5
|
P
|
EMUDA berambut
cepak militer dan berperawakan maco itu sempat disangka benar-benar anggota
militer oleh petugas security apartemen. Sikap hormat dan pelayanan satpam
tersebut agak berlebihan. Bahkan ia ikut mengantarkan tamu tersebut ke lantai
15 menggunakan lift tengah. Satpam itu merasa yakin, bahwa tamunya kali ini
pasti lulusan ABRI yang setidaknya berpangkat letnan, sebab usia sang tamu
masih tampak muda sekali.
“Bapak dinas dimana, pak? Masih di Mabes atau…?”
“Masih… masih disana,” jawabnya tenang sangat
meyakinkan sekali sebagai jawaban ramah seorang letnan muda.
“Silahkan Pak!” si satpam sebaya tamunya itu
mempersilahkan sang tamu melangkah setelah pintu lift dibukakan. “Perlu saya
antar sampai ke room 433, Pak?”
“O… tidak usah. Saya sudah pernah datang sebelum ini.
Sudah tahu tempatnya kok. Terima kasih ya mas…”
“Sama-sama, pak. Selamat malam!” sambil bersikap tegak
menghormat, dan sang tamu hanya tersenyum ramah dengan menganggukkan kepala
sekedarnya, lalu bergegas menuju room 433 yang dituju. Lift tertutup kembali,
dan pemuda itu hamper tertawa lepas karena merasa sangat geli diperlakukan seperti
militer dan disangka dinas di Mabes. Padahal pemuda berkulit bersih dan
berhidung bangir itu hanyalah seorang marketing analyst di sebuah perusahaan.
Postur tubuhnya yang tegap, gagah dan terbungkus T-shirt ketat itulah yang
sering menimbulkan salah anggapan bagi orang lain.
Perusahaan tempatnya bekerja itu merupakan rekanan
dari perusahaan besar milik orang tuanya Debby. Dan di perusahaan itu Debby
Luxiana duduk sebagai Marketing Export Manager. Itulah sebabnya meskipun sudah
pukul Sembilan malam lewat, tapi ketika Debby menelpon Ruyan dan memintanya
datang ke apartemennya, Ruyan tak bisa menolak atau menghindari dengan alasan
apapun. Kepatuhan sikapnya bukan hanya lantaran factor persahabatan saja, tapi
juga demi kesinambungan hubungan bisnis kedua perusahaan mereka, juga bisnis
pribadi yang suatu saat menjadi penghasilan tambahan bagi Ruyan.
Bukan sesuatu yang aneh bagi Ruyan jika putrid
pengusaha besar itu lebih sering tinggal di apartemennya ketimbang di rumah
bersama keluarga, karena pada saat-saat tertentu gadis karir seperti Debby
membutuhkan tempat isterahat total untuk menurunkan kepenatannya. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui tempat
Debby menghindar dari segala macam kesibukan, terutama rekan-rekan dekatnya.
Ruyan sendiri sudah ketiga kali ini diminta menemui Debby di apartemen itu.
karena memiliki hubungan pribadi dengan Debby. Namun belakangan ini Debby
memang sudah mulai jarang menelpon ke tempat kost Bosnan. Hubungan mereka
memang tampak semakin renggang. Debby sering meminta informasi kepada Ruyan
mengenai sikap Bosnan yang tiba-tiba menjadi acuh tak acuh padanya itu. namun
yang dapat diberikan Ruyan hanyalah beberapa keterangan kecil, dan keterangan
itu tampak kurang memuaskan hati Debby.
Ketika tiba di kamar 433 yang memiliki satu kamar
tidur berukuran besar itu, Ruyan sempat dikenalkan dengan dua orang gadis teman
Debby yang sering dilihatnya muncul di Carrabian Café. Ruyan mengaku sering
melihat kedua wajah mungil itu di café tersebut namun baru kali ini sempat
berkenalan. Bahkan sama sekali tak menduga bahwa Prissy dan nayla adalah teman
dekat Debby. Saying sekali pada waktu itu Prissy dan Nayla memang sudah mau
meninggalkan apartemen tersebut, sehingga Ruyan hanya sempat beramah tamah
beberapa menit saja. Tak sampai lima menit.
Pembicaraan Debby pun masih berkisar masalah urusan
bisnis mereka. Tapi ketika Prissy dan nayla sudah pergi, keseriusan Debby dalam
membicarakan bisnis hilang secara berangsur-angsur. Gadis berparas cantik
seperti gadis-gadis Spanyol itu terkesan cuek sekali dalam penampilannya. Rambutnya
yang berpotongan shaggy tak dirapikan. Sedikit acak-acakan. Wajahpun tanpa
make-up seperti biasa sehingga bibirnya tidak semerah merah delima, melainkan
sedikit gelap karena memang ia gemar merokok. Tak ada bedak tapi memang kulit
wajahnya sudah berwarna kuning langsat segar, sehingga tak tampak pucat atau
berminyak.
“Tetanggamu ada di rumah mala mini, Ru?” tanyanya
sambil membenahi meja yang penuh dengan bungkus rokok dan kulit kacang. Ia
berjalan mondar-mandir dengan cueknya merapikan tempat ala kadarnya, tanpa
takut dianggap tak sopan terhadap tamu.
“Tadi sihh… ada. Waktu aku berangkat kemari, Bosnan
masih ada di kamarnya. Aku mendengar suara TV. Berarti ia ada di kamarnya. Dia
memang jarang keluar kemana-mana belakangan ini. Nggak seperti dulu.”
“Pasti ada ceweknya di dalam kamar itu. iya kan?”
Debby melirik sepintas sebelum tiba di meja makan untuk meletakkan gelas kotor.
Lirikan itu cukup tajam dan bersifat mendesak Ruyan agar mengaku apa adanya.
Tapi senyum Ruyan tetap kalem, karena ia mempunyai jawaban sejujurnya yang tak
perlu diragukan lagi.
“Seingatku dari pukul tujuh tadi, nggak ada tamu yang
datang untuk mencarinya. Aku tahu persis kok, Bosnan sendirian di kamarnya.
Setengah jam sebelum kau menghubungi HPku, aku sempat bicara dengannya di depan
kamar. Aku melihat jelas, nggak ada tamu siapapun di dalam kamar itu. jadi,
kurasa dia di kamar hanya sendirian, menikmati acara TV sambil… entah, sambil
ngapain. Aku nggak tahu.”
Debby kembali ke sofa tamu. Senyumnya getir,
menandakan sedang menahan keluh duka dalam hatinya. Ia duduk dalam satu sofa
panjang bersama Ruyan dengan santai, seenaknya sendiri. Padahal saat itu ia
mengenakan rok tidur bertali kecil di pundak dan terbuat dari bahan yang tipis,
lembut, meski tidak terlalu transparan. Tapi panjang ukuran rok longgar itu
hanya separoh paha. Ia tak merasa risi duduk seenaknya yang membuat rok itu
sedikit tersingkap, sehingga bentuk kemulusan pahanya nyaris dapat dilihat sang
tamu secara keseluruhan. Sikapnya itu memang menunjukkan keakraban persahabatan
yang sudah tidak perlu basa-basi atau formalitas yang kaku. Meskipun dari
ketipisan gaunnya telah membentuk siluet pada bagian dadanya, toh sedikitpun ia
tak merasa malu jika sang tamu sampai mengetahui bahwa dadanya yang sekal dan
agak montok itu tidak mengenakan bra sama sekali.
“Aku yakin, dia pasti punya cewek lain, Ru. Kalau dia
nggak punya cewek lain, nggak mungkin dia bersikap seperti ini padaku. Kalau
nggak ada factor penunjang nggak mungkin dia menjauhiku. Soalnya, aku merasa
selama ini bersikap baik-baik saja sama dia. Malah dia lebih sering kuajak
happy, sering kubantu beban ekonominya, sering kuhangatkan cintanya, dan selama
ini aku nggak pernah menjadi beban baginya kok. Mustahil dia menghindariku
secara tiba-tiba begini kalau nggak ada perempuan lain yang berhasil memikat
hatinya, mungkin juga posisinya lebih tinggi dariku. Kalau dia Cuma dapat cewek
kelas rendah, yang segala sesuatunya berada dibawah keberadaanku, lalu dia rela
lepaskan aku demi cewek itu… nah, berarti dia kena guna-guna. Atau, berarti dia
sudah nggak waras lagi, alias gila..!”
Ruyan tertawa sebentar. Ia tak berani tertawa
berkepanjangan, sebab bagi Debby ucapannya itu bukan sesuatu yang lucu, dan ia
sendiri tak tertawa. Ia tetap serius mencurahkan kedongkolan hatinya tanpa
malu-malu lagi. Ruyanpun seharusnya menanggapi dengan keseriusan agar tak
mengecewakan hati Debby.
“Memang kalau dipikir-pikir secara logika, seperti itulah
kesimpulan yang ada pada Bosnan. Seperti yang kau bilang tadi. Tapi selama satu
minggu ini aku mencoba menyelidiki dia, sesuai dengan perintahmu, tapi sampai
hari ini aku tak pernah melihat dia bersama gadis lain, atau bicara tentang
gadis lain dengan siapa saja, atau menerima telepon dari gadis lain… nggak
pernah. Sumpah, Deb! Malahan, seperti kukatakan tadi, dia cenderung suka
mengurung diri di dalam kamar. Jarang mau diajak jalan-jalan seperti dulu lagi.
Kalau kami ngobrol di runag tamu, dia jarang ikut nimbrung. Kamarnya lebih
sering ditutup.”
“Aku masih kurang yakin dengan kesimpulanmu dech, Ru.
Aku tahu persis pribadinya. Bosnan adalah orang yang selalu butuh perempuan
setiap harinya, entah ngobrol, entah jalan-jalan, entah kencan, entah apa saja…
pokoknya setiap hari dia butuh semangat hidup dari seorang perempuan. Kalau
sampai seminggu lebih kau mengamati dia dan hasilnya seperti itu; dia nggak
perempuan pengganti diriku, kayaknya itu hal yang sangat mustahil bagi Bosnan!”
Ruyan angkat pundak. “Tapi kenyataan yang terpantau
olehku memang demikian. Malahan sudah dua minggu ini kuperhatikan dirinya
sering pulang kantor tepat waktu, bahkan sering lebih awal dari biasanya. Kalau
dulu, sebelum dia menjauhkan diri darimu, dia sering pulang kantor ngelantur,
baik itu bersama kamu atau tidak bersama kamu. Dia sering pulang pukul delapan
malam. Nah, sekarang ini… dia lebih sering sampai di kost pukul enam.
Kadang-kadang pukul lima sudah ada di kost.”
“Darimana kau tahu?!”
“Diam-diam akupun menyuruh Atang, penjaga kost kami,
untuk memperhatikan Bosnan. Kalau perlu mencatat pukul berpa Bosnan pulang. Pokoknya…
sejak kematian atasannya setengah bulan yang lalu, Bosnan terkesan lebih betah
tinggal di rumah dari pada keluyuran kemana-mana. Samora, Rudy, dan teman-teman
kost lainnya juga mempunyai kesimpulan seperti itu, Deb. Mereka juga merasa
heran, mengapa Bosnan berubah menjadi orang yang betah mengurung diri dalam
kamarnya?”
“Apakah… dia sebenarnya punya hubungan gelap dengan Bu
Verga? Kematian Bu Verga membuat jiwanya terganggu dan mengalami perubahan
psikis…?”
“Ah, kurasa nggak mungkin begitu Deb. Toh dia tetap
kelihatan ceria setiap harinya. Tetap kelihatan bersemangat seperti biasanya.
Cumin sering mengurung diri di kamar, itu saja perubahannya!”
Debby manggut-manggut menjadi sangsi atas dugaannya
sendiri. Rasa penasarannya justru menjadi semakin bertambahbesar. Dan,
firasatnya tetap mengatakan ada perempuan lain di samping Bosnan. Sebab kalau
memang tidak ada perempuan lain disampingnya, meskipun Bosnan menjauhi dirinya,
maka pria tampan itu tetap akan sibuk kesana-kemari mencari perempuan lain
sebagai spirit hidupnya. Yak mungkin hanya diam di kamar seperti pemuda kuper
begitu.
Kenyataan seperti ini memang membuat Ruyan serba
salah. Seminggu yang lalu ia diminta Debby, memata-matai Bosnan. Mencari
informasi, siapa gadis yang bersama Bosnan sebenarnya dan tinggalnya dimana,
bekerja dimana, ciri-cirinya seperti apa, serta data-data lainnya. Debby
mempermudah urusan bisnisnya, asalkan Ruyan bersedia menjadi mata-matanya.
Tetapi ternyata Ruyan tidak menemukan informasi sedikitpun tentang Bosnan,
selain melihat sendiri bahwa Bosnan tidak mempunyai gadis lain. Tidak ada gadis
yang datang ke tempat kost mereka, atau pergi bersama Bosnan, atau menjadi buah
pembicaraan Bosnan kepada rekan-rekan kostnya.
Ruyan juga sudah mencoba mengorek keterangan dari
Bosnan melalui obrolan santai. Alasan Bosnan memutuskan hubungan cinta dengan
Debby hanya karena Debby bersifat egois dan terlalu ingin menguasai pribadi Bosnan.
Mungkin karena Debby merasa lebih kaya, sehingga ia akan mengatur ruang gerak
Bosnan seenaknya sendiri. Tapi sebenarnya alas an itu klise sekali. Hanya saja,
tetap masuk akal kalau Bosnan menjauhi Debby dengan alas an seperti itu. Dan,
sudah tiga kali Ruyan memancing Bosnan dengan menanyakan gadis pengganti Debby,
tapi Bosnan selalu menggeleng. Menyatakan tidak punya pengganti Debby dan
bahkan pernah menyatakan belum berniat mencari gadis pengganti Debby.
“Aku pernah memancingnya dengan berpura-pura ingin
menjodohkannya dengan teman kantorku; Laela”
“Terus apa katanya?!” Debby sangat ingin tahu.
“Dia nggak berminat. Dia bilang, kepingin hidup bebas
tanpa ikatan batin yang selama ini hanya melelahkan jiwanya.”
Bibir sedikit tebal tapi berbentuk menggoda selera itu
cepat-cepat mencibir, pertanda meremehkan perkataan Bosnan kepada Ruyan itu.
menurutnya, pernyataan Bosnan itu adalah bohong besar yang layak dilontarkan
dari mulut orang-orang munafik.
Malam semakin larut, curhat tetap lanjut.
“Buat aku sebenarnya kehilangan Bosnan bukanlah
sesuatu yang sangat memukul jiwaku. Biasa saja. Kuanggap dia sudah bosan sama
aku, dan akupun harus bosan sama dia. Okey! Cuma, aku nggak suka kalau caranya
dia memutuskan hubungan kayak begini. Mestinya dia berikan aku alas an yang
jujur donk, kenapa dia kepingin pisah sama aku? Emangnya aku ini cewek apaan,
masih mau beratin cowok yang sudah nggak suka sama aku?!”
“Memang inilah kesalahan Bosnan yang fatal. Nggak
berani open!”
“Nah iya! Kalau emang dia punya cewek lagi, bilang aja
terus terang. Nggak mungkin aku melabrak cewek itu. toh bukan cumin dia
satu-satunya cowok di dunia ini. Aku bisa cari cowok yang lebih oke dari dia
dalam waktu sehari aja! Asal semuanya terbuka, blak-blakan, kita sendirikan
jadi sama-sama enak.”
“Iya memang,” Ruyan selalu mendukung pendapat Debby.
Gadis itu semakin memperoleh kelegahan hati karena persepsinya selalu
dibenarkan oleh lawan bicaranya. Ia semakin tidak sungkan-sungkan lagi untuk
mencurahkan seluruh uneg-uneg hatinya.
“Sekarang yang bikin aku penasaran cumin kepingin
tahu, kayak apa sih ceweknya Bosnan itu?!”
“Sebaiknya lupakan sajalah, biar nggak jadi beban
pikiranmu.”
“Nggak bisa Ru. Aku harus melihat sendiri, dan aku
yakin dia pasti punya cewek baru! Sekarang kutugaskan padamu untuk mendesak dia
dengan cara apapun supaya dia mengaku dan menunjukkan cewek barunya itu!
Sanggup?!”
“Tapi Deb…”
“Desak aja! Kalau perlu desak dengan cara kasar! Pasti
dia mengaku dan mau menunjukkan cewek barunya!”
“Dengan cara kasar?!”
“Ya. Kekerasan!”
“Wah…” Ruyan menyengir kikuk.
“Kenapa?! Kamu takut?!”
“Bukan soal takut, tapi..”
“Kalau kamu sampai terlibat urusan polisi, aku yang
akan menebusmu deh! Jangan khawatir soal itu! yang penting aku bisa mengetahui,
seperti apa cewek barunya itu. Kalau begitu, baru aku puas. Puas sekali! Dan,
mungkin aku nggak mau lagi urusan sama mereka, karena aku sudah puas!”
Ruyan masih tersenyum-senyum salah tingkah sendiri.
Debby bergeser lebih mendekat. Nada bicaranya lebih provokatif lagi.
“Aku tak pernah merasa keberatan mengeluarkan biaya
besar demi mencapai kepuasanku, Ru. Berapa saja imbalan yang kau minta dariku,
akan kupenuhi. Asalkan kau bisa membuatku puas!”
“Masalahnya… Bosnan itu kan teman aku juga Deb. Masa’
aku harus menggunkan kekerasan atau kekasaran sih? Apakah…”
“Kamu bangga punya teman kayak dia?!” kamu merasa
saying kalau kehilangan sahabat macam dia?!”
Sulit juga Ruyan menjawabnya, Debby kelihatannya tidak
bisa diajak kompromi lagi. Keinginannya harus dipenuhi. Kemauannya sulit untuk
dicegah. Keputusannya nyaris tak dapat dilunakkan. Ruyan semakin jelas melihat
keegoisan Debby yang memang cukup besar dan sulit disadarkan itu. Namun, Ruyan
tetap sabar, karena ia yakin gadis itu pasti punya titik kelemahan untuk bisa
menurunkan egoismenya.
“Bagaimana Ru?! Kamu sanggup menjalankan misi itu?!”
“Akan kucoba. Kalau sampai beberapa hari ternyata aku
belum berhasil atau belum bertindak seperti saranmu itu, aku akan menyatakan
mundur dari misi ini. Tapi kalau sekarang juga aku bilang, nggak sanggup, ooh…
itu pun belum tentu. Harus kucoba dulu, apakah aku benar-benar tidak sanggup
ataukah sebenarnya sanggup.”
Jawaban dan keterangan itu agaknya sedikit melegakan
hati Debby. Terbukti gadis itu manggut-manggut dan tanpa banyak desakan lagi. Rupanya
penjelasan seperti itu bermanfaat untuk meredakan emosi dan rasa egoisnya
Debby. Gadis itu lebih menyukai keterbukaan seperti itu, ketimbang
tindakan-tindakan yang bersifat mematahkan egoismenya. Ruyan kini mulai
menemukan celah kecil dalam menghadapi karakter putrid pengusaha besar itu.
“Deb, sudah pukul satu lebih nih. Aku pulang dulu
yach?”
“Pulang?! Cewekmu ada di rumah ya?!” seru Debby dari
depan kulkas. Ia mengeluarkan dua kaleng bir hitam. Sambil menyambung
kata-katanya ia kembali menuju ke tempatnya duduk tadi.
“Kalau memang cewekmu nungguin dirumah, ya udah.
Pulang aja sana! Jangan lama-lama nongkrong disini.”
Ruyan tertawa salah tingkah. Debby membuka kaleng bir
sebelum duduk, lalu disodorkan kepada Ruyan dan diterima tanpa basa-basi lagi.
Setelah membuka lagi satu kaleng untuk dirinya sendiri, Debby segera duduk di
sebelah kiri riyan. Bir hitam diminumnya beberapa teguk tanpa dituang terlebih
dahulu ke dalam gelas. Gaya minumnya yang langsung tenggak itu menandakan bahwa
ia bersikap lebih cuek lagi di depan tamu prianya. Ruyan merasa ditantang untuk
lebih berani bersikap seenaknya sendiri. Serba terbuka dan serba bebas.
“Sebenarnya kalau saja Bosnan mau bicara baik-baik
padaku, mungkin aku nggak akan begini penasarannya Ru.”
“Mungkin dia nggak tega menyakiti hatimu.”
“Salah. Kalau dia punya pemikiran seperti itu, salah
besar. Aku ngga akan sakit hati meskipun putus dengannya. Biasa aja! Cuma… aku
jengkel dan geregetan sama caranya ini! Kamu lihat aku, mana ada tampang
sedihku sih? Ada nggak?!”
“Itulah yang membuatku salut padamu. Kamu memang tegar
dan cukup matang, menurutku. Sampai saat ini aku masih belum tahu, bagaimana
kamu bisa bersikap tegar seperti ini dan tidak punya rasa sedih walaupun putus
dengan Bosnan.”
“Karena aku belum terlalu mencintainya,” sahut Debby tegas.
Wajah Ruyan sedikit berpaling ke arahnya. Seolah-olah agak kaget mendengar
pernyataan tersebut.
“Aku hanya merasa suka sama dia Ru. Simpati, terkesan,
dan mengaguminya. Belum benar-benar jatuh cinta padanya.”
“Bosnan pasti nggak menyangka akan hal itu.”
“Pasti. Dia sangka aku merasa sedih dan patah hati
putus hubungan dengannya. Padahal nggak begitu. Apalagi dia mempunyai suatu
kekurangan yang selama ini tak begitu kutuntut, walau sebenarnya samgat
kubutuhkan. Selama ini aku coba untuk bisa menerima kekurangannya itu. ehh..
siapa tahu lama-lama kekurangan itu bisa terpenuhi. Tapi sebelum…”
“Apa sih kekurangannya?” sela Ruyan sedikit ingin
tahu.
Debby tersenyum sambil membuang pandangan kea rah
kaleng bir yang digenggamnya. Senyum itu menimbulkan rasa curiga di hati Ruyan.
Ingin tahunya semakin bertambah besar. Namun sebelum Ruyan mencoba menerka kekurangan
yang dimaksud, ternyata Debby sudah lebih dulu bicara lagi.
“Dia kurang berani.”
“Kurang berani dalam hal…?”
“Kurang berani beraksi di atas ranjang.”
“Oooo…” Ruyan tersenyum malu, Debby tertawa kecil agak
parau. Tapi agaknya persoalan yang sangat pribadi seperti itu bukan hal yang
tabu bagi Debby untuk dibicarakan di depan Ruyan pada saat itu juga.
“Sebenarnya dia memang cukup romantis, tapi keromantisannya
itu adalah keromantisan yang cengeng, menurutku. Terlalu lemah, terlalu lembut.
Sedangkan…”
“Bukankah yang begitu justru yang paling indah bagi
kaum wanita?”
Tegas-tegas kepala Debby menggeleng. Matanya pun
berani menatap secara terang-terangan. Kata-katanya tersengar jelas sekali.
“Aku nggak suka model yang lembut kayak gitu. Menurutk
kelembutan seperti itu justru membatasi kepuasan jiwa.”
“Jadi… kamu suka yang…?”
“Yang beringas!” sahutnya cepat. “Yang tegar, jantan
sekali, dan yang rada-rada liar. Penuh ungkapan rasa secara agresif.”
Ruyan tertawa gelid al Debby tersenyum-senyum cuek.
“Keromantisan yang emosional bagiku merupakan
kenikmatan cinta yang sulit digambarkan, dan yang akan membuat gairahku terus
berkobar-kobar.”
Senyum itu melebar lagi. Untuk menutupi malu hatinya,
kaleng bir kembali menyentuh bibir, dan diminumnya beberapa teguk. Lalu, kaleng
bir diletakkannya di meja. Sebatang rokok diambilnya dan dibakar. Ruyan justru
mengambil asbak dari meja untuk dipindahkan ke samping tempat duduknya supaya
Debby tidak terlalu jauh jika ingin menyentikkan abu rokoknya nanti. Dengan
kepulan asap rokok itu Debby merasa semakin asyik mengutarakan masalah
kemesraannya di ranjang, tanpa mempedulikan pembicaraan tersebut makin lama
makin membuat darah Ruyan menjadi panas, detak jantungnya mulai cepat, nafaspun
ikut mnejadi sedikit sesak.
“Brengsek!” Debby tersenyum sendiri sambil bernada
mengeluh.
“Kenapa?!”
“Ngomongin soal begituan bikin aku jadi panas dingin
dech.” Tawa paraunya berkelanjutan. Ia tampak malu pada Ruyan, memaksakan diri
untuk tetap cuek, sehingga wajahnya hanya disembunyikan pada lengan kanannya,
dan lengan itu ada di sandaran sofa. Telapak tangan tepat dibelakang kepala
Ruyan. Ketika pemuda maco itu tertawa geli, Debby menahan malu dengan meremas
tengkuk kepala Ruyan, mencubitnya dengan kesan gemas.
“Maksudnya panas dingin itu bagaimana sih?”
Ruyan berlagak bodoh, membuat Debby semakin geli-geli
berdebaran.
“Panas dinginitu… sekujur tubuhku terasa dingin, tapi
batinku terasa panas, sampai keluar keringatnya. Kalau nggak percaya pegang
nih…!”
Tangan pemuda itu dituntunnya, disuruh memegang leher
yang berkeringat dingin. Lalu tangan itu dituntun turun dibawah leher. Memang
sedikit basah. Sampai disitu tangan Ruyan dilepaskan. Tangan itu tidak segera
ditarik kemabali, melainkan justru meraba di sisi kanan, mencari tempat yang
berkeringat lagi. Saat itu Debby sengaja membiarkan, matanya menatapa sayu.
Ruyan merasa ditantang, sehingga semakin menunjukkan keberaniannya. Tanganpun
bergeser turun, mendekati belahan dada yang cukup dalam, pertanda tepiannya
menggunung sekal.
“Ternyata kamu mudah tersentuh oleh bayangan mesra
ya..?”
Mata sayu itu mengaggukkan kepala.
“Aku memang lagi in the mood koq.”
“O, ya..?! wah, kalau begitu aku nggak berani sentuh
kamu lebih lama lagi dong.” Ruyan ingin menarik tangannya, namun buru-buru
tangan itu ditahan oleh Debby.
“Nggak apa-apa. Aku malah suka disentuh lebih lama…
apalagi disentuh lebih dalam, ooohhh…. Asyik sekali tentunya…”
Tangan Ruyan pun bergeser semakin turun. Jari-jarinya
terbenam di balik leher gaun tipi situ. Mesti gemetar, namun jari-jari itu
menghadirkan kenikmatan tersendiri bagi Debby. Maka, semakin sayu mata Debby
meandangi Ruyan, dan semakin menantang senyuman Ruyan di hadapan wajah
cantiknya Debby. Jarak kedua wajah itu cukup dekat, kurang dari satu jangkauan.
Aroma parfum sensual dari tubuh Debby kian tercium tajam oleh Ruyan, semakin
membuat bara asmara semakin berkobar.
“Ouuh…” Debby menggigit bibirnya setelah mendesah
parau, lalu menundukkan wajah. Seakan-akan meresapi indahnya sentuhan tangan
Ruyan.
“Jangan berhenti Ru” pintanya seperti merengek manja,
padahal mengerang indah. Wajah terangkat kembali, mata menatap bertambah
redup-redup menggairahkan lawan jenisnya.
Gerakan tangan Ruyan semakin galak. Tali gaun
disingkirkan dari pundak Debby. Gaun tipis lembut itu terperosot, terpuruk ke
atas perutnya. Mata Ruyan berbinar-binar memandangi sepasang bukit membusung
sekal dengan bentuknya yang indah, dan warnanya yang putih mulus berpuncak merah
ranum. Secara reflex tangan Ruyan pun langsung mentambarnya. Bertambah berani,
dan selbih agresif lagi. Debby justru memandangi dadanya sendiri sambil
mendesis-desis penuh gairah bercumbu.
“Ooouuh… Ruuu,” ia menatap redup. “Aku suka.. aku suka
dengan keberanianmu ini Ru…. Ouhhh…”
Debby menyambar tangan Ruyan yang satunya, lalu jari
tangan itu digigitnya sedikit keras. Bahkan segera dibenamkan ke dalam
mulutnya, dan lidah Debby pun mulai menari dengan lincah. Menghadirkan desiran-desiran
kenikmatan di hati Ruyan. Desiran itu memancing keganasan Ruyan, sehingga bukan
tangan lagi yang ada di dada Debby, melainkan ciuman hangat dari bibir Ruyan.
“Ohh, Debby…!” Ruyan meraung bagaikan serigala jantan
menhadapi lawannya. Debby tak menyangka bahwa Ruyan ternyata jauh lebih berani
dari Bosnan, juga jauh lebih liar dari Bosnan. Pria macho itu tak segan-segan
mengekspresikan kenikmatan jiwanya, sehingga suara desah dan erangannya semakin
membangkitkan gairah Debby yang sempat turun setelah Ruyan berhasil
melambungkan hasratnya ke puncak keindahan.
“Ini yang kucari! Seperti inilah yang kudambakan
selama ini! Ooohh…. Ruyannnn… kenapa yang kucari ternyata ada padamu, saying?!
Ooohhh… indah sekali… indah sekali asmaramu Ruyan…”
Semakin deras peluh mereka, semakin ganas iarama
bercinta. Ungkapan rasa bahagia yang meledak-ledak telah membuat mereka tak
sempat menuju ranjang kemesraan. Bagi mereka sofa, lantai berlapis permadani,
meja, semua yang ada di sekeliling mereka telah berubah menjadi ranjang
kehangatan. Debby sangat kegirangan sekali mendapat obsesi cintanya yang selama
ini tidak didapatkannya dari pria lain. Kegembiraan sedahsyat itu ternyata
membuatnya semakin lupa berpikir tentang Bosnan. Yang ada dalam pikirannya
hanya kehebatan Ruyan dalam memandu perjalnan cintanya yang terindah dari yang
paling indah selama ini.
Namun keberanian Ruyan dalam berenang mengarungi
lautan cinta itu, terpaksa harus segera dikurangi. Ada sesuatu yang sangat
mencurigakan dan mengganggu kenikmatan berlayar. Debby yang saat itu terkapar
di atas permadani lantai sengaja membiarkan keberanian Ruyan mengendur. Ia
menyangka Ruyan ingin berlabuh lagi untuk beberapa saat, seperti tadi. Ia
sangat setuju jika memang harus berlabuh sesaat, karena sekujur tubuhnya menjadi
lemah akibat menanggung beban kelelahan berlayar.
Tetapi ketika perahu cinta itu berhenti tanpa gerakan
mendayung seperti tadi, Debby mulai dapat merasakan keganjilan yang membuat
susutnya keberanian Ruyan itu. Mereka saling memandang dengan sedikit cemas.
Mereka mulai menyimak adanya getaran halus pada lantai asmara mereka. Getaran
tersebut semakin jelas, bahkan diiringi suara benda berderak-derik pada
tempatnya. Lukisan di dinding, lampu gantung, meja kaca, pot bunga di ujung
tirai pembatas ruangan, dan benda-benda lainnya pun tampak jelas
terguncang-guncang. Sepertinya mereka berlonjak-lonjak di tempat mereka
masing-masing.
“Ruuu?! Ada gempa kan?! Ini gempa kan ru?!” Debby
mulai tegang. Ruyan belum bisa menjawab, tapi ia telah membebaskan Debby dari
tekanan asmara, sehingga keduanya sama-sama berdiri memandang sekelilingnya.
Apartemen yeng terdiri dari tiga menara itu seperti sengaja diguncang-guncang
oleh raksasa yang berada di kedalaman tanah sana. Ruyan dan Debby semakin
tegang.
“Cepat kenakan pakaianmu Deb!” sergah Ruyan membuat
Debby kaget dan menggeragap.
“Ohhh, sial, berengsek!” Debby menggerutu dan
mengumpat tak henti-hentinya, karena merasa kenikmatan cintanya diganggu oleh
suasana alam yang menjadi ganjil itu. mau tak mau ia harus keluar dari
apartemennya, turun ke lantai pertama, dan menjauhi komplek hunian vertical itu
sebelum guncangan gempa datang lebih besar lagi, hingga apartemen tiga menara
itu runtuh dengan puing-puing mengubur beberapa penghuninya. Deru suara badai
pun sudah mulai terdengar. Mungkin suara deru tersebut terdengar lebih keras di
luar apartemen.
“Deb, bawa beberapa barang yang perlu-perlu saja!
Lekas kita turun dari tempat ini.!” Seru Ruyan saat mengenakan jeansnya yang
tadi dibuang di depan pintu masuk akibat hasrat tak bisa bersabar lagi.
“Hey, lihat cahaya itu Ru!” Debby menuding ke dinding
kaca dekat pintu balkon yang juga terbuat dari kaca. Dinding kaca itu dilapisi
dengan vertical blind, semacam kerai yang terbuat dari expanda. Dari
celah-celah kerai itu tampak beberapa berkas cahay putih. Makin lama membias
makin terang. Ruyan menjadi sangat penasaran, karena deru angin badai sudah
hilang, demikian pula getaran Verga disangka gempa tadi. Tapi mengapa bias
cahaya itu semakin terang, maka, vertical blind disingkapkan dengan memutar
bagian ujungnya. Clap…!
“Haaah…???!” Debby terpekik dengan mata terbelalak,
demikian pula halnya dengan Ruyan. Kekagetan itu akibat masuknya sinar terang
sangat banyak hingga menyilaukan mata secara reflex. Mereka terbenging-benging
memandang kea rah luar melalui dinding kaca tersebut.
“Siang…??!” gumam Ruyan.
“Ah, mas… masa’ sih?! Ini kan baru… baru pukul tiga
dini hari. Masa’ suasana di luar sudah sesiang ini?!”
Bukan hanya mereka berdua yang terkejut, tapi juga
semua orang dimana saja mereka berada, sama-sama terkejut dan tidak mudah
mempercayai penglihatan mereka masing-masing. Suasana gelap pekat malam hari, tiba-tiba
saja berubah menjadi siang dan terang. Langit sangat cerah, seperti pukul
sepuluh atau pukul sebelas menjelang tengah hari. Padahal di langit mereka
tidak melihat matahari bertengger seperti biasanya.
Unggas mulai terbangun dari tidurnya, begitu pula
hewan-hewan lainnya. Ayam terlambat berkokok, dan mungkin juga bertanya-tanya;
mengapa malam tiba-tiba menjadi siang, sedangkan jarum jam tetap menunjukkan
pukul 03:42 dini hari?
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar