“Pengaruh
Lingkungan” Ayah saya sangat takut dengan dua kata ini, beliau sangat takut
kalo anaknya nanti terkena penyakit ini. Itulah sebabnya mengapa Ayah saya
ngotot sekali mengajarkan saya tentang hal-hal yang berbau religius. Hal tersebut
diwujudkan dengan menyekolahkan saya di sekolah yang berlatar belakang Islam yakni
MTs 3 Atapange.
Mungkin
itulah sebagai pembuka tulisan saya yang satu ini. Kisah kali ini berawal pada
saat saya duduk di kelas 2 semester II di MTs… pada saat itu saya merupakan
salah satu dari kelima teman sekelas saya yang bisa disebut siswa yang
berkelakuan baik dan juga bisa disebut agak culun sedikit… hehehe maklum pada
saat itu penampilan kami emang nggak seperti anak-anak gaul gitu…
Dengan
penampilan seperti anak culun itulah kami berlima sering diganggu oleh teman
sekelas kami yang tingkah lakunya kayak preman dan seolah-olah ingin jadi
penguasa di kelas. Cuman satu dari mereka yang sering ngebelain saya… namanya
Suka. Mereka bertingkah seperti itu karena mereka memiliki banyak teman preman
yang sering nongkrong di sekitar sekolah kami… jadi kalo sewaktu-waktu kami
melawan mereka tinggal melapor pada teman-temannya di luar.
Awalnya
sich saya fine-fine aja dengan kelakuan mereka… kalo dikerjain, yach cuman pasrah.
dipalak…. apalagi. Akan tetapi di awal semester dua kelas tiga, saya sudah
tidak tahan lagi dengan tingkah teman-teman saya yang “sok jagoan itu”… akhirnya
saya memutuskan untuk mencari tahu bagaimana sich caranya mereka bisa berteman
dengan preman-preman yang ada di sekitar sekolah kami. Yang muncul di pikiran
saya pada saat itu saya juga harus bergabung dengan para preman-preman tersebut…
karena teman-teman saya itu cuman mengandalkan preman sebagai senjata… kalo mau
sparing satu lawan satu saya belum tentu kalah, begitupun teman-teman “culun” lain
belum tentu kalah…
Sekitar
dua minggu… usaha saya tidak sia-sia. Ternyata cara mereka berteman dengan para
preman tersebut hamper sama dengan cara berteman dengan teman biasa, bedanya…
yach kita harus berani ambil resiko melakukan hal-hal yang berbau preman juga…
seperti minum minuman yang nggak halal, godain cewek-cewek di pinggir jalan,
pokoknya yang berbau preman gitu dech…
Setelah
saya mengetahui cara mereka berteman dengan “preman”… saya memutuskan untuk
bergabung juga dengan preman. Saya rela menabung uang jajan saya hanya demi tambain
uang pembeli “minuman” mereka. Kan di dunia gituan, kalo mau minum harus
ngumpul-ngumpul uang…
Hasil
dari usaha saya lumayan memuaskan… saya akhirnya menjadi salah satu anggota
gank, sampe-sampe saya lebih dihargai dibandingkan teman-teman saya yang lebih
dulu gabung… padahal kalo dipikir-pikir saya kan junior di gank itu. kan saya menjadi
anggota gank baru sekitar satu minggu lebih… tapi diperlakukan seperti senior
dari teman-teman saya. Buktinya… kalo preman-preman disitu mau minum, yang
disuruh pergi beli teman-teman saya yang udah lama gabung itu. Padahal kalo
dipikir-pikir semestinya saya yang harus pergi… kan yang baru gabung saya. Di sekolah
udah ada lagi yang berani kerjain apalagi malakin saya… tapi saya masih tetap
gabung sama teman-teman saya yang dianggap culun itu… walaupun penampilan dan
tingkah laku mereka jauh dari criteria anak culun… cuman mereka nggak gabung
ama preman and nggak sok jagoan jadi dianggap kayak anak culun gitu…
Hal
seperti itu masih tetap saya lakukan sampai menjelang UAN. Menggeluti dunia "Preman" memang penuh dengan resiko. Pernah suatu hari, saya bersama teman saya yang biasa saya panggil Baso pergi maen Play Stasion di umah teman saya Kedda... Teman saya yang biasa dipanggil Kedda ini mempunyai usaha rental PS yang sebelumnya tempatnya dekat tempat saya menunggu angkot. Setiap pulang dan pergi ke sekolah, saya harus naik angkot karena jarak sekolah saya dari rumah sekitar sepuluh kilo meter.Tempat PS teman saya saat ini sudah dipindahkan ke rumahnya.
Pada saat saya ingin pulang dari maen PS di rumah teman saya itulah kami dihadang oleh dua orang preman yang biasa nongkrong di tempaat PS teman saya. Sepertinya keadaannya sedang mabuk, dan memalak kami berdua... kebetulan pada saat itu uang saya tinggal sewa angkot begitu pula teman saya. sebenarnya sich saya bisa memberikan mereka uang kalo saja teman preman saya tidak minta uang pada saya sebelumnya...
Karena kami tidak bisa memberikan uang pada mereka, teman saya langsung ditampar... wajah sebelah kirinya merah dan berbekas tangan salah satu preman tersebut. Bukan hanya itu, tingkah kedua preman ini semakin brutal... salah satu dari mereka memberikan kami badiknya dan berkata:
"mauko melawan.... ini badik... tusukma...!"
Kami berdua cuman terdiam dan tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya terdiam dan menundukkan kepala seperti kucing yang sudah dipukul kepalanya.
"Terutama kau" sahut preman yang menampar teman saya tadi "Kenapa dari tadi liat-liat saya...?! Mauko melawan....?!"
Memang sich teman saya punya kebiasaan mandangin orang yang belum dia kenal... Dan preman tersebut tidak suka. Menurut saya sich itu hanyalah hal sepele... Tapi itulah preman, mencari sedikit kesalahan dan kemudian dibesar-besarkan....
Melihat warga melihat tingkah mereka berdua, kami disuruh untuk kembali ke rumah teman saya Kedda... Teman-teman sebaya saya hanya bisa terdiam seperti saya... Mereka juga takut dan tidak bisa melawan... Pada saat itulah, Ayah Kedda melihat saya diperlakukan seperti itu. Dia langsung menegur dan memarahi kedua preman tersebut.
"Mauko apa disini?! maauko bikin kacau di rumah saya...?! kalau mukira jago dirimu saya mutusuk disini dengan badikmu....!!!"
Mendengar ayah teman saya marah-marah seperti itu, kedua preman tersebut langsung pergi meninggalkan kami.
"kalian berdua pulanglah juga... tidak usah dipikirkan preman itu!" Ayah Kedda menyuruh kami untuk segera pulang, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Di perjalanan pulang, teman saya menanyakan nama salah satu dari kedua preman tadi. Kebetulan saya juga tidak tahu persis siapa namanya. Akan tetapi saya mengenal wajah salah satu dari mereka dan kalau tidak salah namanya Ulla. Pertamanya saya tidak tahu kenapa teman saya menanyakan nama preman tersebut.
Keesokan harinya, teman saya yang ipukuli itu tidak datang ke sekolah... Baru sekitar 10 menit setelah saya datang di sekolah, salah satu teman sekelas saya yang gabung di gank preman memanggil saya dan menyuruh saya menemui teman preman kami di tempat kami biasa nongkrong... Setelah saya sampai di tempat nongkrong kami itu, saya langsung terbelalak melihat dua truk yang berisi penuh dengan wajah-wajah sangar preman... saya mengira kami akan bentrok dengan mereka... tapi ternyata preman yang dua truk tersebut merupakan satu kampung teman saya dan mereka mencari oarang yang kemarin mencegal dan menampar teman saya itu... Sekitar tiga jam kami mencari, akan tetapi entah dimana kedua preman tersebut bersembunyi sehingga kami tidak bisa menemukannya.
Setelah pencarian sekitar tiga jam itu tidak membuahkan hasil, kami memutuskan untuk menghentikan pencarian dan melanjutkan aktifitas massing-masing kembali... Preman yang dua truk itu pun pulang tanpa melampiaskan kemarahan mereka... Akan tetapi. saya tidak langsung kembali ke sekolah... saya memutuskan untuk nongkrong di tempat kami untuk menjelaskan kejadian sebenarnya kepada teman-teman satu gank saya. Setelah kami diskusi kecil-kecilan, saya mengetahui bahwa ternyata salah satu dari mereka bernama Asho... dia baru tiga hari keluar dari penjara. Dan kali ini hampir masuk kubur....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar