|
P
|
4
ADA
waktu Lilu terjebak dalam penjara kegelapan, roh ghaibnya selalu berada di
sekitar dimana Hastaraka itu berada. Mantera iblis yang terlanjur diucapkannya
pada waktu itu memang punya kaitan dengan kotak keramat permainan bangsa iblis
tersebut. Tetapi setelah roh Lilu berada dalam kehidupan manusia, maka ia
terbebas dan terlepas dari pengaruh gelombang gaibnya benda keramat tersebut, sehinga
ia tak dapat mengetahui dimana Hastaraka berada.
“Benda terkutuk itu mempunyai banyak nama, sesuai
bahasa setempat. Setahuku, dalam bahasa Hindu kuno atau Sangsakerta, benda itu
dinamakan Hastaraka. Hasta artinya ‘delapan’, sedangkan rka artinya ‘titian’.
Jadi, yang dimaksud dengan Hastaraka sebenarnya adalah ‘delapan titian maut’
atau delapan lorong menuju alam ghaib. Melalui susunan symbol-simbol pada kotak
permainan itu, gerbang menuju alam ghaib bisa terbuka apabila susunannya tepat.
Terbukanya gerbang alam ghaib dapat membuat para penghuni alam tersebut
berlompatan muncul di kehidupan manusia ini, lalu makhluk-makhluk tersebut
melakukan aksinya, apa saja. Sekehendak hatinya, dan yang jelas mendatangkan
maut bagi orang yang membukakan pintu gerbang alam iblis tersebut.”
Dalam penjelasannya kepada Bosnan, Lilu juga
mengatakan bahwa jika kotak permainan yang bisa diputar kesana-sini pada
ruasnyaitu membentuk satu susunan lambang tertentu, maka pintu kerajaan iblis
penguasa alam ghaib dapat terbuka. Raja iblis dapat berbuat sekehendaknya, yang
bisa mengakibatkan bumi tempat kehidupan manusia ini terbelah menjadi Sembilan
bagian. Atau hancur lebur menjadi debu beterbangan di angkasanya. Menurutnya,
benda iblis itu harus dihancurkan dengan cara tersendiri.
“Kalau sampai orang yang memainkan benda terkutuk itu
berhasil membentuk susunan gambar tertentu, secara tak sengaja, maka gambar yang
tersusun dalam satu bidang itu dapat membuat lorong alam kegelapan terbuka
lebar, akan mengeluarkan daya hisap sangat kuat. Aku bisa tersedot kembali kea
lam kegelapan itu seandainya sosokku belum sempat menjadi manusia sempurna,
seperti sekarang ini.”
“Gawat!” geram Bosnan cemas sekali. “Kita harus bisa
menemukan Hastaraka itu secepatnya! Aku tak ingin kau kembali ke sana, Lilu.
Aku tak mau kehilangan kamu!” Bosnan menampakkan kepanikan hatinya, sampai
meremas kedua tangan Lilu kuat-kuat dan menggoyangkan tubuh sintal itu sebagai
bukti ketakutannya, yaitu takut kehilangan gadis yang sudah terlanjur menjerat
hatinya kuat-kuat.
“Aku juga tak ingin kembali kea lam terkutuk itu,
Bosnan. Oleh sebab itulah, kini hanya ada dua langkah yang harus segera kita
lakukan; menghancurkan benda terkutuk itu atau menyembpurnakan perwujudanku
sebagai manusia biasa kembali?!”
“Seandainya benda itu kita temukan, bagaimana cara
mengahncurkannya, Lilu?”
Terminung sesaat Lilu memikirkannya. Ada ingatan yang
perlu digali kembali, yaitu ingatan pada saat ia bertemu dengan seorang kakek
di alam kegelapan. Kakek tersebut akhirnya menjadai santapan si Penunggu alam
kegelapan. Tapi sebelum peristiwa tragisnya terjadi, ia sempat memberitahu
kepada Lilu tentang jebakan iblis dalam bentuk kotak permainan Hastaraka itu.
“Benda celaka itu akan hancur apabila… dibakar dengan
api yang berasal dari langit.”
“Maksudnya?!”
Lilu menatap lesu sambil menggelengkan kepala.
“Aku kurang mengerti maksud penjelasan kakek tentang
api dari langit. Yang kuingat, api itu tanpa bisa dibentuk lagi oleh kekuatan
ghaib para penghuni kerajaan iblis itu.”
Bosnan akhirnya ikut merenungi, mencari pemahaman
tentang api dari langit tersebut. Tapi sebelum ia menemukan suatu analisa yang
benar tentang hal itu, Lilu sudah bicara lagi dengan nada pelan.
“langkah kedua… carikan aku seorang laki-laki yang
masih punya darah keturunan bangsawan.”
Tajam sekali dahi Bosnan berkerut pertanda heran dan
merasa asing sekali dengan cirri-ciri yang disebutkan Lilu itu. tapi tanpa
ditanya lagi Lilu sudah lebih dulu menjelaskan maksudnya.
“Aku membutuhkan seorang laki-laki yang masih punya
darahj keturunan bangsawan entah dia keturunan yang keberapa yang penting
leluhurnya berdarah bangsawan. Lelaki itulah yang dapat menbyempurnakan
jasadku, menjadi manusia utuh seperti semula.”
“Darah keturunan bangsawan….? Hmmm, rasa-rasanya bukan
hal yang mudah? Seandainya lelaki itu bisa kudapatkan, lantas mau kau apakan
dia?”
“kuminum darahnya.”
“Gila!” sentak bisikan Bosnan, terkejut sekali.
Wajahnya menyeringai ngeri, bulu kuduknya meremang merinding.
“Hanya itu satu-satunya syarat untuk menyempurnakan
jasad manusiawiku, Bosnan”
“Apakah… apakah nggak ada syarat lain yang bisa
menggantikannya? Misalnya…”
“Nggak ada!” sergap Lilu cepat. “Cuma itu satu-satunya
syarat. Menurut keterangan kakek yang sudah seratus tahun menjadi penghuni
penjara alam kegelapan dan akhirnya menjadi santapan si Penguasa alam itu,
bahwa jika suatu saat nanti aku berhasil bebas dari penjara alam kegelapan dan
hidup di alam manusia biasa, maka aku harus bisa meminu, darah keturunan
bangsawan. Meski hanya seteguk-dua teguk, setetes-dua tetes, tapi darah lelaki
keturunan bangsawan itu akan melunturkan seluruh lapisan hawa iblis yang
menyelimuti ragaku. Jika hawa iblis itu hancur dan luntur, maka wujudku akan
bisa tampak di mata setiap orang, dan ragaku dapat disentuh oleh siapapun.
Itulah tandanya aku hidup kembali sebagai manusia biasa.”
“Mengerikan sekali?!” gumam hati Bosnan dalam irama
detak jantung yang menyentak-nyentak cepat. Ia tak menyangka akan mendapat
tugas mencari keturunan bangsawan yang darahnya akan diminum oleh Lilu. Gadis
secantik itu ternyata memiliki rencana seperti drakula atau vampire, yaitu
meminum darah manusia. Seandainya tidak berhutang janji, Bosnan akan menolak
tegas-tegas permintaan Lilu, bila perlu menghindar jauh-jauh secepat mungkin.
“Sayang sekali aku sudah terlanjur berjanji akan
membantu kesulitannya sebagai balasan atas bantuannya mengeluarkan diriku dari
alam kegelapan itu. selain sudah terlanjur berjanji demekian, aku sendiri sudah
terlanjur kasmaran padanya. Hatiku semakin lekat dan sulit menghindari mekarnya
bunga cinta terhadap dirinya, sehingga terlalu berat bagiku jika harus
menghindari tuntutan pribadinya itu. sangat tak tega hatiku jika harus bersikap
tak memperdulikan keninginannya menjadi manusia sempurna. Oh, kenapa aku
menjadi semakin iba dan kasihan pada nasibnya? Semakin hati kecilku menolak
permohonan bantuannya itu, semakin besar rasa takutku akan kehilangan dirinya?!
Jangan-jangan aku telah terkena pengaruh ghaib iblis yang terpancar melalui
tatapan matanya, atau senyumnya, atau suaranya, atau… aahhh entahlah! Aku
benar-benar tak mengerti harus bersikap bagaimana sebenarnya?!”
Keluh kesah batin Bosnan membuat hidupnya semakin tak
tenang. Keresahan dan kecemasan senantiasa hadir dalam jiwanya. Menyiksa dan
melelahkan sekali.
Belum lagi ia harus berfikir tentang benda terkutuk
yang hilang dari meja tulisnya itu. seoalh-olah kali ini ia dipaksa untuk
memeras otaknya sekuat tenaga tanpa memperdulikan rasa sakit yang menyerang
urat-urat sekililing kepalanhya. Padahal menurut keterangan Lilu, kotak kubus
yang menjadi kunci pembuka gerbang alam ghaib itu tidak akan lenyap sendiri
dari tempatnya, salain ada pihak yang membawanya pergi tanpa sengaja atau pun
memang disengaja. Bahaya maut yang dituimbulkan dari perpaduan symbol-simbol delapan
penjuru gerbang ghaib pada kotak itu bisa melibihi ledakan besar yang telah
menghancurkan rumah pamannya Nucky itu. jika hal itu sampai terjadi, secara tak
langsung Bosnan ikut andil menciptakan bencana besar yang dapat membelah bumi
menjadi Sembilan bagian.
“Karena itulah… sebelum bencana kiamat itu terjadi,
kita harus segera menemukan benda itu, dan menyimpannya dengan aman. Sampai
pada waktunya nanti kita mendapatkan api dari langit yang dapat dipakai untuk
menghancurkan benda itu untuk selama-lamanya, Bos!”
“Iya, aku tahu program itu, Lilu. Tapi… aku tidak bisa
menduga sedikitpun, di tangan siapa sebenarnya benda keparat itu berada?!
Jangan kau desak terus diriku untuk segera menemukannya!” ujarnya degan nada
jengkel sendiri.
Sedah beberapa kali Bosnan menanyakan masalah benda
maut itu kepada semua penghuni kost disitu, tapi tak seorangpun mengaku
mengambilnya. Bahkan rata-rata mereka mengatakan belum pernah melihat barang
yang dimaksud Bosnan. Untuk menghindari tuduhan buruk dari mereka, Bosnan tak
pernah menjelaskan bahayanya kotak Hastaraka kepada mereka yang penasaran
terhadap ketegangan Bosnan dalam mencari benda tersebut.
“Bagaimana dengan temanmu yang bernmama Marson itu?”
tiba-tiba Lilu mengingatkan kehadiran Marson disaat Bosnan menghadiri upacara
pemakaman Nyonya Verga kemarin.
“Marson?! Kenapa kamu punya kecurigaan pada Marson?!”
“Mungkin saja dia yang mencuri benda itu. dia masuk
kemari, saat aku mandi. Dia sempat melihat benda aneh itu, lalu tertarik untuk
mengambilnya. Tapi karena datang kabar dari Sam atau yang lainnya bahwa tempat
kost ini berhantu, bahwa mereka sempat melihat benda berjalan sendiri karena
mereka tak melihat diriku yang membawanya, lalu… Marson jadi ketakutan dan
buru-buru pulang. Saat itulah benda itu sengaja atau tidak sengaja terbawa
olehnya.”
Bosnan manggut-manggut sambil menggumam kecil, dugaan
Lilu bisa diterima oleh akal sehatnya. Maka, ia segera menelpon Marson
menggunakan handphone-nya.
“Kotak apaan sih?! Aku nggak ngerti apa yang kamu
tanyakan itu,Bos” kata Marson dengan serius. “kamu piker aku ini anak kecil
yang masih doyan bermain kotak-katik kayak gitu?!”
“Sorry… aku Cuma bertanya, bukan menuduhmu mencuri
kotak itu. jangan sewot dulu kamu Son,” Bosnan bernada xkesal.
“Aku kemarin mencari kamu, memang. Cuma mau kasih
kabar bahwa uang komisimu ditahan sama pihaknya Pak Rusdi. Jadi, kalau kamu mau
ambil komisimu, ambillah sendiri sama Pak Rusdi. Cuma itu maksud kedatanganku
kemarin, bukan mau ambil mainanmu!”
Marson bernada kesal. Sepertinya cukup tersinggung atas
pertanyaan Bosnan. Hal itu membuat Bosnan buru-buru bersikap seolah-olah tak
terlalu mementingkan barang tersebut, karena ia tak ingin putus persahabatan
hanya gara-gara salah paham. Ia segera mengalihkan pembicaraan pada persoalan
uang komisinya. Tapi sebenarnya hati kecilnya masih mencoba menduga-duga, siapa
kira-kira yang layak dicurigai sebagai pencuri kotak iblis itu? ia merasa lega
setelah nada bicara Marson tidak sekeras tadi dan sudah mau tertawa walaupun
kedengarannya agak sumbang.
Bosnan sama sekali tak menyangka bahwa tawa Marson
memang sengaja dibuat sesumbang mungkin. Dalam kenyataanya saat itu wajah
Marson justru tampak ceria. Makan tawanya tadi sebenarnya mengandung nada
pelecehan yang sangat mencemooh sikap Bosnan. Sebab, petang itu Marson berhasil
mengelabui Bosnan dengan gaya bicaranya tadi. Bahkan menganggap Bosnan terl;alu
bodoh, sehingga mudah ditipu dengan kepura-puraannya. Padahal saat menerima
telepon dari bonan, di tangan kiri Marson tergenggam kotak kubus yang
dicari-cari dan dibicarakan mereka.
Bosnan sama sekali tak menduga bahwa apa yang
diperhitungkan Lilu dalam kemungkinannya ternyata memang benar. Marsonlah yang
mengambil benda tersebut, karena tertarik pada bentuknya yang unik dan antic.
Tak seorangpun melihat pada saat Marson mengambil benda itu, kemudian bergegas
pergi karena terbawa rasa takutnya Samora. Dan, pada waktu itu Samora tidak
melihatbahwa tangan Marson yang masuk ke
saku celana itu ternyata menyembunyikan benda milik Bosnan.
“Kayak anak kecil aja si Bosnan?! Masa’ dia masih suka
dengan permainan kotak-kotak kayak gini sih?! Tapi… dari segi seni, memang
memiliki nilai seni cukup tinggi. Hmm… coba kupinjam dulu tanpa izin, bakal
kelabakan nggak dia kalau mainan bocahnya tahu-tahu hilang dari meja…?!” hati
Marson tertawa geli saat mengambil benda itu. berawal dari niat iseng, ingin
mengetahui reaksi Bosnan, maka Hastaraka sengaja dicurinya. Saat itu hati
Marson berniat akan mengembalikan benda tersebut jika Bosnan sudah sampai
kalang kabut mencarinya sampai stress.
Toh begitu sampai rumah, waktu itu Marson tidak peduli
lagi dengan Hastaraka yang digeletakkan di atas dashboard mobilnya. Malahan,
hari berikutnya benda itu masih dibiarkan menjadi penghias dashboar mobil dan
diobawanya sampai ke proyek. Pulang dari proyek, kotak permainan itu masih
dibiarkan ditempatnya dan belum sempat dibawea turun dari mobil. Tapi sebelum
usai suara adzan maghrib berkumandang, tiba-tiba Marson menjadi tertarik untuk
membawa turun benda itu pada saat ia mengemasi beberapa kertas kerjanya yang
juga berserakan di dashboard mobil. Kotak itu diletakkan di atas meja kejanya,
yang ada dalam kamar tidur di lantai atas.
“Idiih…. Kotak mainan apaan itu om?! Pinjam dong!”
pinta Ninny, keponakannya yang sudah kelas III SMP itu ninny melihat benda itu
saat ingin dibawa ke lantai atas oleh Marson. Tapi saat itu Marson justru
menghindari jangkauan tangan Ninny yang ingin langsung menyambar Hastaraka dari
atas tumpukan kertas penting bawaannya itu.
“Jangan! Ini bukan barang mainan. Ini alat penting buat
kerja, milik teman Oom. Enak aja, disangka barang mainan, ya?!”
Ninny terkesan ragu mempercayai keterangan itu.
wajahnya tampak kecewa. Tetapi ia segera meninggalkan om-nya sambil menuruni
anak tangga dan mengecam dengan seruan. “Pelir…!” sementara Marson tertawa geli
melihat keponakannya agak keqi. Rumah besar itu memang bukan hanya ditempati
oleh dirinya dan mamanya yang sudah janda berusia 63 tahun itu, tapi juga
ditempati oleh kakaknya; Dilton dan istrinya; Amarra. Keluarga Dilton dan
mamanya menempati kamar-kamar di lantai bawah, sedangkan Marson dan adik
bungsunya; Resyana, menempati kamar lantai atas.
Pada waktu itu resyana belum pulang dari tempat
kuliahnya sebagai mahasiswi jurusan kedokteran gigi yang sebentar lagi akan
skripsi. Seandainya waktu itu Resyana sudah pulang, mungkin saja ia juga
tertarik pada benda bawaan Marson, sebab benda tersebut memang mempunyai daya
tarik tersendiri bagi orang yang baru melihatnya, membuat orang tersebut
setidaknya ingin memegang dan mengamati bentuk-bentuk gambarnya yang
terpotong-ptotng itu. semakin dipandang lebih lama semakin besar daya tarik
yang membuat seseorang ingin menyentuh lalu mencoba memainkannya.
Itu sebabnya, sewaktu Marson selesai mandi dan ingin
menata meja kerjanya, ia tertarik untuk mengambil Hastaraka dan diamati lebih
dekat lagi. Pada saat ia mengagumi benda tersebut, itulah saat datangnya
telepon dari Bosnan tadi. Keberhasilan Marson menipu Bosnan membuatnya semakin
bangga dengan benda maut itu, hingga timbul keinginan untuk mencoba memutar-mutar
potongan gambar pada ruasnya.
Pria lajang berusia 30 tahun itu semakin hanyut dalam
permainan Hastaraka. Tanpa disadari sejak 30 menit yang lalu ia duduk di atas
ranjangnya. Kedua tangan sibuk memutar-mutar potongan kotak bergambar
symbol-simbol mistik yang memancing imajinasi agar terus-menerus mengejar
kreasi. Padahal secara konkrit tak ada petunjuk jelas mengenai bentuk gambar
yang harus dicapai pada enam bidang bujur sangkar tersebut. Yang dirasakan
maeson kala itu hanyalah rasa penasaran yang mengasyikkan untuk mencoba-coba
memadukan potongan gambar di sana-sini.
“Nah, kalau begini malah jadi bentuk gambar… hmm,
seperti gambar wajah nenek sihir, ya? Tapi sisi sebelah kanannya kok jadi
seperti gambar piramida terbalik sih? Ooo…. Yang sebelah bawah harus diputar ke
kiri, biar bentuknya menjadi seperti istana si nenek sihir. Mungkin yang benar
begitu…!
Ruang potongan bawah diputar ke kiri. Kreek…!
“HAah…?” Marson terperanjat kecil, matanya memandang
lebar-lebar pada permukaan Hastaraka yang membentuk gambar istana berpintu
gerbang lengkung itu. suatu keajaiban terjadi secara jelas.
Benda itu mengeluarkan enam belas lirik cahaya putih
kebiru-biruan. Membias ke berbagai penjuru, membuat Marson semakin terperangah
dan meletakkan benda tersebut di atas bantal. Bias cahaya semakin terang,
semakin membentuk garis-garis lurus mencapai dinding sekeliling kamar tersebut.
Kekuatan cahaya itu seakan-akan membuat sinar lampu utama menjadi layu. Neon
utama yang semula terang kini menjadi redup. Marson dibuat kebingungan
memandang sekelilinganya dengan wajah tegang. Ia merasakan debar-debar
kekaguman, juga perasaan heran dan takut yang makin kuat. Sebab, beberapa kejap
setelah bias-bias cahay putih kebiru-biruan itu menguasai penerangan
sekelilingnya, maka mulai tersa ada getaran mengguncang ranjang. Lemari,
buffet, meja, kursi, semua benda di kamar itu bergetar hingga menimbulkan suara
gemeratak samar-samar.
“kok jadi begini sih?!” keluh hati Marson yang semakin
cemas. Matanya memandang ke sana-sini dengan lebih liar lagi, karena seluruh
dinding yang mengelilinya tampak meleleh, seperti lempengan baja ditembus sinar
laser berkekuatan panas tinggi. Sekujur tubuh Marson meinding, detak jantungnya
sangat cepat. Urat-urat seluruh tubuhnya menjadi sangat kaku, membuatnya sulit
bergerak meninggalkan tampat. Bahkan gerakan lehernya pun menjadi seperti
robot. Menengok ke sana-sini dengan gerakan patah-patah.
“Ahhk, haak, uuhk, aahk…!” Marson sulit melontarkan
teriakan, karena rasa takutnya seperti mencekik leher. Dinding sekelilingnya
menjadi semakin meleleh dan berlubang besar-besar. Tapi dari lubang itu yang
terlihat bukan keadaan di balik dinding sebenarnya, melinkan gumpalan kabut
hitam. Seperti asap drum-drum oli yang terbakar.
Getaran yang mengguncang bangunan rumah besar itu juga
dirasakan oleh penghuni rumah lainnya. Bahkan mamanya Ninny berseru tegang
memanggil Ninny yang kala itu menerima tamu teman sekolahnya. Mamanya Marson
juga berteriak-teriak ketakutan memanggil anak-anaknya dan menantunya, bahkan
kedua pelayan serta cucunya ikut dipanggil secara bergantian. Namun tak satu
pun dari mereka ada yang datang menghampiri ke kamarnya. Mereka saling
kebingungan mencari kesempatan untuk menyelamatkan diri jika getaran yang
disangka gempa itu semakin membahayakan jiwa.
“Marson…! Turun kau, soon…! Turuun…!” teriak Amarra,
mamanya Ninny, dari ujung tangga menuju ke lantai atas. Ia mengumpulkan ketiga
anaknya, sementara dua gadis teman sekolah Ninny juga berkumpul ketakutan
menghadapi getaran gempa yang tidak berhenti-henti meski sudah satu menit
lamanya.
“Om….! Cepat turun, Ommmm….!” Teriak Ninny, karena
semua yang ada dilantai bawah melihat cahaya terang menyilaukan membias di
lantai atas. Disana barang-barang tampak lebih kuat bergetar, sampai dua
lukisan cat minyak penghias dinding jatuh dari tempatnya bergantungh selama
ini. Praak, braak…! Mereka hanya bisa berteriak bergantian menyuruh Marson
turun dari lantai atas, tanpa berani menghampiri ke kamar Marson. Bahkan kedua
pelayan mereka ikut mundur dari bawaah tangga karena mata mereka terasa sakit
akibat memandang cahaya terang menyilaukan yang kini memenuhi seluruh ruangan di lantai atas itu.
“Pardi, coba kau naik ke atas! Suruh Tuan Marson
turun!”
“Sa… saya… saya takut, Nyonya…!” Pardi, pelayan
mereka, menggigil sedih menerima perintah dari Ammara. Sementara itu, Ninny
berusaha menghubungi papanya yang belum pulang melalui telepon. Tetapi hubungan
telepon selalu gagal.
Marson bukan tidak mendengar seruan mereka yang ada di
lantai bawah. Ia sangat mendengar teriakan kakak iparnya maupun keponakannya
tetapi ia tak dapat membalas teriakan, sebab tenggorokannya seperti tersumbat
segenggam sekam. Kering dan kaku. Tubuhnya terpaku dalam posisi duduk di tepian
ranjang. Matanya tak bisa dikedipkan lagi. Pada saat itu Marson benar-benar
pasrah dalam keadaan tak berdaya lagi, sebab ia melihat munculnya
makhluk-makhluk aneh dari tiap lubang dinding yang meleleh itu.
Dari arah dinding di depannya tampak seoarang lelaki
berkepala gundul, tanpa sehelai rambut pun. Tapi kepala dan wajah lelaki
berjubah hitam itu dipenuhi paku-paku yang menancap teratur pada setiap satu
centimeter. Tempat menancapnya paku-paku itu tidak mengeluarkan darah
setetespun. Namun di kedua tangannya terdapat rantai yang panjangnya sekitar 3
meter dengan masing-masing ujungnya memiliki bandul berbentuk mata kail.
Runcing dan besar. Kedua mata kail itu berlumuran darah yang masih segar.
Dari dinding sebelah kirinya tampak seorang wanita keluar
dari gumpalan asap hitam. Wanita itu hanya mengenakan bra dan celana dalam dari
bahan logam seperti aluminium. Rambutnya putih, acak-acakan dan panjang. Bentuk
tubuhnya memang langsing dan sexy. Tapi di sekujur tubuhnya yang berkulit pucat
itu terdapat serpihan kaca yang menancap pada tubuhnya. Wanita bermata merah
dan memiliki sepasang taring itu mengenggam tongkat besi. Pada bagian ujung
tongkat besi sepanjang 2 meter itu terdapat tiga mata pisau yang ujungnya
sedikit lengkung serta runcing.
Begitu pula dari dinding kanan, tampak sesosok makhluk
tinggi, besar, hitam dan berbulu lebat sekejur tubuhnya. Wajahnya lebar, tebal,
dan gigi dan taring besar-besar. Makhluk menyeramkan itu juga membawa senjata
berupa piringan bergerigi yang ada di ujung tongkat besi. Piringan bergerigi
itu berputar sendiri seperti gergaji atau alat pemotong baja. Sedangkan dari
dinding belakang muncul makhluk kurus berjubah putih. Wajahnya terkelupas tanpa
kulit, sehingga urat-uratnya kelihatan. Makhluk bertangan kurus itu memiliki
kuku-kuku panjang, tajam dan runcing. Berwarna hitam, penuh darah kering.
Mereka berjalan mendekati Marson perlahan-lahan dan
serempak. Marson sangat ketakuatan, berusaha untuk beringsut dari tempatnya.
Namun yang dapat ia lakukan hanya geleng-geleng kepala dengan suara serak
lemah.
“Jaa…. Jaaa… jaangan! Jangan… ookhrrr… jangan…!”
Manusia aneh yang penuh paku itu berkata dengan datar
dan dingin.
“Kau telah mengundang kami. Kau buka pintu kami. Maka,
kau tak boleh menolak kehadiran kami.”
“Ssskk… jjaaakkk… hmmaaaakkk..”
Tiba-tiba rantai itu berkelebat dengan kedua kail
menancap di dada Marson, lalu ditarik dengan cepat, sehingga kulit dan daging
dada Marson pun robek, brett…!
“Aaaa…!!” sentakan jerit kesakitan berhasil lolos dari
kerongkongan yang tersumbat nafas sejak tadi. Belum sempat jeritan itu melemah,
Marson sudah harus berteriak lagi, karena punggungnya seperti ditancap oleh
lima batang pisau. Kuku panjang makhluk di belakangnya telah terbenam cukup
dalam di punggungnya. Brett..! serat-serat daging berhamburan bersama darah
Marson.
“Aaaa…!! Aaaaaooowww…!!” Marson menjerit-jerit
histeris. Tubuhnya dalam waktu singkat rusak berat akibat serangan senjata
keempat makhluk aneh itu. bahkan dari belakangnya ada dua pasang kuku tajam
yang meelintasi kepala dan menancap kuat di kedua biji matanya.
Jruubb, breet…
“Aaaaa…!!!”
Sekali pun Marson sudah terkapar di lantai, mereka
tetap menghujani dengan senjata tanpa ampun lagi. Sekujur tubuh Marson hancur
lebur. Darah memercik kemana-mana. Sampai pada akhirnya tubuh Marson terpotong
menjadi empat bagian. Masing-masing bagian menancap pada senjata mereka
berempat, lalu potongan tubuh Marson itu segera dibawa pergi oleh keempat
makhluk dari alam ghaib. Menjadi santapan mereka masing-masing.
Mereka pergi melalui jalan dimana mereka muncul tadi. Setelah
masing-masing terbenam dalam gumpalan kabut hitam, makla guncangan gempa di
rumah itupun berhenti. Suasana menjadi sunyi hingga dua menit lebih. Tak
satupun dari mereka yang berani bergerak atau bersuara di dalam keheningan
suasana mencekam itu. mereka baru berani berkutik setelah mendengar suara mobil
datang. Dilton ternyata baru saja tiba, dan langsung diserbu tangis anak
istrinya. Maka, mereka pun segera memeriksa ke kamar Marson, tempat datangnya
jeritan-jeritan yang menyeramkan tadi.
Dilton hampir saja pingsan melihat keadaan kamar
Marson yang penuh darah berceceran di sana-sini. Serat-serat daging, potongan
daun telinga Marson, potongan jari tangan, dan serpihan daging lainnya tersebar
di berbagai tempat. Pemandangan itu sungguh mengerikan, membuat siapapun tidak
berani memperhatikan keadaan kamar secara detail, sebab kamar itu seolah-olah
telah berubah menjadi tempat penjagalan manusia.
Tetapi dinding kamar itu dalam keadaan utuh, tidak
seperti yang dilihat Marson sebelum ajalnya tiba. Bahkan pintu serta jendela
masih dalam keadaan utuh, tak ada tanda-tanda dibuka paksa oleh pelaku sadis
itu. tentu saja mereka terheran-heran dan tak mengerti darimana si pembunuh
bisa memasuki kamar Marson tanpa merusak jalan masuk lewat manapun?
Peristiwa mengerikan itu menggemparkan hamper separuh
kota. Meski pun pihak yang berwajib sudah menyatakan bahwa mayat Marson hilang
dan belum diketahui berada dimana, tapi hampir setiap orang yang datang selalu
berusaha menyempatkan diri menengok suasana di dalam kamar pembantaian
tersebut. Namun bagi mereka yang sudah berhasil mengintai ke dalam kamar itu,
rata-rata mengalami gangguan pencernaannya, mual dan muntah. Ada pula yang
pusing menggigil berkepanjangan.
Bosnan mendapat kabar melalui telepon dari temannya
Marson. Kabar itu sampai di telinganya sekitar pukul dua belas tengah malam.
Atas desakan Lilu, akhirnya Bosnan segera pergi ke rumah Marson pada malam itu
juga. Lilu mendampinginya dalam bentuk bayangan yang tidak terlihat sosok
raganya. Hanya Bosnan yang dapat melihat dirinya. Orang lain hanya bisa melihat
bayangan hitam dari raganya, dan bayangan itupun sangat tipis. Nyaris tak mudah
tertanmgkap oleh mata manusia biasa.
Ketika Bosnan berhasil menerobos masuk ke kamar Marson
bersama Lilu, ia pun sempat mual dan Lilu memegangi tangannya dengan gemetar.
Gadis dari alam kegelapan itu rupanya memiliki perasaan normal sebagai manusia
biasa yang merasa ngeri melihat tempat pembantaian tersebut. Namun ungkapan
emosi seperti itu hanya sesaat, kemudian ia kembali mampu menetralkan sikapnya
setelah mengetahui penyebab kematian Marson.
“Melihat serpihan daging dan potongan tubuh yang
menyebar di sana-sini, aku yakin pelakunya bukan dari alam manusia, tapi dari
lorong ghaib!” ujarnya berbisik kepada Bosnan.
“Betul begitu…?!”
“Ya. Mayat korban hilang. Tapi pada empat penjuru
terdapat sisa serpihan tubuhnya yang menempel bersama darah-darahnya. Berarti
Marson telah menjadi santapan keempat penjaga gerbang istana iblis. Dan, heey…
kalau begitu kotak terkutuk ada pada Marson?!”
“Hastaraka, maksudmu? Marson yang mengambilnya?!”
“Pasti! Sebab… mereka yang menjadi penjaga gerbang
istana iblis dari empat penjuru tidak mungkin akan masuk kea lam manusia secara
bersamaan kalau saja mereka tidak merasa mendapat undangan. Undangan itu mereka
terima setelah jalur lorong empat penjuru ghaib terbuka kalau… Hastaraka
membentung lambang-lambang ghaib yang menjadi kunci pembuka lorong utama. Hanya
melalui Hastaraka lorong utama bisa dibuka, sehingga lorong epat penjuru ghaib
terbuka secara serempak.”
“Astaga?!” Bosnan gemetar dan semakin pucat pasi.
“Lantas, dimana benda itu sekarang? Ayo kita cari di kamar pembantaian tadi,
Lilu! Ayo… lekas…!” Bosnan menarik tangan Lilu untuk menuju ke lantai atas kembali.
****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar