, dan gambar kaki gelas bertangkai panjang. Bidang lain menampakkan
gambar gumpalan awan, gambar bagian atas tempat lilin, dan gambar empat kaki
binatang seperti kuda. Begitu pula bidang lainnya. Jika diputar kesana-sini
dengan cermat, maka keenam bidang datar tersebut bisa memiliki makna gambar
tersendiri. Tapi untuk mencapai hal itu dibutuhkan kecerdasan daya pikir
seseorang, terutama yang sudah terbiasa memainkan teka-teki yang semacam itu.
“Aneh
sekali..!” gumam Bosnan dengan dahi berkerut tajam. “Dari tadi kupandangi benda
ini, dan entah sudah berapa kali bulu romaku meremang merinding. Jantungku pun
berdetak lebih kencang dari biayasanya. Hmmm, firasatku mengatakan bahwa benda
ini sepertinya benda yang ganjil. Nggak tahu deh, ganjil bagaimana maksudnya.
Pokoknya ada sesuatu yang mencurigakan pada benda mainan ini. Kurasa memang
benda ini bukan milkik Nucky. Kebetulan saja kudapatkan berada nggak jauh dari
agendanya Nucky, jadi sempat kusangka milik Nucky. Hmmm... tapi menarik juga
dimainkan dalam keadaan sepi begini.?!”
Kubus
bersiku-siku sama panjang itu memang memiliki kesan mistis dari warnanya.
Seperti terbuat dari kayu ringan yang berwarna cokelat tua, halus dan
mengkilap. Setiap sisinya dilapisi logam kuning kusam, menyerupai emas kuno.
Lapisan logam itu membentuk ukiran aneh. Bahkan gambar-gambarnya terbuat dari
ukiran lempengan logam kuning kusam yang menyatu kuat pada kayu tersebut,
sepertinya menggunakan perekat khusus, sehingga tak mudah dilepas begitu saja.
Bentuk potongan-potongannya sebagian besar membujur tegak lurus dengan yang
lainnya, tapi ada beberapa potongan yang membentuk garis diagonal dengan dua
sudut 30 derajat pada masing-masing potongannya. Baunya pun harum aneh,
sepertinya kayu yang digunakan adalah kayu yang mengeluarkan aroma wangi alami,
kira-kira seperti kayu cendana. Tapi Bosnan yakin, aroma wangi aneh itu bukan
aroma wangi kayu cendana.
“Benda
ini membuatku sangat tertarik, tapi juga membuatku sangat curiga dan agak
takut! Malahan.... makin lama dipandangi semakin menumbuhkan rasa penasaran
yang sulit dikendalikan. Hmm, kurasa itu Cuma perasaanku yang terlalu
mengada-ada saja. Mestinya aku tidak boleh berhayal yang tidak-tidak dan
memandang aneh benda ini.”
Bosnan
benar-benar tak bisa menahan rasa ingin mencoba memainkannya. Maka, dengan
ragu-ragu akhirnya ia mulai memutar potongan-potongan pada kotak kubus
tersebut. Posisi tiap potongan gambar berubah dan diusahakan menemui
pasangannya yang cocok. Benda yang besarnya satu genggaman orang dewasa lebih
sedikit itu tiba-tiba mengeluarkan getaran kecil, seperti arus listrik tanpa percikan
cahaya sedikitpun. Getaran itu terasa mengalir jelas di kedua telapak tangan
Bosnan, sehingga pemuda berperawakan tegap dan berwajah ganteng itu tersentak
kaget, lalu melemparkan kubus itu secara spontan. Glodak...! benda itu jatuh di
atas meja.
“Gila..!
bisa menimbulkan getaran aneh?!” mata Bosnan menatap dengan cukup tegang.
Nafasnya terasa mulai sesak. Perasaannya menjadi sangat tak enak. Gundah
sekali. Tapi rasa penasaran terhadap benda itu masih ada.
“Ah...
masa’ sih menimbulkan getaran?!” pikir Bosnan mulai ragu terhadap dirinya
sendiri. “Mana bisa benda kayu tanpa battery bisa mengeluarkan strom listrik
sih.?!”
Diraihnya
kembali kotak kubus yang tadi dilemparkan dan hampir mengenai lampu neon di
meja tersebut. Benda itu kini brada disamping tumpukan map kerja, berjarak
kurang dari satu jangkauan dari tempat duduk Bosnan. Bidang paling atas
mempunyai tiga potongan gambar yang tanpa disadari Bosnan saat mengutak-ngatiknya
tadi telah membentuk satu bagian gambar, yaitu berbentuk seperti satu mata berbulu
lentik di bagian atas dan bawahnya.
Pelan-pelan
sekali benda itu disentuh Bosnan, ternyata tidak mengeluarkan getaran seperti
tadi. Bosnan mulai berani memegangnya dengan tenang. Namun bila diperhatikan
lagi dari sudut pandang berbeda, ternyata bentuk gambar tersebut tidak
menyerupai sebelah mata manusia, tetapi menyerupai bagian vital seorang wanita.
Tentunya dalam corak seperti lukisan vignette, meliuk-liuk indah. Bosnan
menjadi geli sendiri memperhatikan hal itu.
“Konyol
nih!... kalau dari samping sini sih seperti sebelah mata tanpa pasangannya.
Tapi kalau dilihat dari sisi begini, jadinya persis seperti ‘mahkota’
perempuan. Aneh sekali?! Oo.... tadi yang kumaksud menyusun gambar pada bidang
sebelah kanan ini, ternyata setelah diputar sana-sini, ehh... yang tersusun
justru bidang sebelah kirinya. Jadi kayak gini dech....?!” senyum geli Bosnan
makin lebar. Jari tangannya meraba gambar itu secara usil. Dan tiba-tiba jari
tangannya itu seperti memegang aliran listrik tegangan rendah, namun cukup mengejutkan
jantung Bosnan. Zzzrrrrttt...!!!
“Hahh...?!”
Bosnan buru-buru menarik tangannya. Terperangah tegang lagi. Semakin lebar
matanya memandang, karena setelah gambar itu diusap dengan jari tangannya, dari
bagian tengah gambar tampak kilatan cahaya putih kecil menyilaukan. Seperti
lampu blitz pada sebuah tustel yang digunakan untuk memotret. Claap.! Hanya
sekilas dan tidak terlihat lagi cahaya berikutnya. Namun kilatan cahaya cepat
tadi membuat mata Bosnan menjadi buta mendadak. Cahaya itu sangat menyilaukan.
Kuat sekali pancarannya sehingga terasa sakit di bola matanya. Bosnan terpejam
refleks, tapi setelah membuka matanya kembali, ia terkejut dan menjadi takut,
sebab mata itu tidak dapat dipakai untuk melihat apa-apa. Semua yang
dipandangnya serba gelap pekat, seperti berada di dalam liang kubur. Sepi dan
sangat mencekam.
“Celaka...!
mataku menjadi buta...?!” geramnya sambil terengah-engah. Matanya
dikedap-kedipkan beberapa kali, tapi tetap saja tak bisa melihat apa-apa.
Bosnan semakin tegang. Panik sekali.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar