Minggu, 01 April 2012

PERMAINAN IBLIS JILID 2


2
D
alam kegelapan yang serba hitam pekat itu, Bosnan mencoba untuk pindah ke ranjang. Setelah beberapa kali ia berteeriak keras-keras memanggil Samora atau Ruyan namun tak ada jawaban dari mereka, Bosnan merasa putus asa. Ia menyangka teman-teman kostnya telah tenggelam dalam kelelapan tidur sehingga tak bisa mendengar seruannya. Tak ada jalan lain bagi Bosnan untuk menenangkan kepanikannya selain diam berbaring di ranjang. Ia yakin kebutaan ini tidak akan selamanya. Pasti hanya karena pengaruh cahaya putih tadi yang mengaburkan pandangan matanya beberapa saar. Entah berapa lama lagi penglihayannya pasti akan pulih kembali seperti semula. Bosnan merasa tak perlu gugup dan lebih baik menunggu saatnya normal kembali dengan sabar.
Langkahnya sangat hati-hati ketika ia menuju ke ranjang. Tangannya berusaha meraba apapun yang berada di depannya agar tak membentur kepala atau kakinya. Selangkah demi selangkah ia lakukan penuh hati-hati sekali. Tapi lama-lama hati kecilnya menjadi curiga, mengapa sudah lima langkah dia belm menyentuh tepian ranjang? Bosnan masih ingat, jarak antara kursi tempatnya duduk tadi dengan ranjang tidak lebih dari empoat langkah. Kalau toh arah langkah kakinya salah jalan, pasti ia akan menyentuh tempat sepatu atau justru akan menabrak lemari baju setelah lima langkah lebih.
“Gila..?! Nggak ada barang apapun yang kusentuh?! Padahal aku sudah melangkah lebih dari tujuh kali.?!” Pikirnya penuh keheranan. Kecemasan yang tadi sudah mau reda, kini tumbuh kembali dengan detak jantung menjadi cepat seperti semula. Tangannya mencoba meraba kasena-sini, tapi tak ada benda apapun yang disentuhnya. Namun, ia tetap mencoba untuk melangkah dan terus, sampai lebih dari sepuluh langkah. Bahkan sekarang kakinya yang tidak memakai sendal apapun itu terasa bukan lagi menapak di lantai berubin keramik halus, melainkan seperti berjalan diatas bentangan permadani berbulu halus, tebal dan empuk.
“Permadaninya siapa ini? Rasa-rasanya aku nggak pernah memasang permadani di kamarku ini?!” pikir Bosnan sambil semakin diliputi perasaan tak menentu. Gundah dan rasa kesal.
Entah sudah berapa kali Bosnan melangkah tanpa menyentuh apa-apa, sampai akhirnya ia memutuskan untuk berhenti dan menenangkan pernafasannya yang menegang. Ia menyimak suara setajam mungkin, namun tidak ada suara apapun yang didengarnya kecuali hanya keheningan sepi tanpa batas. Hembusan anginpun tak ada, bahkan engahan nafasnya pun sulit ditangkap pendengaranannya sendiri. Yang paling jelas dirasakan hanya getaran detak jantungnya yang menyentak-nyentak mengguncangkan seluruh tubuh, tapi suaranya tak terdengar sedikitpun.
“Ada dimana aku ini sebenarnya? Gawat! Kenapa sampai bisa begini nasibku? Kotak permainannya itu ternyata memiliki kekuatan ghaib yang... benar-benar menjadi kenyataan dan baru kali ini kualami kemisteriusannya. Oohh, kepada siapa aku harus meminta bantuan jika berada dalam kegelapan begini? Langkahku kembali ke kursi tadi, tapi toh tak kutemukan meja dan kursiku yang tadi?! Aku seperti berada di tempat yang lapang beralaskan permadani yang empuk. Tempat apa ini sebenarnya?” sambil kaki Bosnan meraba-raba permukaan lantai yang dipijaknya. Masih berbulu halus dan lembut.
Ia berdiri dengan bergerak memutar perlahan-lahan, mencoba melebarkan mata utnuk menangkap bayangan. Tapi sampai dua kali memutar tak ada bayangan atau berkas sinar apapun yang dilihatnya. Maka iapun memutuskan untuk duduk di tempat tersebut, menunggu perkembangan yang terjadi. Kakinya terasa pegal sekali, seperti habis melakukan perjalanan jauh, sehingga ia butuh isterahat dengan duduk di lantai berbulu halus itu. Namun sebelum ia meletakkan pantatnya di lantai itu, tiba-tiba ia mendengar suara seperti ranting patah diinjak oleh seseorang.
Krek..! dengan cepat ia berpaling ke arah datangnya suara tersebut. Hatinya berdebar kuat penuh harap, karena pada saat itu dia mulai melihat setitik sinar di kejauhan sana. Seperti seseorang yang menyalakan korek api dengan nyala apinya yang kecil. Bosnan menjadi girang bercampur tegang, karena kini ia bisa melihat setitik api di kejauhan sana. Api itu mendekatinya perlahan-lahan. Bosnan bersiap-siap melakukan sesuatu untuk menyelamatkan diri jika api tersebut membahayakannya. Tapi ia sengaja tak menjauhi api tersebut. Ia sengaja menunggu sampai api tersebut lebih dekat dengannya, lebih jelas lagi apa gerangan yang bisa membuat api itu mendekat padanya.
“Ooh, wajah itu,,,?! Astaga.... seorang gadis cantik rupanya?!” Bosnan bergumam dalam hati dengan detak jantung makin menyentak. Pandangan matanya kini semakin jelas, semakin normal kembali.
Seraut wajah ayu tampak jelas diterangi oleh nyala api di ujung lilin hijau. Nyala api itu tidak seperti biasa, mempunyai warna hijau uranium yang makin lama makin cerah, indah sekali. Sinar itu mempercantik seraut wajah berpotongan rambut pendek, cepak. Seperti potongan rambut lelaki. Gadis pemilik lilin hijau itu bertubuh tinggi, sintal, punya daya pikat besar pada bentuk sexy bagian-bagian tertentu, seperti dada yang sekal dan membusung padat, serta bokong yang gempal dengan pinggulnya yang berayun-ayun ketika berjalan seperti ingin mengelilingi Bosnan. Semakin dekat semakin jelas rupa dan potongan tubuh gadis muda berpakaian bra terusan warna hitam, panjangnya hanya sampai separuh paha kurang. Tali bra sangat kecil dan berleher rendah, sehingga membentuk sepasang bukitnya terlihat sebagian juga membayang di balik kain tipis bra hitam itu. Kontras sekali dengan warna kulitnya yang putih mulus.
“Apakah kau bersedia membantuku, supaya aku bersedia membantumu juga, Bosnan.?!” tegur gadis yang belum dikenalnya, tapi sudah tahu nama Bosnan. Ia berhenti pada jarak 5 meter sehingga gerak bibir sensualnya saat bicara dapat terlihat jelas oleh mata Bosnan. Menggiurkan sekali bibir itu saat bicara dan menyunggingkan senyum tipis.
“Aku... aku terjebak dalam kegelapan ini. Aku tak tahu sedang berada dimana. Tapi... tapi seandainya kau mau membantuku, akupun akan membantu kesulitanmu sebagai balasannya, Nona. Hmm... terus terang, aku belum mengenal siapa dirimu, Nona.”
“Lilu....,” jawabnya agak parau tapi diiringi senyum tipis lagi. Kali ini senyum tipis itu terkesan sangat bersahabat.
“Lilu...? itukah namamu.?!”
“ya, memang Lilu adalah namaku. Kau belum mengenalku, tapi aku sudah mengenalmu sejak kau memungut benda itu, Bosnan.”
 “Maksudmu benda...”
“Aku harus membebaskan dirimu dari kegelapan!” sahut Lilu dengan tegas, kemudian lilin hijau itu dilempar ke atas, seperti dibuang ke belakang. Wuuut....! nyala apinya menjadi besar sekali dalam satu sentakan cahaya yang melebar terang, sangat terang dang sangat menyilaukan mata Bosnan seperti pertama kali. Wuuuubs...!
“Ohhh....?!” Bosnan merunduk, melindungi matanya dengan lengan. Ia khawatir akan menjadi buta kembali. Tapi ketika matanya berkedap-kedip beberapa kali, ia mulai dapat melihat suasana terang. Maka kepalanya pun menjadi tegak kembali, menatap ke arah depan, dan ternyata ia tidak menjadi buta. Ia dapat melihat di sekelilingnya dengan jelas dan normal, seperti biasa. Hanya saja ia merasa terkejut begitu mengenali keadaan sekelilingnya.
Ternyata ia berada di sebuah kamar tidur berperabot mewah. Ranjangnya dari logam menyerupai emas murni. Berukuran lebar dan berkasur empuk, lembut. Warna seperainya berwarna hijau soft yang terbuat dari kain yang halus sekali. Lantai sekeliling ranjang tertutup permadani hijau tua seperti rumput menghampar, dan bulu-bulunya sangat lembut di kaki. Rupanya permadani itulah yang sejak tadi dirasakan sebagai tempat berjalan kakinya.
Kamar tidur besar dilengkapi dengan meja kerja dan komputer di sisi sudut sana itu memiliki dua cermin dan meja rias. Keduanya berseberangan dengan ranjang. Cerminnya cukup lebar dan tinggi. Meja riasnya dari marmer putih dengan lis logam kuning seperti emas. Tapi bukan emas asli. Kamar bereterni tinggi itu memiliki dua pintu, yang satu tebal berukir dari kayu warna cokelat mengkilat, sepertinya pintu keluar masuk kamar tersebut, sedangkan yang sarunya di sudut dengan pintu kecil. Mungkin pintu kamar mandi. Tapi juga dari kayu berukir kualitas nomor satu. Barang-barang lainnya sempat membuat Bosnan tercengang-cengang mamandanginya, karena ia tahu betul harga barang-barang itu pasti sangat mahal, termasuk TV layar datar 36 inch bersama satu set peralatan elektronik lainnya yang bermerek kelas dunia. Belumlagi bar kecil di belakang satu set sofa hijau lumut yang berkualitas eksport, yang sudah pasti diminati orang-orang berkelas.
“Kamar tidur siapa ini?” Bosnan bertanya pada dirinya sendiri sambil memandang tegang kesana kemari. Ia masih sangat asing dengan kamar tidur itu. Sama sekali belum pernah datang kesitu atau melihatnya dari  gambar manapun. Sebuah jam dinding berbentuk menyerupai berlian besar memiliki angka-angka dan jarum besar merah menyala. Jam itu menunjukkan pukul 12:10 malam. Sebab dari cerah gordyn kamar berdinding kaca yang menghadap ke balkon itu Bosnan mengetahui bahwa suasana di luar masih gelap gulita. Sepi. Dan agaknya lebih sunyi suasana di dalam kamar itu.
Tapi hidungnya yang sejak tadi mencium aroma parfum lembut sensual, Bosnan yakin bahwa belum lama tadi kamar yang masih serba bersih dan rapi dengan penerangan yang cukup itu pernah dipakai oleh seorang perempuan untuk berhias. Aroma pefumnya dikenali sebagai aroma parfum khas seorang wanita elite. Siapa wanita itu dan siapa suaminya, Bosnan tak bisa menerka-nerka. Sebab wangi parfum yang menyebar di seluruh kamar itu adalah wewangian yang belum pernah dikenalnya.
Keberadaannya di kamar itu bisa menjadi bencana tersendiri bagi nama baiknya. Ia bisa saja dituduh sebagai pencuri yang berhasil memasuki kamar tersebut. Tentu saja si pemilik kamar, pria atau wanita, tidak akan mudah mempercayai cerita anehnya itu. Maka, langkah terbaik baginya adalah keluar dari kamar itu sebelum pemilik kamar memergokinya disitu.
Klek....!!
“Wah, gawat nih?!” pekik hati Bosnan seketika, karena baru saja ia ingin melanhkah menuju ke pintu balkon, ternyata pintu utama sudah dibuka dan seorang wanita sedang masuk dengan sangat tenang. Menggunakan gaun tidur dan menggenggam sebungkus rokok bersama korek apinya. Sepertinya perempuan berusia 40 tahun itu baru saja selesai menerima tamu di lantai bawah. Ia belum menyadari bahwa di dalam kamarnya ada orang lain; seorang pemuda beralis tebal dan memiliki kesan jantan yang menawan, sedang berdiri dalam kebingungan yang sangat menegangkan.
Rupanya pada saat itu ketegangan Bosnan memang mencapai puncaknya. Hampir saja ia tidak bisa bernafas karena sentakan rasa kaget yang menohok kuat ulu hatinya. Detak jantung sudah tak terkendali lagi cepatnya, sudah tak bisa lagi diukirkan lagi kerasnya. Ia yakin sekujur wajahnya pasti pucat pasi, serupa dengan sehelai kertas kerja tanpa kop surat. Bagaimana ia tak mencapai puncak ketegangan, karena perempuan separoh baya yang masih memiliki tubuh sekal dan masih bisa digolongkan sexy itu adalah orang yang cukup dikenalnya, walau tak begitu dekat. Perempuan berwajah cantik penuh kematangan pribadi dan bermata indah namun tajam berwibawa sedikit galak itu adalah Presiden Direktur di perusahaan tempatnya bekerja. Yang jarang sekali berkomunikasi langsung dengannya.
“Bu Verga...?!” Bosnan terucap dalam hati dengan gemetar ketika perempuan itu berpaling ke arahnya dan terperanjat kaget sekali melihat keberadaannya disitu. Hampir saja Bu Verga menjerit dan berlari kalau saja perempuan itu tidak segera mengenali ada wajah seorang lelaki yang tidak asing baginya.
“Kamu...?! Bukankah... Bukankah kamu adalah...”
“Bosnan! Iya, Bu...! saya adlah Bosnan!” sahutnya dengan menggeraga, ingin menunjukkan sikap bahwa ia sebenarnya tidak bersalah dan sangat menyesal berda di kamar it. Tetapi tatapan mata Bu Verga semakin tajam dan penuh kecurigaan. Nafasnya tampak begitu cepat, sehingga dadanya yang masih montok dan kencang itu tampak jelas naik turun dengan jelas. Dada tersebut hanya terbungkus kain halus, lembut, berleher rendah. Bentuknya tampak membayang di kelembutan gaunnya.
“Apa maksudmu masuk dikamarku, hah?!” Bu Verga yang sangat disegani oleh Bosnan dan orang-orang bawahan lainnya itu mulai menampakkkan kemarahannya. Matanya terbelalak penuh keberanian. Tapi ia tak berani mendekat, karena sangat waspada dan hati-hati sekali menghadapi tamu tak diundang itu. Janda beranak tiga yang kini ketiga anaknya melanjutkan sekolahnya di luar negeri itu bergeser pelan-pelan mendekati meja rias, berseberangan ranjang dengan posisi Bosnan berdiri. Tangannya pelan-pelan membuka laci meja, tampaknya ada senjata yang ingin diambilnya dari laci tersebut untuk membela diri jika sewaktu-waktu mendapat serangan. Tapi Bosnan segera menjelaskan kenyataan aneh yang dialaminya itu setelah menelan ludahnya satu kali dan berusaha menenangkan dirinya yang sangat gemetaran itu.
“Demi Tuhan ini semua bukan kehendak saya, Bu. Saya tidak pernah punya rencana segila ini, apalagi saya tahu siapa Bu Verga dan siapa saya. Apa yang saya ceritakan itu sungguh-sungguh kejadian yang saya alami. Kalau tidak percaya saya akan membawakan kotak permainan itu kepada ibu sebagai bukti!”
Cukup lama janda berkulit putih itu sengaja diam tanpa komentar dengan mata tajamnya yang mengagumkan kaum lelaki menatap Bosnan tana berkedip. Bosnan menjadi salah tingkah sendiri dipandang setajam itu. Menurutnya, tatapan Nyonya Verga seperti mesin pengorek seluruh isi hati dan pikiran, sehingga setiap kali bosnan ingin bicara selalu saja ragu dan dibatalkan.
“Duduklah...!” perintah Nyonya Verga dengan ekspresi keras.
“Sebaiknya saya bawa bukti itu kemari sekarang juga supaya...”
“Duduklah!” tegasnya semakin berwibawa dengan bahasa isyarat menyuruh Bosnan duduk di sofa yang berjarak 5 meter dari ranjang. Akhirnya, mau tak mau Bosnan mengikuti perintah itu untuk membuktikan bahwa ia tidak bermaksud jahat kepada Nyonya Verga.
“Ceritamu itu dapat kupercaya, Bosnan?!”
“Sekali lagi saya bersumpah, biar saya mati seketika juga kalau saya berbohong kepada Ibu,” jawabnya dengan hormat dan tampak mengharap kepercayaan setulusnya dari perempuan itu.
Sorot pandangan Bosnan ditatapnya lekat-lekat sekali lagi. Kemudian ia yampak menarik nafas sambil melangkah menuju ke bar kecil. Bosnan jhanya bisa menunduk, tak ingin menengok ke belakang, sehingga tak tahu apa yang dilakukan oleh orang nomor satu di kantornya itu. Sebentar kemudian terdengar suara perempuan berambut panjang selewat punggung yang digulung ke atas sekenanya itu berkata sedikit keras.
“Mau minum apa kamu?! Whisky, champagne, atau... bir?!”
“Hmmm, ehhh, hmmm... saya...” Bosnan semakin bingung bersikap dalam suasana seperti itu. Nyonya Verga mulai tampak berubah sikap. Bahkan tanpa banyak pertimbangan lagi menyodorkan sebotol Champagne, menyuruh Bosnan menuangkan ke dalam dua gelas yang kini diletakkan di meja depan tempat duduk Bosnan. Mau tak mau Bosnan kembali menuruti keinginan atasannya itu.
“Untuk sementara ini aku mempercayai ceritamu itu. Aku bisa merasakan kegundahan hatimu yang seperti dipermainkan oleh kekuatan setan,” kata Nyonya Verga setelah meneguk minumannya, duduk di sofa itu juga. Tepat di samping kanan Bosnan.
“Tenangkan hatimu,” tambahnya. “Rileks saja. Anggap kamu datang bertamu ke rumahku ini atas undangan diriku. Okey?!”
“terima kasih Bu Verga,” senyum Bosnan masih kikuk dan hambar. “Tapi... tapi boleh saya tahu mengapa Bu Verga mempercayai cerita saya? Apakah...?”
“Kamu tidak pakai alas kaki apapun, bukan?”
Bosnan sedikit tercengang, baru menyadari keadaan dirinya yang sebenarnya sangat kurang etis jika dianggap sebagai seoarng tamu, bawahan menghadap atasannya. Salain memang tidak mengenakan alas kaki, Bosnan saat itu juga hanya mengenakan celana pendek bermuda yang telah kusam dan biasa dipakai untuk tidur saja. Kaus yang diganakan juga kaus untuk tidur, gombrong dan berkesan lusuh. Bertambah canggung sikap Bosnan setelah menyadari keadaan pakaiannya saat itu. Kecanggungannya justru membuat Nyonya Verga mulai menyinggungkan senyum geli, tapi sangat tipis dan berkesan sinis.
“Wajahmu tadi lebih pucat daripada mayat”
“O... ya...?! Hmm, eeh...!” Bosnan mengusap wajahnya sendiri.
“Sudahlah,” ucapnya pelan sambil meletakkan gelas minumannya. Ia mengambil sebatang rokok untuk dinyalakan.
“Anggap saja malam ini adalah malam keberuntunganku,” lalu iapun menyalakan rokok sendiri. Bosann hanya bisa memandang tanpa mengerti ucapan tadi. Bosnan merasa tak enak hati lagi, karena tak bisa menyalakan korek untuk rokok Nyonya Verga, sebab ia memang tak membawa korek api. Korek itu ada di tangan Nyonya Verga, sehingga Bosnan tak bisa melakukan basa-basi rasa hormatnya.
Hembusan asap rokok pertama disertai perubahan ekspresi di wajah separoh baya yang masih tampak cantik dan eksklusif itu. Bosnan merasa lega karena perempuan itu sudah mulai berwajah sedikit cerah. Tidak segalak tadi. Tapi ia masih belum kuat menahan tatapan mata indah yang berbinar-binar di balik kesan angkuhnya itu.
“Sejujurnya aku akan bilang padamu, Bosnan... bukan hanya kamu yang mengalami kejadian aneh malam ini. Tapi aku sendiri juga mengalaminya. Aneh sekali.”
“O... ya.?! Benarkah?!” Bosnan tampak bersemangat menatapnya. “Ibu juga mengalami keanehan setelah bermain kotak kubus itu?!’
“Bukan itu maksudku,” ralatnya dengan kalem. Pandangan matanya mulai tampak sedikit redup. Seperti mengantuk. Tapi sebenarnya tidak.
“Agak berbeda dengan kemisteriusannya yang kau alami. Kemisteriusan ini aku awali sejak menerima tamu tadi; Zus Ricke dan Bella.”
“Zus Ricke.. bagian keuangan dikantor itu?”
“Benar. Entah darimana tadi awalnya... tahu-tahu kami bertiga berbicara tentang beberapa staf programer dan orang-orang marketing. Lalu... aku banyak bicara tentang kamu. Banyak bertanya tentang kamu kepada Bella...”
Sampai disitu perempuan itu diam sebentar. Tersenyum kecil, tampak menahan gelidan malu sendiri. Ia menyentikkan abu rokoknya ke dalam asbak, lalu kembali duduk bersandar dengan santai sambil melirik ke arah Bosnan, melanjutkan kata-katanya.
“Bella bilang, kamu sudah punya kekasih yang bernama Debby, anaknya Bob Hadiffa. Apa benar begitu?”
“Yahhh, hmm... bagaimana ya?” Bosnan jadi kikuk, tersenyum geli dan malu-malu. “Lalu bagaimana keterangan Bella selanjutnya?”"
“Dia yakin kalau kamu sudah menjalin hubungan dengan Debby, bahkan dia yakin dalam waktu dekat kalian akan bertunangan, atau mungkin bahkan menikah.”
“Bella memang profokator untuk hal-hal begituan, Bu. Konyol anak itu!” Bosnan tertawa, semakin trampak terlepas dari beban ketegangannya yang tadi.
“Lalu, aku bilang pada Bella...” sambung Nyonya Verga kalem.
“Bilang bagaimana, bu?”
“Kubilang... aku nggak peduli apakah Bosnan mau tunangan atau mau menikah dengan gadis manapun. Aku nggak peduli semua informasi itu!”
“Maksud... maksud ibu, bagaimana?”
“Kutegaskan Bella untuk memanggilmu besok, di kantor. Kusuruh dia menyampaikan pesanku padamu, bahwa harus menghadap ke ruang kerjaku secepatnya. Bahkan dengan bercanda aku tadi mengancam Bella, akan mem-PHK dia kalau sampai besok dia tidak bisa membuatmu datang menghadapku.”
Tawa geli Bosnan sedikit canggung, karena ia masih belum mengerti mengapa Nyonya Verga mengultimatum Bella hanya untuk memanggilnya menghadap sang presdir? Tapi senyum di bibir sensual Nyonya Verga sudah mulai melambangkan makna lain yang tak berani diyakini oleh hati kecil Bosnan. Sentum itu punya makna pribadi. Bosnan menyangkal nalurinya sendiri, dan berusaha menganggap senyum nakal itu tak berarti apa-apa bagi Nyonya Verga.
“Akhirnya..., tadi Bella pulang dengan agak ketakutan, karena menganggap ancamanku serius,” lalu tawa lirihnya terdengar ceria. Tapi tetap dengan nada-nada berwibawa dan kesan terhormat.
“Kenapa sampai mengancam begitu, Bu?”
“karena aku memang ingin bicara denganmu.”
“Bukankah tidak perlu memakai ancaman seperti itu, walaupun dalam artian bercanda?”
“Biar Bella tahu betul bahwa aku sangat serius ingin bertemu empat mata denganmu. Bukankah itu hal yang misterius..?”
“Hmm, iya... memang misterius. Tapi... tapi apa yang membuat ibu sampai seserius itu punya rasa ingin bertemu dengan saya?” Bosnan semakin ingin tahu Nyonya Verga sedikit menahan diri untuk tidak langsung mengatakan maksudnya. Bosnan dibuat sengaja menunggu jawaban dari pertanyaan sambil memperhatikan ke arahnya.
“Apakah saya telah melakukan pekerjaan yang salah dan...”
“Tidak ada hubungannya dengan urusan kantor dan perusahaan.!” Sahut Nyonya Verga dengan tatapan mata makin tampak sedikit sayu. Duduknya masih bersandar santai sekali. Tapi tatapan sayunya mulai mendebarkan hati Bosnan yang semakin yakin dengan nalurinya.
“Hubungannya adalah hubungan pribadi. Bukan hubungan bisnis,” kata Nyonya Verga. “Sudah tiga hari belakang ini, kita selalu berpapasan di lift, bukan.?”
“Hmm, oh ya... benar. Saya malah tak sempat mengingat-ingat hal itu Bu. Lalu..?”
“sekali, dua kali... memang tak terlalu merisaukan hatiku. Tapi papasan kita yang ketiga kemarin lusa itu, talah membuat hatiku jadi gundah. Aku sering terlintas memikirkan dirimu secara spontan. Semakin kuhindari bayangmu, semakin mengganggu ketenangan jiwaku.”
“Oh, maaf. Saya tidak bermaksud...”
“Aku yang punya maksud. Bukan kamu!” sahutnya cepat dan tegas. Senyumnya makin lebar, tapi juga makin menggoda menurut Bosnan.
“Sebelum maksudku terpenuhi, ketenangan jiwaku tetap terganggu, dan bisa semakin parah. Maka, tadi kuputuskan untuk menyelesaikan persoalan itu esok hari.”
“Maksud yang akan terpenuhi itu... maksud yang bagaimana, Bu..?”
Nyonya Verga makin menatap sayu. Rokoknya dimatikan di asbak. Minumannya diteguk. Tapi ketika Bosnan ingin ikut mengangkat gelas, tiba-tiba Nyonya Verga menyodorkan gelas minumannya ke bibir Bosnan. Pemuda itu kaget walaupun tersenyum salah tingkah. Ia ragu-ragu menyambut sodoran gelas atasannya ke bibirnya. Tapi pandangan mata Nyonya Verga semakin bermakna mendesaknya. Bahkan disertai anggukan kepala kecil, juga suara sedikit parau dan lirih.
“Minumlah....!”
Mulai paham sekali hati Bosnan menerima tawaran itu. Ia sangat mengerti apa yang diinginkan oleh presidirnya. Debar-debar dalam dadanya begitu kuat, sehingga yang terminum hanya sedikit. Pada saat itu, tangan Nyonya Verga yang satunya sudah berada di tengkuk Bosnan. Memberi usapan lembut, menggelitik jemarinya dengan pelan-pelan sekali. Bosnan tak mungkin mengalihkan matanya, karena hal itu pasti akan mengecewakan atasannya yang sedang terbakar asmara dan dan tampak sangat menahan gairah ingin bercumbu dengannya itu.
“Kamu tahu apa yang aku inginkan saat ini?”
Bosnan hanya sanggup menganggukkan kepala. Pendek sekali.
“Sudah lama aku menunggu kesempatan ini. Maukah kau memenuhi keinginanku itu?” Bisiknya setelah meletakkan gelas di meja.
“Akan saya coba, kalau memang itu yang Ibu inginkan,” suara Bosnan membisik dan bergetar, karena api gairah cinta telah membakar sekujur tuybuhnya, sehingga sentuhan tangan Nyonya Verga yang menerobos dibalik kaos longgar dan bermain di dada Bosnan itu sangat terasa deras desiran indahnya di seluruh tubuh Bosnan. Tapi pemuda itu masih takut mengawalinya, hanya diam menatap tanpa reaksi yang lebih berani lagi. Akhirnya janda berhidung mancung itu berkatas dengan suara yang semakin parau.
“Lakukanlah mulai sekarang. Jangan semakin menyiksaku.”
Dengan hati-hati dan gemetar sekali Bosnan mendekatkan mulutnya dan mengecup kening Nyonya Verga. Kecupan itu sangat lembut, tapi membuat darah kemesraan Nyonya Verga semakin mendidih. Perempuan itu meremas pelan dada Bosnan, karena bibir Bosnan masih menempel lama dikeningnya. Kehangatan terasa mengalir dari dana. Bibir itu seperti ragu-ragu utnuk turun ke bawah, sehingga Nyonya Verga akhirnya menarik diri. Menatap agak kesal tapi penasaran.
“Tak cukup hanya di kening.”
“Lalu.... dimana lagi seharusnya.?” Bosnan sengaja mengulur waktu karena ingin meyakinkan, benarkah yang dihadapinya itu adalah kenyataan, dan bukan sekedar ilusi lagi.
Nyonya Verga membawa Bosnan ke ranjang. Tapi ketika pemuda itu ingin memeluk dan mencium wajahnya, Nyonya Verga menolak.
“Tunggu....!” ia pun bergegas memadamkan lampu. Hanya lampu-lampu kecil yang menempel pada setiap sudut dan tertutup kap lampu dari fiberglas berbentuk kelopak bunga saja yang menyala. Membuat suasana menjadi temaram, sangat romantis, penuh nuansa kemesraan yang befitu hangat.
Nyonya Verga kembali ke ranjang, tapi bersebrangan tempat dengan Bosnan. Matanya menatap lekat kepada Bosnan, tapi tangannya melepas gaun yang dikenakan secara perlahan-lahan sekali. Sepertinya dengan sengaja menggoda hasrat lawan jenisnya supaya lebih bergairah lagi. Bosnan diam terpaku dengan mata tak berkedip.
Ketika pemuda itu ingin mencium wajahnya, Nyonya Verga menolak.
“Bawah dulu, baru atas....!” perintahnya terkesan angkuh dan keras kepala. Bosnan mengetahui keinginan selera Nyonya Verga, maka ciuman itu jatuh di tulang kering Nyonya Verga. Lalu, merayap naik, dan naik, dan naik lagi. Bukan hal sulit bagi Bosnan untuk memenuhi keinginan perempuan itu, karena sebelumnya ia sudah sering melakukannya bersama Debby. Namun agaknya Debby tidak seganas yang satu ini. Bosnan membiarkan rambutnya diremas-remas oleh kedua tangan Nyonya Verga dengan gairah yang meluap-luap.
Angin cinta menghempas kuat. Awan bergulung-gulung saling melilit kuat. Sentakan suara cinta memenuhi kamar tersebut. Bumi berderak seperti mau pecah. Suaranya berkepanjangan saat Bosnan dituntut menyelesaikan perkaranya secara jantan. Maka, suara berderak seperti bumi mau terbelah semakin keras saat Bosnan melepaskan bendungan cinta, dan mata air pun begitu derasnya menerjang dinding perbatasan yang paling rawan.
Pada saat itulah lampu padam semua. Gelap sekali. Tapi makhluk berkeringat licin itu masih meronta terus dalam pelukan Bosnan. Membawakan tarian puncak asmara, dan perlawanan Bosnan tidak hanya sampai disitu saja. Lampu padam, kamar menjadi gelap, bvukan suatu penghalang bagi Bosnan untuk menaklukkan keganasan cinta lawannya. Tanda-tanda kepuasan yang paling indah mulai dirasakan Bosnan berupa rematan kedua tangan berjari lentik pada kulit punggungnya.
Entah mengapa, Bosnan cepat kehilangan tenaganya. Ketika sama-sama terkulai lemas, Bosnan nyaris tak memiliki tenaga sedikit pun. Rasa kantuk menyerangnya begitu kuat. Deru nafasnya mereda dengan sendirinya. Tak tahu sampai berapa lama ia terkapar di samping tubuh sexy tanpa selimut itu. Yang jelas, beberapa waktu kemudian Bosnan mengalami kejutan fisik. Seperti sedang enak-enak tidur harus terjaga seketika karena jatuh dari ranjang.
“Ohhh, untung cuma perasaanku saja. Bukan jatuh dari ranjang beneran,” pikir Bosnan sambil menggeliat. Tangannya meraba nakal ke dada berkulit halus mulus itu. Tetapi batinnya curiga, ada keganjilan yang ia temukan dalam kenakalan itu. Mengapa tak sebesar ukuran yang pernah dirasakan sebelum tidur tadi? Mengapa yang terpegang oleh tangannya bukan sebentuk kemontokan yang cukup wow.... teteapi kegempalan dada yang sedikit membusung, kencang, berisi padat, dan memiliki pucuk-pucuk yang kecil.
Bosnan pun membuka matanya.ternyata ia harus tersentak bangkit dan terbelalak kaget. Bukan sosok gempal Nyonya Verga yang berada di sampingnya, melainkan sosok yang ramping, sintal, dan sangat ideal dengan ukuran badannya. Bukan wanita berambut panjang yang tadi dijamahnya dengan mata terpejam, melainkan gadis berambut sangat pendek dengan bibir sedikit lebih tebal menggemaskan dibanding bibir Nyonya Verga.
“Lilu...?!” seru Bosnan dengan suara mendesah tegang. Ia ingat, gadis yang ditemuinya dalam kegelapan pandangan mata dan membawa lilin hijau itulah yang kini ada di sampingnya. Gadis itu adalah Lilu. Kecantikannya masih unggul dibanding Nyonya Verga. Tapi... mengapa gadis itu kini ada di sampingnya?
Mengapa ternyata ia sudah berada di atas ranjangya sendiri bersama Lilu? Mengapa pula ia dan Lilu bisa berada di dalam kamarnya, di tempat kost yang sudah hampir satu tahun ditempati itu? Lalu kemana si Janda pemilik gairah membara tadi? Sejak kapan ia sudah keluar dari kamr mewah tempat pergumulan mesranya dengan sang presdir kesepian itu?
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar