Minggu, 01 April 2012

PERMAINAN IBLIS JILID 5


5
P
EMUDA berambut cepak militer dan berperawakan maco itu sempat disangka benar-benar anggota militer oleh petugas security apartemen. Sikap hormat dan pelayanan satpam tersebut agak berlebihan. Bahkan ia ikut mengantarkan tamu tersebut ke lantai 15 menggunakan lift tengah. Satpam itu merasa yakin, bahwa tamunya kali ini pasti lulusan ABRI yang setidaknya berpangkat letnan, sebab usia sang tamu masih tampak muda sekali.
“Bapak dinas dimana, pak? Masih di Mabes atau…?”
“Masih… masih disana,” jawabnya tenang sangat meyakinkan sekali sebagai jawaban ramah seorang letnan muda.
“Silahkan Pak!” si satpam sebaya tamunya itu mempersilahkan sang tamu melangkah setelah pintu lift dibukakan. “Perlu saya antar sampai ke room 433, Pak?”
“O… tidak usah. Saya sudah pernah datang sebelum ini. Sudah tahu tempatnya kok. Terima kasih ya mas…”
“Sama-sama, pak. Selamat malam!” sambil bersikap tegak menghormat, dan sang tamu hanya tersenyum ramah dengan menganggukkan kepala sekedarnya, lalu bergegas menuju room 433 yang dituju. Lift tertutup kembali, dan pemuda itu hamper tertawa lepas karena merasa sangat geli diperlakukan seperti militer dan disangka dinas di Mabes. Padahal pemuda berkulit bersih dan berhidung bangir itu hanyalah seorang marketing analyst di sebuah perusahaan. Postur tubuhnya yang tegap, gagah dan terbungkus T-shirt ketat itulah yang sering menimbulkan salah anggapan bagi orang lain.
Perusahaan tempatnya bekerja itu merupakan rekanan dari perusahaan besar milik orang tuanya Debby. Dan di perusahaan itu Debby Luxiana duduk sebagai Marketing Export Manager. Itulah sebabnya meskipun sudah pukul Sembilan malam lewat, tapi ketika Debby menelpon Ruyan dan memintanya datang ke apartemennya, Ruyan tak bisa menolak atau menghindari dengan alasan apapun. Kepatuhan sikapnya bukan hanya lantaran factor persahabatan saja, tapi juga demi kesinambungan hubungan bisnis kedua perusahaan mereka, juga bisnis pribadi yang suatu saat menjadi penghasilan tambahan bagi Ruyan.
Bukan sesuatu yang aneh bagi Ruyan jika putrid pengusaha besar itu lebih sering tinggal di apartemennya ketimbang di rumah bersama keluarga, karena pada saat-saat tertentu gadis karir seperti Debby membutuhkan tempat isterahat total untuk menurunkan kepenatannya. Hanya  orang-orang tertentu yang mengetahui tempat Debby menghindar dari segala macam kesibukan, terutama rekan-rekan dekatnya. Ruyan sendiri sudah ketiga kali ini diminta menemui Debby di apartemen itu. karena memiliki hubungan pribadi dengan Debby. Namun belakangan ini Debby memang sudah mulai jarang menelpon ke tempat kost Bosnan. Hubungan mereka memang tampak semakin renggang. Debby sering meminta informasi kepada Ruyan mengenai sikap Bosnan yang tiba-tiba menjadi acuh tak acuh padanya itu. namun yang dapat diberikan Ruyan hanyalah beberapa keterangan kecil, dan keterangan itu tampak kurang memuaskan hati Debby.
Ketika tiba di kamar 433 yang memiliki satu kamar tidur berukuran besar itu, Ruyan sempat dikenalkan dengan dua orang gadis teman Debby yang sering dilihatnya muncul di Carrabian Café. Ruyan mengaku sering melihat kedua wajah mungil itu di café tersebut namun baru kali ini sempat berkenalan. Bahkan sama sekali tak menduga bahwa Prissy dan nayla adalah teman dekat Debby. Saying sekali pada waktu itu Prissy dan Nayla memang sudah mau meninggalkan apartemen tersebut, sehingga Ruyan hanya sempat beramah tamah beberapa menit saja. Tak sampai lima menit.
Pembicaraan Debby pun masih berkisar masalah urusan bisnis mereka. Tapi ketika Prissy dan nayla sudah pergi, keseriusan Debby dalam membicarakan bisnis hilang secara berangsur-angsur. Gadis berparas cantik seperti gadis-gadis Spanyol itu terkesan cuek sekali dalam penampilannya. Rambutnya yang berpotongan shaggy tak dirapikan. Sedikit acak-acakan. Wajahpun tanpa make-up seperti biasa sehingga bibirnya tidak semerah merah delima, melainkan sedikit gelap karena memang ia gemar merokok. Tak ada bedak tapi memang kulit wajahnya sudah berwarna kuning langsat segar, sehingga tak tampak pucat atau berminyak.
“Tetanggamu ada di rumah mala mini, Ru?” tanyanya sambil membenahi meja yang penuh dengan bungkus rokok dan kulit kacang. Ia berjalan mondar-mandir dengan cueknya merapikan tempat ala kadarnya, tanpa takut dianggap tak sopan terhadap tamu.
“Tadi sihh… ada. Waktu aku berangkat kemari, Bosnan masih ada di kamarnya. Aku mendengar suara TV. Berarti ia ada di kamarnya. Dia memang jarang keluar kemana-mana belakangan ini. Nggak seperti dulu.”
“Pasti ada ceweknya di dalam kamar itu. iya kan?” Debby melirik sepintas sebelum tiba di meja makan untuk meletakkan gelas kotor. Lirikan itu cukup tajam dan bersifat mendesak Ruyan agar mengaku apa adanya. Tapi senyum Ruyan tetap kalem, karena ia mempunyai jawaban sejujurnya yang tak perlu diragukan lagi.
“Seingatku dari pukul tujuh tadi, nggak ada tamu yang datang untuk mencarinya. Aku tahu persis kok, Bosnan sendirian di kamarnya. Setengah jam sebelum kau menghubungi HPku, aku sempat bicara dengannya di depan kamar. Aku melihat jelas, nggak ada tamu siapapun di dalam kamar itu. jadi, kurasa dia di kamar hanya sendirian, menikmati acara TV sambil… entah, sambil ngapain. Aku nggak tahu.”
Debby kembali ke sofa tamu. Senyumnya getir, menandakan sedang menahan keluh duka dalam hatinya. Ia duduk dalam satu sofa panjang bersama Ruyan dengan santai, seenaknya sendiri. Padahal saat itu ia mengenakan rok tidur bertali kecil di pundak dan terbuat dari bahan yang tipis, lembut, meski tidak terlalu transparan. Tapi panjang ukuran rok longgar itu hanya separoh paha. Ia tak merasa risi duduk seenaknya yang membuat rok itu sedikit tersingkap, sehingga bentuk kemulusan pahanya nyaris dapat dilihat sang tamu secara keseluruhan. Sikapnya itu memang menunjukkan keakraban persahabatan yang sudah tidak perlu basa-basi atau formalitas yang kaku. Meskipun dari ketipisan gaunnya telah membentuk siluet pada bagian dadanya, toh sedikitpun ia tak merasa malu jika sang tamu sampai mengetahui bahwa dadanya yang sekal dan agak montok itu tidak mengenakan bra sama sekali.
“Aku yakin, dia pasti punya cewek lain, Ru. Kalau dia nggak punya cewek lain, nggak mungkin dia bersikap seperti ini padaku. Kalau nggak ada factor penunjang nggak mungkin dia menjauhiku. Soalnya, aku merasa selama ini bersikap baik-baik saja sama dia. Malah dia lebih sering kuajak happy, sering kubantu beban ekonominya, sering kuhangatkan cintanya, dan selama ini aku nggak pernah menjadi beban baginya kok. Mustahil dia menghindariku secara tiba-tiba begini kalau nggak ada perempuan lain yang berhasil memikat hatinya, mungkin juga posisinya lebih tinggi dariku. Kalau dia Cuma dapat cewek kelas rendah, yang segala sesuatunya berada dibawah keberadaanku, lalu dia rela lepaskan aku demi cewek itu… nah, berarti dia kena guna-guna. Atau, berarti dia sudah nggak waras lagi, alias gila..!”
Ruyan tertawa sebentar. Ia tak berani tertawa berkepanjangan, sebab bagi Debby ucapannya itu bukan sesuatu yang lucu, dan ia sendiri tak tertawa. Ia tetap serius mencurahkan kedongkolan hatinya tanpa malu-malu lagi. Ruyanpun seharusnya menanggapi dengan keseriusan agar tak mengecewakan hati Debby.
“Memang kalau dipikir-pikir secara logika, seperti itulah kesimpulan yang ada pada Bosnan. Seperti yang kau bilang tadi. Tapi selama satu minggu ini aku mencoba menyelidiki dia, sesuai dengan perintahmu, tapi sampai hari ini aku tak pernah melihat dia bersama gadis lain, atau bicara tentang gadis lain dengan siapa saja, atau menerima telepon dari gadis lain… nggak pernah. Sumpah, Deb! Malahan, seperti kukatakan tadi, dia cenderung suka mengurung diri di dalam kamar. Jarang mau diajak jalan-jalan seperti dulu lagi. Kalau kami ngobrol di runag tamu, dia jarang ikut nimbrung. Kamarnya lebih sering ditutup.”
“Aku masih kurang yakin dengan kesimpulanmu dech, Ru. Aku tahu persis pribadinya. Bosnan adalah orang yang selalu butuh perempuan setiap harinya, entah ngobrol, entah jalan-jalan, entah kencan, entah apa saja… pokoknya setiap hari dia butuh semangat hidup dari seorang perempuan. Kalau sampai seminggu lebih kau mengamati dia dan hasilnya seperti itu; dia nggak perempuan pengganti diriku, kayaknya itu hal yang sangat mustahil bagi Bosnan!”
Ruyan angkat pundak. “Tapi kenyataan yang terpantau olehku memang demikian. Malahan sudah dua minggu ini kuperhatikan dirinya sering pulang kantor tepat waktu, bahkan sering lebih awal dari biasanya. Kalau dulu, sebelum dia menjauhkan diri darimu, dia sering pulang kantor ngelantur, baik itu bersama kamu atau tidak bersama kamu. Dia sering pulang pukul delapan malam. Nah, sekarang ini… dia lebih sering sampai di kost pukul enam. Kadang-kadang pukul lima sudah ada di kost.”
“Darimana kau tahu?!”
“Diam-diam akupun menyuruh Atang, penjaga kost kami, untuk memperhatikan Bosnan. Kalau perlu mencatat pukul berpa Bosnan pulang. Pokoknya… sejak kematian atasannya setengah bulan yang lalu, Bosnan terkesan lebih betah tinggal di rumah dari pada keluyuran kemana-mana. Samora, Rudy, dan teman-teman kost lainnya juga mempunyai kesimpulan seperti itu, Deb. Mereka juga merasa heran, mengapa Bosnan berubah menjadi orang yang betah mengurung diri dalam kamarnya?”
“Apakah… dia sebenarnya punya hubungan gelap dengan Bu Verga? Kematian Bu Verga membuat jiwanya terganggu dan mengalami perubahan psikis…?”
“Ah, kurasa nggak mungkin begitu Deb. Toh dia tetap kelihatan ceria setiap harinya. Tetap kelihatan bersemangat seperti biasanya. Cumin sering mengurung diri di kamar, itu saja perubahannya!”
Debby manggut-manggut menjadi sangsi atas dugaannya sendiri. Rasa penasarannya justru menjadi semakin bertambahbesar. Dan, firasatnya tetap mengatakan ada perempuan lain di samping Bosnan. Sebab kalau memang tidak ada perempuan lain disampingnya, meskipun Bosnan menjauhi dirinya, maka pria tampan itu tetap akan sibuk kesana-kemari mencari perempuan lain sebagai spirit hidupnya. Yak mungkin hanya diam di kamar seperti pemuda kuper begitu.
Kenyataan seperti ini memang membuat Ruyan serba salah. Seminggu yang lalu ia diminta Debby, memata-matai Bosnan. Mencari informasi, siapa gadis yang bersama Bosnan sebenarnya dan tinggalnya dimana, bekerja dimana, ciri-cirinya seperti apa, serta data-data lainnya. Debby mempermudah urusan bisnisnya, asalkan Ruyan bersedia menjadi mata-matanya. Tetapi ternyata Ruyan tidak menemukan informasi sedikitpun tentang Bosnan, selain melihat sendiri bahwa Bosnan tidak mempunyai gadis lain. Tidak ada gadis yang datang ke tempat kost mereka, atau pergi bersama Bosnan, atau menjadi buah pembicaraan Bosnan kepada rekan-rekan kostnya.
Ruyan juga sudah mencoba mengorek keterangan dari Bosnan melalui obrolan santai. Alasan Bosnan memutuskan hubungan cinta dengan Debby hanya karena Debby bersifat egois dan terlalu ingin menguasai pribadi Bosnan. Mungkin karena Debby merasa lebih kaya, sehingga ia akan mengatur ruang gerak Bosnan seenaknya sendiri. Tapi sebenarnya alas an itu klise sekali. Hanya saja, tetap masuk akal kalau Bosnan menjauhi Debby dengan alas an seperti itu. Dan, sudah tiga kali Ruyan memancing Bosnan dengan menanyakan gadis pengganti Debby, tapi Bosnan selalu menggeleng. Menyatakan tidak punya pengganti Debby dan bahkan pernah menyatakan belum berniat mencari gadis pengganti Debby.
“Aku pernah memancingnya dengan berpura-pura ingin menjodohkannya dengan teman kantorku; Laela”
“Terus apa katanya?!” Debby sangat ingin tahu.
“Dia nggak berminat. Dia bilang, kepingin hidup bebas tanpa ikatan batin yang selama ini hanya melelahkan jiwanya.”
Bibir sedikit tebal tapi berbentuk menggoda selera itu cepat-cepat mencibir, pertanda meremehkan perkataan Bosnan kepada Ruyan itu. menurutnya, pernyataan Bosnan itu adalah bohong besar yang layak dilontarkan dari mulut orang-orang munafik.
Malam semakin larut, curhat tetap lanjut.
“Buat aku sebenarnya kehilangan Bosnan bukanlah sesuatu yang sangat memukul jiwaku. Biasa saja. Kuanggap dia sudah bosan sama aku, dan akupun harus bosan sama dia. Okey! Cuma, aku nggak suka kalau caranya dia memutuskan hubungan kayak begini. Mestinya dia berikan aku alas an yang jujur donk, kenapa dia kepingin pisah sama aku? Emangnya aku ini cewek apaan, masih mau beratin cowok yang sudah nggak suka sama aku?!”
“Memang inilah kesalahan Bosnan yang fatal. Nggak berani open!”
“Nah iya! Kalau emang dia punya cewek lagi, bilang aja terus terang. Nggak mungkin aku melabrak cewek itu. toh bukan cumin dia satu-satunya cowok di dunia ini. Aku bisa cari cowok yang lebih oke dari dia dalam waktu sehari aja! Asal semuanya terbuka, blak-blakan, kita sendirikan jadi sama-sama enak.”
“Iya memang,” Ruyan selalu mendukung pendapat Debby. Gadis itu semakin memperoleh kelegahan hati karena persepsinya selalu dibenarkan oleh lawan bicaranya. Ia semakin tidak sungkan-sungkan lagi untuk mencurahkan seluruh uneg-uneg hatinya.
“Sekarang yang bikin aku penasaran cumin kepingin tahu, kayak apa sih ceweknya Bosnan itu?!”
“Sebaiknya lupakan sajalah, biar nggak jadi beban pikiranmu.”
“Nggak bisa Ru. Aku harus melihat sendiri, dan aku yakin dia pasti punya cewek baru! Sekarang kutugaskan padamu untuk mendesak dia dengan cara apapun supaya dia mengaku dan menunjukkan cewek barunya itu! Sanggup?!”
“Tapi Deb…”
“Desak aja! Kalau perlu desak dengan cara kasar! Pasti dia mengaku dan mau menunjukkan cewek barunya!”
“Dengan cara kasar?!”
“Ya. Kekerasan!”
“Wah…” Ruyan menyengir kikuk.
“Kenapa?! Kamu takut?!”
“Bukan soal takut, tapi..”
“Kalau kamu sampai terlibat urusan polisi, aku yang akan menebusmu deh! Jangan khawatir soal itu! yang penting aku bisa mengetahui, seperti apa cewek barunya itu. Kalau begitu, baru aku puas. Puas sekali! Dan, mungkin aku nggak mau lagi urusan sama mereka, karena aku sudah puas!”
Ruyan masih tersenyum-senyum salah tingkah sendiri. Debby bergeser lebih mendekat. Nada bicaranya lebih provokatif lagi.
“Aku tak pernah merasa keberatan mengeluarkan biaya besar demi mencapai kepuasanku, Ru. Berapa saja imbalan yang kau minta dariku, akan kupenuhi. Asalkan kau bisa membuatku puas!”
“Masalahnya… Bosnan itu kan teman aku juga Deb. Masa’ aku harus menggunkan kekerasan atau kekasaran sih? Apakah…”
“Kamu bangga punya teman kayak dia?!” kamu merasa saying kalau kehilangan sahabat macam dia?!”
Sulit juga Ruyan menjawabnya, Debby kelihatannya tidak bisa diajak kompromi lagi. Keinginannya harus dipenuhi. Kemauannya sulit untuk dicegah. Keputusannya nyaris tak dapat dilunakkan. Ruyan semakin jelas melihat keegoisan Debby yang memang cukup besar dan sulit disadarkan itu. Namun, Ruyan tetap sabar, karena ia yakin gadis itu pasti punya titik kelemahan untuk bisa menurunkan egoismenya.
“Bagaimana Ru?! Kamu sanggup menjalankan misi itu?!”
“Akan kucoba. Kalau sampai beberapa hari ternyata aku belum berhasil atau belum bertindak seperti saranmu itu, aku akan menyatakan mundur dari misi ini. Tapi kalau sekarang juga aku bilang, nggak sanggup, ooh… itu pun belum tentu. Harus kucoba dulu, apakah aku benar-benar tidak sanggup ataukah sebenarnya sanggup.”
Jawaban dan keterangan itu agaknya sedikit melegakan hati Debby. Terbukti gadis itu manggut-manggut dan tanpa banyak desakan lagi. Rupanya penjelasan seperti itu bermanfaat untuk meredakan emosi dan rasa egoisnya Debby. Gadis itu lebih menyukai keterbukaan seperti itu, ketimbang tindakan-tindakan yang bersifat mematahkan egoismenya. Ruyan kini mulai menemukan celah kecil dalam menghadapi karakter putrid pengusaha besar itu.
“Deb, sudah pukul satu lebih nih. Aku pulang dulu yach?”
“Pulang?! Cewekmu ada di rumah ya?!” seru Debby dari depan kulkas. Ia mengeluarkan dua kaleng bir hitam. Sambil menyambung kata-katanya ia kembali menuju ke tempatnya duduk tadi.
“Kalau memang cewekmu nungguin dirumah, ya udah. Pulang aja sana! Jangan lama-lama nongkrong disini.”
Ruyan tertawa salah tingkah. Debby membuka kaleng bir sebelum duduk, lalu disodorkan kepada Ruyan dan diterima tanpa basa-basi lagi. Setelah membuka lagi satu kaleng untuk dirinya sendiri, Debby segera duduk di sebelah kiri riyan. Bir hitam diminumnya beberapa teguk tanpa dituang terlebih dahulu ke dalam gelas. Gaya minumnya yang langsung tenggak itu menandakan bahwa ia bersikap lebih cuek lagi di depan tamu prianya. Ruyan merasa ditantang untuk lebih berani bersikap seenaknya sendiri. Serba terbuka dan serba bebas.
“Sebenarnya kalau saja Bosnan mau bicara baik-baik padaku, mungkin aku nggak akan begini penasarannya Ru.”
“Mungkin dia nggak tega menyakiti hatimu.”
“Salah. Kalau dia punya pemikiran seperti itu, salah besar. Aku ngga akan sakit hati meskipun putus dengannya. Biasa aja! Cuma… aku jengkel dan geregetan sama caranya ini! Kamu lihat aku, mana ada tampang sedihku sih? Ada nggak?!”
“Itulah yang membuatku salut padamu. Kamu memang tegar dan cukup matang, menurutku. Sampai saat ini aku masih belum tahu, bagaimana kamu bisa bersikap tegar seperti ini dan tidak punya rasa sedih walaupun putus dengan Bosnan.”
“Karena aku belum terlalu mencintainya,” sahut Debby tegas. Wajah Ruyan sedikit berpaling ke arahnya. Seolah-olah agak kaget mendengar pernyataan tersebut.
“Aku hanya merasa suka sama dia Ru. Simpati, terkesan, dan mengaguminya. Belum benar-benar jatuh cinta padanya.”
“Bosnan pasti nggak menyangka akan hal itu.”
“Pasti. Dia sangka aku merasa sedih dan patah hati putus hubungan dengannya. Padahal nggak begitu. Apalagi dia mempunyai suatu kekurangan yang selama ini tak begitu kutuntut, walau sebenarnya samgat kubutuhkan. Selama ini aku coba untuk bisa menerima kekurangannya itu. ehh.. siapa tahu lama-lama kekurangan itu bisa terpenuhi. Tapi sebelum…”
“Apa sih kekurangannya?” sela Ruyan sedikit ingin tahu.
Debby tersenyum sambil membuang pandangan kea rah kaleng bir yang digenggamnya. Senyum itu menimbulkan rasa curiga di hati Ruyan. Ingin tahunya semakin bertambah besar. Namun sebelum Ruyan mencoba menerka kekurangan yang dimaksud, ternyata Debby sudah lebih dulu bicara lagi.
“Dia kurang berani.”
“Kurang berani dalam hal…?”
“Kurang berani beraksi di atas ranjang.”
“Oooo…” Ruyan tersenyum malu, Debby tertawa kecil agak parau. Tapi agaknya persoalan yang sangat pribadi seperti itu bukan hal yang tabu bagi Debby untuk dibicarakan di depan Ruyan pada saat itu juga.
“Sebenarnya dia memang cukup romantis, tapi keromantisannya itu adalah keromantisan yang cengeng, menurutku. Terlalu lemah, terlalu lembut. Sedangkan…”
“Bukankah yang begitu justru yang paling indah bagi kaum wanita?”
Tegas-tegas kepala Debby menggeleng. Matanya pun berani menatap secara terang-terangan. Kata-katanya tersengar jelas sekali.
“Aku nggak suka model yang lembut kayak gitu. Menurutk kelembutan seperti itu justru membatasi kepuasan jiwa.”
“Jadi… kamu suka yang…?”
“Yang beringas!” sahutnya cepat. “Yang tegar, jantan sekali, dan yang rada-rada liar. Penuh ungkapan rasa secara agresif.”
Ruyan tertawa gelid al Debby tersenyum-senyum cuek.
“Keromantisan yang emosional bagiku merupakan kenikmatan cinta yang sulit digambarkan, dan yang akan membuat gairahku terus berkobar-kobar.”
Senyum itu melebar lagi. Untuk menutupi malu hatinya, kaleng bir kembali menyentuh bibir, dan diminumnya beberapa teguk. Lalu, kaleng bir diletakkannya di meja. Sebatang rokok diambilnya dan dibakar. Ruyan justru mengambil asbak dari meja untuk dipindahkan ke samping tempat duduknya supaya Debby tidak terlalu jauh jika ingin menyentikkan abu rokoknya nanti. Dengan kepulan asap rokok itu Debby merasa semakin asyik mengutarakan masalah kemesraannya di ranjang, tanpa mempedulikan pembicaraan tersebut makin lama makin membuat darah Ruyan menjadi panas, detak jantungnya mulai cepat, nafaspun ikut mnejadi sedikit sesak.
“Brengsek!” Debby tersenyum sendiri sambil bernada mengeluh.
“Kenapa?!”
“Ngomongin soal begituan bikin aku jadi panas dingin dech.” Tawa paraunya berkelanjutan. Ia tampak malu pada Ruyan, memaksakan diri untuk tetap cuek, sehingga wajahnya hanya disembunyikan pada lengan kanannya, dan lengan itu ada di sandaran sofa. Telapak tangan tepat dibelakang kepala Ruyan. Ketika pemuda maco itu tertawa geli, Debby menahan malu dengan meremas tengkuk kepala Ruyan, mencubitnya dengan kesan gemas.
“Maksudnya panas dingin itu bagaimana sih?”
Ruyan berlagak bodoh, membuat Debby semakin geli-geli berdebaran.
“Panas dinginitu… sekujur tubuhku terasa dingin, tapi batinku terasa panas, sampai keluar keringatnya. Kalau nggak percaya pegang nih…!”
Tangan pemuda itu dituntunnya, disuruh memegang leher yang berkeringat dingin. Lalu tangan itu dituntun turun dibawah leher. Memang sedikit basah. Sampai disitu tangan Ruyan dilepaskan. Tangan itu tidak segera ditarik kemabali, melainkan justru meraba di sisi kanan, mencari tempat yang berkeringat lagi. Saat itu Debby sengaja membiarkan, matanya menatapa sayu. Ruyan merasa ditantang, sehingga semakin menunjukkan keberaniannya. Tanganpun bergeser turun, mendekati belahan dada yang cukup dalam, pertanda tepiannya menggunung sekal.
“Ternyata kamu mudah tersentuh oleh bayangan mesra ya..?”
Mata sayu itu mengaggukkan kepala.
“Aku memang lagi in the mood koq.”
“O, ya..?! wah, kalau begitu aku nggak berani sentuh kamu lebih lama lagi dong.” Ruyan ingin menarik tangannya, namun buru-buru tangan itu ditahan oleh Debby.
“Nggak apa-apa. Aku malah suka disentuh lebih lama… apalagi disentuh lebih dalam, ooohhh…. Asyik sekali tentunya…”
Tangan Ruyan pun bergeser semakin turun. Jari-jarinya terbenam di balik leher gaun tipi situ. Mesti gemetar, namun jari-jari itu menghadirkan kenikmatan tersendiri bagi Debby. Maka, semakin sayu mata Debby meandangi Ruyan, dan semakin menantang senyuman Ruyan di hadapan wajah cantiknya Debby. Jarak kedua wajah itu cukup dekat, kurang dari satu jangkauan. Aroma parfum sensual dari tubuh Debby kian tercium tajam oleh Ruyan, semakin membuat bara asmara semakin berkobar.
“Ouuh…” Debby menggigit bibirnya setelah mendesah parau, lalu menundukkan wajah. Seakan-akan meresapi indahnya sentuhan tangan Ruyan.
“Jangan berhenti Ru” pintanya seperti merengek manja, padahal mengerang indah. Wajah terangkat kembali, mata menatap bertambah redup-redup menggairahkan lawan jenisnya.
Gerakan tangan Ruyan semakin galak. Tali gaun disingkirkan dari pundak Debby. Gaun tipis lembut itu terperosot, terpuruk ke atas perutnya. Mata Ruyan berbinar-binar memandangi sepasang bukit membusung sekal dengan bentuknya yang indah, dan warnanya yang putih mulus berpuncak merah ranum. Secara reflex tangan Ruyan pun langsung mentambarnya. Bertambah berani, dan selbih agresif lagi. Debby justru memandangi dadanya sendiri sambil mendesis-desis penuh gairah bercumbu.
“Ooouuh… Ruuu,” ia menatap redup. “Aku suka.. aku suka dengan keberanianmu ini Ru…. Ouhhh…”
Debby menyambar tangan Ruyan yang satunya, lalu jari tangan itu digigitnya sedikit keras. Bahkan segera dibenamkan ke dalam mulutnya, dan lidah Debby pun mulai menari dengan lincah. Menghadirkan desiran-desiran kenikmatan di hati Ruyan. Desiran itu memancing keganasan Ruyan, sehingga bukan tangan lagi yang ada di dada Debby, melainkan ciuman hangat dari bibir Ruyan.
“Ohh, Debby…!” Ruyan meraung bagaikan serigala jantan menhadapi lawannya. Debby tak menyangka bahwa Ruyan ternyata jauh lebih berani dari Bosnan, juga jauh lebih liar dari Bosnan. Pria macho itu tak segan-segan mengekspresikan kenikmatan jiwanya, sehingga suara desah dan erangannya semakin membangkitkan gairah Debby yang sempat turun setelah Ruyan berhasil melambungkan hasratnya ke puncak keindahan.
“Ini yang kucari! Seperti inilah yang kudambakan selama ini! Ooohh…. Ruyannnn… kenapa yang kucari ternyata ada padamu, saying?! Ooohhh… indah sekali… indah sekali asmaramu Ruyan…”
Semakin deras peluh mereka, semakin ganas iarama bercinta. Ungkapan rasa bahagia yang meledak-ledak telah membuat mereka tak sempat menuju ranjang kemesraan. Bagi mereka sofa, lantai berlapis permadani, meja, semua yang ada di sekeliling mereka telah berubah menjadi ranjang kehangatan. Debby sangat kegirangan sekali mendapat obsesi cintanya yang selama ini tidak didapatkannya dari pria lain. Kegembiraan sedahsyat itu ternyata membuatnya semakin lupa berpikir tentang Bosnan. Yang ada dalam pikirannya hanya kehebatan Ruyan dalam memandu perjalnan cintanya yang terindah dari yang paling indah selama ini.
Namun keberanian Ruyan dalam berenang mengarungi lautan cinta itu, terpaksa harus segera dikurangi. Ada sesuatu yang sangat mencurigakan dan mengganggu kenikmatan berlayar. Debby yang saat itu terkapar di atas permadani lantai sengaja membiarkan keberanian Ruyan mengendur. Ia menyangka Ruyan ingin berlabuh lagi untuk beberapa saat, seperti tadi. Ia sangat setuju jika memang harus berlabuh sesaat, karena sekujur tubuhnya menjadi lemah akibat menanggung beban kelelahan berlayar.
Tetapi ketika perahu cinta itu berhenti tanpa gerakan mendayung seperti tadi, Debby mulai dapat merasakan keganjilan yang membuat susutnya keberanian Ruyan itu. Mereka saling memandang dengan sedikit cemas. Mereka mulai menyimak adanya getaran halus pada lantai asmara mereka. Getaran tersebut semakin jelas, bahkan diiringi suara benda berderak-derik pada tempatnya. Lukisan di dinding, lampu gantung, meja kaca, pot bunga di ujung tirai pembatas ruangan, dan benda-benda lainnya pun tampak jelas terguncang-guncang. Sepertinya mereka berlonjak-lonjak di tempat mereka masing-masing.
“Ruuu?! Ada gempa kan?! Ini gempa kan ru?!” Debby mulai tegang. Ruyan belum bisa menjawab, tapi ia telah membebaskan Debby dari tekanan asmara, sehingga keduanya sama-sama berdiri memandang sekelilingnya. Apartemen yeng terdiri dari tiga menara itu seperti sengaja diguncang-guncang oleh raksasa yang berada di kedalaman tanah sana. Ruyan dan Debby semakin tegang.
“Cepat kenakan pakaianmu Deb!” sergah Ruyan membuat Debby kaget dan menggeragap.
“Ohhh, sial, berengsek!” Debby menggerutu dan mengumpat tak henti-hentinya, karena merasa kenikmatan cintanya diganggu oleh suasana alam yang menjadi ganjil itu. mau tak mau ia harus keluar dari apartemennya, turun ke lantai pertama, dan menjauhi komplek hunian vertical itu sebelum guncangan gempa datang lebih besar lagi, hingga apartemen tiga menara itu runtuh dengan puing-puing mengubur beberapa penghuninya. Deru suara badai pun sudah mulai terdengar. Mungkin suara deru tersebut terdengar lebih keras di luar apartemen.
“Deb, bawa beberapa barang yang perlu-perlu saja! Lekas kita turun dari tempat ini.!” Seru Ruyan saat mengenakan jeansnya yang tadi dibuang di depan pintu masuk akibat hasrat tak bisa bersabar lagi.
“Hey, lihat cahaya itu Ru!” Debby menuding ke dinding kaca dekat pintu balkon yang juga terbuat dari kaca. Dinding kaca itu dilapisi dengan vertical blind, semacam kerai yang terbuat dari expanda. Dari celah-celah kerai itu tampak beberapa berkas cahay putih. Makin lama membias makin terang. Ruyan menjadi sangat penasaran, karena deru angin badai sudah hilang, demikian pula getaran Verga disangka gempa tadi. Tapi mengapa bias cahaya itu semakin terang, maka, vertical blind disingkapkan dengan memutar bagian ujungnya. Clap…!
“Haaah…???!” Debby terpekik dengan mata terbelalak, demikian pula halnya dengan Ruyan. Kekagetan itu akibat masuknya sinar terang sangat banyak hingga menyilaukan mata secara reflex. Mereka terbenging-benging memandang kea rah luar melalui dinding kaca tersebut.
“Siang…??!” gumam Ruyan.
“Ah, mas… masa’ sih?! Ini kan baru… baru pukul tiga dini hari. Masa’ suasana di luar sudah sesiang ini?!”
Bukan hanya mereka berdua yang terkejut, tapi juga semua orang dimana saja mereka berada, sama-sama terkejut dan tidak mudah mempercayai penglihatan mereka masing-masing. Suasana gelap pekat malam hari, tiba-tiba saja berubah menjadi siang dan terang. Langit sangat cerah, seperti pukul sepuluh atau pukul sebelas menjelang tengah hari. Padahal di langit mereka tidak melihat matahari bertengger seperti biasanya.
Unggas mulai terbangun dari tidurnya, begitu pula hewan-hewan lainnya. Ayam terlambat berkokok, dan mungkin juga bertanya-tanya; mengapa malam tiba-tiba menjadi siang, sedangkan jarum jam tetap menunjukkan pukul 03:42 dini hari?
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar