Minggu, 01 April 2012

PERMAINAN IBLIS JILID 4


P
4
ADA waktu Lilu terjebak dalam penjara kegelapan, roh ghaibnya selalu berada di sekitar dimana Hastaraka itu berada. Mantera iblis yang terlanjur diucapkannya pada waktu itu memang punya kaitan dengan kotak keramat permainan bangsa iblis tersebut. Tetapi setelah roh Lilu berada dalam kehidupan manusia, maka ia terbebas dan terlepas dari pengaruh gelombang gaibnya benda keramat tersebut, sehinga ia tak dapat mengetahui dimana Hastaraka berada.
“Benda terkutuk itu mempunyai banyak nama, sesuai bahasa setempat. Setahuku, dalam bahasa Hindu kuno atau Sangsakerta, benda itu dinamakan Hastaraka. Hasta artinya ‘delapan’, sedangkan rka artinya ‘titian’. Jadi, yang dimaksud dengan Hastaraka sebenarnya adalah ‘delapan titian maut’ atau delapan lorong menuju alam ghaib. Melalui susunan symbol-simbol pada kotak permainan itu, gerbang menuju alam ghaib bisa terbuka apabila susunannya tepat. Terbukanya gerbang alam ghaib dapat membuat para penghuni alam tersebut berlompatan muncul di kehidupan manusia ini, lalu makhluk-makhluk tersebut melakukan aksinya, apa saja. Sekehendak hatinya, dan yang jelas mendatangkan maut bagi orang yang membukakan pintu gerbang alam iblis tersebut.”
Dalam penjelasannya kepada Bosnan, Lilu juga mengatakan bahwa jika kotak permainan yang bisa diputar kesana-sini pada ruasnyaitu membentuk satu susunan lambang tertentu, maka pintu kerajaan iblis penguasa alam ghaib dapat terbuka. Raja iblis dapat berbuat sekehendaknya, yang bisa mengakibatkan bumi tempat kehidupan manusia ini terbelah menjadi Sembilan bagian. Atau hancur lebur menjadi debu beterbangan di angkasanya. Menurutnya, benda iblis itu harus dihancurkan dengan cara tersendiri.
“Kalau sampai orang yang memainkan benda terkutuk itu berhasil membentuk susunan gambar tertentu, secara tak sengaja, maka gambar yang tersusun dalam satu bidang itu dapat membuat lorong alam kegelapan terbuka lebar, akan mengeluarkan daya hisap sangat kuat. Aku bisa tersedot kembali kea lam kegelapan itu seandainya sosokku belum sempat menjadi manusia sempurna, seperti sekarang ini.”
“Gawat!” geram Bosnan cemas sekali. “Kita harus bisa menemukan Hastaraka itu secepatnya! Aku tak ingin kau kembali ke sana, Lilu. Aku tak mau kehilangan kamu!” Bosnan menampakkan kepanikan hatinya, sampai meremas kedua tangan Lilu kuat-kuat dan menggoyangkan tubuh sintal itu sebagai bukti ketakutannya, yaitu takut kehilangan gadis yang sudah terlanjur menjerat hatinya kuat-kuat.
“Aku juga tak ingin kembali kea lam terkutuk itu, Bosnan. Oleh sebab itulah, kini hanya ada dua langkah yang harus segera kita lakukan; menghancurkan benda terkutuk itu atau menyembpurnakan perwujudanku sebagai manusia biasa kembali?!”
“Seandainya benda itu kita temukan, bagaimana cara mengahncurkannya, Lilu?”
Terminung sesaat Lilu memikirkannya. Ada ingatan yang perlu digali kembali, yaitu ingatan pada saat ia bertemu dengan seorang kakek di alam kegelapan. Kakek tersebut akhirnya menjadai santapan si Penunggu alam kegelapan. Tapi sebelum peristiwa tragisnya terjadi, ia sempat memberitahu kepada Lilu tentang jebakan iblis dalam bentuk kotak permainan Hastaraka itu.
“Benda celaka itu akan hancur apabila… dibakar dengan api yang berasal dari langit.”
“Maksudnya?!”
Lilu menatap lesu sambil menggelengkan kepala.
“Aku kurang mengerti maksud penjelasan kakek tentang api dari langit. Yang kuingat, api itu tanpa bisa dibentuk lagi oleh kekuatan ghaib para penghuni kerajaan iblis itu.”
Bosnan akhirnya ikut merenungi, mencari pemahaman tentang api dari langit tersebut. Tapi sebelum ia menemukan suatu analisa yang benar tentang hal itu, Lilu sudah bicara lagi dengan nada pelan.
“langkah kedua… carikan aku seorang laki-laki yang masih punya darah keturunan bangsawan.”
Tajam sekali dahi Bosnan berkerut pertanda heran dan merasa asing sekali dengan cirri-ciri yang disebutkan Lilu itu. tapi tanpa ditanya lagi Lilu sudah lebih dulu menjelaskan maksudnya.
“Aku membutuhkan seorang laki-laki yang masih punya darahj keturunan bangsawan entah dia keturunan yang keberapa yang penting leluhurnya berdarah bangsawan. Lelaki itulah yang dapat menbyempurnakan jasadku, menjadi manusia utuh seperti semula.”
“Darah keturunan bangsawan….? Hmmm, rasa-rasanya bukan hal yang mudah? Seandainya lelaki itu bisa kudapatkan, lantas mau kau apakan dia?”
“kuminum darahnya.”
“Gila!” sentak bisikan Bosnan, terkejut sekali. Wajahnya menyeringai ngeri, bulu kuduknya meremang merinding.
“Hanya itu satu-satunya syarat untuk menyempurnakan jasad manusiawiku, Bosnan”
“Apakah… apakah nggak ada syarat lain yang bisa menggantikannya? Misalnya…”
“Nggak ada!” sergap Lilu cepat. “Cuma itu satu-satunya syarat. Menurut keterangan kakek yang sudah seratus tahun menjadi penghuni penjara alam kegelapan dan akhirnya menjadi santapan si Penguasa alam itu, bahwa jika suatu saat nanti aku berhasil bebas dari penjara alam kegelapan dan hidup di alam manusia biasa, maka aku harus bisa meminu, darah keturunan bangsawan. Meski hanya seteguk-dua teguk, setetes-dua tetes, tapi darah lelaki keturunan bangsawan itu akan melunturkan seluruh lapisan hawa iblis yang menyelimuti ragaku. Jika hawa iblis itu hancur dan luntur, maka wujudku akan bisa tampak di mata setiap orang, dan ragaku dapat disentuh oleh siapapun. Itulah tandanya aku hidup kembali sebagai manusia biasa.”
“Mengerikan sekali?!” gumam hati Bosnan dalam irama detak jantung yang menyentak-nyentak cepat. Ia tak menyangka akan mendapat tugas mencari keturunan bangsawan yang darahnya akan diminum oleh Lilu. Gadis secantik itu ternyata memiliki rencana seperti drakula atau vampire, yaitu meminum darah manusia. Seandainya tidak berhutang janji, Bosnan akan menolak tegas-tegas permintaan Lilu, bila perlu menghindar jauh-jauh secepat mungkin.
“Sayang sekali aku sudah terlanjur berjanji akan membantu kesulitannya sebagai balasan atas bantuannya mengeluarkan diriku dari alam kegelapan itu. selain sudah terlanjur berjanji demekian, aku sendiri sudah terlanjur kasmaran padanya. Hatiku semakin lekat dan sulit menghindari mekarnya bunga cinta terhadap dirinya, sehingga terlalu berat bagiku jika harus menghindari tuntutan pribadinya itu. sangat tak tega hatiku jika harus bersikap tak memperdulikan keninginannya menjadi manusia sempurna. Oh, kenapa aku menjadi semakin iba dan kasihan pada nasibnya? Semakin hati kecilku menolak permohonan bantuannya itu, semakin besar rasa takutku akan kehilangan dirinya?! Jangan-jangan aku telah terkena pengaruh ghaib iblis yang terpancar melalui tatapan matanya, atau senyumnya, atau suaranya, atau… aahhh entahlah! Aku benar-benar tak mengerti harus bersikap bagaimana sebenarnya?!”
Keluh kesah batin Bosnan membuat hidupnya semakin tak tenang. Keresahan dan kecemasan senantiasa hadir dalam jiwanya. Menyiksa dan melelahkan sekali.
Belum lagi ia harus berfikir tentang benda terkutuk yang hilang dari meja tulisnya itu. seoalh-olah kali ini ia dipaksa untuk memeras otaknya sekuat tenaga tanpa memperdulikan rasa sakit yang menyerang urat-urat sekililing kepalanhya. Padahal menurut keterangan Lilu, kotak kubus yang menjadi kunci pembuka gerbang alam ghaib itu tidak akan lenyap sendiri dari tempatnya, salain ada pihak yang membawanya pergi tanpa sengaja atau pun memang disengaja. Bahaya maut yang dituimbulkan dari perpaduan symbol-simbol delapan penjuru gerbang ghaib pada kotak itu bisa melibihi ledakan besar yang telah menghancurkan rumah pamannya Nucky itu. jika hal itu sampai terjadi, secara tak langsung Bosnan ikut andil menciptakan bencana besar yang dapat membelah bumi menjadi Sembilan bagian.
“Karena itulah… sebelum bencana kiamat itu terjadi, kita harus segera menemukan benda itu, dan menyimpannya dengan aman. Sampai pada waktunya nanti kita mendapatkan api dari langit yang dapat dipakai untuk menghancurkan benda itu untuk selama-lamanya, Bos!”
“Iya, aku tahu program itu, Lilu. Tapi… aku tidak bisa menduga sedikitpun, di tangan siapa sebenarnya benda keparat itu berada?! Jangan kau desak terus diriku untuk segera menemukannya!” ujarnya degan nada jengkel sendiri.
Sedah beberapa kali Bosnan menanyakan masalah benda maut itu kepada semua penghuni kost disitu, tapi tak seorangpun mengaku mengambilnya. Bahkan rata-rata mereka mengatakan belum pernah melihat barang yang dimaksud Bosnan. Untuk menghindari tuduhan buruk dari mereka, Bosnan tak pernah menjelaskan bahayanya kotak Hastaraka kepada mereka yang penasaran terhadap ketegangan Bosnan dalam mencari benda tersebut.
“Bagaimana dengan temanmu yang bernmama Marson itu?” tiba-tiba Lilu mengingatkan kehadiran Marson disaat Bosnan menghadiri upacara pemakaman Nyonya Verga kemarin.
“Marson?! Kenapa kamu punya kecurigaan pada Marson?!”
“Mungkin saja dia yang mencuri benda itu. dia masuk kemari, saat aku mandi. Dia sempat melihat benda aneh itu, lalu tertarik untuk mengambilnya. Tapi karena datang kabar dari Sam atau yang lainnya bahwa tempat kost ini berhantu, bahwa mereka sempat melihat benda berjalan sendiri karena mereka tak melihat diriku yang membawanya, lalu… Marson jadi ketakutan dan buru-buru pulang. Saat itulah benda itu sengaja atau tidak sengaja terbawa olehnya.”
Bosnan manggut-manggut sambil menggumam kecil, dugaan Lilu bisa diterima oleh akal sehatnya. Maka, ia segera menelpon Marson menggunakan handphone-nya.
“Kotak apaan sih?! Aku nggak ngerti apa yang kamu tanyakan itu,Bos” kata Marson dengan serius. “kamu piker aku ini anak kecil yang masih doyan bermain kotak-katik kayak gitu?!”
“Sorry… aku Cuma bertanya, bukan menuduhmu mencuri kotak itu. jangan sewot dulu kamu Son,” Bosnan bernada xkesal.
“Aku kemarin mencari kamu, memang. Cuma mau kasih kabar bahwa uang komisimu ditahan sama pihaknya Pak Rusdi. Jadi, kalau kamu mau ambil komisimu, ambillah sendiri sama Pak Rusdi. Cuma itu maksud kedatanganku kemarin, bukan mau ambil mainanmu!”
Marson bernada kesal. Sepertinya cukup tersinggung atas pertanyaan Bosnan. Hal itu membuat Bosnan buru-buru bersikap seolah-olah tak terlalu mementingkan barang tersebut, karena ia tak ingin putus persahabatan hanya gara-gara salah paham. Ia segera mengalihkan pembicaraan pada persoalan uang komisinya. Tapi sebenarnya hati kecilnya masih mencoba menduga-duga, siapa kira-kira yang layak dicurigai sebagai pencuri kotak iblis itu? ia merasa lega setelah nada bicara Marson tidak sekeras tadi dan sudah mau tertawa walaupun kedengarannya agak sumbang.
Bosnan sama sekali tak menyangka bahwa tawa Marson memang sengaja dibuat sesumbang mungkin. Dalam kenyataanya saat itu wajah Marson justru tampak ceria. Makan tawanya tadi sebenarnya mengandung nada pelecehan yang sangat mencemooh sikap Bosnan. Sebab, petang itu Marson berhasil mengelabui Bosnan dengan gaya bicaranya tadi. Bahkan menganggap Bosnan terl;alu bodoh, sehingga mudah ditipu dengan kepura-puraannya. Padahal saat menerima telepon dari bonan, di tangan kiri Marson tergenggam kotak kubus yang dicari-cari dan dibicarakan mereka.
Bosnan sama sekali tak menduga bahwa apa yang diperhitungkan Lilu dalam kemungkinannya ternyata memang benar. Marsonlah yang mengambil benda tersebut, karena tertarik pada bentuknya yang unik dan antic. Tak seorangpun melihat pada saat Marson mengambil benda itu, kemudian bergegas pergi karena terbawa rasa takutnya Samora. Dan, pada waktu itu Samora tidak melihatbahwa tangan Marson  yang masuk ke saku celana itu ternyata menyembunyikan benda milik Bosnan.
“Kayak anak kecil aja si Bosnan?! Masa’ dia masih suka dengan permainan kotak-kotak kayak gini sih?! Tapi… dari segi seni, memang memiliki nilai seni cukup tinggi. Hmm… coba kupinjam dulu tanpa izin, bakal kelabakan nggak dia kalau mainan bocahnya tahu-tahu hilang dari meja…?!” hati Marson tertawa geli saat mengambil benda itu. berawal dari niat iseng, ingin mengetahui reaksi Bosnan, maka Hastaraka sengaja dicurinya. Saat itu hati Marson berniat akan mengembalikan benda tersebut jika Bosnan sudah sampai kalang kabut mencarinya sampai stress.
Toh begitu sampai rumah, waktu itu Marson tidak peduli lagi dengan Hastaraka yang digeletakkan di atas dashboard mobilnya. Malahan, hari berikutnya benda itu masih dibiarkan menjadi penghias dashboar mobil dan diobawanya sampai ke proyek. Pulang dari proyek, kotak permainan itu masih dibiarkan ditempatnya dan belum sempat dibawea turun dari mobil. Tapi sebelum usai suara adzan maghrib berkumandang, tiba-tiba Marson menjadi tertarik untuk membawa turun benda itu pada saat ia mengemasi beberapa kertas kerjanya yang juga berserakan di dashboard mobil. Kotak itu diletakkan di atas meja kejanya, yang ada dalam kamar tidur di lantai atas.
“Idiih…. Kotak mainan apaan itu om?! Pinjam dong!” pinta Ninny, keponakannya yang sudah kelas III SMP itu ninny melihat benda itu saat ingin dibawa ke lantai atas oleh Marson. Tapi saat itu Marson justru menghindari jangkauan tangan Ninny yang ingin langsung menyambar Hastaraka dari atas tumpukan kertas penting bawaannya itu.
“Jangan! Ini bukan barang mainan. Ini alat penting buat kerja, milik teman Oom. Enak aja, disangka barang mainan, ya?!”
Ninny terkesan ragu mempercayai keterangan itu. wajahnya tampak kecewa. Tetapi ia segera meninggalkan om-nya sambil menuruni anak tangga dan mengecam dengan seruan. “Pelir…!” sementara Marson tertawa geli melihat keponakannya agak keqi. Rumah besar itu memang bukan hanya ditempati oleh dirinya dan mamanya yang sudah janda berusia 63 tahun itu, tapi juga ditempati oleh kakaknya; Dilton dan istrinya; Amarra. Keluarga Dilton dan mamanya menempati kamar-kamar di lantai bawah, sedangkan Marson dan adik bungsunya; Resyana, menempati kamar lantai atas.
Pada waktu itu resyana belum pulang dari tempat kuliahnya sebagai mahasiswi jurusan kedokteran gigi yang sebentar lagi akan skripsi. Seandainya waktu itu Resyana sudah pulang, mungkin saja ia juga tertarik pada benda bawaan Marson, sebab benda tersebut memang mempunyai daya tarik tersendiri bagi orang yang baru melihatnya, membuat orang tersebut setidaknya ingin memegang dan mengamati bentuk-bentuk gambarnya yang terpotong-ptotng itu. semakin dipandang lebih lama semakin besar daya tarik yang membuat seseorang ingin menyentuh lalu mencoba memainkannya.
Itu sebabnya, sewaktu Marson selesai mandi dan ingin menata meja kerjanya, ia tertarik untuk mengambil Hastaraka dan diamati lebih dekat lagi. Pada saat ia mengagumi benda tersebut, itulah saat datangnya telepon dari Bosnan tadi. Keberhasilan Marson menipu Bosnan membuatnya semakin bangga dengan benda maut itu, hingga timbul keinginan untuk mencoba memutar-mutar potongan gambar pada ruasnya.
Pria lajang berusia 30 tahun itu semakin hanyut dalam permainan Hastaraka. Tanpa disadari sejak 30 menit yang lalu ia duduk di atas ranjangnya. Kedua tangan sibuk memutar-mutar potongan kotak bergambar symbol-simbol mistik yang memancing imajinasi agar terus-menerus mengejar kreasi. Padahal secara konkrit tak ada petunjuk jelas mengenai bentuk gambar yang harus dicapai pada enam bidang bujur sangkar tersebut. Yang dirasakan maeson kala itu hanyalah rasa penasaran yang mengasyikkan untuk mencoba-coba memadukan potongan gambar di sana-sini.
“Nah, kalau begini malah jadi bentuk gambar… hmm, seperti gambar wajah nenek sihir, ya? Tapi sisi sebelah kanannya kok jadi seperti gambar piramida terbalik sih? Ooo…. Yang sebelah bawah harus diputar ke kiri, biar bentuknya menjadi seperti istana si nenek sihir. Mungkin yang benar begitu…!
Ruang potongan bawah diputar ke kiri. Kreek…!
“HAah…?” Marson terperanjat kecil, matanya memandang lebar-lebar pada permukaan Hastaraka yang membentuk gambar istana berpintu gerbang lengkung itu. suatu keajaiban terjadi secara jelas.
Benda itu mengeluarkan enam belas lirik cahaya putih kebiru-biruan. Membias ke berbagai penjuru, membuat Marson semakin terperangah dan meletakkan benda tersebut di atas bantal. Bias cahaya semakin terang, semakin membentuk garis-garis lurus mencapai dinding sekeliling kamar tersebut. Kekuatan cahaya itu seakan-akan membuat sinar lampu utama menjadi layu. Neon utama yang semula terang kini menjadi redup. Marson dibuat kebingungan memandang sekelilinganya dengan wajah tegang. Ia merasakan debar-debar kekaguman, juga perasaan heran dan takut yang makin kuat. Sebab, beberapa kejap setelah bias-bias cahay putih kebiru-biruan itu menguasai penerangan sekelilingnya, maka mulai tersa ada getaran mengguncang ranjang. Lemari, buffet, meja, kursi, semua benda di kamar itu bergetar hingga menimbulkan suara gemeratak samar-samar.
“kok jadi begini sih?!” keluh hati Marson yang semakin cemas. Matanya memandang ke sana-sini dengan lebih liar lagi, karena seluruh dinding yang mengelilinya tampak meleleh, seperti lempengan baja ditembus sinar laser berkekuatan panas tinggi. Sekujur tubuh Marson meinding, detak jantungnya sangat cepat. Urat-urat seluruh tubuhnya menjadi sangat kaku, membuatnya sulit bergerak meninggalkan tampat. Bahkan gerakan lehernya pun menjadi seperti robot. Menengok ke sana-sini dengan gerakan patah-patah.
“Ahhk, haak, uuhk, aahk…!” Marson sulit melontarkan teriakan, karena rasa takutnya seperti mencekik leher. Dinding sekelilingnya menjadi semakin meleleh dan berlubang besar-besar. Tapi dari lubang itu yang terlihat bukan keadaan di balik dinding sebenarnya, melinkan gumpalan kabut hitam. Seperti asap drum-drum oli yang terbakar.
Getaran yang mengguncang bangunan rumah besar itu juga dirasakan oleh penghuni rumah lainnya. Bahkan mamanya Ninny berseru tegang memanggil Ninny yang kala itu menerima tamu teman sekolahnya. Mamanya Marson juga berteriak-teriak ketakutan memanggil anak-anaknya dan menantunya, bahkan kedua pelayan serta cucunya ikut dipanggil secara bergantian. Namun tak satu pun dari mereka ada yang datang menghampiri ke kamarnya. Mereka saling kebingungan mencari kesempatan untuk menyelamatkan diri jika getaran yang disangka gempa itu semakin membahayakan jiwa.
“Marson…! Turun kau, soon…! Turuun…!” teriak Amarra, mamanya Ninny, dari ujung tangga menuju ke lantai atas. Ia mengumpulkan ketiga anaknya, sementara dua gadis teman sekolah Ninny juga berkumpul ketakutan menghadapi getaran gempa yang tidak berhenti-henti meski sudah satu menit lamanya.
“Om….! Cepat turun, Ommmm….!” Teriak Ninny, karena semua yang ada dilantai bawah melihat cahaya terang menyilaukan membias di lantai atas. Disana barang-barang tampak lebih kuat bergetar, sampai dua lukisan cat minyak penghias dinding jatuh dari tempatnya bergantungh selama ini. Praak, braak…! Mereka hanya bisa berteriak bergantian menyuruh Marson turun dari lantai atas, tanpa berani menghampiri ke kamar Marson. Bahkan kedua pelayan mereka ikut mundur dari bawaah tangga karena mata mereka terasa sakit akibat memandang cahaya terang menyilaukan yang kini memenuhi seluruh  ruangan di lantai atas itu.
“Pardi, coba kau naik ke atas! Suruh Tuan Marson turun!”
“Sa… saya… saya takut, Nyonya…!” Pardi, pelayan mereka, menggigil sedih menerima perintah dari Ammara. Sementara itu, Ninny berusaha menghubungi papanya yang belum pulang melalui telepon. Tetapi hubungan telepon selalu gagal.
Marson bukan tidak mendengar seruan mereka yang ada di lantai bawah. Ia sangat mendengar teriakan kakak iparnya maupun keponakannya tetapi ia tak dapat membalas teriakan, sebab tenggorokannya seperti tersumbat segenggam sekam. Kering dan kaku. Tubuhnya terpaku dalam posisi duduk di tepian ranjang. Matanya tak bisa dikedipkan lagi. Pada saat itu Marson benar-benar pasrah dalam keadaan tak berdaya lagi, sebab ia melihat munculnya makhluk-makhluk aneh dari tiap lubang dinding yang meleleh itu.
Dari arah dinding di depannya tampak seoarang lelaki berkepala gundul, tanpa sehelai rambut pun. Tapi kepala dan wajah lelaki berjubah hitam itu dipenuhi paku-paku yang menancap teratur pada setiap satu centimeter. Tempat menancapnya paku-paku itu tidak mengeluarkan darah setetespun. Namun di kedua tangannya terdapat rantai yang panjangnya sekitar 3 meter dengan masing-masing ujungnya memiliki bandul berbentuk mata kail. Runcing dan besar. Kedua mata kail itu berlumuran darah yang masih segar.
Dari dinding sebelah kirinya tampak seorang wanita keluar dari gumpalan asap hitam. Wanita itu hanya mengenakan bra dan celana dalam dari bahan logam seperti aluminium. Rambutnya putih, acak-acakan dan panjang. Bentuk tubuhnya memang langsing dan sexy. Tapi di sekujur tubuhnya yang berkulit pucat itu terdapat serpihan kaca yang menancap pada tubuhnya. Wanita bermata merah dan memiliki sepasang taring itu mengenggam tongkat besi. Pada bagian ujung tongkat besi sepanjang 2 meter itu terdapat tiga mata pisau yang ujungnya sedikit lengkung serta runcing.
Begitu pula dari dinding kanan, tampak sesosok makhluk tinggi, besar, hitam dan berbulu lebat sekejur tubuhnya. Wajahnya lebar, tebal, dan gigi dan taring besar-besar. Makhluk menyeramkan itu juga membawa senjata berupa piringan bergerigi yang ada di ujung tongkat besi. Piringan bergerigi itu berputar sendiri seperti gergaji atau alat pemotong baja. Sedangkan dari dinding belakang muncul makhluk kurus berjubah putih. Wajahnya terkelupas tanpa kulit, sehingga urat-uratnya kelihatan. Makhluk bertangan kurus itu memiliki kuku-kuku panjang, tajam dan runcing. Berwarna hitam, penuh darah kering.
Mereka berjalan mendekati Marson perlahan-lahan dan serempak. Marson sangat ketakuatan, berusaha untuk beringsut dari tempatnya. Namun yang dapat ia lakukan hanya geleng-geleng kepala dengan suara serak lemah.
“Jaa…. Jaaa… jaangan! Jangan… ookhrrr… jangan…!”
Manusia aneh yang penuh paku itu berkata dengan datar dan dingin.
“Kau telah mengundang kami. Kau buka pintu kami. Maka, kau tak boleh menolak kehadiran kami.”
“Ssskk… jjaaakkk… hmmaaaakkk..”
Tiba-tiba rantai itu berkelebat dengan kedua kail menancap di dada Marson, lalu ditarik dengan cepat, sehingga kulit dan daging dada Marson pun robek, brett…!
“Aaaa…!!” sentakan jerit kesakitan berhasil lolos dari kerongkongan yang tersumbat nafas sejak tadi. Belum sempat jeritan itu melemah, Marson sudah harus berteriak lagi, karena punggungnya seperti ditancap oleh lima batang pisau. Kuku panjang makhluk di belakangnya telah terbenam cukup dalam di punggungnya. Brett..! serat-serat daging berhamburan bersama darah Marson.
“Aaaa…!! Aaaaaooowww…!!” Marson menjerit-jerit histeris. Tubuhnya dalam waktu singkat rusak berat akibat serangan senjata keempat makhluk aneh itu. bahkan dari belakangnya ada dua pasang kuku tajam yang meelintasi kepala dan menancap kuat di kedua biji matanya.
Jruubb, breet…
“Aaaaa…!!!”
Sekali pun Marson sudah terkapar di lantai, mereka tetap menghujani dengan senjata tanpa ampun lagi. Sekujur tubuh Marson hancur lebur. Darah memercik kemana-mana. Sampai pada akhirnya tubuh Marson terpotong menjadi empat bagian. Masing-masing bagian menancap pada senjata mereka berempat, lalu potongan tubuh Marson itu segera dibawa pergi oleh keempat makhluk dari alam ghaib. Menjadi santapan mereka masing-masing.
Mereka pergi melalui jalan dimana mereka muncul tadi. Setelah masing-masing terbenam dalam gumpalan kabut hitam, makla guncangan gempa di rumah itupun berhenti. Suasana menjadi sunyi hingga dua menit lebih. Tak satupun dari mereka yang berani bergerak atau bersuara di dalam keheningan suasana mencekam itu. mereka baru berani berkutik setelah mendengar suara mobil datang. Dilton ternyata baru saja tiba, dan langsung diserbu tangis anak istrinya. Maka, mereka pun segera memeriksa ke kamar Marson, tempat datangnya jeritan-jeritan yang menyeramkan tadi.
Dilton hampir saja pingsan melihat keadaan kamar Marson yang penuh darah berceceran di sana-sini. Serat-serat daging, potongan daun telinga Marson, potongan jari tangan, dan serpihan daging lainnya tersebar di berbagai tempat. Pemandangan itu sungguh mengerikan, membuat siapapun tidak berani memperhatikan keadaan kamar secara detail, sebab kamar itu seolah-olah telah berubah menjadi tempat penjagalan manusia.
Tetapi dinding kamar itu dalam keadaan utuh, tidak seperti yang dilihat Marson sebelum ajalnya tiba. Bahkan pintu serta jendela masih dalam keadaan utuh, tak ada tanda-tanda dibuka paksa oleh pelaku sadis itu. tentu saja mereka terheran-heran dan tak mengerti darimana si pembunuh bisa memasuki kamar Marson tanpa merusak jalan masuk lewat manapun?
Peristiwa mengerikan itu menggemparkan hamper separuh kota. Meski pun pihak yang berwajib sudah menyatakan bahwa mayat Marson hilang dan belum diketahui berada dimana, tapi hampir setiap orang yang datang selalu berusaha menyempatkan diri menengok suasana di dalam kamar pembantaian tersebut. Namun bagi mereka yang sudah berhasil mengintai ke dalam kamar itu, rata-rata mengalami gangguan pencernaannya, mual dan muntah. Ada pula yang pusing menggigil berkepanjangan.
Bosnan mendapat kabar melalui telepon dari temannya Marson. Kabar itu sampai di telinganya sekitar pukul dua belas tengah malam. Atas desakan Lilu, akhirnya Bosnan segera pergi ke rumah Marson pada malam itu juga. Lilu mendampinginya dalam bentuk bayangan yang tidak terlihat sosok raganya. Hanya Bosnan yang dapat melihat dirinya. Orang lain hanya bisa melihat bayangan hitam dari raganya, dan bayangan itupun sangat tipis. Nyaris tak mudah tertanmgkap oleh mata manusia biasa.
Ketika Bosnan berhasil menerobos masuk ke kamar Marson bersama Lilu, ia pun sempat mual dan Lilu memegangi tangannya dengan gemetar. Gadis dari alam kegelapan itu rupanya memiliki perasaan normal sebagai manusia biasa yang merasa ngeri melihat tempat pembantaian tersebut. Namun ungkapan emosi seperti itu hanya sesaat, kemudian ia kembali mampu menetralkan sikapnya setelah mengetahui penyebab kematian Marson.
“Melihat serpihan daging dan potongan tubuh yang menyebar di sana-sini, aku yakin pelakunya bukan dari alam manusia, tapi dari lorong ghaib!” ujarnya berbisik kepada Bosnan.
“Betul begitu…?!”
“Ya. Mayat korban hilang. Tapi pada empat penjuru terdapat sisa serpihan tubuhnya yang menempel bersama darah-darahnya. Berarti Marson telah menjadi santapan keempat penjaga gerbang istana iblis. Dan, heey… kalau begitu kotak terkutuk ada pada Marson?!”
“Hastaraka, maksudmu? Marson yang mengambilnya?!”
“Pasti! Sebab… mereka yang menjadi penjaga gerbang istana iblis dari empat penjuru tidak mungkin akan masuk kea lam manusia secara bersamaan kalau saja mereka tidak merasa mendapat undangan. Undangan itu mereka terima setelah jalur lorong empat penjuru ghaib terbuka kalau… Hastaraka membentung lambang-lambang ghaib yang menjadi kunci pembuka lorong utama. Hanya melalui Hastaraka lorong utama bisa dibuka, sehingga lorong epat penjuru ghaib terbuka secara serempak.”
“Astaga?!” Bosnan gemetar dan semakin pucat pasi. “Lantas, dimana benda itu sekarang? Ayo kita cari di kamar pembantaian tadi, Lilu! Ayo… lekas…!” Bosnan menarik tangan Lilu untuk menuju ke lantai atas kembali.


****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar