2
|
D
|
alam kegelapan yang serba
hitam pekat itu, Bosnan mencoba untuk pindah ke ranjang. Setelah beberapa kali
ia berteeriak keras-keras memanggil Samora atau Ruyan namun tak ada jawaban
dari mereka, Bosnan merasa putus asa. Ia menyangka teman-teman kostnya telah tenggelam
dalam kelelapan tidur sehingga tak bisa mendengar seruannya. Tak ada jalan lain
bagi Bosnan untuk menenangkan kepanikannya selain diam berbaring di ranjang. Ia
yakin kebutaan ini tidak akan selamanya. Pasti hanya karena pengaruh cahaya
putih tadi yang mengaburkan pandangan matanya beberapa saar. Entah berapa lama
lagi penglihayannya pasti akan pulih kembali seperti semula. Bosnan merasa tak
perlu gugup dan lebih baik menunggu saatnya normal kembali dengan sabar.
Langkahnya
sangat hati-hati ketika ia menuju ke ranjang. Tangannya berusaha meraba apapun
yang berada di depannya agar tak membentur kepala atau kakinya. Selangkah demi
selangkah ia lakukan penuh hati-hati sekali. Tapi lama-lama hati kecilnya
menjadi curiga, mengapa sudah lima langkah dia belm menyentuh tepian ranjang?
Bosnan masih ingat, jarak antara kursi tempatnya duduk tadi dengan ranjang
tidak lebih dari empoat langkah. Kalau toh arah langkah kakinya salah jalan,
pasti ia akan menyentuh tempat sepatu atau justru akan menabrak lemari baju setelah
lima langkah lebih.
“Gila..?!
Nggak ada barang apapun yang kusentuh?! Padahal aku sudah melangkah lebih dari
tujuh kali.?!” Pikirnya penuh keheranan. Kecemasan yang tadi sudah mau reda,
kini tumbuh kembali dengan detak jantung menjadi cepat seperti semula.
Tangannya mencoba meraba kasena-sini, tapi tak ada benda apapun yang
disentuhnya. Namun, ia tetap mencoba untuk melangkah dan terus, sampai lebih
dari sepuluh langkah. Bahkan sekarang kakinya yang tidak memakai sendal apapun
itu terasa bukan lagi menapak di lantai berubin keramik halus, melainkan
seperti berjalan diatas bentangan permadani berbulu halus, tebal dan empuk.
“Permadaninya
siapa ini? Rasa-rasanya aku nggak pernah memasang permadani di kamarku ini?!”
pikir Bosnan sambil semakin diliputi perasaan tak menentu. Gundah dan rasa
kesal.
Entah
sudah berapa kali Bosnan melangkah tanpa menyentuh apa-apa, sampai akhirnya ia
memutuskan untuk berhenti dan menenangkan pernafasannya yang menegang. Ia
menyimak suara setajam mungkin, namun tidak ada suara apapun yang didengarnya
kecuali hanya keheningan sepi tanpa batas. Hembusan anginpun tak ada, bahkan
engahan nafasnya pun sulit ditangkap pendengaranannya sendiri. Yang paling
jelas dirasakan hanya getaran detak jantungnya yang menyentak-nyentak mengguncangkan
seluruh tubuh, tapi suaranya tak terdengar sedikitpun.
“Ada
dimana aku ini sebenarnya? Gawat! Kenapa sampai bisa begini nasibku? Kotak
permainannya itu ternyata memiliki kekuatan ghaib yang... benar-benar menjadi
kenyataan dan baru kali ini kualami kemisteriusannya. Oohh, kepada siapa aku
harus meminta bantuan jika berada dalam kegelapan begini? Langkahku kembali ke
kursi tadi, tapi toh tak kutemukan meja dan kursiku yang tadi?! Aku seperti
berada di tempat yang lapang beralaskan permadani yang empuk. Tempat apa ini
sebenarnya?” sambil kaki Bosnan meraba-raba permukaan lantai yang dipijaknya.
Masih berbulu halus dan lembut.
Ia
berdiri dengan bergerak memutar perlahan-lahan, mencoba melebarkan mata utnuk
menangkap bayangan. Tapi sampai dua kali memutar tak ada bayangan atau berkas
sinar apapun yang dilihatnya. Maka iapun memutuskan untuk duduk di tempat
tersebut, menunggu perkembangan yang terjadi. Kakinya terasa pegal sekali,
seperti habis melakukan perjalanan jauh, sehingga ia butuh isterahat dengan duduk
di lantai berbulu halus itu. Namun sebelum ia meletakkan pantatnya di lantai
itu, tiba-tiba ia mendengar suara seperti ranting patah diinjak oleh seseorang.
Krek..!
dengan cepat ia berpaling ke arah datangnya suara tersebut. Hatinya berdebar
kuat penuh harap, karena pada saat itu dia mulai melihat setitik sinar di
kejauhan sana. Seperti seseorang yang menyalakan korek api dengan nyala apinya
yang kecil. Bosnan menjadi girang bercampur tegang, karena kini ia bisa melihat
setitik api di kejauhan sana. Api itu mendekatinya perlahan-lahan. Bosnan
bersiap-siap melakukan sesuatu untuk menyelamatkan diri jika api tersebut
membahayakannya. Tapi ia sengaja tak menjauhi api tersebut. Ia sengaja menunggu
sampai api tersebut lebih dekat dengannya, lebih jelas lagi apa gerangan yang
bisa membuat api itu mendekat padanya.
“Ooh,
wajah itu,,,?! Astaga.... seorang gadis cantik rupanya?!” Bosnan bergumam dalam
hati dengan detak jantung makin menyentak. Pandangan matanya kini semakin
jelas, semakin normal kembali.
Seraut
wajah ayu tampak jelas diterangi oleh nyala api di ujung lilin hijau. Nyala api
itu tidak seperti biasa, mempunyai warna hijau uranium yang makin lama makin
cerah, indah sekali. Sinar itu mempercantik seraut wajah berpotongan rambut
pendek, cepak. Seperti potongan rambut lelaki. Gadis pemilik lilin hijau itu
bertubuh tinggi, sintal, punya daya pikat besar pada bentuk sexy bagian-bagian
tertentu, seperti dada yang sekal dan membusung padat, serta bokong yang gempal
dengan pinggulnya yang berayun-ayun ketika berjalan seperti ingin mengelilingi
Bosnan. Semakin dekat semakin jelas rupa dan potongan tubuh gadis muda
berpakaian bra terusan warna hitam, panjangnya hanya sampai separuh paha
kurang. Tali bra sangat kecil dan berleher rendah, sehingga membentuk sepasang
bukitnya terlihat sebagian juga membayang di balik kain tipis bra hitam itu.
Kontras sekali dengan warna kulitnya yang putih mulus.
“Apakah
kau bersedia membantuku, supaya aku bersedia membantumu juga, Bosnan.?!” tegur
gadis yang belum dikenalnya, tapi sudah tahu nama Bosnan. Ia berhenti pada
jarak 5 meter sehingga gerak bibir sensualnya saat bicara dapat terlihat jelas
oleh mata Bosnan. Menggiurkan sekali bibir itu saat bicara dan menyunggingkan
senyum tipis.
“Aku...
aku terjebak dalam kegelapan ini. Aku tak tahu sedang berada dimana. Tapi...
tapi seandainya kau mau membantuku, akupun akan membantu kesulitanmu sebagai
balasannya, Nona. Hmm... terus terang, aku belum mengenal siapa dirimu, Nona.”
“Lilu....,”
jawabnya agak parau tapi diiringi senyum tipis lagi. Kali ini senyum tipis itu
terkesan sangat bersahabat.
“Lilu...?
itukah namamu.?!”
“ya,
memang Lilu adalah namaku. Kau belum mengenalku, tapi aku sudah mengenalmu
sejak kau memungut benda itu, Bosnan.”
“Maksudmu benda...”
“Aku
harus membebaskan dirimu dari kegelapan!” sahut Lilu dengan tegas, kemudian
lilin hijau itu dilempar ke atas, seperti dibuang ke belakang. Wuuut....! nyala
apinya menjadi besar sekali dalam satu sentakan cahaya yang melebar terang,
sangat terang dang sangat menyilaukan mata Bosnan seperti pertama kali.
Wuuuubs...!
“Ohhh....?!”
Bosnan merunduk, melindungi matanya dengan lengan. Ia khawatir akan menjadi
buta kembali. Tapi ketika matanya berkedap-kedip beberapa kali, ia mulai dapat
melihat suasana terang. Maka kepalanya pun menjadi tegak kembali, menatap ke
arah depan, dan ternyata ia tidak menjadi buta. Ia dapat melihat di
sekelilingnya dengan jelas dan normal, seperti biasa. Hanya saja ia merasa
terkejut begitu mengenali keadaan sekelilingnya.
Ternyata
ia berada di sebuah kamar tidur berperabot mewah. Ranjangnya dari logam
menyerupai emas murni. Berukuran lebar dan berkasur empuk, lembut. Warna
seperainya berwarna hijau soft yang terbuat dari kain yang halus sekali. Lantai
sekeliling ranjang tertutup permadani hijau tua seperti rumput menghampar, dan
bulu-bulunya sangat lembut di kaki. Rupanya permadani itulah yang sejak tadi
dirasakan sebagai tempat berjalan kakinya.
Kamar
tidur besar dilengkapi dengan meja kerja dan komputer di sisi sudut sana itu
memiliki dua cermin dan meja rias. Keduanya berseberangan dengan ranjang.
Cerminnya cukup lebar dan tinggi. Meja riasnya dari marmer putih dengan lis
logam kuning seperti emas. Tapi bukan emas asli. Kamar bereterni tinggi itu
memiliki dua pintu, yang satu tebal berukir dari kayu warna cokelat mengkilat,
sepertinya pintu keluar masuk kamar tersebut, sedangkan yang sarunya di sudut
dengan pintu kecil. Mungkin pintu kamar mandi. Tapi juga dari kayu berukir
kualitas nomor satu. Barang-barang lainnya sempat membuat Bosnan
tercengang-cengang mamandanginya, karena ia tahu betul harga barang-barang itu
pasti sangat mahal, termasuk TV layar datar 36 inch bersama satu set peralatan
elektronik lainnya yang bermerek kelas dunia. Belumlagi bar kecil di belakang
satu set sofa hijau lumut yang berkualitas eksport, yang sudah pasti diminati
orang-orang berkelas.
“Kamar
tidur siapa ini?” Bosnan bertanya pada dirinya sendiri sambil memandang tegang
kesana kemari. Ia masih sangat asing dengan kamar tidur itu. Sama sekali belum
pernah datang kesitu atau melihatnya dari
gambar manapun. Sebuah jam dinding berbentuk menyerupai berlian besar memiliki
angka-angka dan jarum besar merah menyala. Jam itu menunjukkan pukul 12:10
malam. Sebab dari cerah gordyn kamar berdinding kaca yang menghadap ke balkon
itu Bosnan mengetahui bahwa suasana di luar masih gelap gulita. Sepi. Dan
agaknya lebih sunyi suasana di dalam kamar itu.
Tapi
hidungnya yang sejak tadi mencium aroma parfum lembut sensual, Bosnan yakin
bahwa belum lama tadi kamar yang masih serba bersih dan rapi dengan penerangan
yang cukup itu pernah dipakai oleh seorang perempuan untuk berhias. Aroma
pefumnya dikenali sebagai aroma parfum khas seorang wanita elite. Siapa wanita
itu dan siapa suaminya, Bosnan tak bisa menerka-nerka. Sebab wangi parfum yang
menyebar di seluruh kamar itu adalah wewangian yang belum pernah dikenalnya.
Keberadaannya
di kamar itu bisa menjadi bencana tersendiri bagi nama baiknya. Ia bisa saja
dituduh sebagai pencuri yang berhasil memasuki kamar tersebut. Tentu saja si
pemilik kamar, pria atau wanita, tidak akan mudah mempercayai cerita anehnya
itu. Maka, langkah terbaik baginya adalah keluar dari kamar itu sebelum pemilik
kamar memergokinya disitu.
Klek....!!
“Wah,
gawat nih?!” pekik hati Bosnan seketika, karena baru saja ia ingin melanhkah menuju
ke pintu balkon, ternyata pintu utama sudah dibuka dan seorang wanita sedang
masuk dengan sangat tenang. Menggunakan gaun tidur dan menggenggam sebungkus
rokok bersama korek apinya. Sepertinya perempuan berusia 40 tahun itu baru saja
selesai menerima tamu di lantai bawah. Ia belum menyadari bahwa di dalam
kamarnya ada orang lain; seorang pemuda beralis tebal dan memiliki kesan jantan
yang menawan, sedang berdiri dalam kebingungan yang sangat menegangkan.
Rupanya
pada saat itu ketegangan Bosnan memang mencapai puncaknya. Hampir saja ia tidak
bisa bernafas karena sentakan rasa kaget yang menohok kuat ulu hatinya. Detak
jantung sudah tak terkendali lagi cepatnya, sudah tak bisa lagi diukirkan lagi
kerasnya. Ia yakin sekujur wajahnya pasti pucat pasi, serupa dengan sehelai
kertas kerja tanpa kop surat. Bagaimana ia tak mencapai puncak ketegangan,
karena perempuan separoh baya yang masih memiliki tubuh sekal dan masih bisa
digolongkan sexy itu adalah orang yang cukup dikenalnya, walau tak begitu
dekat. Perempuan berwajah cantik penuh kematangan pribadi dan bermata indah
namun tajam berwibawa sedikit galak itu adalah Presiden Direktur di perusahaan
tempatnya bekerja. Yang jarang sekali berkomunikasi langsung dengannya.
“Bu
Verga...?!” Bosnan terucap dalam hati dengan gemetar ketika perempuan itu
berpaling ke arahnya dan terperanjat kaget sekali melihat keberadaannya disitu.
Hampir saja Bu Verga menjerit dan berlari kalau saja perempuan itu tidak segera
mengenali ada wajah seorang lelaki yang tidak asing baginya.
“Kamu...?!
Bukankah... Bukankah kamu adalah...”
“Bosnan!
Iya, Bu...! saya adlah Bosnan!” sahutnya dengan menggeraga, ingin menunjukkan
sikap bahwa ia sebenarnya tidak bersalah dan sangat menyesal berda di kamar it.
Tetapi tatapan mata Bu Verga semakin tajam dan penuh kecurigaan. Nafasnya
tampak begitu cepat, sehingga dadanya yang masih montok dan kencang itu tampak
jelas naik turun dengan jelas. Dada tersebut hanya terbungkus kain halus,
lembut, berleher rendah. Bentuknya tampak membayang di kelembutan gaunnya.
“Apa
maksudmu masuk dikamarku, hah?!” Bu Verga yang sangat disegani oleh Bosnan dan
orang-orang bawahan lainnya itu mulai menampakkkan kemarahannya. Matanya
terbelalak penuh keberanian. Tapi ia tak berani mendekat, karena sangat waspada
dan hati-hati sekali menghadapi tamu tak diundang itu. Janda beranak tiga yang
kini ketiga anaknya melanjutkan sekolahnya di luar negeri itu bergeser
pelan-pelan mendekati meja rias, berseberangan ranjang dengan posisi Bosnan berdiri.
Tangannya pelan-pelan membuka laci meja, tampaknya ada senjata yang ingin
diambilnya dari laci tersebut untuk membela diri jika sewaktu-waktu mendapat
serangan. Tapi Bosnan segera menjelaskan kenyataan aneh yang dialaminya itu
setelah menelan ludahnya satu kali dan berusaha menenangkan dirinya yang sangat
gemetaran itu.
“Demi
Tuhan ini semua bukan kehendak saya, Bu. Saya tidak pernah punya rencana segila
ini, apalagi saya tahu siapa Bu Verga dan siapa saya. Apa yang saya ceritakan
itu sungguh-sungguh kejadian yang saya alami. Kalau tidak percaya saya akan
membawakan kotak permainan itu kepada ibu sebagai bukti!”
Cukup
lama janda berkulit putih itu sengaja diam tanpa komentar dengan mata tajamnya
yang mengagumkan kaum lelaki menatap Bosnan tana berkedip. Bosnan menjadi salah
tingkah sendiri dipandang setajam itu. Menurutnya, tatapan Nyonya Verga seperti
mesin pengorek seluruh isi hati dan pikiran, sehingga setiap kali bosnan ingin
bicara selalu saja ragu dan dibatalkan.
“Duduklah...!”
perintah Nyonya Verga dengan ekspresi keras.
“Sebaiknya
saya bawa bukti itu kemari sekarang juga supaya...”
“Duduklah!”
tegasnya semakin berwibawa dengan bahasa isyarat menyuruh Bosnan duduk di sofa
yang berjarak 5 meter dari ranjang. Akhirnya, mau tak mau Bosnan mengikuti perintah
itu untuk membuktikan bahwa ia tidak bermaksud jahat kepada Nyonya Verga.
“Ceritamu
itu dapat kupercaya, Bosnan?!”
“Sekali
lagi saya bersumpah, biar saya mati seketika juga kalau saya berbohong kepada
Ibu,” jawabnya dengan hormat dan tampak mengharap kepercayaan setulusnya dari
perempuan itu.
Sorot
pandangan Bosnan ditatapnya lekat-lekat sekali lagi. Kemudian ia yampak menarik
nafas sambil melangkah menuju ke bar kecil. Bosnan jhanya bisa menunduk, tak
ingin menengok ke belakang, sehingga tak tahu apa yang dilakukan oleh orang
nomor satu di kantornya itu. Sebentar kemudian terdengar suara perempuan
berambut panjang selewat punggung yang digulung ke atas sekenanya itu berkata
sedikit keras.
“Mau
minum apa kamu?! Whisky, champagne, atau... bir?!”
“Hmmm,
ehhh, hmmm... saya...” Bosnan semakin bingung bersikap dalam suasana seperti
itu. Nyonya Verga mulai tampak berubah sikap. Bahkan tanpa banyak pertimbangan
lagi menyodorkan sebotol Champagne, menyuruh Bosnan menuangkan ke dalam dua
gelas yang kini diletakkan di meja depan tempat duduk Bosnan. Mau tak mau
Bosnan kembali menuruti keinginan atasannya itu.
“Untuk
sementara ini aku mempercayai ceritamu itu. Aku bisa merasakan kegundahan
hatimu yang seperti dipermainkan oleh kekuatan setan,” kata Nyonya Verga setelah
meneguk minumannya, duduk di sofa itu juga. Tepat di samping kanan Bosnan.
“Tenangkan
hatimu,” tambahnya. “Rileks saja. Anggap kamu datang bertamu ke rumahku ini
atas undangan diriku. Okey?!”
“terima
kasih Bu Verga,” senyum Bosnan masih kikuk dan hambar. “Tapi... tapi boleh saya
tahu mengapa Bu Verga mempercayai cerita saya? Apakah...?”
“Kamu
tidak pakai alas kaki apapun, bukan?”
Bosnan
sedikit tercengang, baru menyadari keadaan dirinya yang sebenarnya sangat
kurang etis jika dianggap sebagai seoarng tamu, bawahan menghadap atasannya.
Salain memang tidak mengenakan alas kaki, Bosnan saat itu juga hanya mengenakan
celana pendek bermuda yang telah kusam dan biasa dipakai untuk tidur saja. Kaus
yang diganakan juga kaus untuk tidur, gombrong dan berkesan lusuh. Bertambah
canggung sikap Bosnan setelah menyadari keadaan pakaiannya saat itu.
Kecanggungannya justru membuat Nyonya Verga mulai menyinggungkan senyum geli,
tapi sangat tipis dan berkesan sinis.
“Wajahmu
tadi lebih pucat daripada mayat”
“O...
ya...?! Hmm, eeh...!” Bosnan mengusap wajahnya sendiri.
“Sudahlah,”
ucapnya pelan sambil meletakkan gelas minumannya. Ia mengambil sebatang rokok
untuk dinyalakan.
“Anggap
saja malam ini adalah malam keberuntunganku,” lalu iapun menyalakan rokok
sendiri. Bosann hanya bisa memandang tanpa mengerti ucapan tadi. Bosnan merasa
tak enak hati lagi, karena tak bisa menyalakan korek untuk rokok Nyonya Verga,
sebab ia memang tak membawa korek api. Korek itu ada di tangan Nyonya Verga,
sehingga Bosnan tak bisa melakukan basa-basi rasa hormatnya.
Hembusan
asap rokok pertama disertai perubahan ekspresi di wajah separoh baya yang masih
tampak cantik dan eksklusif itu. Bosnan merasa lega karena perempuan itu sudah
mulai berwajah sedikit cerah. Tidak segalak tadi. Tapi ia masih belum kuat
menahan tatapan mata indah yang berbinar-binar di balik kesan angkuhnya itu.
“Sejujurnya
aku akan bilang padamu, Bosnan... bukan hanya kamu yang mengalami kejadian aneh
malam ini. Tapi aku sendiri juga mengalaminya. Aneh sekali.”
“O...
ya.?! Benarkah?!” Bosnan tampak bersemangat menatapnya. “Ibu juga mengalami
keanehan setelah bermain kotak kubus itu?!’
“Bukan
itu maksudku,” ralatnya dengan kalem. Pandangan matanya mulai tampak sedikit
redup. Seperti mengantuk. Tapi sebenarnya tidak.
“Agak
berbeda dengan kemisteriusannya yang kau alami. Kemisteriusan ini aku awali
sejak menerima tamu tadi; Zus Ricke dan Bella.”
“Zus
Ricke.. bagian keuangan dikantor itu?”
“Benar.
Entah darimana tadi awalnya... tahu-tahu kami bertiga berbicara tentang
beberapa staf programer dan orang-orang marketing. Lalu... aku banyak bicara
tentang kamu. Banyak bertanya tentang kamu kepada Bella...”
Sampai
disitu perempuan itu diam sebentar. Tersenyum kecil, tampak menahan gelidan
malu sendiri. Ia menyentikkan abu rokoknya ke dalam asbak, lalu kembali duduk
bersandar dengan santai sambil melirik ke arah Bosnan, melanjutkan
kata-katanya.
“Bella
bilang, kamu sudah punya kekasih yang bernama Debby, anaknya Bob Hadiffa. Apa benar
begitu?”
“Yahhh,
hmm... bagaimana ya?” Bosnan jadi kikuk, tersenyum geli dan malu-malu. “Lalu
bagaimana keterangan Bella selanjutnya?”"
“Dia
yakin kalau kamu sudah menjalin hubungan dengan Debby, bahkan dia yakin dalam
waktu dekat kalian akan bertunangan, atau mungkin bahkan menikah.”
“Bella
memang profokator untuk hal-hal begituan, Bu. Konyol anak itu!” Bosnan tertawa,
semakin trampak terlepas dari beban ketegangannya yang tadi.
“Lalu,
aku bilang pada Bella...” sambung Nyonya Verga kalem.
“Bilang
bagaimana, bu?”
“Kubilang...
aku nggak peduli apakah Bosnan mau tunangan atau mau menikah dengan gadis
manapun. Aku nggak peduli semua informasi itu!”
“Maksud...
maksud ibu, bagaimana?”
“Kutegaskan
Bella untuk memanggilmu besok, di kantor. Kusuruh dia menyampaikan pesanku
padamu, bahwa harus menghadap ke ruang kerjaku secepatnya. Bahkan dengan
bercanda aku tadi mengancam Bella, akan mem-PHK dia kalau sampai besok dia
tidak bisa membuatmu datang menghadapku.”
Tawa
geli Bosnan sedikit canggung, karena ia masih belum mengerti mengapa Nyonya
Verga mengultimatum Bella hanya untuk memanggilnya menghadap sang presdir? Tapi
senyum di bibir sensual Nyonya Verga sudah mulai melambangkan makna lain yang
tak berani diyakini oleh hati kecil Bosnan. Sentum itu punya makna pribadi.
Bosnan menyangkal nalurinya sendiri, dan berusaha menganggap senyum nakal itu
tak berarti apa-apa bagi Nyonya Verga.
“Akhirnya...,
tadi Bella pulang dengan agak ketakutan, karena menganggap ancamanku serius,”
lalu tawa lirihnya terdengar ceria. Tapi tetap dengan nada-nada berwibawa dan
kesan terhormat.
“Kenapa
sampai mengancam begitu, Bu?”
“karena
aku memang ingin bicara denganmu.”
“Bukankah
tidak perlu memakai ancaman seperti itu, walaupun dalam artian bercanda?”
“Biar
Bella tahu betul bahwa aku sangat serius ingin bertemu empat mata denganmu.
Bukankah itu hal yang misterius..?”
“Hmm,
iya... memang misterius. Tapi... tapi apa yang membuat ibu sampai seserius itu
punya rasa ingin bertemu dengan saya?” Bosnan semakin ingin tahu Nyonya Verga
sedikit menahan diri untuk tidak langsung mengatakan maksudnya. Bosnan dibuat
sengaja menunggu jawaban dari pertanyaan sambil memperhatikan ke arahnya.
“Apakah
saya telah melakukan pekerjaan yang salah dan...”
“Tidak
ada hubungannya dengan urusan kantor dan perusahaan.!” Sahut Nyonya Verga
dengan tatapan mata makin tampak sedikit sayu. Duduknya masih bersandar santai
sekali. Tapi tatapan sayunya mulai mendebarkan hati Bosnan yang semakin yakin
dengan nalurinya.
“Hubungannya
adalah hubungan pribadi. Bukan hubungan bisnis,” kata Nyonya Verga. “Sudah tiga
hari belakang ini, kita selalu berpapasan di lift, bukan.?”
“Hmm,
oh ya... benar. Saya malah tak sempat mengingat-ingat hal itu Bu. Lalu..?”
“sekali,
dua kali... memang tak terlalu merisaukan hatiku. Tapi papasan kita yang ketiga
kemarin lusa itu, talah membuat hatiku jadi gundah. Aku sering terlintas
memikirkan dirimu secara spontan. Semakin kuhindari bayangmu, semakin
mengganggu ketenangan jiwaku.”
“Oh,
maaf. Saya tidak bermaksud...”
“Aku
yang punya maksud. Bukan kamu!” sahutnya cepat dan tegas. Senyumnya makin
lebar, tapi juga makin menggoda menurut Bosnan.
“Sebelum
maksudku terpenuhi, ketenangan jiwaku tetap terganggu, dan bisa semakin parah.
Maka, tadi kuputuskan untuk menyelesaikan persoalan itu esok hari.”
“Maksud
yang akan terpenuhi itu... maksud yang bagaimana, Bu..?”
Nyonya
Verga makin menatap sayu. Rokoknya dimatikan di asbak. Minumannya diteguk. Tapi
ketika Bosnan ingin ikut mengangkat gelas, tiba-tiba Nyonya Verga menyodorkan
gelas minumannya ke bibir Bosnan. Pemuda itu kaget walaupun tersenyum salah
tingkah. Ia ragu-ragu menyambut sodoran gelas atasannya ke bibirnya. Tapi
pandangan mata Nyonya Verga semakin bermakna mendesaknya. Bahkan disertai
anggukan kepala kecil, juga suara sedikit parau dan lirih.
“Minumlah....!”
Mulai
paham sekali hati Bosnan menerima tawaran itu. Ia sangat mengerti apa yang
diinginkan oleh presidirnya. Debar-debar dalam dadanya begitu kuat, sehingga
yang terminum hanya sedikit. Pada saat itu, tangan Nyonya Verga yang satunya
sudah berada di tengkuk Bosnan. Memberi usapan lembut, menggelitik jemarinya
dengan pelan-pelan sekali. Bosnan tak mungkin mengalihkan matanya, karena hal
itu pasti akan mengecewakan atasannya yang sedang terbakar asmara dan dan
tampak sangat menahan gairah ingin bercumbu dengannya itu.
“Kamu
tahu apa yang aku inginkan saat ini?”
Bosnan
hanya sanggup menganggukkan kepala. Pendek sekali.
“Sudah
lama aku menunggu kesempatan ini. Maukah kau memenuhi keinginanku itu?”
Bisiknya setelah meletakkan gelas di meja.
“Akan
saya coba, kalau memang itu yang Ibu inginkan,” suara Bosnan membisik dan
bergetar, karena api gairah cinta telah membakar sekujur tuybuhnya, sehingga
sentuhan tangan Nyonya Verga yang menerobos dibalik kaos longgar dan bermain di
dada Bosnan itu sangat terasa deras desiran indahnya di seluruh tubuh Bosnan.
Tapi pemuda itu masih takut mengawalinya, hanya diam menatap tanpa reaksi yang
lebih berani lagi. Akhirnya janda berhidung mancung itu berkatas dengan suara
yang semakin parau.
“Lakukanlah
mulai sekarang. Jangan semakin menyiksaku.”
Dengan
hati-hati dan gemetar sekali Bosnan mendekatkan mulutnya dan mengecup kening
Nyonya Verga. Kecupan itu sangat lembut, tapi membuat darah kemesraan Nyonya
Verga semakin mendidih. Perempuan itu meremas pelan dada Bosnan, karena bibir
Bosnan masih menempel lama dikeningnya. Kehangatan terasa mengalir dari dana. Bibir
itu seperti ragu-ragu utnuk turun ke bawah, sehingga Nyonya Verga akhirnya
menarik diri. Menatap agak kesal tapi penasaran.
“Tak
cukup hanya di kening.”
“Lalu....
dimana lagi seharusnya.?” Bosnan sengaja mengulur waktu karena ingin
meyakinkan, benarkah yang dihadapinya itu adalah kenyataan, dan bukan sekedar
ilusi lagi.
Nyonya
Verga membawa Bosnan ke ranjang. Tapi ketika pemuda itu ingin memeluk dan mencium
wajahnya, Nyonya Verga menolak.
“Tunggu....!”
ia pun bergegas memadamkan lampu. Hanya lampu-lampu kecil yang menempel pada
setiap sudut dan tertutup kap lampu dari fiberglas berbentuk kelopak bunga saja
yang menyala. Membuat suasana menjadi temaram, sangat romantis, penuh nuansa
kemesraan yang befitu hangat.
Nyonya
Verga kembali ke ranjang, tapi bersebrangan tempat dengan Bosnan. Matanya
menatap lekat kepada Bosnan, tapi tangannya melepas gaun yang dikenakan secara
perlahan-lahan sekali. Sepertinya dengan sengaja menggoda hasrat lawan jenisnya
supaya lebih bergairah lagi. Bosnan diam terpaku dengan mata tak berkedip.
Ketika
pemuda itu ingin mencium wajahnya, Nyonya Verga menolak.
“Bawah
dulu, baru atas....!” perintahnya terkesan angkuh dan keras kepala. Bosnan
mengetahui keinginan selera Nyonya Verga, maka ciuman itu jatuh di tulang
kering Nyonya Verga. Lalu, merayap naik, dan naik, dan naik lagi. Bukan hal
sulit bagi Bosnan untuk memenuhi keinginan perempuan itu, karena sebelumnya ia
sudah sering melakukannya bersama Debby. Namun agaknya Debby tidak seganas yang
satu ini. Bosnan membiarkan rambutnya diremas-remas oleh kedua tangan Nyonya
Verga dengan gairah yang meluap-luap.
Angin
cinta menghempas kuat. Awan bergulung-gulung saling melilit kuat. Sentakan
suara cinta memenuhi kamar tersebut. Bumi berderak seperti mau pecah. Suaranya
berkepanjangan saat Bosnan dituntut menyelesaikan perkaranya secara jantan.
Maka, suara berderak seperti bumi mau terbelah semakin keras saat Bosnan
melepaskan bendungan cinta, dan mata air pun begitu derasnya menerjang dinding
perbatasan yang paling rawan.
Pada
saat itulah lampu padam semua. Gelap sekali. Tapi makhluk berkeringat licin itu
masih meronta terus dalam pelukan Bosnan. Membawakan tarian puncak asmara, dan
perlawanan Bosnan tidak hanya sampai disitu saja. Lampu padam, kamar menjadi
gelap, bvukan suatu penghalang bagi Bosnan untuk menaklukkan keganasan cinta
lawannya. Tanda-tanda kepuasan yang paling indah mulai dirasakan Bosnan berupa
rematan kedua tangan berjari lentik pada kulit punggungnya.
Entah
mengapa, Bosnan cepat kehilangan tenaganya. Ketika sama-sama terkulai lemas,
Bosnan nyaris tak memiliki tenaga sedikit pun. Rasa kantuk menyerangnya begitu
kuat. Deru nafasnya mereda dengan sendirinya. Tak tahu sampai berapa lama ia
terkapar di samping tubuh sexy tanpa selimut itu. Yang jelas, beberapa waktu
kemudian Bosnan mengalami kejutan fisik. Seperti sedang enak-enak tidur harus
terjaga seketika karena jatuh dari ranjang.
“Ohhh,
untung cuma perasaanku saja. Bukan jatuh dari ranjang beneran,” pikir Bosnan sambil
menggeliat. Tangannya meraba nakal ke dada berkulit halus mulus itu. Tetapi
batinnya curiga, ada keganjilan yang ia temukan dalam kenakalan itu. Mengapa
tak sebesar ukuran yang pernah dirasakan sebelum tidur tadi? Mengapa yang
terpegang oleh tangannya bukan sebentuk kemontokan yang cukup wow.... teteapi
kegempalan dada yang sedikit membusung, kencang, berisi padat, dan memiliki
pucuk-pucuk yang kecil.
Bosnan
pun membuka matanya.ternyata ia harus tersentak bangkit dan terbelalak kaget.
Bukan sosok gempal Nyonya Verga yang berada di sampingnya, melainkan sosok yang
ramping, sintal, dan sangat ideal dengan ukuran badannya. Bukan wanita berambut
panjang yang tadi dijamahnya dengan mata terpejam, melainkan gadis berambut
sangat pendek dengan bibir sedikit lebih tebal menggemaskan dibanding bibir
Nyonya Verga.
“Lilu...?!”
seru Bosnan dengan suara mendesah tegang. Ia ingat, gadis yang ditemuinya dalam
kegelapan pandangan mata dan membawa lilin hijau itulah yang kini ada di
sampingnya. Gadis itu adalah Lilu. Kecantikannya masih unggul dibanding Nyonya
Verga. Tapi... mengapa gadis itu kini ada di sampingnya?
Mengapa
ternyata ia sudah berada di atas ranjangya sendiri bersama Lilu? Mengapa pula
ia dan Lilu bisa berada di dalam kamarnya, di tempat kost yang sudah hampir
satu tahun ditempati itu? Lalu kemana si Janda pemilik gairah membara tadi?
Sejak kapan ia sudah keluar dari kamr mewah tempat pergumulan mesranya dengan
sang presdir kesepian itu?
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar