Minggu, 01 April 2012

Permainan Iblis Page 10-Selesai


Rupanya pada saat itu ketegangan Bosnan memang mencapai puncaknya. Hampir saja ia tidak bisa bernafas karena sentakan rasa kaget yang menohok kuat ulu hatinya. Detak jantung sudah tak terkendali lagi cepatnya, sudah tak bisa lagi diukirkan lagi kerasnya. Ia yakin sekujur wajahnya pasti pucat pasi, serupa dengan sehelai kertas kerja tanpa kop surat. Bagaimana ia tak mencapai puncak ketegangan, karena perempuan separoh baya yang masih memiliki tubuh sekal dan masih bisa digolongkan sexy itu adalah orang yang cukup dikenalnya, walau tak begitu dekat. Perempuan berwajah cantik penuh kematangan pribadi dan bermata indah namun tajam berwibawa sedikit galak itu adalah Presiden Direktur di perusahaan tempatnya bekerja. Yang jarang sekali berkomunikasi langsung dengannya.
“Bu Verga...?!” Bosnan terucap dalam hati dengan gemetar ketika perempuan itu berpaling ke arahnya dan terperanjat kaget sekali melihat keberadaannya disitu. Hampir saja Bu Verga menjerit dan berlari kalau saja perempuan itu tidak segera mengenali ada wajah seorang lelaki yang tidak asing baginya.
“Kamu...?! Bukankah... Bukankah kamu adalah...”
“Bosnan! Iya, Bu...! saya adlah Bosnan!” sahutnya dengan menggeraga, ingin menunjukkan sikap bahwa ia sebenarnya tidak bersalah dan sangat menyesal berda di kamar it. Tetapi tatapan mata Bu Verga semakin tajam dan penuh kecurigaan. Nafasnya tampak begitu cepat, sehingga dadanya yang masih montok dan kencang itu tampak jelas naik turun dengan jelas. Dada tersebut hanya terbungkus kain halus, lembut, berleher rendah. Bentuknya tampak membayang di kelembutan gaunnya.
“Apa maksudmu masuk dikamarku, hah?!” Bu Verga yang sangat disegani oleh Bosnan dan orang-orang bawahan lainnya itu mulai menampakkkan kemarahannya. Matanya terbelalak penuh keberanian. Tapi ia tak berani mendekat, karena sangat waspada dan hati-hati sekali menghadapi tamu tak diundang itu. Janda beranak tiga yang kini ketiga anaknya melanjutkan sekolahnya di luar negeri itu bergeser pelan-pelan mendekati meja rias, berseberangan ranjang dengan posisi Bosnan berdiri. Tangannya pelan-pelan membuka laci meja, tampaknya ada senjata yang ingin diambilnya dari laci tersebut untuk membela diri jika sewaktu-waktu mendapat serangan. Tapi Bosnan segera menjelaskan kenyataan aneh yang dialaminya itu setelah menelan ludahnya satu kali dan berusaha menenangkan dirinya yang sangat gemetaran itu.
“Demi Tuhan ini semua bukan kehendak saya, Bu. Saya tidak pernah punya rencana segila ini, apalagi saya tahu siapa Bu Verga dan siapa saya. Apa yang saya ceritakan itu sungguh-sungguh kejadian yang saya alami. Kalau tidak percaya saya akan membawakan kotak permainan itu kepada ibu sebagai bukti!”
Cukup lama janda berkulit putih itu sengaja diam tanpa komentar dengan mata tajamnya yang mengagumkan kaum lelaki menatap Bosnan tana berkedip. Bosnan menjadi salah tingkah sendiri dipandang setajam itu. Menurutnya, tatapan Nyonya Verga seperti mesin pengorek seluruh isi hati dan pikiran, sehingga setiap kali bosnan ingin bicara selalu saja ragu dan dibatalkan.
“Duduklah...!” perintah Nyonya Verga dengan ekspresi keras.
“Sebaiknya saya bawa bukti itu kemari sekarang juga supaya...”
“Duduklah!” tegasnya semakin berwibawa dengan bahasa isyarat menyuruh Bosnan duduk di sofa yang berjarak 5 meter dari ranjang. Akhirnya, mau tak mau Bosnan mengikuti perintah itu untuk membuktikan bahwa ia tidak bermaksud jahat kepada Nyonya Verga.
“Ceritamu itu dapat kupercaya, Bosnan?!”
“Sekali lagi saya bersumpah, biar saya mati seketika juga kalau saya berbohong kepada Ibu,” jawabnya dengan hormat dan tampak mengharap kepercayaan setulusnya dari perempuan itu.
Sorot pandangan Bosnan ditatapnya lekat-lekat sekali lagi. Kemudian ia yampak menarik nafas sambil melangkah menuju ke bar kecil. Bosnan jhanya bisa menunduk, tak ingin menengok ke belakang, sehingga tak tahu apa yang dilakukan oleh orang nomor satu di kantornya itu. Sebentar kemudian terdengar suara perempuan berambut panjang selewat punggung yang digulung ke atas sekenanya itu berkata sedikit keras.
“Mau minum apa kamu?! Whisky, champagne, atau... bir?!”
“Hmmm, ehhh, hmmm... saya...” Bosnan semakin bingung bersikap dalam suasana seperti itu. Nyonya Verga mulai tampak berubah sikap. Bahkan tanpa banyak pertimbangan lagi menyodorkan sebotol Champagne, menyuruh Bosnan menuangkan ke dalam dua gelas yang kini diletakkan di meja depan tempat duduk Bosnan. Mau tak mau Bosnan kembali menuruti keinginan atasannya itu.
“Untuk sementara ini aku mempercayai ceritamu itu. Aku bisa merasakan kegundahan hatimu yang seperti dipermainkan oleh kekuatan setan,” kata Nyonya Verga setelah meneguk minumannya, duduk di sofa itu juga. Tepat di samping kanan Bosnan.
“Tenangkan hatimu,” tambahnya. “Rileks saja. Anggap kamu datang bertamu ke rumahku ini atas undangan diriku. Okey?!”
“terima kasih Bu Verga,” senyum Bosnan masih kikuk dan hambar. “Tapi... tapi boleh saya tahu mengapa Bu Verga mempercayai cerita saya? Apakah...?”
“Kamu tidak pakai alas kaki apapun, bukan?”
Bosnan sedikit tercengang, baru menyadari keadaan dirinya yang sebenarnya sangat kurang etis jika dianggap sebagai seoarng tamu, bawahan menghadap atasannya. Salain memang tidak mengenakan alas kaki, Bosnan saat itu juga hanya mengenakan celana pendek bermuda yang telah kusam dan biasa dipakai untuk tidur saja. Kaus yang diganakan juga kaus untuk tidur, gombrong dan berkesan lusuh. Bertambah canggung sikap Bosnan setelah menyadari keadaan pakaiannya saat itu. Kecanggungannya justru membuat Nyonya Verga mulai menyinggungkan senyum geli, tapi sangat tipis dan berkesan sinis.
“Wajahmu tadi lebih pucat daripada mayat”
“O... ya...?! Hmm, eeh...!” Bosnan mengusap wajahnya sendiri.
“Sudahlah,” ucapnya pelan sambil meletakkan gelas minumannya. Ia mengambil sebatang rokok untuk dinyalakan.
“Anggap saja malam ini adalah malam keberuntunganku,” lalu iapun menyalakan rokok sendiri. Bosann hanya bisa memandang tanpa mengerti ucapan tadi. Bosnan merasa tak enak hati lagi, karena tak bisa menyalakan korek untuk rokok Nyonya Verga, sebab ia memang tak membawa korek api. Korek itu ada di tangan Nyonya Verga, sehingga Bosnan tak bisa melakukan basa-basi rasa hormatnya.
Hembusan asap rokok pertama disertai perubahan ekspresi di wajah separoh baya yang masih tampak cantik dan eksklusif itu. Bosnan merasa lega karena perempuan itu sudah mulai berwajah sedikit cerah. Tidak segalak tadi. Tapi ia masih belum kuat menahan tatapan mata indah yang berbinar-binar di balik kesan angkuhnya itu.
“Sejujurnya aku akan bilang padamu, Bosnan... bukan hanya kamu yang mengalami kejadian aneh malam ini. Tapi aku sendiri juga mengalaminya. Aneh sekali.”
“O... ya.?! Benarkah?!” Bosnan tampak bersemangat menatapnya. “Ibu juga mengalami keanehan setelah bermain kotak kubus itu?!’
“Bukan itu maksudku,” ralatnya dengan kalem. Pandangan matanya mulai tampak sedikit redup. Seperti mengantuk. Tapi sebenarnya tidak.
“Agak berbeda dengan kemisteriusannya yang kau alami. Kemisteriusan ini aku awali sejak menerima tamu tadi; Zus Ricke dan Bella.”
“Zus Ricke.. bagian keuangan dikantor itu?”
“Benar. Entah darimana tadi awalnya... tahu-tahu kami bertiga berbicara tentang beberapa staf programer dan orang-orang marketing. Lalu... aku banyak bicara tentang kamu. Banyak bertanya tentang kamu kepada Bella...”
Sampai disitu perempuan itu diam sebentar. Tersenyum kecil, tampak menahan gelidan malu sendiri. Ia menyentikkan abu rokoknya ke dalam asbak, lalu kembali duduk bersandar dengan santai sambil melirik ke arah Bosnan, melanjutkan kata-katanya.
“Bella bilang, kamu sudah punya kekasih yang bernama Debby, anaknya Bob Hadiffa. Apa benar begitu?”
“Yahhh, hmm... bagaimana ya?” Bosnan jadi kikuk, tersenyum geli dan malu-malu. “Lalu bagaimana keterangan Bella selanjutnya?”"
“Dia yakin kalau kamu sudah menjalin hubungan dengan Debby, bahkan dia yakin dalam waktu dekat kalian akan bertunangan, atau mungkin bahkan menikah.”
“Bella memang profokator untuk hal-hal begituan, Bu. Konyol anak itu!” Bosnan tertawa, semakin trampak terlepas dari beban ketegangannya yang tadi.
“Lalu, aku bilang pada Bella...” sambung Nyonya Verga kalem.
“Bilang bagaimana, bu?”
“Kubilang... aku nggak peduli apakah Bosnan mau tunangan atau mau menikah dengan gadis manapun. Aku nggak peduli semua informasi itu!”
“Maksud... maksud ibu, bagaimana?”
“Kutegaskan Bella untuk memanggilmu besok, di kantor. Kusuruh dia menyampaikan pesanku padamu, bahwa harus menghadap ke ruang kerjaku secepatnya. Bahkan dengan bercanda aku tadi mengancam Bella, akan mem-PHK dia kalau sampai besok dia tidak bisa membuatmu datang menghadapku.”
Tawa geli Bosnan sedikit canggung, karena ia masih belum mengerti mengapa Nyonya Verga mengultimatum Bella hanya untuk memanggilnya menghadap sang presdir? Tapi senyum di bibir sensual Nyonya Verga sudah mulai melambangkan makna lain yang tak berani diyakini oleh hati kecil Bosnan. Sentum itu punya makna pribadi. Bosnan menyangkal nalurinya sendiri, dan berusaha menganggap senyum nakal itu tak berarti apa-apa bagi Nyonya Verga.
“Akhirnya..., tadi Bella pulang dengan agak ketakutan, karena menganggap ancamanku serius,” lalu tawa lirihnya terdengar ceria. Tapi tetap dengan nada-nada berwibawa dan kesan terhormat.
“Kenapa sampai mengancam begitu, Bu?”
“karena aku memang ingin bicara denganmu.”
“Bukankah tidak perlu memakai ancaman seperti itu, walaupun dalam artian bercanda?”
“Biar Bella tahu betul bahwa aku sangat serius ingin bertemu empat mata denganmu. Bukankah itu hal yang misterius..?”
“Hmm, iya... memang misterius. Tapi... tapi apa yang membuat ibu sampai seserius itu punya rasa ingin bertemu dengan saya?” Bosnan semakin ingin tahu Nyonya Verga sedikit menahan diri untuk tidak langsung mengatakan maksudnya. Bosnan dibuat sengaja menunggu jawaban dari pertanyaan sambil memperhatikan ke arahnya.
“Apakah saya telah melakukan pekerjaan yang salah dan...”
“Tidak ada hubungannya dengan urusan kantor dan perusahaan.!” Sahut Nyonya Verga dengan tatapan mata makin tampak sedikit sayu. Duduknya masih bersandar santai sekali. Tapi tatapan sayunya mulai mendebarkan hati Bosnan yang semakin yakin dengan nalurinya.
“Hubungannya adalah hubungan pribadi. Bukan hubungan bisnis,” kata Nyonya Verga. “Sudah tiga hari belakang ini, kita selalu berpapasan di lift, bukan.?”
“Hmm, oh ya... benar. Saya malah tak sempat mengingat-ingat hal itu Bu. Lalu..?”
“sekali, dua kali... memang tak terlalu merisaukan hatiku. Tapi papasan kita yang ketiga kemarin lusa itu, talah membuat hatiku jadi gundah. Aku sering terlintas memikirkan dirimu secara spontan. Semakin kuhindari bayangmu, semakin mengganggu ketenangan jiwaku.”
“Oh, maaf. Saya tidak bermaksud...”
“Aku yang punya maksud. Bukan kamu!” sahutnya cepat dan tegas. Senyumnya makin lebar, tapi juga makin menggoda menurut Bosnan.
“Sebelum maksudku terpenuhi, ketenangan jiwaku tetap terganggu, dan bisa semakin parah. Maka, tadi kuputuskan untuk menyelesaikan persoalan itu esok hari.”
“Maksud yang akan terpenuhi itu... maksud yang bagaimana, Bu..?”
Nyonya Verga makin menatap sayu. Rokoknya dimatikan di asbak. Minumannya diteguk. Tapi ketika Bosnan ingin ikut mengangkat gelas, tiba-tiba Nyonya Verga menyodorkan gelas minumannya ke bibir Bosnan. Pemuda itu kaget walaupun tersenyum salah tingkah. Ia ragu-ragu menyambut sodoran gelas atasannya ke bibirnya. Tapi pandangan mata Nyonya Verga semakin bermakna mendesaknya. Bahkan disertai anggukan kepala kecil, juga suara sedikit parau dan lirih.
“Minumlah....!”
Mulai paham sekali hati Bosnan menerima tawaran itu. Ia sangat mengerti apa yang diinginkan oleh presidirnya. Debar-debar dalam dadanya begitu kuat, sehingga yang terminum hanya sedikit. Pada saat itu, tangan Nyonya Verga yang satunya sudah berada di tengkuk Bosnan. Memberi usapan lembut, menggelitik jemarinya dengan pelan-pelan sekali. Bosnan tak mungkin mengalihkan matanya, karena hal itu pasti akan mengecewakan atasannya yang sedang terbakar asmara dan dan tampak sangat menahan gairah ingin bercumbu dengannya itu.
“Kamu tahu apa yang aku inginkan saat ini?”
Bosnan hanya sanggup menganggukkan kepala. Pendek sekali.
“Sudah lama aku menunggu kesempatan ini. Maukah kau memenuhi keinginanku itu?” Bisiknya setelah meletakkan gelas di meja.
“Akan saya coba, kalau memang itu yang Ibu inginkan,” suara Bosnan membisik dan bergetar, karena api gairah cinta telah membakar sekujur tuybuhnya, sehingga sentuhan tangan Nyonya Verga yang menerobos dibalik kaos longgar dan bermain di dada Bosnan itu sangat terasa deras desiran indahnya di seluruh tubuh Bosnan. Tapi pemuda itu masih takut mengawalinya, hanya diam menatap tanpa reaksi yang lebih berani lagi. Akhirnya janda berhidung mancung itu berkatas dengan suara yang semakin parau.
“Lakukanlah mulai sekarang. Jangan semakin menyiksaku.”
Dengan hati-hati dan gemetar sekali Bosnan mendekatkan mulutnya dan mengecup kening Nyonya Verga. Kecupan itu sangat lembut, tapi membuat darah kemesraan Nyonya Verga semakin mendidih. Perempuan itu meremas pelan dada Bosnan, karena bibir Bosnan masih menempel lama dikeningnya. Kehangatan terasa mengalir dari dana. Bibir itu seperti ragu-ragu utnuk turun ke bawah, sehingga Nyonya Verga akhirnya menarik diri. Menatap agak kesal tapi penasaran.
“Tak cukup hanya di kening.”
“Lalu.... dimana lagi seharusnya.?” Bosnan sengaja mengulur waktu karena ingin meyakinkan, benarkah yang dihadapinya itu adalah kenyataan, dan bukan sekedar ilusi lagi.
Nyonya Verga membawa Bosnan ke ranjang. Tapi ketika pemuda itu ingin memeluk dan mencium wajahnya, Nyonya Verga menolak.
“Tunggu....!” ia pun bergegas memdamkan lampu. Hanya lampu-lampu kecil yang menempel pada setiap sudut dan tertutup kap lampu dari fiberglas berbentuk kelopak bunga saja yang menyala. Membuat suasana menjadi temaram, sangat romantis, penuh nuansa kemesraan yang befitu hangat.
Nyonya Verga kembali ke ranjang, tapi bersebrangan tempat dengan Bosnan. Matanya menatap lekat kepada Bosnan, tapi tangannya melepas gaun yang dikenakan secara perlahan-lahan sekali. Sepertinya dengan sengaja menggoda hasrat lawan jenisnya supaya lebih bergairah lagi. Bosnan diam terpaku dengan mata tak berkedip.
Ketika pemuda itu ingin mencium wajahnya, Nyonya Verga menolak.
“Bawah dulu, baru atas....!” perintahnya terkesan angkuh dan keras kepala. Bosnan mengetahui keinginan selera Nyonya Verga, maka ciuman itu jatuh di tulang kering Nyonya Verga. Lalu, merayap naik, dan naik, dan naik lagi. Bukan hal sulit bagi Bosnan untuk memenuhi keinginan perempuan itu, karena sebelumnya ia sudah sering melakukannya bersama Debby. Namun agaknya Debby tidak seganas yang satu ini. Bosnan membiarkan rambutnya diremas-remas oleh kedua tangan Nyonya Verga dengan gairah yang meluap-luap.
Angin cinta menghempas kuat. Awan bergulung-gulung saling melilit kuat. Sentakan suara cinta memenuhi kamar tersebut. Bumi berderak seperti mau pecah. Suaranya berkepanjangan saat Bosnan dituntut menyelesaikan perkaranya secara jantan. Maka, suara berderak seperti bumi mau terbelah semakin keras saat Bosnan melepaskan bendungan cinta, dan mata air pun begitu derasnya menerjang dinding perbatasan yang paling rawan.
Pada saat itulah lampu padam semua. Gelap sekali. Tapi makhluk berkeringat licin itu masih meronta terus dalam pelukan Bosnan. Membawakan tarian puncak asmara, dan perlawanan Bosnan tidak hanya sampai disitu saja. Lampu padam, kamar menjadi gelap, bvukan suatu penghalang bagi Bosnan untuk menaklukkan keganasan cinta lawannya. Tanda-tanda kepuasan yang paling indah mulai dirasakan Bosnan berupa rematan kedua tangan berjari lentik pada kulit punggungnya.
Entah mengapa, Bosnan cepat kehilangan tenaganya. Ketika sama-sama terkulai lemas, Bosnan nyaris tak memiliki tenaga sedikit pun. Rasa kantuk menyerangnya begitu kuat. Deru nafasnya mereda dengan sendirinya. Tak tahu sampai berapa lama ia terkapar di samping tubuh sexy tanpa selimut itu. Yang jelas, beberapa waktu kemudian Bosnan mengalami kejutan fisik. Seperti sedang enak-enak tidur harus terjaga seketika karena jatuh dari ranjang.
“Ohhh, untung cuma perasaanku saja. Bukan jatuh dari ranjang beneran,” pikir Bosnan sambil menggeliat. Tangannya meraba nakal ke dada berkulit halus mulus itu. Tetapi batinnya curiga, ada keganjilan yang ia temukan dalam kenakalan itu. Mengapa tak sebesar ukuran yang pernah dirasakan sebelum tidur tadi? Mengapa yang terpegang oleh tangannya bukan sebentuk kemontokan yang cukup wow.... teteapi kegempalan dada yang sedikit membusung, kencang, berisi padat, dan memiliki pucuk-pucuk yang kecil.
Bosnan pun membuka matanya.ternyata ia harus tersentak bangkit dan terbelalak kaget. Bukan sosok gempal Nyonya Verga yang berada di sampingnya, melainkan sosok yang ramping, sintal, dan sangat ideal dengan ukuran badannya. Bukan wanita berambut panjang yang tadi dijamahnya dengan mata terpejam, melainkan gadis berambut sangat pendek dengan bibir sedikit lebih tebal menggemaskan dibanding bibir Nyonya Verga.
“Lilu...?!” seru Bosnan dengan suara mendesah tegang. Ia ingat, gadis yang ditemuinya dalam kegelapan pandangan mata dan membawa lilin hijau itulah yang kini ada di sampingnya. Gadis itu adalah Lilu. Kecantikannya masih unggul dibanding Nyonya Verga. Tapi... mengapa gadis itu kini ada di sampingnya?
Mengapa ternyata ia sudah berada di atas ranjangya sendiri bersama Lilu? Mengapa pula ia dan Lilu bisa berada di dalam kamarnya, di tempat kost yang sudah hampir satu tahun ditempati itu? Lalu kemana si Janda pemilik gairah membara tadi? Sejak kapan ia sudah keluar dari kamr mewah tempat pergumulan mesranya dengan sang presdir kesepian itu?
***



3
W
arna berkabung hampir memenuhi Tempat Pemkaman Umum yang terletak tidak jauh dari jalan besar itu. Setumpuk karangan bunga dari berbagai perusahaan dan perorangan sedang menunggu giliran untuk ditempatkan di sekitar makam. Sayang sekali makam tersebut belum terisi dan belum tertutup tanah galiannya. Upacara pemakaman sebentar lagi dimulai, masih ada pihak family yang belum tiba di pemakaman tersebut. Mungkin mobil yang mereka gunakan terpisah dari rombongan dan masuk ke jalur yang salah, sehingga perlu waktu untuk menunggu mereka tiba di pemakaman.
            Di antara wajah-wajah berkabung itu tampak seraut wajah cantik seperti keturunan Spanyol; rambut potongan shaggy, hidung bangir, mata bundar berbulu lentik, raut wajah sedikit oval. Gadis berkulit kuning langsat tersebut banyak mengenalinya sebagai gadis karir, banyak aktivitas bisnisnya, karena memang ia putri seorang pengusaha besar. Dia itulah yang disebut-sebut sebagai kekasih Bosnan yang kabarnya sekarang meregangkan hubungan pribadi. Debby Luxonia.
Ia berdiri di samping seorang rekan dekatnya; Prissy, yang sama-sama berusia sekitar 27 tahun. Prissy berkulit lebih putih, lebih ramping dan punya wajah cantik lebih mungil. Keduanya saat ini sama-sama mengenakan kerudung sutera warna hitam. Tanda berkabung atas meninggalnya seorang rekan bisnis mereka, sekaligus rival yang disegani secara diam-diam. Di sekitar kedua gadis cantik itu, masih ada beberapa wajah-wajah ayu rupawan, termasuk wajah Bella, Zus Ricke, Fenny, dan yang lainnya.
Di bawah sebatang kamboja tua yang berdaun rimbun, tampak pula wajah tampan yang selalu melambangkan kejantanan seorang pria. Wajah yang tampak jelas-jelas menahan duka dan kecemasan itu tak lain adalah wajah Bosnan Maulana, yang baru beberapa detik berada di bawah pohon tersebut. Tidak banyak yang mengetahui keberadaan Bosnan disitu, sebab mobil yang ditumpanginya tadi memang baru saja tiba di pemakaman. Ia masih bersama Androw, rekan rekan sekantornya yang memiliki Isuzu Phanter merah itu.
Bosnan mengenakan kacamata hitam, meskipun sebenarnya cahaya matahari sudah tidak seterang tadi. Sudah pukul empat lewat. Sebenarnya sinar matahari tidak menyilaukan mata lagi. Namun itu bukan tujuan utama Bosnan mengenakan kacamata hitam itu. Ia hanya ingin menutupi matanya yang tampak sayu dan agak merah apabila perasaan sedih mengiris hatinya kembali. Sebab, kali ini ia menghadiri upacara pemakaman yang dianggapnya cukup istimewa. Bukan jenazah seorang teman biasa yang akan dimakamkan sore ini, melainkan jenazah seorang atasan yang cukup disegani, namun juga sempat dinikmati kehangatan cintanya.
Nyonya Verga, janda itulah yang akan dimakamkan sore ini. Kematian presidir itulah yang membuat Bosnan sempat shock karena begitu besar keterkejutannya pada saat menerima kabar dari seorang rekan melalui telepon. Tewasnya janda galak itu di atas ranjang itu telah membuat Bosnan dicekam perasaan takut dan cemas, karena kematian tersebut merupakan kematian yang ganjil. Banyak orang menduga, kematian Nyonya Verga adalah akibat dari tindakan kriminal, yang mana pembunuhnya sampai saat ini belum tertangkap. Bahkan belum bisa diperkirakan oleh siapapun, seperti apa potongan wajah dan bentuk tubuh si pelaku.
Nafas panjang ditarik kembali oleh Bosnan setelah Androw berbisik pelan padanya “Aku menemui Pak Petrus dulu di sana, ya?”
“Hmmm....!”
Pendek sekali jawabannya. Memang sejak tadi hanya kata-kata pendek yang dilontarkan Bosnan kepada siapapun yang mengajaknya bicara. Seharian ini ia cenderung menjadi pria yang pendiam dan tidak mau banyak bertanya kepada siapapun. Ia bicara hanya seperlunya saja. Termasuk bicara kepada Debby yang kini mengetahui dirinya ada di bawah pohon rindang, lalu gadis itu datang menghampirinya tanpa Prissy.
“Mantan suami Tante Verga sudah dikabari atas musibah ini?” tanya Debby sangat pelan.
“Sudah,” jawan Bosnan datar.matanya tertuju ke arah peti jenazah yang rupanya sudah akan dimasukkan ke dalam liang kubur. Kedudukannya lebih di dekatkan lagi ke liang kubur, supaya nanti setelah upacara pemakaman selesai, peti mati itu akan lebih mudah diturunkan ke dasar liang kuburnya.
“Kamu tadi sempat melihat jenazahnya sebelum dimasukkan ke dalam peti?”
Bosnan hanya menggeleng seperti acuh tak acuh tak acuh kepada Debby. Tapi gadis itu memaklumi sikap tersebut, karena ia piker Bosnan berduka karena kematian presidir-nya itu, sehingga masih enggan bicara dan berkomentar apapun.
“Kau yang menyuruh Ali menghubungiku untuk mengabarkan berita duka ini, tadi..?”
“He’em….” Sambil kepalanya mengangguk pendek sekali. Nyaris tak kentara gerakan mengangguknya.
“Kenapa nggak kamu sendiri yang menghubungi HP-ku sih? Kenapa harus orang lain?!”
Tak ada jawaban, Bosnan merasa bahwa pertanyaan seperti itu tak perlu dibahas atau dijawab. Sangat interen sekali sifatnya. Bukan pada tempatnya jika ia harus menjawaab pertanyaan Debby tadi. Ia justru melangkah lebih maju, mendekat liang kubur, walaupun pada saat itu tubuhnya bergidik merinding. Mungkin dikarenakan teciumnya bau busuk samar-samar dari peti mati yang sudah ditutup rapat itu. Alangkah tajamnya aroma busuk dari dalam ketebalan kayu tanpa lubang itu. Melihat Bosnan maju, Debby pun ikut maju. Kini posisinya berdiri sejajar dengan Prissy dan Bella. Jaraknya cukup dekat, sehingga percakapan pribadipun harus ditangguhkan dulu.
Pada saat demikian, dalam benak Bosnan muncul kembali baying-bayang kengerian atas tewasnya Nyonya Verga. Sebenarnya ia telah membohongi Debby saat menggelengkan kepala atas jawaban dari pertanyaan; apakah dia sempat melihat mayat Nyonya Verga atau tidak. Seharusnya ia mengangguk ketika ditanya begitu, sebab kenyataannya memang ia masih sempat melihat keadaan jenazaah Nyonya Verga pada saat ia tiba di rumah janda kaya itu. Begitu mendengar kabar kematian Nyonya Verga, ia langsung meluncur ke rumah duka dan melihat keadaan jenazah sebelum dimasukkan ke dalam peti mati.
Wajah cantiknya berubah menjadi bengkak, biru legam, seperti terkena aliran listrik tekanan tinggi.  Jenazah tersebut tidak dapat disentuh seperti biasa, harus dengan hati-hati, sebab sekujur tubuhnya menjadi lunak, empuk dan berair. Busuk sekali baunya. Seolah-olah perempuan itu tewas karena direbus dengan air mendidih sampai tulang-tulangnyapun menjadi lunak.
Pada mulanya pelayan Nyonya Verga menyangka majikannya memang sengaja bangun telat, tidak seperti hari-hari biasanya. Sampai pukul sepuluh, Bi Mumun, pelayannya itu, mencium bau taak sedap saat melintas di depan kamar Nyonya vergaa. Setelah diikuti dengan hendusan hidungnya, ternyata bau seperti ikan busuk itu datang dari kamar Nyonya Verga. Karesna penasaran, Bi Mumun mengetuk pintu berkali-kali dengan seruan memanggil penuh hati-hati. Tapi tak ada jawaban. Ia mencoba memutar handel pintu, ternyata pintu tidak terkunci dari dalam.
“Pada waktu pitu itu saya buka, bau seperti ikan busuk itu menjadi sangat tajam”. Tutur Bi Mumun kepada beberapa pihak termasuk pihak yang berwajib.
Bi Mumun dengan polosnya menceritakan apa yang dilihatnya setelah membuka pintu kamar majikannya. Ia melihat Nyonya Verga terpakar di atas raanjang dalam keadaan tidak berpakaian. Tak ada selimut atau sehelai benangpun yang menutupi tubuh mulus itu. Ketika didekati, ternyata tubuh majikannya tidak semulus biasanya. Ada memar membiru disana-sini, dan ada cairan berbau amis busuk membekas di sekitar seperai tempatnya berbaring. Bi Mumun langsung menjerit begitu sadar majikannya ternyata sudah tidak bernyawa lagi.
Keadaaan mayat yang tanpa pakaian itu menimbulkan kesan bahwa sebelum kematiannya tiba, Nyonya Verga telah melakukan pergumulan cinta dengan seseorang. Sebab posisi kaki dan tangan menunjukkan adanya percumbuan mesra ataupun tidak mesra yang terjadi pada malam harinya. Beberapa orang berpendapat bahwa Nyonya Verga tewas setelah terkontaminasxi dengan penyakit atau virus yang sangat ganas, melebihi virus HIV, dan langsung mematikan korbannya. Virus tersebut telah melumpuhkan seluruh jaringan tubuhnya, menghancurkan sel-sel darah merahnya, sehingga mempercepat proses pembusukan.
Repotnya, tidak ada tandaa-tanda yang dapat digunakan untuk melacak siapa teman kencan janda kaya itu? Tak jelas gambarannya, siapa pria yang menyebarkan virus maut melalui hubungan badan yang terjadi pada amalam itu? Sebab, dari hasil pemeriksaan dokter forensic menyebutkan adanya cairan aneh yang menyebar ke seluruh jaringan tubuh dan membusukkan organ-organ lainnya. Cairan hitam itu diduga masuk melalui saluran urine dengan jumlah yang cukup banyak. Virus dalam cairan itu dapat melunakkan tulang serta bagian-bagian fital lainnya dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Satu-satunya jejak yang ditinggalkan oleh pasangan kencannya malam itu adalah adanya dua gelas minum yang berisi champagne sekitar seperempat gelas. Minuman itu sendiri setelah diperiksa ternyata tidak mengandung kadar racun atau virus seperti yang ada dalam tubuh mayat.
“Anehnya…,” ujar seorang petugas polisi kepada pihak keluarga korban. “Pada gelas yang satu kami temukan sidik jari, yang ternyata milik korban. Taspi pada gelas yang satunya lagi, kami tidak menemukan sidik jari sedikitpun. Padahal jika di gelas itu kami menemukan sidik jari, maka dari itulah kami bias melacak siapa teman kencan korban pada malam harinya.”
Hati kecil Bosnan tak bias dibohongi dan sulit menyangkal bahwa dua gelas yang ditemukan di kamar korban sebenarnya adalah gelas minumannya dengan minuman Nyonya Verga. Melihat bentuknya Bosnan yakin betul memang itulah kedua gelas yang ia gunakan minum champagne pada malam tersebut. Salah satu gelas seharusnya punya bekas sidik jarinya. Bosnan sempat ketakutaan dalam hatinyas. Tapi entah bagaimana sidik jarinya tidak membekas pada gelas minumannya. Bosnan sempat bertanya dalam hati, mungkinkah hilangnya sidik jari di gelas tersebut merupakan salah satu bentuk penyelamatan yang dilakukan oleh gadis cantik berambut pendek dan yang mengaku bernama Lilu itu?
Sewaktu mendengar kabar tentang kematian Nyonya Verga, pada mulanya Bosnan menjadi pucat pasi dan sangat ketakutan. Ia hamper saja tak berani dating ke rumah duka, karena takut terlibat dalam kasus kematian janda kaya itu. Tapi pada waktu itu Lilu memaksanya untuk dating ke rsumah duka. Gadis yang tampak nyata seperti manusia biasa walau di siang hari itu menjamin keselamatan Bosnan dasri perkara tersebut.
“Kau harus dating. Tak perlu takut. Aku akan menyelamatkan dirimu dari kasus kematiannya”.
“Tapi kalau sampai di…”
“Di sana tak ada tanda-tanda yang akan membuatmu terseret ke pengadilan. Disana tak pernah ada kamu. Itulah yang akan kamu lihat sendiri nanti. Sudah… pergi sana!”
Ciuman lembut dan mesra yang diberikan Lilu di pipi Bosnan seolah-olah memperkuat jaminan gadis itu atas keselamatannya. Maka, setelah mengetahui di gelas minuman itu tidak ada sidik jarinya, Bosnan menyimpulkan bahwa Lilu telah menghapusnya dengan cara-cara gaib yang tidak diketahui siapapun. Meski demikian, hati Bosnan masih belum merasa lega, sebab ia belum tahu persis mengapa Nyonya Verga mengalami kematian seaneh itu. Menurutnya, tidak ada pihak yang mengetahui penyebab kematian Nyonya Verga selain Lilu. Sebab pada waktu Bosnan terheran-heran mengetahui dirinya sudah seranjang dengan Lilu di tempat kostnya, gadis itu hanya tersenyum kecil tanpa heran sedikit pun.
“Seingatku bukan kau yang kencan denganku lili, tapi…”
“Tak perlu merasa heran. Memang begitulah jalan yang mesti kau tempuh agar kita bias bertemu secara nyata seperti ini Bosnan.” Kata Lilu pada waktu itu. Oleh karena itulah Bosnan merasa yakin, bahwa Lilu pasti mengetahui penyebab kematian Nyonya Verga. Maka selesai mengikuti acara pemakaman jenazah presidirnya, Bosnan buru-buru pulang karena Lilu ditinggalkan di tempat kostnya.
Petang berganti malam ketika Bosnan tiba di tempat kostnya. Ia sempat terkejut dan menjadi tegang melihat Lilu duduk di ruang tamu yang biasanya dijadikan tempat nongkrong anak-anak kost itu. Dengan santai dan tenang Lilu membuka-buka majalah tanpa menghiraukan keadaaan sekelilingnya. Sepi, bagaikan tak berpenghuni. Bosnan menghampirinya dengan nada kesal.
“Hey, kenapa kamu keluar dari kamar?!”
Lilu menatap dengan senyum kalem. Tak menghiraukan kecemasan di wajah Bosnan sedikitpun.
“Bukankah kita sudah sepakat keberadaanmu dirahasiakan?! Aku tidak ingin anak-anak disini mengetahui kau ada di kamarku dan hidup bersamaku seperti keinginanmu itu. Tapi kenapa kamu sekarang justru keluar dari kamar?! Kalau mereka melihatmu ada disini, pasti akan heboh! Mereka akan menilaiku sebagai…”
“Tenang saja!” sahut Lilu tetap kalem. Majalahnya ditutup.
“Tenang bagaiman?”
“Mereka tidak akan mempermasalahkan keberadaanku denganmu disini. Nggak ada yang perlu kau khawatirkan. Bagaimana dengan upacara pemakaman bos-mu itu?!”
Bosnan menarik Lilu membawanya masuk ke kamar. Tapi ia juga merasa curiga mengapa suasana di tempat kost itu menjadi sebegitu sepinya? Biasanya menjelang malam tiba, anak-anak kost banyak yang nongkrong di ruang tamu, saling bergunjing atau bercanda sepulang dari tempat kerja masing-masing. Mengapa sekarang tak ada satupun dari mereka yang tampak di luar kamar. Bahkan kamar mereka sama-sama tampak tertutup rapat. Apakah mereka belum pulang dari tempat kerja masing-masing?
“Tetap di dalam kamar!” tegas Bosnan setelah memasukkan gadis itu ke dalam kamarnya, lalu ia menutup pintu kamar tersebut. Bergegas ke kamar sebelah. Mengetuk kamarnya Ruyan. Tak lama kemudian tampak wajah Ruyan yang pucat dan terkesan sangat ketakutan.
“Yan, ada apa sebenarnya kok sampai…”
Bosnan belum selesai bicara sudah ditarik masuk ke kamar, dan pintu segera ditutup.wajah ruyan semakin tampak diliputi ketegangan. Nafasnya sedikit memburu, membuat Bosnan semakin terheran-heran.
“Jangan keluar dari kamar!” katanya “Kalau mau selamat, jangan keluar dari kamar dulu sebelum tempat kita ini aman !”
“Aman dari masalah apa sich?! Kenapa kau sepucat ini, Yan?”
“Ada bahaya, Bos! Ada bahaya yang...”
“Bahaya apa?”
“Hantu!” jawabnya bergetar. Bosnan berkerut dahi semakin tajam.
“Hantu apaan maksudmu?”
“Menjelang maghrib tiba, kami nongkrong di ruang tamu, eeh…. Tiba-tiba pintu kamarmu buka sendiri, Bos! Ada majalah jalan sendiri, gelas jalan sendiri. Ngambang di udara gitu! Terus… sapu lantai jalan sendiri menyapu lantai kamarmu tanpa ada yang menggerakkan. Bahkan handukmu di jemuran depan bias terbang sendiri seperti ada yang nenteng, tapi sebenarnya nggak ada siapa-siapa di sekitar handuk itu. Pokonya, kami semua jadi sangat ketakutan karena benda-benda beterbangan sendiri kesana-kemari. Makanya, kami semua keluar kamar dan tak berani keluar lagi. Takut kalau dicekik oleh hantu penunggu tempat kost ini!”
Bosnan diam menyimak, Ruyan semakin berapi-api menceritakan kejadian aneh itu dengan rasa takut.
“Ternyata tempat kost kita ini ada roh penunggunya, dan baru sekarang kami melihat kejadian aneh itu. Iihh….. mengerikan sekali! Mungkin besok aku mau pindah ke tempat lain saja ah…!”
Setelah merenung beberapa saat, Bosnan akhirnya menyunggingkan senyum geli yang membuat Ruyan justru bertambah terheran-heran. Rupanya keberadaan Lilu hanya dapat dilihat oleh mata Bosnan, dan orang lain tidak dapat melihat wujud kecantikan gadis itu. Oleh karenanya, ketika Lilu keluar masuk kamar membawa majalah atau menyapu lantai, mereka hanya melihat benda itu bergerak sendiri tanpa melihat sosok si pemegang majalah atau sapu itu. Barangkali karena dirinya tidak dapat dilihat orang lain kecuali Bosnan, maka Lilu berani melanggar kesepakatan awal, bahwa ia tidak boleh keluar kamar supaya orang-orang tidak mengetahui bahwa Bosnan menyimpan gadis secantik bintang film Hollywood itu di kamarnya.
“Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu hanya dapat dilihat oleh mataku saja?” Tanya Bosnan bernada protes ketika ia kembali ke kamarnya. Lilu masih meneruskan membaca majalah yang tadi sambil duduk di depan meja tulis. Ia hanya tersenyum acuh tak acuh mendengar protes tersebut.
“Akibat ulahmu tadi, kini setiap penghuni kost merasa ketakutan. Mereka menyangka tempat ini berhantu!”
“Tadi ada temanmu datang, cari kamu.” Lilu seperti sengaja mengalihkan pembicaraan secara sengaja agar ia tidak disalahkan terus-terusan.
“temanku? Apakah dia bertemu denganmu?”
“Aku sedang mandi. Tapi dia sempat masuk kemari, mungkin memeriksa kamar ini untuk membuktikan keterangan dari Sam yang mengatakan bahwa kamu tidak ada di tempat. Kudengar Sam memanggilnya: Marson. Mungkin itu namanya.”
“Marson?” gumamnya pelan “Wah… jangan-jangan dia mau memberikan uang komisiku atas proyeknya yang sudah gol itu? Trus, apakah dia meninggalkan pesan?”
“Dia ikut kabur ketakutan, seperti yang lain.” Lilu tertawa lirih.
Bosnan hanya bisa menraik nafas panjang, menahan kesabarannya. Ia mempunyai kekhawatiran buruk jika gadis sexy yang misterius itu terlalu dituding bersalah terus-terusan. Bias-bisa akan kabur meninggkalkan tempat kost itu. Bosnan tak ingin kehilangan Lilu, karena kecantikan dan kematangan sifat dewasa Lilu membuat hatinya terpikat. Mengagumi sekaligus merasa bangga jika dapat hidup bersama Lilu.
“Mandilah sana!” mata indah itu melirik Bosnan dengan posisi seperti masih ingin meneruskan bacaannya. Tapi saran tegas berkesan penuh kasih saying itu sengaja dikesampingkan Bosnan. Ia justru menarik kursi lain dan duduk di samping Lilu.
“Aku ingin penjelasan lebih dulu darimu. Sebelum kau jelaskan, aku nggak akan mandi, nggakakan lepas baju, nggak akan ngapa-ngapain! Aku harus mendengar penjelasanmu dulu.”
“Penjelasan soal apa?”
“Bu Verga mati dalam keadaan mengerikan. Mengapa ia harus mati? Mengapa waktu itu aku merasa seperti bercumbu dengannya? Lalu, mengapa juga gelas minumanku ada di kamarnya?”
Senyum cantik penuh ketenangan membias indah di bibir Lilu. Duduknya ditarik mundur sampai punggungnya bersandar santai. Gadis itu sudah tidak mengenakan pakaian miniset hitam seperti yang dilihat Bosnan pertama kali bertemu dalam kebetulannya. Gadis tanpa perhiasan satupun di tubuhnya itu kini mengenakan kemeja longgar lengan panjang milik Bosnan. Kemeja itu panjangnya sampai melebihi pinggulnya, sementara bagian pinggul ke bawah tak mengenakan apapun selain secarik kain hitam yang hanya menutupi bagian selebar telapak tangannya.
“Pada saat kau terjebak masuk ke dimensi hitam, yaitu alam kegelapan yang membuatku terperangkap di sana bertahun-tahun lamanya,” kata Lilu dengan suaranya yang merdu, enak di dengar.
“… Sebenarnya kau sedang mengalami masa pembusukan jasadmu. Pembusukan jasad itu terjadi akibat perpindahan alam yang sangat cepat. Kau akan hancur dan tinggal rohmu yang akan berkelana di alam kegelapan itu. Tapi, kau memiliki sisi keberuntungan tersendiri, yaitu adanya diriku di alam kegelapan itu. kebetulan aku lawan jenismu. Aku bias bebas dari alam yang memenjarahkan rohku apabila menggunakan kekuatan energy lawan jenisku yang ada di alam itu juga. Dengan memadukan kedua energy ghaib kita, maka kita bias sama-sama bias bebas dari alam kegelapan itu.”
“Mengapa kau berada di alam kegelapan itu?”
Terperangkap oleh mantera ghaib yang kutemukan dalam kitab kuno di sebuah museum. Penguasa alam ghaib akan menyantapku setelah aku berada dalam alam kegelapan itu selama 100 tahun. Tapi baru 54 tahun, ternyata aku sudah tertolong oleh kehadiranmu!”
“Kalau begitu sebenarnya usiamu sudah tua sekali?!”
“Usia tidak akan berubah selama aku berada di alam kegelapan itu. aku tidak akan menjadi tua, karena proses penuaan di alam itu tidak berlaku. Tapi di alam yang sekarang ini, proses penuaan akan kualami sebagaimana mestinya”
Lilu juga menjelaskan bahwa dirinya dulu pernah hidup di italia sebagai putri pejabat kedutaan Indinesia, yang hilang secara ghaib akibat kelancangannya membuka kitab kuno dari sebuah museum, dan membaca salah satu mantera tiga kali. Lilu sendiri pada waktu itu tidak mengetahui bahwa kalimat yang dibacanya di kitab kuno tersebut adalah mantera penjerat mangsa yang diciptakan oleh si Penguasa alam kegelapan. Mantera tersebut sangat berkaitan erat dengan kotak mainan berbentuk kubus yang ditemukan Bosnan waktu itu. selama dipenjara dalam alam kegelapan itu, Lilu berhasil mendapatkan kekuatan ghaib yang berasal dari alam kegelapan itu sendiri, sehingga ia dapat mengetahui keadaan di alam kehidupan manusia. Iapun mengetahui bahwa kedua orang tuanya telah tiada, dua adiknya pun telah meninggal di Kalimantan. Kini, ia hidup kembali di alam manusia tanpa sanak saudara, dan memiliki permasalahan besar; yaitu tidak dapat dilihat oleh mata manusia kecuali Bosnan.
“Karena energimu pernah terpadu menjadi satu dengan energiku, maka hanya kamulah yang dapat melihatku. Tapi jika energy itu tidak terpadu, mungkin kau dan aku tetap akan menjadi calon mangsa si penguasa alam kegelapan itu.”
Bulu kuduk Bosnan merinding membayangkannya.
“Pada saat jiwamu terlempar keluar dari alam kegelapan itu, ternyata ada pihak lain yang merindukan jiwamu dan sangat berhasrat sekali untuk bercumbu mesra denganmu. Pada saat itulah jiwamu terhisap kuat oleh pihak yang merindukan, yaitu janda kaya tersebut. Sekalipun pada waktu itu aku berada tak jauh darimu, tapi aku belum bias menjamahmu, juga belum bias menampakkan diri dalam pengliahatanmu, sebab kamu sedang terkuasai oleh jiwa perempuan tersebut. Maka, kubiarkan kau bercumbu dengan janda kaya itu, sampai akhirnya jiwa janda itu merasa puas, tidak lagi menguasai jiwamu. Saat itulah aku punya kesempatan menggantikan posisinya dalam pelukan jiwamu. Dan, kubawa secepatnya ragamu ke kamar ini. Sementara itu, darah pembusukmu telah terbuang habis ke dalam raga janda kaya itu melalui puncak kemesraanmu. Maka, darah pembusuk itu langsung mencemari sekujur darah dan cairan tubuh lainnya. Itulah sebabnya, perempuan tersebut mati dalam keadaan seperti yang kau ceriatakan tadi. Sementara itu, aku buru-buru menggantikan energy kejiwaanmu dengan darah segar yang bersih samapi sekarang ini.”
Bosnan merenung beberapa saat, meresapi keterangan Lilu yang dituturkan dengan serius namun terkesan kalem. Kini ia tahu, apa penyebab kematian Nyonya Verga yang dalam keadaan mengerikan dan aneh. Hal yang belum diketahui adalah kondisi Lilu yang tidak bias dilihat oleh mata orang lain.
“Ini merupakan kekuatan dari alam kegelapan itu. meski aku bias bebas dari sana, tapi jasadku tak bias disentuh dan dilihat oleh orang lain. Karena itulah aku bilang padamu; sekiranya kau bersedia membantuku, maka aku pun akan membantumu keluar dari alam kegelapan itu. Dan, sekarang aku sudah membantumu keluar dari sana, kini tinggal aku menagih janjimu. Kau harus membantuku, Bosnan”
“Membantu dalam hal apa?”
“Membuatku menjadi nyata, utuh seperti manusia biasa; bisa dilihat dan disentuh oleh siapa pun. Aku ingin menjadi seperti keadaan dirimu sekarang ini, Bosnan. Untuk menjadi sosok manusia sempurnakembali, aku sangat membutuhkan bantuanmu.” Ia menatap sendu penuh harap sekali.
“Apa yang harus aku lakukan untuk hal itu?”
Lilu ingin menjawab pertanyaan itu, tapi tiba-tiba tanpa disengaja matanya memandang ke bawah lampu baca di meja tersebut. Mata besar tapi membelalak indah itu kini terbuka lebar-lebar dalam sentakan kaget yang cukup menegangkan. Suara tarikan nafas kaget itu membuat Bosnan ikut terkejut dan mulai diliputi kecemasan.
“Kenapa, li…?” bisiknya sambil berdebar-debar.
“Hastaraka…!” desahnya bernada sangat tegang degan mata lebar diarahkan pada Bosnan, tapi Bosnan belum mengerti maksud dari ucapan Lilu.
“Hasstaraka?! Maksudmu…?”
“Benda itu hilang!” sambil matanya memandang ke arah bawah tiang lampu baca. Maka, seketika Bosnan segera sadars dan ikut tersentak tegang pula, sebab benda kotak kubus yang bisa diputar-putar pada ruas-ruasnya itu tidak ada di tempat.
“Astaga?! Siapa yang mengambilnya?” Tanya Bosnan tidak jelas ditunjukan pada Lilu atau pada dirinyasendir. Yang pasti, kini ia menjadi deg-degan dan diliputi kecemasan membingungkan, karena benda bermuatan mistik yang bernama Hasataraka itu telah hilang. Lilu ikut menjadi sangat cemas atas hilangnya Hastaraka, sebab menrutnya benda itu dapat mendatangkan bencana maut lagi, jika dimainkan seseorang yang tidak mengerti bahaya besar di dalamnya.
Seluruh kamar digeledah mereka berdua, tapi Hastaraka tetap tak berhasil ditemukan. Mereka bertanya-tanya, siapakah orangnya yang telah mengambil kotak keramat itu dari meja Bosnan.


P
4
ADA waktu Lilu terjebak dalam penjara kegelapan, roh ghaibnya selalu berada di sekitar dimana Hastaraka itu berada. Mantera iblis yang terlanjur diucapkannya pada waktu itu memang punya kaitan dengan kotak keramat permainan bangsa iblis tersebut. Tetapi setelah roh Lilu berada dalam kehidupan manusia, maka ia terbebas dan terlepas dari pengaruh gelombang gaibnya benda keramat tersebut, sehinga ia tak dapat mengetahui dimana Hastaraka berada.
“Benda terkutuk itu mempunyai banyak nama, sesuai bahasa setempat. Setahuku, dalam bahasa Hindu kuno atau Sangsakerta, benda itu dinamakan Hastaraka. Hasta artinya ‘delapan’, sedangkan rka artinya ‘titian’. Jadi, yang dimaksud dengan Hastaraka sebenarnya adalah ‘delapan titian maut’ atau delapan lorong menuju alam ghaib. Melalui susunan symbol-simbol pada kotak permainan itu, gerbang menuju alam ghaib bisa terbuka apabila susunannya tepat. Terbukanya gerbang alam ghaib dapat membuat para penghuni alam tersebut berlompatan muncul di kehidupan manusia ini, lalu makhluk-makhluk tersebut melakukan aksinya, apa saja. Sekehendak hatinya, dan yang jelas mendatangkan maut bagi orang yang membukakan pintu gerbang alam iblis tersebut.”
Dalam penjelasannya kepada Bosnan, Lilu juga mengatakan bahwa jika kotak permainan yang bisa diputar kesana-sini pada ruasnyaitu membentuk satu susunan lambang tertentu, maka pintu kerajaan iblis penguasa alam ghaib dapat terbuka. Raja iblis dapat berbuat sekehendaknya, yang bisa mengakibatkan bumi tempat kehidupan manusia ini terbelah menjadi Sembilan bagian. Atau hancur lebur menjadi debu beterbangan di angkasanya. Menurutnya, benda iblis itu harus dihancurkan dengan cara tersendiri.
“Kalau sampai orang yang memainkan benda terkutuk itu berhasil membentuk susunan gambar tertentu, secara tak sengaja, maka gambar yang tersusun dalam satu bidang itu dapat membuat lorong alam kegelapan terbuka lebar, akan mengeluarkan daya hisap sangat kuat. Aku bisa tersedot kembali kea lam kegelapan itu seandainya sosokku belum sempat menjadi manusia sempurna, seperti sekarang ini.”
“Gawat!” geram Bosnan cemas sekali. “Kita harus bisa menemukan Hastaraka itu secepatnya! Aku tak ingin kau kembali ke sana, Lilu. Aku tak mau kehilangan kamu!” Bosnan menampakkan kepanikan hatinya, sampai meremas kedua tangan Lilu kuat-kuat dan menggoyangkan tubuh sintal itu sebagai bukti ketakutannya, yaitu takut kehilangan gadis yang sudah terlanjur menjerat hatinya kuat-kuat.
“Aku juga tak ingin kembali kea lam terkutuk itu, Bosnan. Oleh sebab itulah, kini hanya ada dua langkah yang harus segera kita lakukan; menghancurkan benda terkutuk itu atau menyembpurnakan perwujudanku sebagai manusia biasa kembali?!”
“Seandainya benda itu kita temukan, bagaimana cara mengahncurkannya, Lilu?”
Terminung sesaat Lilu memikirkannya. Ada ingatan yang perlu digali kembali, yaitu ingatan pada saat ia bertemu dengan seorang kakek di alam kegelapan. Kakek tersebut akhirnya menjadai santapan si Penunggu alam kegelapan. Tapi sebelum peristiwa tragisnya terjadi, ia sempat memberitahu kepada Lilu tentang jebakan iblis dalam bentuk kotak permainan Hastaraka itu.
“Benda celaka itu akan hancur apabila… dibakar dengan api yang berasal dari langit.”
“Maksudnya?!”
Lilu menatap lesu sambil menggelengkan kepala.
“Aku kurang mengerti maksud penjelasan kakek tentang api dari langit. Yang kuingat, api itu tanpa bisa dibentuk lagi oleh kekuatan ghaib para penghuni kerajaan iblis itu.”
Bosnan akhirnya ikut merenungi, mencari pemahaman tentang api dari langit tersebut. Tapi sebelum ia menemukan suatu analisa yang benar tentang hal itu, Lilu sudah bicara lagi dengan nada pelan.
“langkah kedua… carikan aku seorang laki-laki yang masih punya darah keturunan bangsawan.”
Tajam sekali dahi Bosnan berkerut pertanda heran dan merasa asing sekali dengan cirri-ciri yang disebutkan Lilu itu. tapi tanpa ditanya lagi Lilu sudah lebih dulu menjelaskan maksudnya.
“Aku membutuhkan seorang laki-laki yang masih punya darahj keturunan bangsawan entah dia keturunan yang keberapa yang penting leluhurnya berdarah bangsawan. Lelaki itulah yang dapat menbyempurnakan jasadku, menjadi manusia utuh seperti semula.”
“Darah keturunan bangsawan….? Hmmm, rasa-rasanya bukan hal yang mudah? Seandainya lelaki itu bisa kudapatkan, lantas mau kau apakan dia?”
“kuminum darahnya.”
“Gila!” sentak bisikan Bosnan, terkejut sekali. Wajahnya menyeringai ngeri, bulu kuduknya meremang merinding.
“Hanya itu satu-satunya syarat untuk menyempurnakan jasad manusiawiku, Bosnan”
“Apakah… apakah nggak ada syarat lain yang bisa menggantikannya? Misalnya…”
“Nggak ada!” sergap Lilu cepat. “Cuma itu satu-satunya syarat. Menurut keterangan kakek yang sudah seratus tahun menjadi penghuni penjara alam kegelapan dan akhirnya menjadi santapan si Penguasa alam itu, bahwa jika suatu saat nanti aku berhasil bebas dari penjara alam kegelapan dan hidup di alam manusia biasa, maka aku harus bisa meminu, darah keturunan bangsawan. Meski hanya seteguk-dua teguk, setetes-dua tetes, tapi darah lelaki keturunan bangsawan itu akan melunturkan seluruh lapisan hawa iblis yang menyelimuti ragaku. Jika hawa iblis itu hancur dan luntur, maka wujudku akan bisa tampak di mata setiap orang, dan ragaku dapat disentuh oleh siapapun. Itulah tandanya aku hidup kembali sebagai manusia biasa.”
“Mengerikan sekali?!” gumam hati Bosnan dalam irama detak jantung yang menyentak-nyentak cepat. Ia tak menyangka akan mendapat tugas mencari keturunan bangsawan yang darahnya akan diminum oleh Lilu. Gadis secantik itu ternyata memiliki rencana seperti drakula atau vampire, yaitu meminum darah manusia. Seandainya tidak berhutang janji, Bosnan akan menolak tegas-tegas permintaan Lilu, bila perlu menghindar jauh-jauh secepat mungkin.
“Sayang sekali aku sudah terlanjur berjanji akan membantu kesulitannya sebagai balasan atas bantuannya mengeluarkan diriku dari alam kegelapan itu. selain sudah terlanjur berjanji demekian, aku sendiri sudah terlanjur kasmaran padanya. Hatiku semakin lekat dan sulit menghindari mekarnya bunga cinta terhadap dirinya, sehingga terlalu berat bagiku jika harus menghindari tuntutan pribadinya itu. sangat tak tega hatiku jika harus bersikap tak memperdulikan keninginannya menjadi manusia sempurna. Oh, kenapa aku menjadi semakin iba dan kasihan pada nasibnya? Semakin hati kecilku menolak permohonan bantuannya itu, semakin besar rasa takutku akan kehilangan dirinya?! Jangan-jangan aku telah terkena pengaruh ghaib iblis yang terpancar melalui tatapan matanya, atau senyumnya, atau suaranya, atau… aahhh entahlah! Aku benar-benar tak mengerti harus bersikap bagaimana sebenarnya?!”
Keluh kesah batin Bosnan membuat hidupnya semakin tak tenang. Keresahan dan kecemasan senantiasa hadir dalam jiwanya. Menyiksa dan melelahkan sekali.
Belum lagi ia harus berfikir tentang benda terkutuk yang hilang dari meja tulisnya itu. seoalh-olah kali ini ia dipaksa untuk memeras otaknya sekuat tenaga tanpa memperdulikan rasa sakit yang menyerang urat-urat sekililing kepalanhya. Padahal menurut keterangan Lilu, kotak kubus yang menjadi kunci pembuka gerbang alam ghaib itu tidak akan lenyap sendiri dari tempatnya, salain ada pihak yang membawanya pergi tanpa sengaja atau pun memang disengaja. Bahaya maut yang dituimbulkan dari perpaduan symbol-simbol delapan penjuru gerbang ghaib pada kotak itu bisa melibihi ledakan besar yang telah menghancurkan rumah pamannya Nucky itu. jika hal itu sampai terjadi, secara tak langsung Bosnan ikut andil menciptakan bencana besar yang dapat membelah bumi menjadi Sembilan bagian.
“Karena itulah… sebelum bencana kiamat itu terjadi, kita harus segera menemukan benda itu, dan menyimpannya dengan aman. Sampai pada waktunya nanti kita mendapatkan api dari langit yang dapat dipakai untuk menghancurkan benda itu untuk selama-lamanya, Bos!”
“Iya, aku tahu program itu, Lilu. Tapi… aku tidak bisa menduga sedikitpun, di tangan siapa sebenarnya benda keparat itu berada?! Jangan kau desak terus diriku untuk segera menemukannya!” ujarnya degan nada jengkel sendiri.
Sedah beberapa kali Bosnan menanyakan masalah benda maut itu kepada semua penghuni kost disitu, tapi tak seorangpun mengaku mengambilnya. Bahkan rata-rata mereka mengatakan belum pernah melihat barang yang dimaksud Bosnan. Untuk menghindari tuduhan buruk dari mereka, Bosnan tak pernah menjelaskan bahayanya kotak Hastaraka kepada mereka yang penasaran terhadap ketegangan Bosnan dalam mencari benda tersebut.
“Bagaimana dengan temanmu yang bernmama Marson itu?” tiba-tiba Lilu mengingatkan kehadiran Marson disaat Bosnan menghadiri upacara pemakaman Nyonya Verga kemarin.
“Marson?! Kenapa kamu punya kecurigaan pada Marson?!”
“Mungkin saja dia yang mencuri benda itu. dia masuk kemari, saat aku mandi. Dia sempat melihat benda aneh itu, lalu tertarik untuk mengambilnya. Tapi karena datang kabar dari Sam atau yang lainnya bahwa tempat kost ini berhantu, bahwa mereka sempat melihat benda berjalan sendiri karena mereka tak melihat diriku yang membawanya, lalu… Marson jadi ketakutan dan buru-buru pulang. Saat itulah benda itu sengaja atau tidak sengaja terbawa olehnya.”
Bosnan manggut-manggut sambil menggumam kecil, dugaan Lilu bisa diterima oleh akal sehatnya. Maka, ia segera menelpon Marson menggunakan handphone-nya.
“Kotak apaan sih?! Aku nggak ngerti apa yang kamu tanyakan itu,Bos” kata Marson dengan serius. “kamu piker aku ini anak kecil yang masih doyan bermain kotak-katik kayak gitu?!”
“Sorry… aku Cuma bertanya, bukan menuduhmu mencuri kotak itu. jangan sewot dulu kamu Son,” Bosnan bernada xkesal.
“Aku kemarin mencari kamu, memang. Cuma mau kasih kabar bahwa uang komisimu ditahan sama pihaknya Pak Rusdi. Jadi, kalau kamu mau ambil komisimu, ambillah sendiri sama Pak Rusdi. Cuma itu maksud kedatanganku kemarin, bukan mau ambil mainanmu!”
Marson bernada kesal. Sepertinya cukup tersinggung atas pertanyaan Bosnan. Hal itu membuat Bosnan buru-buru bersikap seolah-olah tak terlalu mementingkan barang tersebut, karena ia tak ingin putus persahabatan hanya gara-gara salah paham. Ia segera mengalihkan pembicaraan pada persoalan uang komisinya. Tapi sebenarnya hati kecilnya masih mencoba menduga-duga, siapa kira-kira yang layak dicurigai sebagai pencuri kotak iblis itu? ia merasa lega setelah nada bicara Marson tidak sekeras tadi dan sudah mau tertawa walaupun kedengarannya agak sumbang.
Bosnan sama sekali tak menyangka bahwa tawa Marson memang sengaja dibuat sesumbang mungkin. Dalam kenyataanya saat itu wajah Marson justru tampak ceria. Makan tawanya tadi sebenarnya mengandung nada pelecehan yang sangat mencemooh sikap Bosnan. Sebab, petang itu Marson berhasil mengelabui Bosnan dengan gaya bicaranya tadi. Bahkan menganggap Bosnan terl;alu bodoh, sehingga mudah ditipu dengan kepura-puraannya. Padahal saat menerima telepon dari bonan, di tangan kiri Marson tergenggam kotak kubus yang dicari-cari dan dibicarakan mereka.
Bosnan sama sekali tak menduga bahwa apa yang diperhitungkan Lilu dalam kemungkinannya ternyata memang benar. Marsonlah yang mengambil benda tersebut, karena tertarik pada bentuknya yang unik dan antic. Tak seorangpun melihat pada saat Marson mengambil benda itu, kemudian bergegas pergi karena terbawa rasa takutnya Samora. Dan, pada waktu itu Samora tidak melihatbahwa tangan Marson  yang masuk ke saku celana itu ternyata menyembunyikan benda milik Bosnan.
“Kayak anak kecil aja si Bosnan?! Masa’ dia masih suka dengan permainan kotak-kotak kayak gini sih?! Tapi… dari segi seni, memang memiliki nilai seni cukup tinggi. Hmm… coba kupinjam dulu tanpa izin, bakal kelabakan nggak dia kalau mainan bocahnya tahu-tahu hilang dari meja…?!” hati Marson tertawa geli saat mengambil benda itu. berawal dari niat iseng, ingin mengetahui reaksi Bosnan, maka Hastaraka sengaja dicurinya. Saat itu hati Marson berniat akan mengembalikan benda tersebut jika Bosnan sudah sampai kalang kabut mencarinya sampai stress.
Toh begitu sampai rumah, waktu itu Marson tidak peduli lagi dengan Hastaraka yang digeletakkan di atas dashboard mobilnya. Malahan, hari berikutnya benda itu masih dibiarkan menjadi penghias dashboar mobil dan diobawanya sampai ke proyek. Pulang dari proyek, kotak permainan itu masih dibiarkan ditempatnya dan belum sempat dibawea turun dari mobil. Tapi sebelum usai suara adzan maghrib berkumandang, tiba-tiba Marson menjadi tertarik untuk membawa turun benda itu pada saat ia mengemasi beberapa kertas kerjanya yang juga berserakan di dashboard mobil. Kotak itu diletakkan di atas meja kejanya, yang ada dalam kamar tidur di lantai atas.
“Idiih…. Kotak mainan apaan itu om?! Pinjam dong!” pinta Ninny, keponakannya yang sudah kelas III SMP itu ninny melihat benda itu saat ingin dibawa ke lantai atas oleh Marson. Tapi saat itu Marson justru menghindari jangkauan tangan Ninny yang ingin langsung menyambar Hastaraka dari atas tumpukan kertas penting bawaannya itu.
“Jangan! Ini bukan barang mainan. Ini alat penting buat kerja, milik teman Oom. Enak aja, disangka barang mainan, ya?!”
Ninny terkesan ragu mempercayai keterangan itu. wajahnya tampak kecewa. Tetapi ia segera meninggalkan om-nya sambil menuruni anak tangga dan mengecam dengan seruan. “Pelir…!” sementara Marson tertawa geli melihat keponakannya agak keqi. Rumah besar itu memang bukan hanya ditempati oleh dirinya dan mamanya yang sudah janda berusia 63 tahun itu, tapi juga ditempati oleh kakaknya; Dilton dan istrinya; Amarra. Keluarga Dilton dan mamanya menempati kamar-kamar di lantai bawah, sedangkan Marson dan adik bungsunya; Resyana, menempati kamar lantai atas.
Pada waktu itu resyana belum pulang dari tempat kuliahnya sebagai mahasiswi jurusan kedokteran gigi yang sebentar lagi akan skripsi. Seandainya waktu itu Resyana sudah pulang, mungkin saja ia juga tertarik pada benda bawaan Marson, sebab benda tersebut memang mempunyai daya tarik tersendiri bagi orang yang baru melihatnya, membuat orang tersebut setidaknya ingin memegang dan mengamati bentuk-bentuk gambarnya yang terpotong-ptotng itu. semakin dipandang lebih lama semakin besar daya tarik yang membuat seseorang ingin menyentuh lalu mencoba memainkannya.
Itu sebabnya, sewaktu Marson selesai mandi dan ingin menata meja kerjanya, ia tertarik untuk mengambil Hastaraka dan diamati lebih dekat lagi. Pada saat ia mengagumi benda tersebut, itulah saat datangnya telepon dari Bosnan tadi. Keberhasilan Marson menipu Bosnan membuatnya semakin bangga dengan benda maut itu, hingga timbul keinginan untuk mencoba memutar-mutar potongan gambar pada ruasnya.
Pria lajang berusia 30 tahun itu semakin hanyut dalam permainan Hastaraka. Tanpa disadari sejak 30 menit yang lalu ia duduk di atas ranjangnya. Kedua tangan sibuk memutar-mutar potongan kotak bergambar symbol-simbol mistik yang memancing imajinasi agar terus-menerus mengejar kreasi. Padahal secara konkrit tak ada petunjuk jelas mengenai bentuk gambar yang harus dicapai pada enam bidang bujur sangkar tersebut. Yang dirasakan maeson kala itu hanyalah rasa penasaran yang mengasyikkan untuk mencoba-coba memadukan potongan gambar di sana-sini.
“Nah, kalau begini malah jadi bentuk gambar… hmm, seperti gambar wajah nenek sihir, ya? Tapi sisi sebelah kanannya kok jadi seperti gambar piramida terbalik sih? Ooo…. Yang sebelah bawah harus diputar ke kiri, biar bentuknya menjadi seperti istana si nenek sihir. Mungkin yang benar begitu…!
Ruang potongan bawah diputar ke kiri. Kreek…!
“HAah…?” Marson terperanjat kecil, matanya memandang lebar-lebar pada permukaan Hastaraka yang membentuk gambar istana berpintu gerbang lengkung itu. suatu keajaiban terjadi secara jelas.
Benda itu mengeluarkan enam belas lirik cahaya putih kebiru-biruan. Membias ke berbagai penjuru, membuat Marson semakin terperangah dan meletakkan benda tersebut di atas bantal. Bias cahaya semakin terang, semakin membentuk garis-garis lurus mencapai dinding sekeliling kamar tersebut. Kekuatan cahaya itu seakan-akan membuat sinar lampu utama menjadi layu. Neon utama yang semula terang kini menjadi redup. Marson dibuat kebingungan memandang sekelilinganya dengan wajah tegang. Ia merasakan debar-debar kekaguman, juga perasaan heran dan takut yang makin kuat. Sebab, beberapa kejap setelah bias-bias cahay putih kebiru-biruan itu menguasai penerangan sekelilingnya, maka mulai tersa ada getaran mengguncang ranjang. Lemari, buffet, meja, kursi, semua benda di kamar itu bergetar hingga menimbulkan suara gemeratak samar-samar.
“kok jadi begini sih?!” keluh hati Marson yang semakin cemas. Matanya memandang ke sana-sini dengan lebih liar lagi, karena seluruh dinding yang mengelilinya tampak meleleh, seperti lempengan baja ditembus sinar laser berkekuatan panas tinggi. Sekujur tubuh Marson meinding, detak jantungnya sangat cepat. Urat-urat seluruh tubuhnya menjadi sangat kaku, membuatnya sulit bergerak meninggalkan tampat. Bahkan gerakan lehernya pun menjadi seperti robot. Menengok ke sana-sini dengan gerakan patah-patah.
“Ahhk, haak, uuhk, aahk…!” Marson sulit melontarkan teriakan, karena rasa takutnya seperti mencekik leher. Dinding sekelilingnya menjadi semakin meleleh dan berlubang besar-besar. Tapi dari lubang itu yang terlihat bukan keadaan di balik dinding sebenarnya, melinkan gumpalan kabut hitam. Seperti asap drum-drum oli yang terbakar.
Getaran yang mengguncang bangunan rumah besar itu juga dirasakan oleh penghuni rumah lainnya. Bahkan mamanya Ninny berseru tegang memanggil Ninny yang kala itu menerima tamu teman sekolahnya. Mamanya Marson juga berteriak-teriak ketakutan memanggil anak-anaknya dan menantunya, bahkan kedua pelayan serta cucunya ikut dipanggil secara bergantian. Namun tak satu pun dari mereka ada yang datang menghampiri ke kamarnya. Mereka saling kebingungan mencari kesempatan untuk menyelamatkan diri jika getaran yang disangka gempa itu semakin membahayakan jiwa.
“Marson…! Turun kau, soon…! Turuun…!” teriak Amarra, mamanya Ninny, dari ujung tangga menuju ke lantai atas. Ia mengumpulkan ketiga anaknya, sementara dua gadis teman sekolah Ninny juga berkumpul ketakutan menghadapi getaran gempa yang tidak berhenti-henti meski sudah satu menit lamanya.
“Om….! Cepat turun, Ommmm….!” Teriak Ninny, karena semua yang ada dilantai bawah melihat cahaya terang menyilaukan membias di lantai atas. Disana barang-barang tampak lebih kuat bergetar, sampai dua lukisan cat minyak penghias dinding jatuh dari tempatnya bergantungh selama ini. Praak, braak…! Mereka hanya bisa berteriak bergantian menyuruh Marson turun dari lantai atas, tanpa berani menghampiri ke kamar Marson. Bahkan kedua pelayan mereka ikut mundur dari bawaah tangga karena mata mereka terasa sakit akibat memandang cahaya terang menyilaukan yang kini memenuhi seluruh  ruangan di lantai atas itu.
“Pardi, coba kau naik ke atas! Suruh Tuan Marson turun!”
“Sa… saya… saya takut, Nyonya…!” Pardi, pelayan mereka, menggigil sedih menerima perintah dari Ammara. Sementara itu, Ninny berusaha menghubungi papanya yang belum pulang melalui telepon. Tetapi hubungan telepon selalu gagal.
Marson bukan tidak mendengar seruan mereka yang ada di lantai bawah. Ia sangat mendengar teriakan kakak iparnya maupun keponakannya tetapi ia tak dapat membalas teriakan, sebab tenggorokannya seperti tersumbat segenggam sekam. Kering dan kaku. Tubuhnya terpaku dalam posisi duduk di tepian ranjang. Matanya tak bisa dikedipkan lagi. Pada saat itu Marson benar-benar pasrah dalam keadaan tak berdaya lagi, sebab ia melihat munculnya makhluk-makhluk aneh dari tiap lubang dinding yang meleleh itu.
Dari arah dinding di depannya tampak seoarang lelaki berkepala gundul, tanpa sehelai rambut pun. Tapi kepala dan wajah lelaki berjubah hitam itu dipenuhi paku-paku yang menancap teratur pada setiap satu centimeter. Tempat menancapnya paku-paku itu tidak mengeluarkan darah setetespun. Namun di kedua tangannya terdapat rantai yang panjangnya sekitar 3 meter dengan masing-masing ujungnya memiliki bandul berbentuk mata kail. Runcing dan besar. Kedua mata kail itu berlumuran darah yang masih segar.
Dari dinding sebelah kirinya tampak seorang wanita keluar dari gumpalan asap hitam. Wanita itu hanya mengenakan bra dan celana dalam dari bahan logam seperti aluminium. Rambutnya putih, acak-acakan dan panjang. Bentuk tubuhnya memang langsing dan sexy. Tapi di sekujur tubuhnya yang berkulit pucat itu terdapat serpihan kaca yang menancap pada tubuhnya. Wanita bermata merah dan memiliki sepasang taring itu mengenggam tongkat besi. Pada bagian ujung tongkat besi sepanjang 2 meter itu terdapat tiga mata pisau yang ujungnya sedikit lengkung serta runcing.
Begitu pula dari dinding kanan, tampak sesosok makhluk tinggi, besar, hitam dan berbulu lebat sekejur tubuhnya. Wajahnya lebar, tebal, dan gigi dan taring besar-besar. Makhluk menyeramkan itu juga membawa senjata berupa piringan bergerigi yang ada di ujung tongkat besi. Piringan bergerigi itu berputar sendiri seperti gergaji atau alat pemotong baja. Sedangkan dari dinding belakang muncul makhluk kurus berjubah putih. Wajahnya terkelupas tanpa kulit, sehingga urat-uratnya kelihatan. Makhluk bertangan kurus itu memiliki kuku-kuku panjang, tajam dan runcing. Berwarna hitam, penuh darah kering.
Mereka berjalan mendekati Marson perlahan-lahan dan serempak. Marson sangat ketakuatan, berusaha untuk beringsut dari tempatnya. Namun yang dapat ia lakukan hanya geleng-geleng kepala dengan suara serak lemah.
“Jaa…. Jaaa… jaangan! Jangan… ookhrrr… jangan…!”
Manusia aneh yang penuh paku itu berkata dengan datar dan dingin.
“Kau telah mengundang kami. Kau buka pintu kami. Maka, kau tak boleh menolak kehadiran kami.”
“Ssskk… jjaaakkk… hmmaaaakkk..”
Tiba-tiba rantai itu berkelebat dengan kedua kail menancap di dada Marson, lalu ditarik dengan cepat, sehingga kulit dan daging dada Marson pun robek, brett…!
“Aaaa…!!” sentakan jerit kesakitan berhasil lolos dari kerongkongan yang tersumbat nafas sejak tadi. Belum sempat jeritan itu melemah, Marson sudah harus berteriak lagi, karena punggungnya seperti ditancap oleh lima batang pisau. Kuku panjang makhluk di belakangnya telah terbenam cukup dalam di punggungnya. Brett..! serat-serat daging berhamburan bersama darah Marson.
“Aaaa…!! Aaaaaooowww…!!” Marson menjerit-jerit histeris. Tubuhnya dalam waktu singkat rusak berat akibat serangan senjata keempat makhluk aneh itu. bahkan dari belakangnya ada dua pasang kuku tajam yang meelintasi kepala dan menancap kuat di kedua biji matanya.
Jruubb, breet…
“Aaaaa…!!!”
Sekali pun Marson sudah terkapar di lantai, mereka tetap menghujani dengan senjata tanpa ampun lagi. Sekujur tubuh Marson hancur lebur. Darah memercik kemana-mana. Sampai pada akhirnya tubuh Marson terpotong menjadi empat bagian. Masing-masing bagian menancap pada senjata mereka berempat, lalu potongan tubuh Marson itu segera dibawa pergi oleh keempat makhluk dari alam ghaib. Menjadi santapan mereka masing-masing.
Mereka pergi melalui jalan dimana mereka muncul tadi. Setelah masing-masing terbenam dalam gumpalan kabut hitam, makla guncangan gempa di rumah itupun berhenti. Suasana menjadi sunyi hingga dua menit lebih. Tak satupun dari mereka yang berani bergerak atau bersuara di dalam keheningan suasana mencekam itu. mereka baru berani berkutik setelah mendengar suara mobil datang. Dilton ternyata baru saja tiba, dan langsung diserbu tangis anak istrinya. Maka, mereka pun segera memeriksa ke kamar Marson, tempat datangnya jeritan-jeritan yang menyeramkan tadi.
Dilton hampir saja pingsan melihat keadaan kamar Marson yang penuh darah berceceran di sana-sini. Serat-serat daging, potongan daun telinga Marson, potongan jari tangan, dan serpihan daging lainnya tersebar di berbagai tempat. Pemandangan itu sungguh mengerikan, membuat siapapun tidak berani memperhatikan keadaan kamar secara detail, sebab kamar itu seolah-olah telah berubah menjadi tempat penjagalan manusia.
Tetapi dinding kamar itu dalam keadaan utuh, tidak seperti yang dilihat Marson sebelum ajalnya tiba. Bahkan pintu serta jendela masih dalam keadaan utuh, tak ada tanda-tanda dibuka paksa oleh pelaku sadis itu. tentu saja mereka terheran-heran dan tak mengerti darimana si pembunuh bisa memasuki kamar Marson tanpa merusak jalan masuk lewat manapun?
Peristiwa mengerikan itu menggemparkan hamper separuh kota. Meski pun pihak yang berwajib sudah menyatakan bahwa mayat Marson hilang dan belum diketahui berada dimana, tapi hampir setiap orang yang datang selalu berusaha menyempatkan diri menengok suasana di dalam kamar pembantaian tersebut. Namun bagi mereka yang sudah berhasil mengintai ke dalam kamar itu, rata-rata mengalami gangguan pencernaannya, mual dan muntah. Ada pula yang pusing menggigil berkepanjangan.
Bosnan mendapat kabar melalui telepon dari temannya Marson. Kabar itu sampai di telinganya sekitar pukul dua belas tengah malam. Atas desakan Lilu, akhirnya Bosnan segera pergi ke rumah Marson pada malam itu juga. Lilu mendampinginya dalam bentuk bayangan yang tidak terlihat sosok raganya. Hanya Bosnan yang dapat melihat dirinya. Orang lain hanya bisa melihat bayangan hitam dari raganya, dan bayangan itupun sangat tipis. Nyaris tak mudah tertanmgkap oleh mata manusia biasa.
Ketika Bosnan berhasil menerobos masuk ke kamar Marson bersama Lilu, ia pun sempat mual dan Lilu memegangi tangannya dengan gemetar. Gadis dari alam kegelapan itu rupanya memiliki perasaan normal sebagai manusia biasa yang merasa ngeri melihat tempat pembantaian tersebut. Namun ungkapan emosi seperti itu hanya sesaat, kemudian ia kembali mampu menetralkan sikapnya setelah mengetahui penyebab kematian Marson.
“Melihat serpihan daging dan potongan tubuh yang menyebar di sana-sini, aku yakin pelakunya bukan dari alam manusia, tapi dari lorong ghaib!” ujarnya berbisik kepada Bosnan.
“Betul begitu…?!”
“Ya. Mayat korban hilang. Tapi pada empat penjuru terdapat sisa serpihan tubuhnya yang menempel bersama darah-darahnya. Berarti Marson telah menjadi santapan keempat penjaga gerbang istana iblis. Dan, heey… kalau begitu kotak terkutuk ada pada Marson?!”
“Hastaraka, maksudmu? Marson yang mengambilnya?!”
“Pasti! Sebab… mereka yang menjadi penjaga gerbang istana iblis dari empat penjuru tidak mungkin akan masuk kea lam manusia secara bersamaan kalau saja mereka tidak merasa mendapat undangan. Undangan itu mereka terima setelah jalur lorong empat penjuru ghaib terbuka kalau… Hastaraka membentung lambang-lambang ghaib yang menjadi kunci pembuka lorong utama. Hanya melalui Hastaraka lorong utama bisa dibuka, sehingga lorong epat penjuru ghaib terbuka secara serempak.”
“Astaga?!” Bosnan gemetar dan semakin pucat pasi. “Lantas, dimana benda itu sekarang? Ayo kita cari di kamar pembantaian tadi, Lilu! Ayo… lekas…!” Bosnan menarik tangan Lilu untuk menuju ke lantai atas kembali.


5
P
EMUDA berambut cepak militer dan berperawakan maco itu sempat disangka benar-benar anggota militer oleh petugas security apartemen. Sikap hormat dan pelayanan satpam tersebut agak berlebihan. Bahkan ia ikut mengantarkan tamu tersebut ke lantai 15 menggunakan lift tengah. Satpam itu merasa yakin, bahwa tamunya kali ini pasti lulusan ABRI yang setidaknya berpangkat letnan, sebab usia sang tamu masih tampak muda sekali.
“Bapak dinas dimana, pak? Masih di Mabes atau…?”
“Masih… masih disana,” jawabnya tenang sangat meyakinkan sekali sebagai jawaban ramah seorang letnan muda.
“Silahkan Pak!” si satpam sebaya tamunya itu mempersilahkan sang tamu melangkah setelah pintu lift dibukakan. “Perlu saya antar sampai ke room 433, Pak?”
“O… tidak usah. Saya sudah pernah datang sebelum ini. Sudah tahu tempatnya kok. Terima kasih ya mas…”
“Sama-sama, pak. Selamat malam!” sambil bersikap tegak menghormat, dan sang tamu hanya tersenyum ramah dengan menganggukkan kepala sekedarnya, lalu bergegas menuju room 433 yang dituju. Lift tertutup kembali, dan pemuda itu hamper tertawa lepas karena merasa sangat geli diperlakukan seperti militer dan disangka dinas di Mabes. Padahal pemuda berkulit bersih dan berhidung bangir itu hanyalah seorang marketing analyst di sebuah perusahaan. Postur tubuhnya yang tegap, gagah dan terbungkus T-shirt ketat itulah yang sering menimbulkan salah anggapan bagi orang lain.
Perusahaan tempatnya bekerja itu merupakan rekanan dari perusahaan besar milik orang tuanya Debby. Dan di perusahaan itu Debby Luxiana duduk sebagai Marketing Export Manager. Itulah sebabnya meskipun sudah pukul Sembilan malam lewat, tapi ketika Debby menelpon Ruyan dan memintanya datang ke apartemennya, Ruyan tak bisa menolak atau menghindari dengan alasan apapun. Kepatuhan sikapnya bukan hanya lantaran factor persahabatan saja, tapi juga demi kesinambungan hubungan bisnis kedua perusahaan mereka, juga bisnis pribadi yang suatu saat menjadi penghasilan tambahan bagi Ruyan.
Bukan sesuatu yang aneh bagi Ruyan jika putrid pengusaha besar itu lebih sering tinggal di apartemennya ketimbang di rumah bersama keluarga, karena pada saat-saat tertentu gadis karir seperti Debby membutuhkan tempat isterahat total untuk menurunkan kepenatannya. Hanya  orang-orang tertentu yang mengetahui tempat Debby menghindar dari segala macam kesibukan, terutama rekan-rekan dekatnya. Ruyan sendiri sudah ketiga kali ini diminta menemui Debby di apartemen itu. karena memiliki hubungan pribadi dengan Debby. Namun belakangan ini Debby memang sudah mulai jarang menelpon ke tempat kost Bosnan. Hubungan mereka memang tampak semakin renggang. Debby sering meminta informasi kepada Ruyan mengenai sikap Bosnan yang tiba-tiba menjadi acuh tak acuh padanya itu. namun yang dapat diberikan Ruyan hanyalah beberapa keterangan kecil, dan keterangan itu tampak kurang memuaskan hati Debby.
Ketika tiba di kamar 433 yang memiliki satu kamar tidur berukuran besar itu, Ruyan sempat dikenalkan dengan dua orang gadis teman Debby yang sering dilihatnya muncul di Carrabian Café. Ruyan mengaku sering melihat kedua wajah mungil itu di café tersebut namun baru kali ini sempat berkenalan. Bahkan sama sekali tak menduga bahwa Prissy dan nayla adalah teman dekat Debby. Saying sekali pada waktu itu Prissy dan Nayla memang sudah mau meninggalkan apartemen tersebut, sehingga Ruyan hanya sempat beramah tamah beberapa menit saja. Tak sampai lima menit.
Pembicaraan Debby pun masih berkisar masalah urusan bisnis mereka. Tapi ketika Prissy dan nayla sudah pergi, keseriusan Debby dalam membicarakan bisnis hilang secara berangsur-angsur. Gadis berparas cantik seperti gadis-gadis Spanyol itu terkesan cuek sekali dalam penampilannya. Rambutnya yang berpotongan shaggy tak dirapikan. Sedikit acak-acakan. Wajahpun tanpa make-up seperti biasa sehingga bibirnya tidak semerah merah delima, melainkan sedikit gelap karena memang ia gemar merokok. Tak ada bedak tapi memang kulit wajahnya sudah berwarna kuning langsat segar, sehingga tak tampak pucat atau berminyak.
“Tetanggamu ada di rumah mala mini, Ru?” tanyanya sambil membenahi meja yang penuh dengan bungkus rokok dan kulit kacang. Ia berjalan mondar-mandir dengan cueknya merapikan tempat ala kadarnya, tanpa takut dianggap tak sopan terhadap tamu.
“Tadi sihh… ada. Waktu aku berangkat kemari, Bosnan masih ada di kamarnya. Aku mendengar suara TV. Berarti ia ada di kamarnya. Dia memang jarang keluar kemana-mana belakangan ini. Nggak seperti dulu.”
“Pasti ada ceweknya di dalam kamar itu. iya kan?” Debby melirik sepintas sebelum tiba di meja makan untuk meletakkan gelas kotor. Lirikan itu cukup tajam dan bersifat mendesak Ruyan agar mengaku apa adanya. Tapi senyum Ruyan tetap kalem, karena ia mempunyai jawaban sejujurnya yang tak perlu diragukan lagi.
“Seingatku dari pukul tujuh tadi, nggak ada tamu yang datang untuk mencarinya. Aku tahu persis kok, Bosnan sendirian di kamarnya. Setengah jam sebelum kau menghubungi HPku, aku sempat bicara dengannya di depan kamar. Aku melihat jelas, nggak ada tamu siapapun di dalam kamar itu. jadi, kurasa dia di kamar hanya sendirian, menikmati acara TV sambil… entah, sambil ngapain. Aku nggak tahu.”
Debby kembali ke sofa tamu. Senyumnya getir, menandakan sedang menahan keluh duka dalam hatinya. Ia duduk dalam satu sofa panjang bersama Ruyan dengan santai, seenaknya sendiri. Padahal saat itu ia mengenakan rok tidur bertali kecil di pundak dan terbuat dari bahan yang tipis, lembut, meski tidak terlalu transparan. Tapi panjang ukuran rok longgar itu hanya separoh paha. Ia tak merasa risi duduk seenaknya yang membuat rok itu sedikit tersingkap, sehingga bentuk kemulusan pahanya nyaris dapat dilihat sang tamu secara keseluruhan. Sikapnya itu memang menunjukkan keakraban persahabatan yang sudah tidak perlu basa-basi atau formalitas yang kaku. Meskipun dari ketipisan gaunnya telah membentuk siluet pada bagian dadanya, toh sedikitpun ia tak merasa malu jika sang tamu sampai mengetahui bahwa dadanya yang sekal dan agak montok itu tidak mengenakan bra sama sekali.
“Aku yakin, dia pasti punya cewek lain, Ru. Kalau dia nggak punya cewek lain, nggak mungkin dia bersikap seperti ini padaku. Kalau nggak ada factor penunjang nggak mungkin dia menjauhiku. Soalnya, aku merasa selama ini bersikap baik-baik saja sama dia. Malah dia lebih sering kuajak happy, sering kubantu beban ekonominya, sering kuhangatkan cintanya, dan selama ini aku nggak pernah menjadi beban baginya kok. Mustahil dia menghindariku secara tiba-tiba begini kalau nggak ada perempuan lain yang berhasil memikat hatinya, mungkin juga posisinya lebih tinggi dariku. Kalau dia Cuma dapat cewek kelas rendah, yang segala sesuatunya berada dibawah keberadaanku, lalu dia rela lepaskan aku demi cewek itu… nah, berarti dia kena guna-guna. Atau, berarti dia sudah nggak waras lagi, alias gila..!”
Ruyan tertawa sebentar. Ia tak berani tertawa berkepanjangan, sebab bagi Debby ucapannya itu bukan sesuatu yang lucu, dan ia sendiri tak tertawa. Ia tetap serius mencurahkan kedongkolan hatinya tanpa malu-malu lagi. Ruyanpun seharusnya menanggapi dengan keseriusan agar tak mengecewakan hati Debby.
“Memang kalau dipikir-pikir secara logika, seperti itulah kesimpulan yang ada pada Bosnan. Seperti yang kau bilang tadi. Tapi selama satu minggu ini aku mencoba menyelidiki dia, sesuai dengan perintahmu, tapi sampai hari ini aku tak pernah melihat dia bersama gadis lain, atau bicara tentang gadis lain dengan siapa saja, atau menerima telepon dari gadis lain… nggak pernah. Sumpah, Deb! Malahan, seperti kukatakan tadi, dia cenderung suka mengurung diri di dalam kamar. Jarang mau diajak jalan-jalan seperti dulu lagi. Kalau kami ngobrol di runag tamu, dia jarang ikut nimbrung. Kamarnya lebih sering ditutup.”
“Aku masih kurang yakin dengan kesimpulanmu dech, Ru. Aku tahu persis pribadinya. Bosnan adalah orang yang selalu butuh perempuan setiap harinya, entah ngobrol, entah jalan-jalan, entah kencan, entah apa saja… pokoknya setiap hari dia butuh semangat hidup dari seorang perempuan. Kalau sampai seminggu lebih kau mengamati dia dan hasilnya seperti itu; dia nggak perempuan pengganti diriku, kayaknya itu hal yang sangat mustahil bagi Bosnan!”
Ruyan angkat pundak. “Tapi kenyataan yang terpantau olehku memang demikian. Malahan sudah dua minggu ini kuperhatikan dirinya sering pulang kantor tepat waktu, bahkan sering lebih awal dari biasanya. Kalau dulu, sebelum dia menjauhkan diri darimu, dia sering pulang kantor ngelantur, baik itu bersama kamu atau tidak bersama kamu. Dia sering pulang pukul delapan malam. Nah, sekarang ini… dia lebih sering sampai di kost pukul enam. Kadang-kadang pukul lima sudah ada di kost.”
“Darimana kau tahu?!”
“Diam-diam akupun menyuruh Atang, penjaga kost kami, untuk memperhatikan Bosnan. Kalau perlu mencatat pukul berpa Bosnan pulang. Pokoknya… sejak kematian atasannya setengah bulan yang lalu, Bosnan terkesan lebih betah tinggal di rumah dari pada keluyuran kemana-mana. Samora, Rudy, dan teman-teman kost lainnya juga mempunyai kesimpulan seperti itu, Deb. Mereka juga merasa heran, mengapa Bosnan berubah menjadi orang yang betah mengurung diri dalam kamarnya?”
“Apakah… dia sebenarnya punya hubungan gelap dengan Bu Verga? Kematian Bu Verga membuat jiwanya terganggu dan mengalami perubahan psikis…?”
“Ah, kurasa nggak mungkin begitu Deb. Toh dia tetap kelihatan ceria setiap harinya. Tetap kelihatan bersemangat seperti biasanya. Cumin sering mengurung diri di kamar, itu saja perubahannya!”
Debby manggut-manggut menjadi sangsi atas dugaannya sendiri. Rasa penasarannya justru menjadi semakin bertambahbesar. Dan, firasatnya tetap mengatakan ada perempuan lain di samping Bosnan. Sebab kalau memang tidak ada perempuan lain disampingnya, meskipun Bosnan menjauhi dirinya, maka pria tampan itu tetap akan sibuk kesana-kemari mencari perempuan lain sebagai spirit hidupnya. Yak mungkin hanya diam di kamar seperti pemuda kuper begitu.
Kenyataan seperti ini memang membuat Ruyan serba salah. Seminggu yang lalu ia diminta Debby, memata-matai Bosnan. Mencari informasi, siapa gadis yang bersama Bosnan sebenarnya dan tinggalnya dimana, bekerja dimana, ciri-cirinya seperti apa, serta data-data lainnya. Debby mempermudah urusan bisnisnya, asalkan Ruyan bersedia menjadi mata-matanya. Tetapi ternyata Ruyan tidak menemukan informasi sedikitpun tentang Bosnan, selain melihat sendiri bahwa Bosnan tidak mempunyai gadis lain. Tidak ada gadis yang datang ke tempat kost mereka, atau pergi bersama Bosnan, atau menjadi buah pembicaraan Bosnan kepada rekan-rekan kostnya.
Ruyan juga sudah mencoba mengorek keterangan dari Bosnan melalui obrolan santai. Alasan Bosnan memutuskan hubungan cinta dengan Debby hanya karena Debby bersifat egois dan terlalu ingin menguasai pribadi Bosnan. Mungkin karena Debby merasa lebih kaya, sehingga ia akan mengatur ruang gerak Bosnan seenaknya sendiri. Tapi sebenarnya alas an itu klise sekali. Hanya saja, tetap masuk akal kalau Bosnan menjauhi Debby dengan alas an seperti itu. Dan, sudah tiga kali Ruyan memancing Bosnan dengan menanyakan gadis pengganti Debby, tapi Bosnan selalu menggeleng. Menyatakan tidak punya pengganti Debby dan bahkan pernah menyatakan belum berniat mencari gadis pengganti Debby.
“Aku pernah memancingnya dengan berpura-pura ingin menjodohkannya dengan teman kantorku; Laela”
“Terus apa katanya?!” Debby sangat ingin tahu.
“Dia nggak berminat. Dia bilang, kepingin hidup bebas tanpa ikatan batin yang selama ini hanya melelahkan jiwanya.”
Bibir sedikit tebal tapi berbentuk menggoda selera itu cepat-cepat mencibir, pertanda meremehkan perkataan Bosnan kepada Ruyan itu. menurutnya, pernyataan Bosnan itu adalah bohong besar yang layak dilontarkan dari mulut orang-orang munafik.
Malam semakin larut, curhat tetap lanjut.
“Buat aku sebenarnya kehilangan Bosnan bukanlah sesuatu yang sangat memukul jiwaku. Biasa saja. Kuanggap dia sudah bosan sama aku, dan akupun harus bosan sama dia. Okey! Cuma, aku nggak suka kalau caranya dia memutuskan hubungan kayak begini. Mestinya dia berikan aku alas an yang jujur donk, kenapa dia kepingin pisah sama aku? Emangnya aku ini cewek apaan, masih mau beratin cowok yang sudah nggak suka sama aku?!”
“Memang inilah kesalahan Bosnan yang fatal. Nggak berani open!”
“Nah iya! Kalau emang dia punya cewek lagi, bilang aja terus terang. Nggak mungkin aku melabrak cewek itu. toh bukan cumin dia satu-satunya cowok di dunia ini. Aku bisa cari cowok yang lebih oke dari dia dalam waktu sehari aja! Asal semuanya terbuka, blak-blakan, kita sendirikan jadi sama-sama enak.”
“Iya memang,” Ruyan selalu mendukung pendapat Debby. Gadis itu semakin memperoleh kelegahan hati karena persepsinya selalu dibenarkan oleh lawan bicaranya. Ia semakin tidak sungkan-sungkan lagi untuk mencurahkan seluruh uneg-uneg hatinya.
“Sekarang yang bikin aku penasaran cumin kepingin tahu, kayak apa sih ceweknya Bosnan itu?!”
“Sebaiknya lupakan sajalah, biar nggak jadi beban pikiranmu.”
“Nggak bisa Ru. Aku harus melihat sendiri, dan aku yakin dia pasti punya cewek baru! Sekarang kutugaskan padamu untuk mendesak dia dengan cara apapun supaya dia mengaku dan menunjukkan cewek barunya itu! Sanggup?!”
“Tapi Deb…”
“Desak aja! Kalau perlu desak dengan cara kasar! Pasti dia mengaku dan mau menunjukkan cewek barunya!”
“Dengan cara kasar?!”
“Ya. Kekerasan!”
“Wah…” Ruyan menyengir kikuk.
“Kenapa?! Kamu takut?!”
“Bukan soal takut, tapi..”
“Kalau kamu sampai terlibat urusan polisi, aku yang akan menebusmu deh! Jangan khawatir soal itu! yang penting aku bisa mengetahui, seperti apa cewek barunya itu. Kalau begitu, baru aku puas. Puas sekali! Dan, mungkin aku nggak mau lagi urusan sama mereka, karena aku sudah puas!”
Ruyan masih tersenyum-senyum salah tingkah sendiri. Debby bergeser lebih mendekat. Nada bicaranya lebih provokatif lagi.
“Aku tak pernah merasa keberatan mengeluarkan biaya besar demi mencapai kepuasanku, Ru. Berapa saja imbalan yang kau minta dariku, akan kupenuhi. Asalkan kau bisa membuatku puas!”
“Masalahnya… Bosnan itu kan teman aku juga Deb. Masa’ aku harus menggunkan kekerasan atau kekasaran sih? Apakah…”
“Kamu bangga punya teman kayak dia?!” kamu merasa saying kalau kehilangan sahabat macam dia?!”
Sulit juga Ruyan menjawabnya, Debby kelihatannya tidak bisa diajak kompromi lagi. Keinginannya harus dipenuhi. Kemauannya sulit untuk dicegah. Keputusannya nyaris tak dapat dilunakkan. Ruyan semakin jelas melihat keegoisan Debby yang memang cukup besar dan sulit disadarkan itu. Namun, Ruyan tetap sabar, karena ia yakin gadis itu pasti punya titik kelemahan untuk bisa menurunkan egoismenya.
“Bagaimana Ru?! Kamu sanggup menjalankan misi itu?!”
“Akan kucoba. Kalau sampai beberapa hari ternyata aku belum berhasil atau belum bertindak seperti saranmu itu, aku akan menyatakan mundur dari misi ini. Tapi kalau sekarang juga aku bilang, nggak sanggup, ooh… itu pun belum tentu. Harus kucoba dulu, apakah aku benar-benar tidak sanggup ataukah sebenarnya sanggup.”
Jawaban dan keterangan itu agaknya sedikit melegakan hati Debby. Terbukti gadis itu manggut-manggut dan tanpa banyak desakan lagi. Rupanya penjelasan seperti itu bermanfaat untuk meredakan emosi dan rasa egoisnya Debby. Gadis itu lebih menyukai keterbukaan seperti itu, ketimbang tindakan-tindakan yang bersifat mematahkan egoismenya. Ruyan kini mulai menemukan celah kecil dalam menghadapi karakter putrid pengusaha besar itu.
“Deb, sudah pukul satu lebih nih. Aku pulang dulu yach?”
“Pulang?! Cewekmu ada di rumah ya?!” seru Debby dari depan kulkas. Ia mengeluarkan dua kaleng bir hitam. Sambil menyambung kata-katanya ia kembali menuju ke tempatnya duduk tadi.
“Kalau memang cewekmu nungguin dirumah, ya udah. Pulang aja sana! Jangan lama-lama nongkrong disini.”
Ruyan tertawa salah tingkah. Debby membuka kaleng bir sebelum duduk, lalu disodorkan kepada Ruyan dan diterima tanpa basa-basi lagi. Setelah membuka lagi satu kaleng untuk dirinya sendiri, Debby segera duduk di sebelah kiri riyan. Bir hitam diminumnya beberapa teguk tanpa dituang terlebih dahulu ke dalam gelas. Gaya minumnya yang langsung tenggak itu menandakan bahwa ia bersikap lebih cuek lagi di depan tamu prianya. Ruyan merasa ditantang untuk lebih berani bersikap seenaknya sendiri. Serba terbuka dan serba bebas.
“Sebenarnya kalau saja Bosnan mau bicara baik-baik padaku, mungkin aku nggak akan begini penasarannya Ru.”
“Mungkin dia nggak tega menyakiti hatimu.”
“Salah. Kalau dia punya pemikiran seperti itu, salah besar. Aku ngga akan sakit hati meskipun putus dengannya. Biasa aja! Cuma… aku jengkel dan geregetan sama caranya ini! Kamu lihat aku, mana ada tampang sedihku sih? Ada nggak?!”
“Itulah yang membuatku salut padamu. Kamu memang tegar dan cukup matang, menurutku. Sampai saat ini aku masih belum tahu, bagaimana kamu bisa bersikap tegar seperti ini dan tidak punya rasa sedih walaupun putus dengan Bosnan.”
“Karena aku belum terlalu mencintainya,” sahut Debby tegas. Wajah Ruyan sedikit berpaling ke arahnya. Seolah-olah agak kaget mendengar pernyataan tersebut.
“Aku hanya merasa suka sama dia Ru. Simpati, terkesan, dan mengaguminya. Belum benar-benar jatuh cinta padanya.”
“Bosnan pasti nggak menyangka akan hal itu.”
“Pasti. Dia sangka aku merasa sedih dan patah hati putus hubungan dengannya. Padahal nggak begitu. Apalagi dia mempunyai suatu kekurangan yang selama ini tak begitu kutuntut, walau sebenarnya samgat kubutuhkan. Selama ini aku coba untuk bisa menerima kekurangannya itu. ehh.. siapa tahu lama-lama kekurangan itu bisa terpenuhi. Tapi sebelum…”
“Apa sih kekurangannya?” sela Ruyan sedikit ingin tahu.
Debby tersenyum sambil membuang pandangan kea rah kaleng bir yang digenggamnya. Senyum itu menimbulkan rasa curiga di hati Ruyan. Ingin tahunya semakin bertambah besar. Namun sebelum Ruyan mencoba menerka kekurangan yang dimaksud, ternyata Debby sudah lebih dulu bicara lagi.
“Dia kurang berani.”
“Kurang berani dalam hal…?”
“Kurang berani beraksi di atas ranjang.”
“Oooo…” Ruyan tersenyum malu, Debby tertawa kecil agak parau. Tapi agaknya persoalan yang sangat pribadi seperti itu bukan hal yang tabu bagi Debby untuk dibicarakan di depan Ruyan pada saat itu juga.
“Sebenarnya dia memang cukup romantis, tapi keromantisannya itu adalah keromantisan yang cengeng, menurutku. Terlalu lemah, terlalu lembut. Sedangkan…”
“Bukankah yang begitu justru yang paling indah bagi kaum wanita?”
Tegas-tegas kepala Debby menggeleng. Matanya pun berani menatap secara terang-terangan. Kata-katanya tersengar jelas sekali.
“Aku nggak suka model yang lembut kayak gitu. Menurutk kelembutan seperti itu justru membatasi kepuasan jiwa.”
“Jadi… kamu suka yang…?”
“Yang beringas!” sahutnya cepat. “Yang tegar, jantan sekali, dan yang rada-rada liar. Penuh ungkapan rasa secara agresif.”
Ruyan tertawa gelid al Debby tersenyum-senyum cuek.
“Keromantisan yang emosional bagiku merupakan kenikmatan cinta yang sulit digambarkan, dan yang akan membuat gairahku terus berkobar-kobar.”
Senyum itu melebar lagi. Untuk menutupi malu hatinya, kaleng bir kembali menyentuh bibir, dan diminumnya beberapa teguk. Lalu, kaleng bir diletakkannya di meja. Sebatang rokok diambilnya dan dibakar. Ruyan justru mengambil asbak dari meja untuk dipindahkan ke samping tempat duduknya supaya Debby tidak terlalu jauh jika ingin menyentikkan abu rokoknya nanti. Dengan kepulan asap rokok itu Debby merasa semakin asyik mengutarakan masalah kemesraannya di ranjang, tanpa mempedulikan pembicaraan tersebut makin lama makin membuat darah Ruyan menjadi panas, detak jantungnya mulai cepat, nafaspun ikut mnejadi sedikit sesak.
“Brengsek!” Debby tersenyum sendiri sambil bernada mengeluh.
“Kenapa?!”
“Ngomongin soal begituan bikin aku jadi panas dingin dech.” Tawa paraunya berkelanjutan. Ia tampak malu pada Ruyan, memaksakan diri untuk tetap cuek, sehingga wajahnya hanya disembunyikan pada lengan kanannya, dan lengan itu ada di sandaran sofa. Telapak tangan tepat dibelakang kepala Ruyan. Ketika pemuda maco itu tertawa geli, Debby menahan malu dengan meremas tengkuk kepala Ruyan, mencubitnya dengan kesan gemas.
“Maksudnya panas dingin itu bagaimana sih?”
Ruyan berlagak bodoh, membuat Debby semakin geli-geli berdebaran.
“Panas dinginitu… sekujur tubuhku terasa dingin, tapi batinku terasa panas, sampai keluar keringatnya. Kalau nggak percaya pegang nih…!”
Tangan pemuda itu dituntunnya, disuruh memegang leher yang berkeringat dingin. Lalu tangan itu dituntun turun dibawah leher. Memang sedikit basah. Sampai disitu tangan Ruyan dilepaskan. Tangan itu tidak segera ditarik kemabali, melainkan justru meraba di sisi kanan, mencari tempat yang berkeringat lagi. Saat itu Debby sengaja membiarkan, matanya menatapa sayu. Ruyan merasa ditantang, sehingga semakin menunjukkan keberaniannya. Tanganpun bergeser turun, mendekati belahan dada yang cukup dalam, pertanda tepiannya menggunung sekal.
“Ternyata kamu mudah tersentuh oleh bayangan mesra ya..?”
Mata sayu itu mengaggukkan kepala.
“Aku memang lagi in the mood koq.”
“O, ya..?! wah, kalau begitu aku nggak berani sentuh kamu lebih lama lagi dong.” Ruyan ingin menarik tangannya, namun buru-buru tangan itu ditahan oleh Debby.
“Nggak apa-apa. Aku malah suka disentuh lebih lama… apalagi disentuh lebih dalam, ooohhh…. Asyik sekali tentunya…”
Tangan Ruyan pun bergeser semakin turun. Jari-jarinya terbenam di balik leher gaun tipi situ. Mesti gemetar, namun jari-jari itu menghadirkan kenikmatan tersendiri bagi Debby. Maka, semakin sayu mata Debby meandangi Ruyan, dan semakin menantang senyuman Ruyan di hadapan wajah cantiknya Debby. Jarak kedua wajah itu cukup dekat, kurang dari satu jangkauan. Aroma parfum sensual dari tubuh Debby kian tercium tajam oleh Ruyan, semakin membuat bara asmara semakin berkobar.
“Ouuh…” Debby menggigit bibirnya setelah mendesah parau, lalu menundukkan wajah. Seakan-akan meresapi indahnya sentuhan tangan Ruyan.
“Jangan berhenti Ru” pintanya seperti merengek manja, padahal mengerang indah. Wajah terangkat kembali, mata menatap bertambah redup-redup menggairahkan lawan jenisnya.
Gerakan tangan Ruyan semakin galak. Tali gaun disingkirkan dari pundak Debby. Gaun tipis lembut itu terperosot, terpuruk ke atas perutnya. Mata Ruyan berbinar-binar memandangi sepasang bukit membusung sekal dengan bentuknya yang indah, dan warnanya yang putih mulus berpuncak merah ranum. Secara reflex tangan Ruyan pun langsung mentambarnya. Bertambah berani, dan selbih agresif lagi. Debby justru memandangi dadanya sendiri sambil mendesis-desis penuh gairah bercumbu.
“Ooouuh… Ruuu,” ia menatap redup. “Aku suka.. aku suka dengan keberanianmu ini Ru…. Ouhhh…”
Debby menyambar tangan Ruyan yang satunya, lalu jari tangan itu digigitnya sedikit keras. Bahkan segera dibenamkan ke dalam mulutnya, dan lidah Debby pun mulai menari dengan lincah. Menghadirkan desiran-desiran kenikmatan di hati Ruyan. Desiran itu memancing keganasan Ruyan, sehingga bukan tangan lagi yang ada di dada Debby, melainkan ciuman hangat dari bibir Ruyan.
“Ohh, Debby…!” Ruyan meraung bagaikan serigala jantan menhadapi lawannya. Debby tak menyangka bahwa Ruyan ternyata jauh lebih berani dari Bosnan, juga jauh lebih liar dari Bosnan. Pria macho itu tak segan-segan mengekspresikan kenikmatan jiwanya, sehingga suara desah dan erangannya semakin membangkitkan gairah Debby yang sempat turun setelah Ruyan berhasil melambungkan hasratnya ke puncak keindahan.
“Ini yang kucari! Seperti inilah yang kudambakan selama ini! Ooohh…. Ruyannnn… kenapa yang kucari ternyata ada padamu, saying?! Ooohhh… indah sekali… indah sekali asmaramu Ruyan…”
Semakin deras peluh mereka, semakin ganas iarama bercinta. Ungkapan rasa bahagia yang meledak-ledak telah membuat mereka tak sempat menuju ranjang kemesraan. Bagi mereka sofa, lantai berlapis permadani, meja, semua yang ada di sekeliling mereka telah berubah menjadi ranjang kehangatan. Debby sangat kegirangan sekali mendapat obsesi cintanya yang selama ini tidak didapatkannya dari pria lain. Kegembiraan sedahsyat itu ternyata membuatnya semakin lupa berpikir tentang Bosnan. Yang ada dalam pikirannya hanya kehebatan Ruyan dalam memandu perjalnan cintanya yang terindah dari yang paling indah selama ini.
Namun keberanian Ruyan dalam berenang mengarungi lautan cinta itu, terpaksa harus segera dikurangi. Ada sesuatu yang sangat mencurigakan dan mengganggu kenikmatan berlayar. Debby yang saat itu terkapar di atas permadani lantai sengaja membiarkan keberanian Ruyan mengendur. Ia menyangka Ruyan ingin berlabuh lagi untuk beberapa saat, seperti tadi. Ia sangat setuju jika memang harus berlabuh sesaat, karena sekujur tubuhnya menjadi lemah akibat menanggung beban kelelahan berlayar.
Tetapi ketika perahu cinta itu berhenti tanpa gerakan mendayung seperti tadi, Debby mulai dapat merasakan keganjilan yang membuat susutnya keberanian Ruyan itu. Mereka saling memandang dengan sedikit cemas. Mereka mulai menyimak adanya getaran halus pada lantai asmara mereka. Getaran tersebut semakin jelas, bahkan diiringi suara benda berderak-derik pada tempatnya. Lukisan di dinding, lampu gantung, meja kaca, pot bunga di ujung tirai pembatas ruangan, dan benda-benda lainnya pun tampak jelas terguncang-guncang. Sepertinya mereka berlonjak-lonjak di tempat mereka masing-masing.
“Ruuu?! Ada gempa kan?! Ini gempa kan ru?!” Debby mulai tegang. Ruyan belum bisa menjawab, tapi ia telah membebaskan Debby dari tekanan asmara, sehingga keduanya sama-sama berdiri memandang sekelilingnya. Apartemen yeng terdiri dari tiga menara itu seperti sengaja diguncang-guncang oleh raksasa yang berada di kedalaman tanah sana. Ruyan dan Debby semakin tegang.
“Cepat kenakan pakaianmu Deb!” sergah Ruyan membuat Debby kaget dan menggeragap.
“Ohhh, sial, berengsek!” Debby menggerutu dan mengumpat tak henti-hentinya, karena merasa kenikmatan cintanya diganggu oleh suasana alam yang menjadi ganjil itu. mau tak mau ia harus keluar dari apartemennya, turun ke lantai pertama, dan menjauhi komplek hunian vertical itu sebelum guncangan gempa datang lebih besar lagi, hingga apartemen tiga menara itu runtuh dengan puing-puing mengubur beberapa penghuninya. Deru suara badai pun sudah mulai terdengar. Mungkin suara deru tersebut terdengar lebih keras di luar apartemen.
“Deb, bawa beberapa barang yang perlu-perlu saja! Lekas kita turun dari tempat ini.!” Seru Ruyan saat mengenakan jeansnya yang tadi dibuang di depan pintu masuk akibat hasrat tak bisa bersabar lagi.
“Hey, lihat cahaya itu Ru!” Debby menuding ke dinding kaca dekat pintu balkon yang juga terbuat dari kaca. Dinding kaca itu dilapisi dengan vertical blind, semacam kerai yang terbuat dari expanda. Dari celah-celah kerai itu tampak beberapa berkas cahay putih. Makin lama membias makin terang. Ruyan menjadi sangat penasaran, karena deru angin badai sudah hilang, demikian pula getaran Verga disangka gempa tadi. Tapi mengapa bias cahaya itu semakin terang, maka, vertical blind disingkapkan dengan memutar bagian ujungnya. Clap…!
“Haaah…???!” Debby terpekik dengan mata terbelalak, demikian pula halnya dengan Ruyan. Kekagetan itu akibat masuknya sinar terang sangat banyak hingga menyilaukan mata secara reflex. Mereka terbenging-benging memandang kea rah luar melalui dinding kaca tersebut.
“Siang…??!” gumam Ruyan.
“Ah, mas… masa’ sih?! Ini kan baru… baru pukul tiga dini hari. Masa’ suasana di luar sudah sesiang ini?!”
Bukan hanya mereka berdua yang terkejut, tapi juga semua orang dimana saja mereka berada, sama-sama terkejut dan tidak mudah mempercayai penglihatan mereka masing-masing. Suasana gelap pekat malam hari, tiba-tiba saja berubah menjadi siang dan terang. Langit sangat cerah, seperti pukul sepuluh atau pukul sebelas menjelang tengah hari. Padahal di langit mereka tidak melihat matahari bertengger seperti biasanya.
Unggas mulai terbangun dari tidurnya, begitu pula hewan-hewan lainnya. Ayam terlambat berkokok, dan mungkin juga bertanya-tanya; mengapa malam tiba-tiba menjadi siang, sedangkan jarum jam tetap menunjukkan pukul 03:42 dini hari?
***


6
J
ARUM jam tidak bergerak. Waktu tidak bekerja. Suasana tetap terang benderang. Bahkan panas menyengat seperti trik matahari pukul 12 siang tepat. Semakin lama semakin menyengat. Di beberapa tempat, tanaman mulai kering, terutama untuk jenis tanaman yang tidak tahan panas. Kecemasan melanda setiap orang. Kecemasan melanda setiap orang. Ketegangan mulai tercipta hingga menimbulkan stress missal. Lembaga meteorology dan geofisika sibuk memberikan laporan yang membingungkan, karena suhu dan cuaca menunjukkan tanda-tanda keganjilan alam yang sulit dipahami.
“Ada yang membuka gerbang petaka!”
“Gerbang petaka?!”
“Gerbang petaka adalah pintu tertutup gelombang ghaib. Jika pintu itu dibuka, maka gelombang ghaib tersebut akan menghancurkan alam lain, termasuk alam manusia.”
“Dari mana gerbang petaka bisa dibuka Lilu?”
“Hastaraka”
“Maksudmu…. Seseorang telah memainkan Hastaraka dan tanpa sengaja ia telah membuka gerbang petaka, begitu?!”
“Benar. Sebaiknya kita cari saja orang yang saat ini meninggal dalam keadaan terbakar. Bahkan mungkin saja tempat atau rumah ia memainkan Hastaraka itu juga terbakar. Sebab ketika timbul ghaib membentuk kunci pembuka gerbang petaka, maka cahaya panas yang sekarang menyebar ke seluruh bumi ini terlebih dulu menerjang orang tersebut. Dan pasti orang tersebut langsung mati dalam keadaan terbakar.”
Bosnan diam tertegun. Keringatnya mengalir melalui pelipis. Udara panas memang mulai memeras keringat setiap orang, baik yang ada di dalam ruangan maupun yang ada di jalanan. Namun pada saat itu yang terpikirkan oleh Bosnan bukan derasnya keringat, melainkan mencari tahu, siapa orang yang telah membuka gerbang petaka melalui permainan Hastaraka tersebut?
“Lilu, apakah kamu tidak bisa menggunakan kekuatan supranaturalmu untuk mencari orang yang mati terbakar itu? kalau memang bisa, tolong lakukan! Pleace, Lilu…!”
“Sejak aku hidup di ala mini kembali, kekuatan supranaturalku sudah sangat berkurang. Aku tak tahu apakah aku bisa mencari korban keganasan benda itu atau tidak, tapi… baiklah, akan aku coba sekarang juga!”
Lilu juga ikut cemas seperti yang lain. Ia sebenarnya lebih tegang karena ia tahu bahwa gelombang panas yang datang dari gerbang petaka itu dapat membuat jasadnya terserang habis, seperti alcohol terkena udara. Tetapi kecemasan itu sengaja tidak diberitahukan kepada Bosnan, karena Lilu tak ingin Bosnan menjadi panic dan sedih. Gadis itu yakin bahwa Bosnan akan lumpuh semangatnya apabila tanpa dirinya, Bosnan kentara sekali sangat mencintai dirinya dan tak ingin berpisah darinya. Tapi di balik cinta yang dalam itu Lilu juga melihat segumpal kekhawatiran yang menumbulkan kecemasan dalam hidup Bosnan. Barangkali keccemasan itu disebabkan oleh kenyataan yang ada dalam diri Lilu, terutama mengenal syarat mendapatkan lelaki keturunan bangsawan yang akan diminum darahnya oleh Lilu.
“Temukan dulu dan hancurkan secepatnya kotak permainan iblis itu. setelah kita berhasil menghancurkan benda terkutuk itu, barulah kita berburu lelaki keturunan bangsawan,” kata Lilu beberapa hari yang lalu. Dengan kesepakatan tersebut, kecemasan Bosnan dapat berkurang dan bisa disembunyikan dibalikke besaran cintanya. Namun sejak kematian Marson, mereka masih belum berhasil mendapatkan kotak permainan para iblis, jika sekarang ada pihak yang telah memainkan kotak tersebut, berarti benda itu memang ada yang merawatnya dan bukan hilang bersama kehancuran Marson, seperti dugaan mereka berdua semula.
Lilu melepaskan meditasinya. Nafasnya terengah-engah seperti habis lari jauh. Hanya Bosnan yang melihat dan mendengar bagaimana Lilu terengah-engah kelelahan.
“BAgaimana, saying?!” bisik Bosnan sambil mengahapus peluh di sekitar kening dan pelipis Lilu.
“Gagal,” jawab Lilu lemah. “Aku tak bisa menemukan korban mati terbakar. Malah hamper celaka karena terperangkap gumpalan kabut hitam. Kabut bencana.”
Bosnan menghembuskan nafas panjang. Memaksakan diri menekan rasa kecewa yang harus disertai permakluman.
“Kabut bencana Bos..” Lilu mengguncang lengan Bosnan, meminta perhatian khusus dari pria yang juga dicintainya itu.
“Ada apa dengan kabut bencana..?”
“KAbut itu telah semakin dekat dengan alam ini”
“Apa artinya?”
“Sebentar lagi kabut bencana akan menutupi alam kehidupan manusia. Gelombang hawa panas yang terang benderang ini akan terselimuti kabut itu, dan jika demikian maka dua kekuatan tersebut akan berubah menjadi bom penghancur yang maha dahsyat. Daya ledakannya dapat memecahkan bumi menjadi Sembilan bagian atau lebih.:
“Gawat…!”
“Tanda-tanda kehadiran kabut hitam itu dapat dilihat dari diriku, Bos.”
“Maksudmu..?!” Bosnan berkerut dahi dalam kecemasan.
“Gelombang panas ini akan semakin meningkat, dan memiliki kekuatan sebagai penghisap atau penyerap zat-zat ghaib. Karena aku tidak memiliki jasad kasar atau fisik seperti dirimu, maka gelombang panas ini pada saatnya akan menghisap diriku dan lenyap sudah diriku seperti uap tanpa embun.”
“Oh.. Li…?! Benarkah demikian?!”
Lilu mengangguk sedih. Keterangan itupun terpaksa ia beberkan di depan Bosnan karena ia tahu keadaannya semakin mendekati masa-masa kritis.
“Jika nanti kau sudah tak bisa melihat aku lagi, berarti aku sudah terhisap gelombang panas ini. Aku tak akan lagi berada dimana-mana, lenyap abadi. Dan… itu berarti saat-saat kehancuran bumi tinggal beberapa waktu lagi.”
“Oh, tidak! Kamu tidak boleh hilang dari pelukanku, Lilu!” Bosnan mendekapnya erat-erat tanpa mempedulikan kalau keduanya berkeringat.
“Bos, lepaskan pelukanmu. Kita tidak punya waktu untuk menikmati bayangan duka. Kita harus cari dan temukan benda itu, Bos.”
“Aku tahu… tapi kemana kita harus mencarinya kalau tanpa petunjuk yang jelas Lilu? Apakah kita harus melapor kepada polisi?”
“Bagaimana kalau kita awali lagi dari keluarga Marson?”
Bosnan menatap lekat-lekat, terkesan tidak memahami maksud Lilu.
“Bukankah dulu kita belum menanyai semua keluarga Marson tentang benda itu, Bos? Bagaimana kalau sekarang kita tanyakan kepada semua penghuni rumah itu, termasuk kepada kedua pelayan mereka, barangkali salah satu dari mereka menyimpan benda keparat itu? kita jelaskan saja apa sebenarnya terjadi, biar mereka ikut mencari benda itu.”
“Kurasa itu ide yang bagus Lilu!” Bosnan mencium pipi Lilu sebagai pelengkap sanjungannya. Dan, memang hanya itulah yang bisa mereka lakukan, karena saat berikutnya mereka harus cepat-cepat meluncur ke rumah almarhum Marson, mengewali kembali pencariannya.
Mereka menggunakan taksi. Selama berada di dalam taksi, Bosnan melarang Lilu bersuara, karena dapat menimbulkan ketakutan bagi si sopir taksi yang tidak melihat sosok Lilu. Jika mereka harus bicara, mau tak mau mereka berbisik sangat pelan. Selama ini Lilu selalu menuruti aturan Bosnan. Di tempat kost pun Lilu tidak bisa bebas bicara dan bergerak. Sebab anak-anak kost akan semakin yakin kalau kost mereka berhantu jika mendengar suara tanpa rupa tau benda bergerak sendiri seperti waktu itu. Lilu tidak mau Bosnan dicekam oleh orang-orang disekitarnya, dan tak ingin Bosnan dijauhi teman-temannya, sehingga aturan itupun ditaati olehnya.
Kini di saat dalam perjalanan menuju rumah Marson, Lilu terpaksa berbisik pelan di telinga Bosnan. Suaranya sangat pelan, namun cukup jelas di dengar Bosnan. Pada saat itu mereka melihat banyak mobil mogok di jalanan. Mulanya Bosnan dan supir taksi tidak tahu mengapa mobil-mobil tersebut menjadi mogok. Tetapi setelah mendengar bisikan Lilu, Bosnan pun menjelaskan kepada si sopir taksi.
“Hawa panas dan keganjilan cuaca alam telah membuat bensin cepat menguap, pak. Mereka adalah mobil-mobil yang kehabisan bensin.”
“Ya… ampun,” gumam si sopr taksi. “Benarkah keganjilan ini merupakan tanda-tanda mau kiamat ya Tuhan?”
“Mungkin saja,” Bosnan menjawab lemah, menahan perasaan ngeri dalam hatinya.
“Tapi kata beberapa orang…” ujar si sopir taksi, namun tidak jadi dilanjutkan. Bukan karena ia ragu melanjutkan ucapanny, tapi tiba-tiba jalannya taksi, menjadi tak beres. Mata si sopir taksi terbelalak memandang jarum penunjuk bahan bakar.
“Astaga! Rupanya… oohh, sial! Rupanya taksi ini juga kehabisan bensin, tuan. Padahal aku baru saja mengisinya 40 liter. Tapi sekarang sudah habis."
“Ya Tuhan….” Bosnan mengeluh pelan, tapi ia tak menyalahkan sang sopir sebab keringnya bahan bakar pada taksi tersebut disebabkan karena penguapan yang tak sewaajrnya. Mereka terpaksa turun disitu. Untuk tak seberapa jauh lagi jarak yang akan ditempuh untuk sampai di rumah Marson. Akhirnya jarak tersebut ditempuh Bosnan dan Lilu dengan jalan kaki. Orang lain pun banyak yang bepergian dengan jalan kaki.
“Jaraknya sih nggak begitu jauh, tapi sengatan panas ini yang membuatku sangat haus Lilu…”
“Semua orang juga begitu, kita harus bisa mengatasinya, Bos!” Lilu selalu member semangat kepada Bosnan agar tak mudah stress.
Tiba-yiba tangan Lilu mencekal langan Bosnan, menahan langkah mereka. Lilu, gadis tanpa wajah itu berbisik pelan.
“Tunggu sebentar, jangan buru-buru melangkah.”
“Ada apa?”
“Orang yang berjalan di belakang kita sedang membicarakan masalah korban kebakaran. Jangan menengok!” cegah Lilu ketika Bosnan ingin berpaling ke belakang.
“Kita simak diam-diam percakapan mereka!” tambah Lilu. “Kalau mereka sudah mendahului kita, baru kita jalan lagi di belakang mereka. Siapa tahu korban kebakaran itu adalah orang yang memegang kotak permainan iblis.”
Bosnan berlagak seperti mencari bajaj mencari perjalanannya. Padahal di jalanan itu tidak ada kendaraan yang lewat, tapi Bosnan punya alas an untuk memandang ke ujung jalan sana-sini, sehingga ia bisa melihat orang yang dimaksud Lilu. Dan, ternyata mereka terdiri dari empat orang kantoran yang tampaknya tidak jadi berangkat ke kantor. Tetapi yang membuat Bosnan terheran-heran serta agak sangsi adalah jarak mereka dengan dirinya.
“Maksudmu keempat orang yang menuju kemari itu, Li?”
“Ya. Sssttt…!”
“Tapi…” Bosnan nekat berbisik. “Tapi jarak mereka masih jauh dari kita Li. Lima puluh meter lebih.”
“Hmmm…?!” Lilu seperti baru menyadari hal itu. “Tapi… tapi aku mendengar jelas percakapan mereka, Bos? Jelas sekali!”
Bosnan sendiri sempat terheran-heran. Baru sekarang ia mengetahui bahwa Lilu memiliki pendengaran yang sangat tajam. Menurut dugaan Lilu, ketajaman pendengarannya itu mungkin disebabkan oleh kondisi gaibnya sewaktu hamper terjebak dalam gumpalan kabut hitam; kabut bencana. Kabut itulah yang mempertajam indera pendengaran Lilu. Malahan sekarang ia bingung mendengar suara orang menggerutu kotor karena tak ada kendaraan yang bisa distopnya.
“Siapa yang ngomong jorok ini sih…?!”
“Mungkin… ooohhh, itu dia. Di seberang sana! Tuh, di perempatan sana ada orang clingak-clinguk cari taksi!”
“Apa iya? Jauh sekali jaraknya dengan kita Bos”
“Seratus meter lebih deh…”
“Sst…!” Lilu member isyarat, karena keempat orang itu sudah semakin dekat dengannya. Bosnan pun berlagak menunggu kendaraan lewat sambil sesekali melirik keempat orang tersebut. Samar-samar suara mereka sudah mulai terdengar di telinga Bosnan.
“Kakaknya juga terbakar, begitu…?”
“Dia nggak punya kakak.”
“Lha, tadi kamu bilang ada yang tewas secara mengerikan?”
“Itu bukan kakaknya..”
“Eh, Bob… tadi kau bilang si korban tak sempat berteriak, nah… padahal di rumah itu kan ia nggak tinggal sendirian? Masa’ nggak ada yang dengar atau mencium benda terbakar sih?”
“Pokoknya tahu-tahu keluarga korban menemukan korban sudah hangus di kamarnya. Dan, waktu aku datang ke rumah tersebut, karena memang bertetangga denganku, saat itu aku juga melihat keadaan korban nyaris seperti kayu bakar. Tak dikenali lagi.”
“Seperti orang diambar petir, begitu?”
“Lebih dari disambar petir.”
“Sampai sekarang masih ada?”
“Jenazahnya? O, masih dong. Apalagi dalam keadaan alam begini, mereka juga sangat kebingungan bagaimana untuk memakamkan korban. Memadamkan rumah itu dari kobaran api saja sudah sulit sekali. Hamper semua rumahnya terbakar. Bahkan rumah tetangga paling dekat juga nyaris ikut hangus.”
“Tapi rumah itu sendiri habis dilalap api…?”
“Nggak sih. Cuma sebagian saja. Hanya di bagian kamar kornban saja. Tapi kalau menurut analisa orang-orang, korban tewas terbakar bukan karena api yang membakar kamar tersebut, tapi karena sesuatu yang memiliki titik lebur lebih tinggi dari api. Misalnya, gas atau larutan kimia.”
“Jadi… si korban terbakar lebih dulu, baru ruangannya ikut terbakar, begitu? Atau sebaliknya?”
“Dugaan petugas yang menangani masalah itu memang seperti yang kau bilang tadi, Wim. Korban terbakar lebih dulu, baru benda-benda lainnya ikut terbakar. Itu kalau dilihat dari kondisi korban yang sudah sekeras dan serawan arang. Tapi sebagian petugas juga berkesimpulan, bahwa korban terperangkap api terlebih dahulu, baru teas terbakar.”
“Ngomong-ngomong kalau nanti kita sampai disana, apakah masih boleh melihat keadaan korban? Apakah kita diizinkan melihat? Kalau tidak dizinkan melihat keadaan korban, yah… buat apa kita kesana?”
“Betul. Buat apa kita kesana kalau nggak boleh memotret korban? Berita yang kita turunkan nggak lengkap dong kalau begitu.”
“Kita lihat saja nanti. Aku kenal dengan ayahnya korban koq…”
Sambil mengikuti dari belakang, Bosnan mencerna tiap kata yang di dengarnya. Rupanya mereka berempat adalah orang-orang pers dari sebuah media cetak yang ingin meliput kasus kebakaran aneh. Dari percakapan mereka itulah Lilu merasa yakin bahwa korban yang dimaksud adalah orang yang memainkan Hastaraka. Maka, dalam bisikannya Lilu mengusulkan agar ia dan Bosnan mengikuti langkah keempat orang tersebut. Merekalah yang akan membwa Bosnan dan Lilu untuk tiba di rumah pemegang permainan iblis. Lilu akan menggeledah rumah itu tanpa Bosnan, sebab keadaannya yang tidak dapat dilihat orang sangat memudahkan baginya untuk menyusup ke setiap jengkal tanah di rumah itu, mencari benda terkutuk yang akan dihancurkan secepatnya.
“Hey, lihat rumah itu…!” bisik Lilu. “Bukankah rumah itu adalah rumah alamrhum amrson?!”
“Astaga, benar,” Bosnan terperangah melihat keempat orang per situ memasuki halaman rumah berlantai dua. Rumah itu telah dipenuhi orang dan petugas serta parat keamanan. Rumah itu memang rumahnya Marson, yang saat ini sebagian bangunan lantai atasnya tampak hangus terbakar. Api sudah padam. Tinggal sisa asapnya. Padahal tanpa mengikuti keempat orang tadi, tak urung Bosnan dan Lilu akan sampai juga di rumah tersebut.
“Par…! Pardi…!” panggil Bosnan kepada pelayan rumah itu yang sudah dikenalnya. “Ada apa ini Par? Siapa yang meninggal?”
Bosnan menuding bendera kuning yang dipancangkan di pintu masuk halaman rumah tersebut. Pardi berwajah duka, matanya merah menahan tangis.
“Nona Resya tuan…”
“Resyana..?!” sentak desah suara Bosnan, kaget mendengar adik perempuan almarhum Marson yang kuliah di kedokteran gigi itu ternyata adalah korban yang diicarakan oleh keempat orang tadi.
Resyana tewas dalam keadaan terbakar tanpa bisa tertolong lagi. Jenazahnya nyaris seperti potongan kayu bakar yang sudah menjadi arang hitam. Menurut keterangan yang diperoleh dari Pardi, gadis itu sudah sejak pukul delapan mengunci pintu kamarnya. Tak mau menerima telepon dan tamu. Ada keasyikan yang dikerjakan Resyana di dalam kamar tersebut. Tapi ketika penghuni rumah tertidur nyenyak, tiba-tiba terdengar suara gaduh. Atap kamarmnya roboh dalam keadaan sudah terbakar. Diltonlah orang pertama yang mengetahui bencana tersebut. Dan, ia melihat adik bungsunya sudah menjadi seonggok arang hitam.
“barangkali Resyana sengaja mengunci diri di dalam kamarnya karena asyik bermain Hastaraka, yang membuatnya penasaran.” Bisik Lilu kepada Bosnan. Maka, ia pun segera lakukan sweeping untuk menemukan benda terkutuk itu.
Bosnan mendapat cerita lain dari Ninny, anak sulungnya Dilton. Ternyata gadi ABG itulah yang dulu menemukan kotak permainan iblis di kamar omnya; Marson. Dari sejak ia melihat Marson membawa kotak tersebut, ia sudah tertarik. Tapi Marson tak mau meminjamkan padanya. Maka, ketika omnya dikabarkan tewas tanpa jasad lagi, Ninny mencari kotak permainan iblis itu. ia berhasil menemukannya dan menyimpannya rapat-rapat. Sewaktu dulu Bosnan menanyakan kotak permainan iblis itu kepada Ninny, gadis itu sengaja tidak mau mengaku telah menyimpannya, karena ia ingin memainkannya sendiri.
Tetapi setelah masa berkabung keluarga mulai reda, setelah anggota keluarga tak banyak membicarakan kematian Marson, maka Ninny mulai timbul keinginannya untuk mencoba permainan Hastaraka itu. hanya saja, tempat menyimpan barang itu telah hilang dari kamarnya. Waktu itu Ninny menyimpannya di dalam kardus bekas tempat sepatu, dan kardus itu ternyata tidak ada di kamarnya. Ninny tidak berhasil menemukannya, lalu ia lupakan hal itu daripada nanti kena marah namanya jika terlalu mempermasalahkan kotak kardus bekas sepatu itu.
Ninny mengaku kemarin pagi menemukan kardus sepatu tersebut di kamar tantenya; Resyana. Kardus itu memang diambil oleh Resyana untuk tempat menyimpan hiasan keramik kecil. Tetapi agaknya Resyana tak memperdulikan benda aneh yang ada di dalam kardus bekus bungkus sepatu itu. Maka, sewaktu Ninny menemukannya dan mengambil kotak permainan iblis itu, Resyana menjadi tertarik untuk mengamatinya. Karena pagi itu Ninny harus segera berangkat sekolah, maka ia biarkan kotak permainan iblis itu berada di tangan tantenya.
Sejak sore Ninny melihat tantenya sesekali memainkan kotak tersebut. Setiap ingin diminta Ninny, selalu ditahan tantenya. Ninny pun akhirnya dengan hati kesal dan wajah cemberut. Ia biarkan tantenya bermain kotak kecil itu, sampai akhirnya Resya masuk ke kamar dan mengunci pintu kamar agar keasyikan tidak diganggu Ninny. Sejak itulah mereka yang tinggal di rumah itu tidak pernah lagi bertemu dengan Resyana lagi, sebab kini Resyana sudah menjadi mayat kering menyerupai seonggok arang hitam. Berarti jelas sudah, bahwa Resyana tewas akibat tanpa sengaja membuka gerbang petaka melalui kotak permainan maut itu.
Kini, Bosnan tinggal menunggu hasil sweeping Lilu. Berhasilkah Lilu menemukan permainan iblis itu? atau kotak itu sudah diambil orang lain lebih dulu? Bosnan resah sekali, karena sampai dua jam lebih Lilu tidak menemuinya, sementara ia sendiri tidak melihat di mana Lilu berada.
***


7
W
ARNA coklat kusam mulai dimiliki setiap tanaman. Daaun-daun pohon mulai mongering, sehingga alam di dominir warna coklat. Hawa panas yang menyebar dalam kehidupan manusia ini telah mencapai tingkat membahayakan lingkungan. Setiap orang berbadan basah karena keringat mereka mengalir terus. Manusia seperti berada dalam oven raksasa yang memiliki suhu panas cukup tinggi. Ketegangan massa pun hampir mencapai kepanikan merata. Ada tangis, ada keluh, ada takbir dan do’a menggema di mana-mana. Masing-masing orang merasa yakin betul bahwa saat itu kiamat akan tiba. Aktivitas religious terjadi dimana-mana, dan dilakukan oleh kelompok-kelompok orang yang tidak ingin masuk neraka.
Disela-sela ketegangan massa dan kesibukan religious massa, hanya Bosnan sendiri yang sibuk dengan masalah lain.yang paling utama baginya adalah sibuk mencari Lilu, karena sampai acara keberangkatan jenazah Resyana dari rumah duka, ternyata Lilu belum muncul juga. Bosnan sudah mencoba mencari di sekitar rumah Marson, tapi tak berhasil menemukan gadis tersebut. Bahkan karena keadaan tegang, Bosnan sempat bertanya kepada Pardi yang sejak tadi mondar-mandir membantu mempersiapkan keberangkatan jenazah Resyana ke pemakaman.
“Par, kamu lihat temanku tadi? Gadis berambut pendek yang…”
“Gadis yang mana sih tuan…?”
Bosnan tertegun setelah ingat bahwa Lilu hanya dapat dilihat oleh dirinya seorang. Percuma saja ia menanyakan pada Pardi atau kepada orang lain. Maka, pertanyaan itupun dibatalkan.
“Lupakan pertanyaan tadi. Aku agak ngaco nih Par…” ujarnya menutupi kecurigaan Pardi. Sementara di lantai atas rumah itu masih banyak para petugas kepolisian dan pihak yang berwajib lainnya yang meneliti kamar Resyana bersama sisa kebakarannya. Seandainya waktu kamar itu terbakar dan tidak disemprotkan dengan tiga tabung pemadam kebakaran milik para tetangga, mungkin rumah besar keluarga Marson itu akan terbakar habis bersama penghuninya. Bosnan mencoba bergabung dengan petugas di lantai atas sambil melirik kesana-sini, mencari Lilu. Ternyata Lilu tak ada di sana.
“Apakah dia sudah lenyap karena terhisap hawa panas ghaib ini?” pikir Bosnan dengan hati mulai nyeri. Kekhawatirannya akan hal itu membuatnya semakin tidak tenang dan tegang.
“Jangan sampai jadi begitu ah…! Mudah-mudahan dugaanku nggak benar. Kalau melihat alam sudah mulai kering dan hawa panas mulai menghanguskan kulit, aku khawatir kekuatan ghaib yang menyebar di sekeliling manusia ini sudah mencapai tingkat penghisapan zat-zat ghaib. Ohhh… mudah-mudahan belum mencapai tingkat itu. lalu dimana dia sekarang? Mengapa disana-sini dia nggak ada? Berengsek betul anak itu! apakah dia sengaja membuatku semakin stress begini?”
Bosnan memang belum menceritakan kepada siapa pun di rumah itu tentang kotak permainan iblis itu. ia khawatir kotak itu ditemukan orang dan orang tersebut justru ingin mencoba permainannya setelah mendengar penjelasan darinya mengenai bahaya maut dalam permainan tersebut. Seandainya kotak itu sudah ditemukan Lilu, barulah ia berani menceritakan kepada siapa pun tentang misteri benda berbentuk kubus tersebut, maka Bosnan pun tak berani bertanya baik kepada petugas atau pada keluarga Marson, apakah ada diantara mereka yang menemukan kotak tersebut. Ia harus mencarinya sendiri secara diam-diam, sambil memburu kekasihnya.
Dalam suasana serba panas dan mencemaskan tiap manusia itu, pihak keluarga Marson tetap melakukan persiapan pemakaman. Sebuah peti amti sudah dipesan sejak tadi, namun baru sekarang peti mati itu tiba di rumah duka. Peti itu dibawa dari tempatnya dengan berjalan kaki, karena jalanan penuh mobil mogok, dan transportasi umum lumpuh total. Bosnan memberanikan diri ikut membantu keluarga korban dalam mempersiapkan pemakaman. Ia sengaja ikut memasukkan jenazah Resyana yang meringkuk kaku itu ke dalam peti mati. Hal itu ia lakukan sambil mencari-cari kalau saja benda iblis ternyata masih berada diantara pelukan mayat Resyana. Dengan cermat sekali mata Bosnan memperhatikan kerangka hangus itu, tapi sampai jenazah masuk ke peti mati tak dilihatnya kotak permainan iblis ada di sela-sela kerangka Resyana.
Mereka yang ingin ikut ke pemakaman jumlahnya semakin berkurang. Rata-rata mereka pulang ke rumah karena tak sanggup menahan sengatan hawa panas yang berasal dari gelombang ghaib, yang terkesan beraal dari langit itu. Bosnan sendiri dalam kebimbangan ketika berdiri di luar pintu pagar, karena di sekitar sana pun ia tak melihat kemunculan Lilu. Ia menyangka Lilu sudah kembali ke tempat kostnya, mungkin disangka sudah ditinggal pulang oleh kekasihnya.
Rupanya dalam suasana lalu lintas jalan raya serba kacau, masih ada orang yang memaksakan diri bepergian dengan menggunkan mobil pribadinya.entah berapa lama perjalanan yang ditempuh, tapi yang jelas sedan audi berwarna merah magenta akhirnya berhenti pula di depan rumah Marson. Bosnan terperanjat melihat mobil itu, karena ia tahu persis nomor serinya menunjukkan bahwa mobil tersebut adalah mobil milik Debby. Ia tak menyangka Debby akan hadir untuk menyampaiakan rasa berdukanya kepada Dilton, sebab Dilton memang mempunyai jalur bisnis dengan perusahaannya Debby.
Seperti saat kematian Marson, Debby juga hadir. Tapi tidak sampai ikut ke pemakaman, dan tidak sempat bertemu dengan Bosnan karena selisih jarak waktu saja. Dalam suasana serba menegangkan dan kacau ini, biasanya Debby enggan bepergian kamana-mana. Tapi kali ini justru dia menyempatkan diri untuk datang ke rumah Dilton walau suasana jalan agak sangat tak nyaman. Mungkin factor musibah yang menimpa keluarga Dilton, sehingga Debby memaksakan diri untuk bisa datang, walau hanya sebentar.
Namun sesuatu yang sangat di luar dugaan dan cukup mengejutkan Bosnan adalah kehadiran Debby yang didampingi seorang pemuda berperawakan tegap, macho dan berambut cepak. Hampir saja Bosnan tak mempercayai penglihatannya sendiri, bahwa setelah Debby keluar dari sedan mewahnya itu, dari sisi kiri keluar juga seraut wajah yang sangat dikenali Bosnan, yaitu Ruyan. Meskipun dari dulu Bosnan mengetahui bahwa Ruyan punya hubungan bisnis dengan Debby, dan dialah yang memperkenalkan Ruyan dengan Debby beberapa waktu yang lalu, tetapi mereka berdua sungguh suatu sensasi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Debby Dan Ruyan Sempat Terperanjat Dan Sama-Sama Kikuk Sesaat, Karena Saat Mereka Turun dari mobil tadi mereka belum melihat keberadaan Bosnan di dekat pintu masuk. Setelah beberapa langkah baru mereka lihat Bosnan ada di depan langkahnya. Seolah-olah mereka berdua kepergok berduaan oleh Bosnan. Tetapi begitu ingat bahwa Bosnan sudah tak peduli lagi dengan Debby, maka baik Ruyan maupun Debby buru-buru menetralisir sikap dan perasaannya. Mereka merasa tak perlu takut atau malu kepada Bosnan, sekalipun saat itu mereka memang terkesan sedikit mesra, sebab tangan Debby sempat memegangi lengan Ruyan dalam melangkah. Genggaman tangan itu buru-buru dilepaskan secara reflex tadi, dan membuat Bosnan sendiri menyinggungkan senyum kecil, senyum geli-geli sinis. Ia pun cepat-cepat menyikapi keadaan tersebut dengan tenang dan berusaha utnuk tetap terkesan bersaahabat dengan mereka.
“Hey Bos… sama siapa kamu…?” tegur Ruyan lebih dulu.
“Sendirian aja,” jawabnya kalem. Ekspresi wajah Debby seperti ingin mencibir sinis. Suaranya pun bernada agak ketus.
“Hmmm, disini sendiri, tapi di dalam sana pasti dia tak sendirian, Ru. Bukankah begitu Bos…?”
Hanya senyum getir yang menjawab pertanyaan Debby itu. selanjutnya Bosnan tetap bersikap kalem, dan sengaja mengalihkan suasana batin mereka untuk pindah haluan.
“Silakan…! Dilton pasti sudah menunggu kedatangan kalian sejak tadi. Silakan temui dia dulu sana…!”
Debby yang wajahnya menjadi seperti kepiting rebus akibat udara panas itu, kali ini sengaja bergegas lebih dulu untuk menemui Dilton di dalam sana. Ruyan sengaja tidak mengikutinya, karena ingin menjaga perasaan Bosnan agar tak tersinggung melihat bekas pacarnya jalan bersama teman dekatnya sendiri. Sesungguhnya hati kecil Ruyan sangat tak enak, serba salah, dan merasa malu sekali terhadap Bosnan. Ia tahu Bosnan pasti memiliki kecaman dan penilaian sendiri terhadap pribadinya yang tampak ingin merapatkan hati kepada gadis buangan Bosnan. Setidaknya Ruyan dapat menggeser sedikit persepsi Bosnan tentang hubungannya dengna Debby tersebut. Oleh karenanya kata-kata membisik yang pertama diucapkan Ruyan adalah alas an kebersamaannya dengan Debby.
“Kebetulan kami bertemu di jalan, jadi aku sekalian numpang mobilnya untuk kemari.”
Bosnan tersenyum tawar. “Apakah kau kenal dengan keluarga Dilton? Kurasa kau tidak mengenalnya Yan. Tapi sudahlah…. Tak perlu basa-basi soal kebersamaanmu dengan Debby.”
“Kau tersinggung..?”
“Sama sekali nggak!” tegas Bosnan.
“Mestinya kau tersinggung dong Bos…”
“Memangnya dia itu apaku, kok aku harus tersinggung? Aneh kau ini,” tawa pelan mengikuti pernyataan santainya.
“Atau mungkin karena kau datang bersama penggantinya, maka kau tak merasa harus tersinggung melihat kebersamaan kami tadi?”
“kau lihat aku sekarang? Sendirian atau bersama gadis lain?” Bosnan membantah dsugaan Ruyan secara kelakar. Bahkan menepuk-nepuk pundak Ruyan sambil melanjutkan ucapannya.
“Sudahlah, jalan saja terus! Jangan punya persepsi yang bukan-bukan. Asyik-asyik sajalah kalian. Buatku nggak ada masalah kok.”
“Kamu serius Bos…?”
Tertawa lagi Bosnan mendengarnya, tapi tawa yang sangat pelan.
“Cuaca sangat buruk, kondisi ala mini pun sangat mengkhawatirkan, Yan. Persoalan seperti itu tak perlu kita perburuk juga bukan? Khawatirkan saja tentang keutuhan ala mini, jangan kamu khawatirkan tentang diriki. Okey?” Bosnan menatap Ruyan yang kelu, lalu menambahkan kata. “Nah, susullah dia ke dalam sana…!”
Ruyan pergi menyusul Debby. Maka kecemasan dan kebingungan Bosnan muncul lagi ke permukaan wajahnya. Ia harus mengambil keputusan; menunggu Lilu disitu atau menengok keadaan di tempat kostnya, siapa yahu Lilu sudah ada disana? Sebelum salah satu alternative dipilihnya, langit terang tanpa mega itu tiba-tiba mengeluarkan kilatan cahaya hijau pias. Cralp…! Dan sebuah ledakan besar trejadi seketika itu juga. Blegaarrr….!
Suasana di rumah duka menjadi gusar. Guntur di siang bolong merupakan tanda-tanda kiamat mualai tiba, menurut mereka. Wajar jika para tamu semakin banyak yang bergegas pulang, tanpa menunggu pemberangkatan jenazah ke pemakaman. Tentunya mereka yang segera pulang berkeinginan tetap berjkumpul bersama keluarganya apabila detik-detik kiamat sudah tiba nanti. Bosnan sendiri sempat berpikir begitu, tapi ketika ia melihat kilatan cahaya Guntur menyambar bumi, dan tak lama setelah itu tampak gumpalan asap melambung dari bangunan yang tersambar petir tadi, maka pikirannya semakin kuat tertuju pada Lilu. Andaikata bumi nanti hancur ia ingin tetap bersama Lilu.
“Bos…!” panggil sebuah suara dari arah jalanan sewaktu Bosnan hendak melangkah masuk ke rumah, ingin pamit kepada Dilton dan keluarganya. Panggilan itu jelas suara seorang gadis. Bosnana buru-buru berpaling setelah ia yakin tak ada orang lain yang memperhatikan suara panggilan tadi. Spontanitasnya jadi ternyata benar. Gadis yang memanggilnya memang Lilu. Hati Bosnan merasa lega melihat Lilu menghampirinya. Tapi kecemasan meningkat cepat, karena Lilu dalam keadaan seperti habis diperkosa.
“Lilu…?! Kenapa kau?!” Bosnan segera menarik tangan Lilu untuk dibawa ke tempat yang terlindung dari pandangan umum. Sebab, percakapannya dengan Lilu nanti jika dilihat orang akan membuat orang tersebut menganggap dirinya gila, karena ia tampak seperti bicara sendiri dengan tempat kosong.
Bosnan mendesak Lilu agar segera member penjelasan, walau gadis itu sedang menenangkan pernafasananya yang terengah-engah. Rambutnya yang pendek kini sudah menjadi tak teratur dan acak-acakan. Kulit tubuh Lilu tampak kotor, bercampur debu-debu hitam. Pakaiannya pun selain menjadi kotor, kucal, lesuh, juga robek di beberapa bagian. Bosnan bisa melihat keringat Lilu melekat seperti air selokan, karena bercampur dengan debu hitam. Tetapi gadis itu menggenggam kotak permainan yang ditutup dengan kedua tangannya, agar tak terlihat orang lain sebagai benda yang berjalan sendiri.
“Hastaraka sudah kutemukan. Tapi cepat bawa aku pergi dari sini Bos. Aku khawatir mereka mengejarku kemari!”
“Mereka siapa maksudmu?!” Tanya Bosnan sambil menerima benda itu dengan gemetar, lalu buru-buru dimasukkannya ke saku celananya.
“Paras pengembara alam ghaib, alias manusia-manusia penjelajah antar dimensi. Cepatlah pergi dari sini Bos! Nanti kujelaskan di perjalanan!”
“Pulang ke tempat kost kita, begitu..?”
“Ya, sebaiknya begitu! Pokoknya cari tempat yang aman!”
Diserambi samping Debby dan Ruyan tampak sedang pamit kepada wakil keluarga Dilton. Mereka melihat Bosnan pergi sendirian menuju ke pertigaan jalan, tempat mangkal para pengojek. Tetapi Ruyan tak yakin bahwa Bosnan ingin mencari ojek untuk pulang, sebab di pangkalan itu tadi tak terlihat ada satupun juga tukang ojek yang menunggu penumpang. Mungkin para tukang ojek itu juga berkumpul bersama keluarganya menghadapi detik-detik kiamat yang diyakini akan tiba sebentar lagi.
Ketika mobil audi itu meluncur pulang, Debby sempat menghentikannya sebentar di samping Bosnan. Ia dan Ruyan sama-sama menawarkan tumpangan sebagai tanda perdamaian atas perang dingin mereka. Tetapi Bosnan menolak, dan menyatakan lebih suka berjalan kaki sendirian daripada menumpang mobil orang. Penolakan itu dilakukan karena diam-diam Lilu selalu berbisik pada Bosnan, bahwa ia tidak setuju jika menumpang mobil Debby. Lilu mendesak Bosnan untuk menolak bujukan Ruyan dan Debby, sehingga audi itu pun segera pergi meninggalkan Bosnan yang dalam penglihatan mereka hanya berjalan kaki sendirian.
Kebetulan tak jauh dari pangkalan ojek yang kosong itu terdapat sebuah hotel kecil yang duklunya bekas penginapan, lalu direnovasi dan ditingkatkan persyaratannya, sehingga menjadi sebuah hotel yang berukuran sedang. Lilu mengusulkan untuk chek-in di hotel tersebut, karena ia ingin buru-buru bersembunyi dari ancaman bahaya yang kemungkinan dapat menyerangnya sewaktu-waktu. Hotel tersebut ternyata kosong, tidak ada tamu yang bermalam di situ. Bahkan petugas hotelnya pun hanya beberapa orang. Mungkin pegawai lainnya tak menghiraukan lagi tugas-tugasnya di hotel tersebut, karena sibuk menghadapi tanda-tanda akhir zaman.
“Silahkan berapa saja tuan mau bayar biaya chek-in, akan saya terima. Tapi… terus terang kami tidak siap betul melayani tuan. Maklumlah… keadaan seperti ini, bisa saja sewaktu-waktu datang bahaya besar kami langsung kabur,” kata petugas hotel yang terkesan malas-malasan mengenai booking kamar tersebut. Karena Lilu tampak sangat membutuhkan tempat aman, maka Bosnan pun akhirnya menggunakan salah satu kamar hotel tersebut sebagai tempat persembunyian sementara bagi Lilu. Di kamar itulah Lilu menceritakan insidennya saat berusaha mencari kotak permainan iblis tersebut.
Menurutnya, pengembara alam ghaib mengetahui terbukanya gerbang petaka yang dari dulu sulit mereka lakukan. Melihat cahaya kehancuran terbesar di alam kehidupan manusia, maka beberapa dari kelompok pengembara alam ghaib itu datang ke bumi, mencari Hastaraka dengan cara mengenali letak datangnya sumber bencana yang tak lain adalah energy ghaib dari kotak permainan tersebut.
Pengembara alam ghaib adalah manusia-manusia tempo dulu, yang pernah hidup di bumi ratusan tahun yang lalu. Mereka memiliki tingkat peradaban yang sangat tinggi, kecerdasan dan IQ yang tingginya belum pernah dimiliki oleh manusia abad sekarang. Lilu mengetahui hal itu melalui cerita si kakek yang pernah terperangkap di dalam kegelapan bersamanya. Menurut cerita si kakek tersebut, tingginya ilmu dan tekhnologi pada masa ratusan ribu tahun yang lalu telah menimbulkan perang bintang antara manusia di bumi dengan manusia di planet lain. Perang besar tersebut sempat memporak-porandakan bumi dan seisinya. Penghuni bumi tinggal sedikit dan melarikan diri melintasi beberapa dimensi yang lainnya, sampai akhirnya mereka mendapat julukan pengembara alam ghaib.
“Untuk apa mereka menginginkan benda terkutuk itu…?”
“Untuk membuka rahasia. Semua rahasia di alam ghaib bisa dibuka melalui Hastaraka itu. Selama bertahun-tahun mereka mengembara di alam ghaib, namun belum berhasil membuka beberapa rahasia besar yang ada di alam ghaib itu sendiri, antara lain; membuka lorong penyimpan harta karun para dewa,  menemukan pintu masuk lumbung pusaka maha dahsyat, dan sebagainya. Melalui permainan dalam kotak Hastaraka itulah mereka dapat mencari dan menemukan kunci-kunci rahasia besar itu Bos. Makanya, begitu mereka mengetahui cahaya bencana menyebar di bumi, dan mereka tahu tak ada kunci lain yang bisa membuka gerbang petaka selain Hastaraka, maka mereka pun segera memburu benda itu ke bumi.”
“Bagaimana kau bisa bertemu dengan mereka?” Baukankah kau mencari benda itu di dalam rumah Marson?”
“Memang. Aku berhasil menemukan benda itu dai atas atap dapur. Rupanya benda itu terpental dari kamar Resyana pada saat memancarkan cahaya panas dari gelombang petaka. Cahay itu kuduga menghanguskan Resyana lebih dulu sambil terpental kuat, menerobos jendela kamar yang terbuat dari kaca itu. dari sana benda itu melayang jauh di atas atap dapur. Sisa kilauan cahaya panas itu tertangkap oleh radar ghaibnya para pengembara antara dimensi, sehingga mereka mengejarnay kemari. Ada delapan orang jumlahnya, dengan masing-masing mengendarai kuda semberani, alias kuda ghaib. Kuda itu bisa mengeluarkan tenaga petir dan tak bisa dilihat oleh mata oprang biasa.”
Pada waktu Lilu memungut benda permainan iblis itu di atas atap dapur, tiba-tiba ia dikelilingi oleh delapan pengembara alam ghaib. Mereka meminta agar Lilu menyerahkan benda tersebut. Tetapi Lilu justru melarikan diri menggunakan sisa kekuatan supranaturalnya. Mudah sekali bagi Lilu melarikan diri menembus dimensi ghaib karena belum memiliki raga kasar. Mereka segera memburu Lilu, melepaskan gumpalan badai ghaib yang membuat Lilu jungkir balik berkali-kali di padang pasir hitam, yaitu gurun yang memiliki tanah ghaib seperti jelaga.
Namun dengan sekuat tenaga Lilu tetap mempertahankan benda tersebut. Pelariannya tetap dilanjutkan meski dihantam badai berkali-kali oleh lawannya. Saying sekali pelarian itu akhirnya menemui jalan buntu, karena gumpalan kabut hitam yang dinamai kabut bencana telah membentang, menghadang di depan Lilu dalam perjalanan, kabut itu mendekati alam manusia. Lilu terdesak, tapi memiliki sisi keberuntungan sendiri, yaitu sebagai pihak pemegang Hastaraka. Pada waktu mereka bersama-sama menyerangnya dari depan, Lilu memutar ruas kotak permainan iblis itu sebisa-bisanya. Tepat ketika mereka menerjangnya, Lilu sudah bisa meleset melebihi kecepatan petir akibat getaran energy ghaib pada kotak tersebut. Akibatnya, para pengembara alam ghaib itu tak menemukan sasarannya, mereka justru terjerumus masuk ke gumpalan kabut hitam. Maka, saat itulah mereka meledak bersama-sama dan lenyap selama-lamanya. Ledakan tersebut membias ke bumi, berbentuk dentuman besar yang memercikan cahaya petir hijau tadi. Dentuman itu membuat Lilu terlempar masuk kea lam kehidupan manusia lagi, sehingga jatuh di sekitar tempat asal pelariannya. Jatuhnya Lilu bersamaan dengan kilatan cahaya petir hijau yang menyambar sebuah gedung dan mengakibatkan kebakaran besar itu.
“Tapi aku khawatir kalau-kalau mereka masih penasaran dengan benda itu dan memburuku kemari.”
“Bukankah mereka sudah lenyap setelah tergulung kabut hitam?”
“Yang delapan memang begitu, tapi yang lain kan masih banyak? Mungkin teman-temannya yang berada di sisi lain melihat kegagalan tersebut, sehingga beberapa dari mereka menggantikan tugas untuk memburu Hastaraka dari tanganku. Bisa saja kan?”
Bosnan menggumam berat sambil manggut-manggut. Ia keluarkan kembali kotak permainan iblis itu dari saku celananya. Ia perhatika sejenak dengan jantung berdetak-detak kuat.
“Kalau begitu, sekarang juga benda keparat ini harus kita hancurkan!” geram Bosnan seperti menyimpan dendam kesumat yang amat besar pada benda tersebut.
“Tunggu!” sergah Lilu. “Kita salah perhitungan dalam rencana semula. Kalau benda ini dihancurkan sekarang juga, maka kita tak akan bisa menyelamatkan bumi dan alam semesta manusia dari kehancuran kabut bencana.”
“Jadi…?”
“Pergunakan dulu benda iru untuk menutup gerbang petaka, sehingga cahaya terang yang semakin panas ini segera hilang, lalu kabut bencanapun memburunya atau menunggu utnuk bergerak kemabali. Singkatnya, gunakan dulu benda ini untuk menyingkirkan cahaya panas ini, setelah itu baru kita hancurkan!”
“Lalu, bagaimana caranya menggunakan benda ini?”
“Cari symbol-simbol penguncinya…!”
“Apakah kau tahu symbol-simbol itu…?”
Lilu menghembuskan nafas panjang, lalu menggeleng sedih. Ia tak tahu symbol seperti apa yang dapat dipakai untuk menutup gerbang petaka, sehingga ia tak mungkin bisa menyusun gambar-gambar pada kotak Hastaraka dengan benar. Gambar-gambar yang telah tersusun dan menghasilkan suatu akibat, maka dengan sendirinya gambar-gambar itu akan berubah secara acak, sehingga sulit untuk disusun seperti semula lagi.
“Kalau begitu akan kucoba mencari susunan symbol penutup gerbang petaka itu,” kata Bosnan sambil mulai memegang benda itu dengan kedua tangannya, siap untuk memutar dan membolak balik potongan gambar yang terpisah secara acak-acakan. Tapi tangan Lilu buru-buru menahn gerkan tangan Bosnan. Gadis yang duduk bersimpuh di atas kasur, di samping kanan Bosnan itu berkata pelan tapi penuh keseriusan yang mencekam dirinya sendiri.
“Hati-hati! Jangan sampai salah susun. Nanti menimbulkan akibat lain yang bisa-bisa mempercepat lematian kita!”
“Aku tahu, karena itu dekatlah terus padaku. Bila perlu, peluk aku supaya kalau sampai terjadi bencana pada diri kita, maka kita pun tetap akn bersama-sama.”
“Okey. Aku akan memeluk hatimu juga, mulai sekarang sampai selamanya,” suara parau Lilu membangkitkan keberanian Bosnan untuk berspekulasi dengan benda tersebut. Maka, ia pun member kecupan lembut terlebih dulu di bibir Lilu. Kehangatan mengalir ke seluruh tubuh. Kehangatan itu adalah kehangatan cinta sejati yang akan menuntun naluri Bosnan untuk menempatkan potongan-potongan gambar pada kotak tersebut hingga tersusun dengan benar.
“Mulailah bermain, sayang…!” bisik Lilu sambil mengusap cucuran peluh di rahang Bosnan. Maka mulailah Bosnan memainkannya.
Udara semakin memanggang manusia hisup-hidup. Panasnya bukan main bagi ukuran kulit manusia normal. Sengatan cahaya terang di alam bebas telah membuat banyak pohon mengalami pengeringan total. Sungai kehilangan air, lautan pun mengalami penyusutan besar-besaran, hewan-ternak banyak yang mati, sementara kulit manusia rata-rata mulai berwarna hitam kemerah-merahan.
Di dalam kamar hotel itu keringat Bosnan mengucur lebih deras lagi. Selain terkurung hawa panas yang tak dapat dilawan dengan kesejukan hawa AC, ketegangan yang terjadi akibat pemusatan konsentrasi besar-besaran itu juga factor terkurasnya keringat Bosnan di sekujur tubuh. Pakaiannya basah kuyup, seperti habis kehujanan. Dan, hal itu ternyata tidak dipedulikan sama sekali. Ia sibuk memutar-mutar ruas kubus yang memiliki lambing-lambang kekuatan ghaib itu. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati serta penuh eprhitungan matang. Adakalanya menggunakan insting serta naluri kemujurannya agar tak melakukan kesalahan dalam menyusun lambing-lambang mistik itu.
Lilu mendampinginya dengan setia. Sebentar-sebentar mengusap peluh di sekitar wajah Bosnan dengan sarung bantal yang sudah dilepas dari bantalnya, karena kedua handuk yang disediakan di kamar itu sudah terlalu basah oleh keringat mereka.
“Lihat bidang sisi kiri ini, sudah tersusun gambar seperti sepasang sayap kelelawar,” ia menunjukkannya kepada Lilu. Gadis itu menggumam pelan. “Jika ruas bawah kuputar ke kanan, maka bidang kiri ini mendapat gambar kepala hewan, tapi bukan kelelawar. Bagaimana menurutmu?”
Lama sekali Lilu menjawab, karena iapun harus berpikir keras sambil memadukan naluri batinnya. Pada saat itu suara dentuman besar terdengar lagi. Petir maut menyambar ke bumi, lantai sempat bergetar sesaat, terdengar suara orang di jalanan berseru tentang sebuah sekolah telah terbakar disambar petir. Dan, hal-hal seperti itu sengaja tak dihiraukan oleh Bosnan dan Lilu. Mereka tetap berkonsentrasi pada susunan symbol-simbol mistik dalam kotak kubus yang dapat diputar kesana-sini itu.
“Kepala binatang yang akan masuk diantara dua sayap itu sepertinya adalah binatang yang hanya hidup di alam ghaib.” Kata Lilu. Jangan-jangan justru bentuk binatang seperti itulah yang akan mewakili penampakan para pasukan iblis? Jika simbol itu tersusun, tahu-tahu ribuan iblis bertampang kelelawar berdatangan kemari menyerang kita!?”
“Jadi bagaimana? Tangguhkan dulu?”
“Ya, kucoba mengingat-ingat apa saja yang pernah diceritakan oleh kakek tua itu padaku, mungkin bisa dijadikan petunjuk bagi kita.”
Memang semakin menegangkan suasana di saat itu. mereka berdua seperti berada di depan sebuah bom yang harus dijinakkan. Bukan saja karena mulai banyak petir liar yang menggelegar di angkasa, atau kadang menghancurkan bangunan, tapi juga karena tekanan kejiwaan yang semakin berat yang kini hamper membuat Bosnan putus asa. Ia tak memiliki p[anduan apapun untuk menentukan bentuk lambing-lambang mistik yang harus disusunnya. Sementara jika ia salah susun, bisa-bisa yang timbul adalah malapetaka bagi dirinya dan kekasihnya.
“Bos, aku ingat cerita kakek itu yang pernah menyinggung-nyinggung tentang kekuatan iblis. Sebab, kakek itu semasa hidupnya adalah seorang pendeta yang bertugas memburu kaki-tangan iblis di muka bumi. Tapi ia terperangkap oleh bujuk rayu iblis betina hingga berada di alam kegelapan, jauh-jauh sebelum aku terperangkap di alam itu juga.”
“Apa yang kau ingat dari ceritanya?” Bosnan sengaja mengendurkan konsentrasinya, khusus untuk mendengar dan menyimak kata-kata Lilu.
“Iblis dilambangkan dengan gambar cahaya api. Jadi, api adalah kekuatan iblis paling utama.”
Lilu diam kembali. Tapi mereka masih saling pandang. Sesaat kemudian Lilu bicara lagi agar Bosnan tak menunggu terlalu lama. “Cuma itu inti cerita si kakek tentang kekuatan iblis. Lalu aku ingat tentang guru agamaku dulu, sewaktu aku masih duduk di bangku SMA, bahwa kasha dapat mengalahkan segalanya, termasuk mengalahkan kekuatan iblis sebesar apapun. Tapi aku nggak tahu kasih dilambangkan sebagai apa?”
“Salib…?!” Bosnan menggumam ragu-ragu melamun bisu.
“Salibb?! Ooohh, iaya kayu salaib!”
Bosnan terperanjat, seperti mendapat ide yang meyakinkan. Ia buru-buru memandangi tiap potongan gambar pada kotak permainan itu. Dibolak-balik, dijauhkan dari mata, didekatkan kembali, sampai akhirnya wajah tegangnya mengalami perubahan samar-samar. Mulai ada keceriaan. Pandangan matanya yang ditujukan pada Lilu pun mengandung kesan kegembiraan hati yang tumbuh perlahan-lahan. Hanya saja, sorot pandangan mata itu segera kehilangan kecerahan kembali setelah dahinya sedikit berkerut, menandakan ada sesuatu yang janggal pada diri kekasihnya.
“Li… kau sudah nggak berkeringat lagi? Kok wajahmu nggak berkeringat sih?!”
Lilu menggeragap cemas. Meraba wajah dan tubuhnya sendiri. Bosnan ikut meraba sampai di kedalaman yang seharusnya terlarang. Ternyata memang Lilu tak berkeringat lagi. Bahkan tubuh itu terasa dingin sekali. Raut wajah cantik itu pun meluntur sedih.
“Bos…” kata Lilu pelan sekali. “Dari tadi aku memang sudah merasa dingin, seperti ada angin yeng bertiaup di sekeliling tubuhku.”
“Astaga…?!” Bosnan mengeluh dan sangat was-was.
“Badanku terasa seperti mau mengempis perlahan-lahan. Mungkin… mungkin kekuatan hawa ghaib ini sudah mulai menyerap jazad ghaibku Bos.”
“Oh, Li….!” Bosnan memeluknya kuat-kuat. “Tidak, Li. Kamu tidak boleh pergi dariku! Tidak kubiarkan kekuatan ghaib iblis ini menghisap jasad gaibmu Li…!” Bosnan menciumnya.
“Energi ghaibku akan menguap Bos.” Bisik Lilu para sekali.
Bosnan buru-buru melepaskan pelukannya. Ia harus melakukan sesuatu terhadap kotak maut itu. Baru saja terl;intas dalam benaknya tentang simbol kayu salib yang diyakini sebagai simbol kekuatan untuk mengalahkan iblis. Sedangkan tadi dilihatnya ada beberapa potongan gambar yang dapat disusun untuk lambing salib. Maka, dengan tangan semakin gemetar dan terburu-buru Bosnan mulai menyusun potongan-potongan gambar tersebut dengan memutar tiap bagian ruas kotak ke kanan, kiri, atas, bawah, atau depan dan belakang. Nafasnya terhela cepat menandakan jiwanya dalam tekanan sesuatu yang menegangkan tegang sekali.
“Hati-hati, jangan salah putar! Nanti di bidang lain malah terbentuk lambing mistik yang berbahaya!” Lilu mengingatkan.
“Okey… okey….! Sebentar lagi aku akan berhasil membentuk lambing salib nih…!” Bosnan memang semakin berdebar-debar, tapi getaran tangannya mulai lambat karena emosinya sedang diturunkan. Jika ia berhasil, maka ia akan mendapatkan satu susunan gambar salib yang setiap ujung-ujungnya memiliki hiasan bintang.
“Uts…!” Bosnan tersentak kaget karena salah putar, sehingga ada potongan gambar yang masuk ke sisi lain dan membentuk simbol menyerupai burung gagak. Buru-buru Bosnan memutar potongan bagian bawah agar bentuk burung gagak itu tak lengkap. Tetapi ternyata ruas bawah mengalami hambatan, sehingga sulit diputar kesana-sini. Mungki karena gugup, maka ruas pemutar seperti mengalami kemacetan.
“Sialan! Sulit sekali diputarnya sih?!” geram Bosnan dengan mengerahkan tenaga untuk memutar ruas bawah itu. Lilu berwajah tegang setelah melihat Bosnan mengalami kesulitan untuk merubah gambar yang menyerupai burung gagak itu supaya tidak sempurna.
“Tenang Bos… tenang. Jangan gugup begitu. Tenang…!” bujuk Lilu dengan nafas mulai cepat. Ia sendiri dalam keadaan tidak tenang.
Ranjang dan lantai mulai bergetar. Firasat mereka semakin tak enak. Ketegangan makin memuncak. Dan tiba-tiba lantai kamar menggelembung naik, lalu retak perlahan-lahan. Bosnan masih sibuk berusaha merombak gambar burung gagak itu, sedangkan Lilu sudah turun dari ranjang, menarik tangan Bosnan agar mereka melarikan diri keluar dari kamar. Bagian lantai yang menggelembung naik itu kini menyemburkan tanah dan pecah, serpihan ubinnya menyebar kemana-mana. Bzzzzrrrraaak…!
“Cepat pergi dari sini, Bosnan…!!” seru Lilu menyadarkan kegugupan kegugupan Bosnan. Tapi ketika Bosnan ingin melompat turun dari ranjang, tiba-tiba Lilu terlempar ke atas. Wuut…! Bosnan cepat bangkit menyambar tangan Lilu, sehingga gadis itu tidak sampai membentur langit-langit kamar. Rupanya lantai tempat Lilu berpijak tadi sekarang juga ikut menggelembung dan pecah, seperti kuburan yang terbuka bagian atasnya. Beruntung sekali Bosnan berhasil menangkap tubuh Lilu yang tadi melambungh ke atas. Tangkapan tersebut membuat kotak permainan iblis terpental ke sudut ruangan.
“Yaahh, kotak itu…” pekik Lilu dengan mata terbelalak lebar. Bosnan buru-buru meletakkan Lilu di atas ranjang, karena ia ingin melompat ke sudut untuk mengambil kotak permainan iblis itu.
Bruuusss….! Gubraaakkk…!
Lantai di bawah ranjang juga menggelembung naik, pecah terbelah. Suatu hawa berkekuatan besar menghembus dari pecahan lantai dan membuat ranjang pun terlempar naik. Disusul kemudian dengan munculnya benda besar dan panjang tapi bergerigi, bentuknya seperti buaya, tapi jelas bukan buaya. Benda itu bergerak menyabet ke kanan dan ke kiri dengan cepat. Ranjang pun hancur berantakan, sementara Bosnan terlempar kuat-kuat kea rah jendela. Prook….!
“Aoow…!” teriaknya keras-keras sambil segera memegangi mulut dan hidung. Bibirnya pecah berdarah karena luka akibat wajahnya membentur bongkahan lantai berubin mencuat ke atas itu. Tapi perutnya selamat dari keruncingan ubin lainnya. Sementara itu, Lilu terlempar ke pintu, tak sampai menabrak pintu itu, hanya terbanting di kemiringan lantai yang ubinnya mulai retak.
“Li… cepat keluar kau!” seru Bosnan setelah mengetahui bahwa benda yang muncul dari kedalaman lantai ternyata ekor hewan besar yang belum jelas bentuk keseluruhannya. Tapi dalam dugaan Bosnan, hewan itu sangat besar, menyerupai seekor dinosaurus. Terbukti dari ekornya yang masih menyabet ganas kesana-sini itu berukuran sebesar badan buaya. Itu baru ujung ekornya. Belum semua bagian ekornya yang muncul, dan memang sekarang berusaha muncul semua dengan cara mendobrak lapisan tanah lantai. Maka, tak ada cara terbaik kecuali menyuruh Lilu kabur lebih dulu.
Tetapi Lilu tak mau meninggalkan kekasihnya yang terancam bahaya. Ia justru berusaha mendekati Bosnan walau harus merangkak sesaat, dan berlari lagi untuk melompati lantai yeng terbelah tak beraturan itu.
“Bosnan, benda itu ada di dekat kakimu! Ambil, lekas…!”
Bosnan baru sadar bahwa ia berada sangat dekat dengan kotak permainan iblis. Maka, secepatnya ia meraih Hastaraka pada saat ekor binatang aneh tersebut berkeslebat mendongkel lapisan tanah lainnya.
Brussskk…! Tanah bergumpal-gumpal terlempar, salah satunya ada yang mengenai dada Lilu, membuat gadis itu terlempar kembali. Tapi kali ini ia melayang kea rah Bosnan, sehingga Bosnan buru-buru menangkapnya dengan tangan menggenggam Hastaraka. Bluuugggh…!
“Uhhk..!” Bosnan jatuh terkapar ditimpa tubuh Lilu. Namun rasa sakit di pinggangnya akibat embentur ubun rusak tak dihiraukan. Bahkan darah dari hidungnya pun tak diusapnya lebih dulu. Ia buru-buru menyingkirkan tubuh Lilu ke samping, kemudian berusaha memutar ruas kotak permainan yang tadi tinggal sejalan saja, tapi sudah terlanjur salah langkah.
Kleek…!
“Berhasil! Lilu…! Lihat, aku berhasil membentuk lambing salib di… di…”
Kegirangan Bosnan tak sempat dilanjutkan, karena tiba-tiba kotak permainan yang digenggamnya itu memancarkan cahay biru terang. Bias cahaya biru itu keluar dari sela-sela ruas pemisah gambar. Cahaya itu bukan saja semakin menyilaukan, tapi juga makin terasa mengeluarkan hawa sejuk menyegarkan. Tetapi lantai dan bangunan menjadi bergetar kuat sekali, sepertinya hotel itu mau runtuh secepatnya. Bosnan dan Lilu merasa tak punya kesempatan untuk menghindari reruntuhan, sehingga mereka akhirnya saling berpelukan dalam posisi duduk di lantai sudut. Sama-sama menenggelamkan kepala mereka yang menghadap kea rah dinding sudut tersebut.
Suara gemuruh semakin besar. Sangat menakutkan siapapun yang mengalami tragedy ghaib tersebut. Namun hawa sejuk terus saja mengalir, seakan alam dihujani salju yang dapat mengusir rasa panas yang menyengat tadi. Beberapa saat kemudian suara gemuruh itu hilang, hawa sejuk tetap datang bersama hembusan angin yang semilir. Cahay biru terang tadi pun mulai redup, akhirnya padam bersama kesunyian yang amat mencekam. Alam menjadi lengang, sunyi tanpa suara. Bosnan memberanikan diri untuk melihat di sekelilingnya melalui lirikan mata. Ternyata suasana telah berubah. Gelap malam telah menguasai sekitar tempat itu. Bosnan mulai berani lebih tegak lagi mengangkat wajahnya.
“Li… alam sudah kembali gelap. Hawa panas pun… lenyap utuh,” bisik Bosnan dengan nada menahan sorak kegembiraannya. Lilu pun mulai ikut memandang sekeliling, dan wajahnya menjadi cerah ceria.
“Kau berhasil Bos… oh iya kau berhasil mengembalikan keadaan malam yang sebenarnya!”
Nada suara Lilu makin meninggi, kegirangan.
“Ohh… kau benar-benar hebat sayangku! Kau telah menutup kembali gerbang petaka sebelum kami ini pecah dan hancur!”
“Ya tuhan… terima kasih! Terima kasih sekali tuhan…!”
“Hebat sekali kau kasihku…” Lilu menjerit kegirangan. Ia memeluk Bosnan dan menciuminya. Bibir Bosnan pun dikecup dan dilumatinya sebagai ungkapan kemenangan mereka. Bosnan pun membalasnya. Sekali pun lantai masih berantakan terbelah-belah, tapi ekor binatang dari alam ghaib itu telah hilang. Itulah sebabnya Bosnan membiarkan Lilu menikmati bibirnya sepuas hati. Tapi tiba-tiba Lilu menarik diri dan meludah.
“Cuih, cuih…!”
“Kenapa saying?”
“Asin! Darah dari luka di bibirmu aku hisap. Asin Bos…” nadanya merengek manja, namun menghadirkan tawa geli bersama-sama.
Hanya saja, tawa geli mereka harus surut sesaat karena tiba-tiba tubuh Lilu mengeluarkan cahaya seperti fosfor biru kehijauaan. Bosnan kaget dan tegang, sementara Lilu memandangi tangannya dengan terperangah kegirangan. Beberapa detik saja hal itu terjadi, setelah itu cahaya tersebut lenyap sama sekali dan tubuh Lilu tetap seperti semula, Bosnan menjadi terheran-heran setelah melihat Lilu tertawa cekikikan, dan menangis dalam keharuan.
“Kenapa… kau kenapa..?!”
“Bosnan… ragaku telah kembali! Baru saja hal itu terjadi, dan… dan… sekarang aku sudah menjadi manusia sempurna, memiliki raga, bisa dilihat dan disentuh orang lain. Lihatlah aku saying…!”
“Sudah sempurna…?” Bosnan menggumam heran, membiarkan gadis cantik itu menangis haru dan memeluknya kuat-kuat, sambil sesekali mencium pipinya.
Keterangan Lilu itu memang benar. Ketika mereka meninggalkan hotel tersebut, petugas hotel yang semula ditemui Bosnan dan yang saat itu berada di luar lobby, memandang Bosnan dengan terheran-heran. Bahkan secara terang-terangan pria yang tadi menggigil nyaris lumpuh akibat ketakutannya itu berkata pada Bosnan.
“Lho… sepertinya tuan tadi masuk kemari sendirian? Kanapa sekarang tuan mau pulang bersama nona ini…?! Dapat teman kencan dari mana tuan? Sejak kapan nona ini masuk hotel kami?!”
“Kita semua korban permainan iblis Bung. Bersyukurlah kepada tuhan, karena sekarang kita telah selamat…!” hanya itu kata-kata Bosnan yang ditujukan kepada petugas hotel, lalu ia pergi meninggalkan tempat tersebut dengan kegirangan hati yang melonjak-lonjak tiada habisnya, karena tanpa sengaja ia berhasil membuat Lilu menjadi gadis yang sempurna. Memiliki raga dan rupa yang nyata.
Bosnan Maulana patut menjadi orang paling bahagia di dunia ini. Karena, dia sudah berhasil mengembalikan malam pada posisi yang sebenarnya. Perubahan itu terjadi pada pukul 03:42 dini hari, tepat seperti saat hilangnya sang malam yang berganti siang itu. Sayangnya, yang hancur tetap hancur, yang rusak tetap rusak, tak bisa pulih seperti sediakala. Seperti halnya jarum jam yang mulai bergerak normal kembali itu. tentu saja kejadian aneh tersebut membuat semua orang tercengang-cengang dan saling mengucap syukur sendiri-sendiri kepada sang pencipta, karena mereka yakin kiamat tak jadi datang melanda dunia.
Ketika langkah Bosnan dan Lilu melewati tiga mobil yang mogik di jalanan dan saat itu masih terbakar karena disambar petir dari angkasa sana, Lilu segera menghentikan langkahnya dan meminta kotak permainan iblis yang tadi dimasukkan di saku celana Bosnan. Benda tersebut diserahkan padanya, kemudian Lilu melemparkan kotak itu ke dalam sisa kobaran api yang membakar tiga mobil tersebut.
“Kenapa kau buang kesana?” Tanya Bosnan.
“Benda tersebut hanya dapat dihancurkan oleh api dari langit. Dan menurut pendapatku, api dari langit adalah petir. Mobil ini terbakar karena disambar petir. Jadi…”
Bluuum…! Mereka sama-sama terkejut mendengar ledakan tak seberapa keras dari dalam api tersebut. Ledakan tersebut membuat nyala api berkobar tinggi dan tinggi sekali, membentuk seperti tiang menara. Warnanya pun merah seperti darah. Itulah pertanda bahwa kotak itu berhasil dihancurkan oleh api tersebut, dan akan hilang untuk selama-lamanya. Sekitar sepuluh detik kemudian, api yang menyerupai menara itu lenyap dengan cepat. Wuuub…! Yang ada hanya api kecil yang masih membakar bagian roda mobil.
Permainan iblis berhasil dihancurkan oleh sepasanxg cinta yang saling setia. Jika sejak itu Ruyan tetap menjadi pacar Debby, maka sejak itu pula Lilu menjadi pasanagan mesra Bosnan selamanya. Belakangan baru diketahu bahwa ternyata Bosnan masih ada darah keturunan bangsawan. Seandainya tak bertemu pamannya yang tinggal di Demak, jawa Tengah, Bosnan tak akan pernah tahu bahwa ia masih punya darah keturunan bangsawan, walau tak begitu jelas sebagai generasi yang keberapa. Pantaslah darah dari luka di bibirnya dapat menyempurnakan penampilan Lilu, sebagai gadis caantik yang sempurna.


SELESAI




Tidak ada komentar:

Posting Komentar